Lumpuh layuh
terdengar langkah-langkah mendekat, pintu digedor… ibukmu berpesan “jaga adikmu” kemudian keluar perlahan-lahan. Dari dalam kau dengar “Ndak usah pak dokter, nanti anak-saya malah jadi panas, ndak usah ya… ndak usah…”
Bayangkan…!!!
Kau punya adik berumur 1.5 tahun, dia sangat lucu dan lincah, kulitnya putih, wajahnya mirip2 kamu waktu kecil (kata orang sih), rambutnya masih tipis kemerahan, giginya sudah tumbuh semua, sudah bisa makan yang aneh-aneh, bisa berjalan kian-kemari sambil tertawa-tawa, tidak mau pakai celana, belum bisa ngomong jadi cuma bilang “maa.. maa.. paa..paa”. Ayah-ibu dengan bangga ‘mengeluhkan’ kebandelannya didepan orang2, “adik ini nggak mau diam.. bikin repot aja”, “makannya banyak”. Paman2/tante2 sangat suka pada adikmu, berebutan menggendong, tapi adikmu lebih suka telanjang sambil lari2 kesana-kemari sampai kecapekan dan akhirnya menangis. Dia baru mau diam ketika digendong ibu, diberi ‘mimik’ susu, dan akhirnya tertidur…
Bayangkan…!!!
Tiba-tiba adikmu terkena penyakit ‘aneh’, badannya panas dingin, kadang sampai kejang-kejang. Berulang-ulang tiap hari. Adikmu tak lagi berlari2an, dia memilih tidur di balai2 bambu yang kelihatan tua sekali. Balai-balai itu salah satu kakinya sudah patah dan diganjal dengan batu bata agar tetap datar. Ibu-mu terlihat panik, bapakmu tampak berusaha menyembunyikan kesedihannya. Mereka bilang “.. walah cah, bocah, mau diperiksa pakai apa?wong kita nggak punya duit, kita pasrah aja, mau diapakan lagi…”, saat kau tanya “kenapa nggak dibawa ke puskemas pak?”. Pertanyaan yang kau tanyakan setelah orang-orang mulai berbisik-bisik, “adikmu kena polio nak, lumpuh, harus segera diobatin”, “biaya polio dua ribu rupiah lho”.
Bayangkan…!!!
Pagi-pagi, matahari sudah setengah tinggi, bapakmu sudah 2 jam lalu pergi bekerja, menjajakan Es punya juragan yang punya rumah gedong di desa sebelah. Engkau sedang di depan rumah, membantu ibukmu menyusun daun-daun pisang agar bisa dijual ke tukang tempe siang ini. Adikmu -seperti biasa- terbaring dibalai-balainya. Tiba-tiba dari jauh kelihatan serombongan orang berseragam putih-putih. Ibukmu langsung berseru “wah ciloko nak”, dan langsung masuk rumah, mengunci semua pintu, dan jendela (sebentar-sebentar, hmmm.. tidak ada jendela di rumahmu). “Kita nggak punya duit nak, itu pasti dokter2 dari puskesmas mau imunisasi adikmu, kita nggak punya duit nak… kita nggak punya duit…dua ribu kan banyaak” ibumu tampak gemetaran ketakutan… Sayup-sayup terdengar langkah-langkah mendekat, pintu digedor…
Bayangkan…!!!
Di saat yang sama, beberapa orang sedang berada di sebuah kantin di lantai 85 sebuah gedung pencakar dan penjilat langit. Mereka mengeluh, “aku adalah orang paling sial di muka bumi, bulan ini aku nggak dapet bonus, jadi aku nggak jadi beli Avanza”, “anakku minta disekolahin di luar negeri”, “Istriku minta kalung di Felice lagi tuh”, sementara yang wanita bilang “.. aah, mosok lipstik cuma 50ribu, pasti jelek nih”. Sementara yang lain, sambil nyruput kopi 30ribu segelas, baca koran, “Imunisasi Polio Gratis, Penduduk Menolak Karena Takut Anaknya jadi sakit”, aah..dasar orang ndeso ada-ada saja kelakuannya..
July 12th, 2008 at 9:06 pm
iminisasi sangat penting untuk pencegahan terhadap penyakit seperti polio. Memang ada efek sampingnya tapi jarang dan minimal.