Berpikir terlalu jauh
Beberapa waktu yg lalu, menjelang maghrib listrik di kantor tiba2 mati. Karuan saja semua kegiatan dihentikan. Semua orang sibuk nyari lilin, atau nongkrong di taman di sebelah -aku ikut yg nongkrong ini-. Orang2 berkerumun di luar sambil membicarakan betapa hal ini sangat jarang terjadi, daerah ini sangat dijaga pasokan listriknya oleh PLN, dan ini mati listrik pertama sejak beberapa tahun terakhir.. bla bla bla..
Setelah sholat maghrib gelap-gelap, aku memutuskan untuk pulang, lha wong peteng, ra iso ngopo-ngopo. Paling cuma gitaran gak jelas di dalam kantor, mau nerusin nongkrong di luar banyak nyamuk.
Selang berapa hari, aku tanya temenku yg kerja di PJB dan benar, katanya pembangkit di bagian dia bertugas pas nge-trip (red : modhar) sehingga pasokan listrik untuk jakarta timur agak kurang.
Selang 3 hari kemudian, setelah sholat dzuhur (jam setengah 1), tiba2 listrik mati lagi. Saat itu di kantor hanya ada 4 orang terdiri dari 1 sarjana Teknik Elektro, 2 Sarjana Teknik Mesin, dan 1 orang pensiunan PLN (yg laen lagi keluar kantor).
Tengak-tengok sebelah, sepertinya semua juga mati, dan suasana lagi sepi, jadi nggak ada yg bisa ditanyain. Lalu kami semua mengambil kesimpulan bersama, “Wah, pembangkit pasti mati lagi nih”, terus sambil menunggu listrik nyala lagi, kita bicarakan masalah2 yg bikin Pembangkit sering mati. Baru ngobrol setengah jam, eh.. udah pada ngantuk .. jadilah kita tidur beramai2, ada yg nggelar kasur gulung, ada yg mompa kasur udara. Dan kita semua tidur tanpa AC, tanpa kipas angin …zzzz..zzz..zzz.. panasnya..
Setelah ‘lelah’ setelah sekian lama tidur, sekitar jam 3 kita bangun, dan mendapati mbak Siti (yg biasa bersih2 di kantor) sudah bertugas dengan semangat tinggi. Kita pun bangun dan menyapanya sambil lewat mau ke cuci muka di kamar mandi. Iseng2 kita tanya, “mBak kok matinya agak lama yah?kayaknya kemaren nggak lama2 amat matinya”. Terus mBak siti jawab “Wah, nggak tahu mas, jarang banget kok mati listrik, terakhir yg kemarin itu”. Pembicaraan berakhir. Seperempat jam berlalu mbak Siti sudah menyelesaikan tugasnya dan bergegas pulang, beberapa saat kemudian beliau mbalik lagi, sambil bilang “Mas, di sebelah hidup kok, kayaknya cuma disini aja yang mati”.
Heh..?langsung kang Rudy memeriksa MCB, dan benar, ternyata MCBnya njeglek (baca: Miniature Circuit Breakernya menjeglek). Setelah di-rejeglek-kan, listrik kembali nyala, lampu2 kembali bersinar, AC kembali mendinginkan suasana.
Hmm.. 1 Sarjana Elektro, 2 Sarjana Mesin, 1 Pensiunan PLN, berpikir terlalu jauh, dan dikalahkan oleh seorang mBak Siti… dengan metode social engineering-nya..
Bukan hari yg indah untuk dikenang, tapi hari yang penuh makna.. hua ha ha ha..
Leave a Reply