29 July 2005

Teknik Kerokan Untuk Pemula

Filed under: Tutorial — hericz @ 6:18 pm

Artikel ini akan membahas teknik kerokan atau kerikan untuk pemula.

Saat tubuh anda terasa demam, kepala pusing, badan lunglai, kadang disertai gejala flu, mungkin anda sedang terkena penyakit lokal yang disebut Masuk Angin. Jika anda manusia modern, maka usaha pertama adalah dengan mencari obat-obatan ke apotik atau toko obat.

Obat-obatanTapi ketika obat-obatan sudah tidak mampu lagi mengobati sakit anda, cobalah pengobatan alternatif yang sudah dipercaya selama berabad-abad oleh nenek moyang kita, kerokanâ„¢ atau kerikanâ„¢ (selanjutnya akan disebut kerokan). Jika anda sudah pernah melihat sendiri, kerokan adalah hal yang sangat mudah dilakukan, akan tetapi jika anda belum, artikel berikut diharapkan akan membantu anda.

Alat dan Bahan :
Untuk memulai kerokan, alat yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut:
Alat dan Bahan1. Zat penghangat, bisa berupa balsem gosok, remasonâ„¢ atau minyak kayu putih. Alternatif lain adalah menggunakan minyak tanah (serius, jaman dulu pakai ini), tapi ngantri untuk mendapatkannya hanya akan menambah pasien. Untuk anak kecil (balita) sebaiknya gunakan bawang merah.
2. Koin untuk pengerok. Sebaiknya gunakan uang Rp 100 lama, 100 kuningan (yang katanya ada campuran emas), atau 500 kuningan. Hindari menggunakan koin yang berbahan alumunium (koin mata uang baru), karena memiliki sisi yang tajam. Penggunaan koin mata uang asing tidak disarankan, karena carinya susah (*haiyah*). Kecuali jika anda tinggal di luar negeri.
3. Tissue, atau lap untuk membersihkan koin saat kerokan.
4. Tempat yang bersih, lapang, dan nyaman untuk berbaring.
5. Sarana hiburan: televisi, radio, atau i-pod. Jika tidak ada, majalah atau koran juga bisa.

Algoritma kerokan :
A. Persiapan Kerokan
1. Usahakan tubuh korban pasien dalam keadaan bersih. Kalau masih bisa berdiri, usahakan mandi terlebih dahulu.
2. Pasien ditidurkan telungkup, usahakan dalam posisi senyaman mungkin.
3. Aktifkan sarana hiburan, hal ini akan sangat membantu mengurangi kebosanan saat mengerok/dikerok. HP tidak perlu dimatikan.
4. Diagram koin saat melakukan kerokan adalah sebagai berikut :
Diagram
Ket:
W : gaya tekan tangan
V : kecepatan gerak
Ø : sudut koin

B. Kerokan
1. Untuk mempersiapkan tubuh, agar tidak kaget saat dikerok, usapkan minyak gosok ke punggung terlebih dahulu.
2. Mulailah mengerok dari punggung kanan, diawali dari 4-5 cm sebelah kanan tulang belakang ke arah luar. Arah pengerokan mengikuti tulang rusuk, menghasilkan garis melengkung.
Garis pertama
3. Koin agak ditekan, jangan terlalu kuat dan jangan terlalu lemah, yang sedang-sedang saja. Lakukan berulang-ulang dengan arah yang sama. Jika dalam 10-15 kali kerok warna berubah menjadi merah, berarti pasien benar-benar sedang sakit. Sedangkan jika tidak, sebaiknya hentikan saja, karena hanya akan menyiksa pasien (lecet-lecet).
Contoh hasil kerokan
4. Lanjutkan dengan bagian kiri yang sejajar dengan kerokan yang dilakukan di nomer 3.

Keterangan: saat kerokan ini, kadang-kadang daki terkumpul di ujung koin. Gunakan tisu atau handuk untuk membersihkannya.
5. Ulangi langkah 3 dan 4, sekitar 2-3 cm dibawah kerokan sebelumnya. Usahakan tetap pada daerah diantara tulang rusuk. Begitu seterusnya sampai ke bawah.

C. Setelah Kerokan
1. Usapkan lagi minyak gosok ke punggung, gunakan handuk untuk membersihkan sekaligus memijat punggung.
2. Minumlah minuman yang hangat, atau kalau bisa makan bubur kacang ijo dan STMJ.
3. Gunakan baju yang hangat dan nyaman. Jika anda belum bisa membuat bubur kacang ijo, lihat tutorial sebelumnya.
4. Rendam kaki dengan air hangat.
5. Tidur

Tips :
1. Jangan terlalu sering kerokan, karena dapat menimbulkan kecanduan (kerokan addiction syndrom).
2. Hindari menggunakan pakaian dengan punggung terbuka setelah kerokan. Karena orang-orang akan Watch Your Back!â„¢.
3. Jika anda punya modal, bukalah usaha “SPA dan KEROK”, sepertinya akan diminati oleh wanita modern yang suka pakai baju minim.
4. Jika sakit berlanjut, hubungi dokter. Jangan saya!


credit:
- wawan as pasien 1
- kang rudy for pasien 2
- dhani for the A95

25 July 2005

Faktor Muka?

