Gelas setengah penuh
Ini adalah kata2 bijak yg umurnya mungkin setara dengan penemuan gelas.
Ketika diperlihatkan sebuah gelas berisi setengah, ada reaksi yg berbeda dari orang yg berbeda.
Ada orang yang akan melihatnya sebagai Gelas setengah kosong, mereka melihat sebagaimana melihat ember yang bocor, kopi starbucks yg sudah diminum setengah, gaji bulanan yg akan segera habis, tanah warisan yg tersisa…
Ada pula orang melihatnya sebagai Gelas setengah penuh, sebagaimana mereka melihat gelas tampungan air destilasi, ember penampung perahan susu, bak air yg sedang diisi setetes demi setetes (trik anak kos biar tagihan air nggak banyak)…

Kasus Dewa vs FPI mengingatkan ku pada kaidah gelas tadi. Betapa orang islam malah takut sendiri dengan kaligrafi. Takut disalah gunakan, takut digunakan tidak pada tempatnya dll.
Nek aku, lebih suka melihat dengan cara lain. Betapa indahnya kalau kaligrafi dengan nilai agung tersebut menjadi trend anak muda, anak2 main skate board di jalan dengan kaos berlogo kaligrafi “Allah”, . Lho… kok gitu? ya emang gitu, mending mana melihat anak2 muda pake kaos gambar tengkorak atau kaligrafi “Zildjian”, “Stussy”, “Fender”, atau Britney spears? Walaupun tindak-tanduk mereka masih jauh dari agama Allah?yah, gak papa tapi kan mending sekarang udah tahu Allah, buktinya udah make simbolnya, mudah2an entar bisa mendekat agamanya juga.
Betapa indahnya kalo mahasiswi2 berjilbab gaul pake bros bertuliskan “Allah”, daripada pake bros gambar ‘cinta’, dan semacamnya.
Ngomong2 soal jilbab, ada juga orang yg memandang wanita dengan jilbab ’setengah2′ itu tidak ada gunanya. Padahal kalau kita memandang ’setengah penuh’ kita bisa bilang, wah udah pake jilbab tinggal disempurnakan.
Yah, semacam itulah…
Its a beautiful world, just the way we want to see it.



