29 April 2005

Gelas setengah penuh

Filed under: Ngedumel — hericz @ 1:38 am

Ini adalah kata2 bijak yg umurnya mungkin setara dengan penemuan gelas.

Ketika diperlihatkan sebuah gelas berisi setengah, ada reaksi yg berbeda dari orang yg berbeda.

Ada orang yang akan melihatnya sebagai Gelas setengah kosong, mereka melihat sebagaimana melihat ember yang bocor, kopi starbucks yg sudah diminum setengah, gaji bulanan yg akan segera habis, tanah warisan yg tersisa…

Ada pula orang melihatnya sebagai Gelas setengah penuh, sebagaimana mereka melihat gelas tampungan air destilasi, ember penampung perahan susu, bak air yg sedang diisi setetes demi setetes (trik anak kos biar tagihan air nggak banyak)…


Kasus Dewa vs FPI mengingatkan ku pada kaidah gelas tadi. Betapa orang islam malah takut sendiri dengan kaligrafi. Takut disalah gunakan, takut digunakan tidak pada tempatnya dll.

Nek aku, lebih suka melihat dengan cara lain. Betapa indahnya kalau kaligrafi dengan nilai agung tersebut menjadi trend anak muda, anak2 main skate board di jalan dengan kaos berlogo kaligrafi “Allah”, . Lho… kok gitu? ya emang gitu, mending mana melihat anak2 muda pake kaos gambar tengkorak atau kaligrafi “Zildjian”, “Stussy”, “Fender”, atau Britney spears? Walaupun tindak-tanduk mereka masih jauh dari agama Allah?yah, gak papa tapi kan mending sekarang udah tahu Allah, buktinya udah make simbolnya, mudah2an entar bisa mendekat agamanya juga.

Betapa indahnya kalo mahasiswi2 berjilbab gaul pake bros bertuliskan “Allah”, daripada pake bros gambar ‘cinta’, dan semacamnya.

Ngomong2 soal jilbab, ada juga orang yg memandang wanita dengan jilbab ’setengah2′ itu tidak ada gunanya. Padahal kalau kita memandang ’setengah penuh’ kita bisa bilang, wah udah pake jilbab tinggal disempurnakan.

Yah, semacam itulah…

Its a beautiful world, just the way we want to see it.

4 Responses to “Gelas setengah penuh”

  1. gravatar zekrup Says:

    cak, seng diwedeni nek gambar kaligrafi seng onok nang kaset di gowo nang daerah seng kotor, misalkan kamar mandi.
    pantes gak nek kaligrafi & sejenisnya digowo mlebu kamar mandi, bahkan digawe -nuwun sewu- ngeseng….

  2. gravatar sealight Says:

    ass.wr.wb.
    makasih sblmnya bhw ternyata di dunia ini baaa…nyak sekali ya opini yg bisa dibuat, yang berawal hanya dari satu kasus saja. dengan sudut pandang yg various dari tiap2 orang, bisa jadi lebih dari seribu satu pendapat terlontar ttg sesuatu.
    Pendapat ttg menyamakan kaset atau jilbab dengan gelas setengah penuh itu boleh-boleh aja sih, menurut aku.

    sekarang aku tanya, deh. kalau nih ya, kalau kamu disuruh milih gelas setengah penuh ma gelas penuh berisi kopi starbucks, kamu pilih yg mana? ato, kamu udah sekian jam berkutat di lab nungguin hasil destilasi yg ditampung di gelas, sementara kamu nggak mungkin ngelakuin aktivitas lain sekecil apapun sebelum yg itu selesai.pilih yg mana kamu, melihat gelas itu berisi setengah, …atau melihatnya sudah penuh?

    sorry, aku ngga’ bermaksud sinis dg pertanyaan retorik macam itu. sbnrnya aku juga ngga’ suka dg nada pertanyaan yg kyk gitu.
    cuma, lihat aja esensinya. ketika kamu melihat seorang putri yang berjilbab gaul, gimana lantas pikiran kamu?suka nggak kamu? atau, pingin nggak melihat dia lebih dari itu?
    sorry, dlm hal ini harus dijawab scr exactly, YA atau TIDAK. kalo memang hati kamu ngejawab tidak, kamu nggak perlu membaca lanjutan tulisan ini. tapi kalo hati kamu sebenarnya berbisik YA, maka di sinilah letaknya. perlu ada peringatan yg kontinu, kalo nggak mungkin secara yuridis. artinya, kalo yg ngingetin punya kuasa scr hukum (e.g. ortu, family, ato bahkan negara)it’s gonna be different.
    Tapi, kalo kita jalin pendekatan non yuridis, artinya dia punya pilihan buat ngomong OKAY atau NO WAY.
    nah, masalah ngomongnya sih gampang, tapi pasti ada bisikan ‘kanan’ dan ‘kiri’ dlm dirinya. di sinilah perlu adanya shock therapy secara halus, kalo nggak bisa yaa scr tegas (mis. dlm hal kaligrafi di karpet lantai yg lantas diinjek2).
    inget lho, kadang manusia perlu nasehat buat nyadarin dirinya tuh masih harus berjalan di jalan kehidupan dunia ini. tanpa nasehat, dunia amburadul. Iya,kan?
    aku nulis shock therapy bukan berarti tiap kita perlu di-shock therapy (baca:digalakin,didominasi, diremehkan pdptnya,etc), bukan! shock therapy di sini maksudnya, bahwa terkadang seseorang perlu kita ingatkan, ketika dia nggak ingat atau nggak sadar kalau itu kurang baik.
    bagi banyak orang, itu sudah merupakan shock therapy,lho.

    so, esensinya bukan terletak pada menjatuhkan mental dia dan menganggap diri sendiri plg benar, tapi esensinya adalah bahwa perlu untuk selalu berjalan menuju sesuatu yang lebih baik. itu aja. kalau ada suatu katalis untuk lebih cepat ngedapetin hasil destilasi segelas penuh, kamu pasti menggunakan katalis itu, kan?
    you’re right, dude! dunia ini indah.hidup ini juga indah, seindah kehidupan itu sendiri, dan adalah untuk dinikmati dengan selalu memperbaiki diri.

  3. gravatar yulia Says:

    aslamualaikum
    waduh setuju banget tugh………………….
    aku belum lama pakai jilbab dan aku mengakuai kalau aku masih setengah2. tapi menurut orang aku seharusnya mengubah duru baru memantapkan pakai jilbab.
    bingung juga segh mau gimana lai padahal menurutku kalau aku mau coba dulu kan gpp daripada gak sama sekali.
    sambil jalan ngerubah n menyempurnakan lagh………….
    wasalam

  4. gravatar abdullah Says:

    aku setuju buanget sebenarnya ya tapi itu tadi seperti kang yang di atas kalao kaligrafi itu di bawa ketempat yang ga di bolehkan gimana?mungkin malah harus dibuat suatu kelompak buat anak - anak yang seneng dengan seni kaya mereka yang suka corat - coret di jalanan yang namanya apa itulah nah mereka itu di bimbing aja tuk gambar kaligrafi - kaligrafi islam

Leave a Reply