Filed under: Personal — hericz @ 12:30 pm

Ini adalah kisah beberapa waktu yang lalu saat aku masih kuliah di Bandung.

Logo ATM BCASuatu pagi yang dingin, lagi enak-enaknya tidur kedua (biasa, tidur lagi setelah sholat shubuh) aku dibangunin temenku kos untuk nganterin ke ATM BCA di Jalan Dago. Dengan sedikit persiapan, masih dengan rambut yang awul-awulan, cuma samber jaket dan ganti celana panjang, langsung ngeluarin motor dan melesat ke jalan Dago.

Sesampainya di bank, temenku, Bastian (nama sebenarnya), bergegas masuk ke ruang ATM (ada beberapa mesin ATM didalam), dan aku memarkir motor di dekat beberapa motor yang sudah ada disitu terlebih dahulu. Karena ini hari libur, tak pikir gak bakalan antri lama, jadi aku tungguin aja sambil duduk di jok motor. Celingak-celinguk di halaman bank nggak ada orang sama sekali. Sepi.

Tak berapa lama, ada orang keluar dari tempat ATM, mengeluarkan kunci motor, tapi bergerak ke arahku. Sekonyong-konyong dia sodorkan selembar 1000-an padaku.

Heh?“, sejenak aku bingung, “Ini orang maksudnya apa coba?”

Hening…

Untunglah, saat itu temenku keluar dari ATM dan langsung manggil, “Her, ayo pulang!”. Orang dermawan yang tadi nyodorin aku duit segera beringsut sambil bilang “..Oh.. maaf mas..”, dan segera mengambil motor disebelahku. Kabuur…

Pesan moral dari cerita ini adalah :
1. Ternyata wajahku bawa rejeki, diam aja ada yang ngasih duit gitu lho.
2. Kalau mau nganterin teman ke ATM, MANDI DULU!.

22 July 2005

Dicari : Energi alternatif pengganti BBM !

Filed under: Ngedumel, Teknologi — hericz @ 1:33 am

“Pada jaman Orba, orang Indonesia berdo’a semoga harga minyak dunia naik. Karena kenaikan $1 per barrel akan berdampak positif bagi kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, saat ini, orang Indonesia berdo’a semoga harga minyak turun. Karena penurunan $1 per barrel akan berdampak positif bagi kesejahteraan rakyat. Ketika bertemu dengan pemuka agama, saya katakan hal itu. Mereka bilang bahwa Tuhan tidak menjawab do’a ummatnya secara instan. Mungkin tidak dikabulkan, mungkin dikabulkan tapi entah sekarang, entah kapan. Mungkin saja, harga minyak naik saat ini adalah hasil do’a saat orde baru”.

Name Tag SeminarDemikian joke pembuka yang dilontarkan Menristek Kusmayanto Kadiman pada seminar kemarin. Seminar yang ‘terpaksa’ aku ikuti tersebut adalah seminar “Pemanfaatan bahan bakar dan Arah Teknologi Pembangkit masa depan di Indonesia”, hasil kerjasama BPPT dan PLN, yang dilaksanakan di gedung BPPT Thamrin. Seminar ini membahas berbagai solusi yang ditawarkan kalangan ABG untuk mengatasi krisis energi di Indonesia, terutama untuk pembangkitan listrik. Ya, krisis energi yang membuat pemerintah mati-matian melakukan kampanye hemat energi, yang mengakibatkan lampu-lampu jalan dimatikan, kantor-kantor menjadi gelap, AC ‘dihangatkan’, kampanye hemat 17-22, dan -yang paling parah- kita tidak bisa nonton TV di malam hari.

PLN menjelaskan Roadmap kebijakan sumber energi bagi pembangkitannya, terutama pengurangan pembangkit yang menggunakan BBM, dan peralihan ke bahan bakar non-fosil atau bahan bakar renewable. Bahan bakar yang dimaksud seperti gas alam, panas bumi, batu-bara, energi alam, bahan bakar dari tumbuh-tumbuhan, bahkan nuklir. Diharapkan energy-source-mix yang cukup ideal dapat dicapai tahun 2025 yang akan datang. PLN juga memaparkan perubahan perilaku kalangan industri dan bisnis yang mematikan generator mereka sendiri dan ikut menyedot energi dari PLN saat kenaikan harga BBM. Tindakan yang mengakibatkan beban puncak yang semakin tinggi dan membengkaknya subsidi BBM untuk listrik.

Dari kalangan akademisi muncul solusi Minyak Jarak, yang dilontarkan oleh peneliti dari ITB, Robert Manurung, bekerja sama dengan kalangan swasta dan luar negri (jepang). Beliau dan tim mengklaim telah berhasil melakukan ekstrak biji jarak menjadi sumber bahan-bakar alternatif yang memiliki performa SERUPA dengan minyak solar. Solusi sedemikian lengkap, bahkan sampai mekanisme pengentasan kemiskinan petani dengan menanam tanaman jarak ini, mengingat harga bahan pangan yang terus menurun dan harga energi yang terus naik. Diharapkan petani menjadi ‘raja-raja minyak’ Indonesia. Tampaknya Pak Robert ini adalah orang yang tergila-gila, terobsesi dengan minyak jarak. Salam hormat, sekali lagi salam hormat buat pak Robert Manurung beserte tim.

Seperti telah diketahui, Indonesia memiliki sumber panas bumi yang sangat besar, bahkan -kalau tidak salah- terbesar di dunia. Untuk itu ditampilkan pula dari swasta asing, “ORMAT”, perusahaan yang bergerak di bidang desain dan konstruksi PLTU. Andalan mereka adalah sistem pembangkit binary cycle yang cost-effective dan environment-friendly. Saat presentasi, beliau sempat curhat mengenai tender yang sudah disetujui pemerintah, tiba-tiba dibatalkan dan dilakukan tender ulang. Aduh, salah audience mister. Banyak peserta yang tertidur -bahkan keluar ruangan- pada sesi ini, maklum, sesi setelah makan siang dan berbahasa inggris.

Ada lagi dari dosen ITB, Dr. Ir. Ary Pasek, yang mengajukan solusi Biomassa. Yaitu pembangkit berbahan bakar sampah, sisa-sisa produksi, gambut, dan semacamnya. Lengkap dengan hasil survey mengenai keberadaan ‘bahan bakar’ tersebut.

Sisi Government diwakili oleh Menristek Kusmayanto Kadiman, yang setahun lalu mewisuda sarjana-ku (narsis euy!). Beliau memaparkan betapa banyak sumber energi yang bisa digunakan, tapi sungguh tidak sebanding dengan kemampuan pemerintah untuk melakukannya (baca: mendanai). Selain itu, ternyata sumber energi alam kita (sungai, angin, ombak) sangat spesifik dan tidak bisa disamakan dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, sehingga memerlukan riset yang lebih mendalam agar tidak menjadi museum energi semata.

Ada lagi, yang menurutku sesi paling tidak menarik, adalah tentang CDM. CDM adalah salah metode yang disetujui untuk memenuhi protokol Kyoto. Sebenarnya bagus dan menarik, tapi terkesan ‘di awang-awang’ kalau melihat kondisi energi Indonesia yang ada sekarang. Kondisi dimana pembangkitan masih terfokus di JAMALI, dimana baru -kurang dari- 70% rakyat mendapat manfaat aliran listrik. Tapi salut juga buat mereka-mereka yang telah memikirkan hal ini.

Hal beberapa hal yang cukup menggelitik dari seminar ini, antara lain :

1. Ternyata terdapat inkonsistensi antara perencanaan PLN dengan pelaksanaanya. Tampak dari roadmap energy-mix yang dipresentasikan, dan pola penggunaan energi yang dilakukan. Diharapkan penggunaan BBM menurun, dan Gas naik, tapi ternyata Gas tetap dan BBM naik. Hal ini dijawab dengan alasan sumur Gas sulit diketahui isinya, sehingga susah mendapatkan aliran stok yang tetap, untuk menutupi kekurangannya digunakan BBM lagi. Hmm… ah, sudahlah

2. Ternyata, belum ada mekanisme subsidi untuk pengadaan bahan bakar alternatif, baik untuk penelitian maupun untuk produksi. Padahal subsidi untuk BBM amat sangat besar, jika diambilkan 1-2 persen saja, sudah cukup banyak yang bisa dilakukan. Jika tidak, bahan bakar alternatif, termasuk minyak jarak, akan tetap menjadi oil of distance yang terlalu jauh untuk dijangkau masyarakat.

3. Belum adanya regulasi mengenai mekanisme penjualan batubara yang melindungi bangsa sendiri, hal ini yang mengakibatkan banyak batubara tidak dikirim ke pembangkit listrik, alih-alih malah di ekspor untuk mengejar harga pasar yang lebih tinggi. Akibatnya, terjadilah apa yang orang jawa bilang oglangan.

4. Banyaknya keluhan dari daerah, mengenai lambatnya respon pemerintah dalam mewujudkan pembangkit tenaga sumber daya alam, misal Maluku yang telah melakukan riset dan mengajukan proposal sejak 1983 tapi belum ada tindakan dari pemerintah. Hanya dijawab, “maaf, list pekerjaan masih panjang.. bla bla bla”, dan kudengar sang wakil daerah menggerutu di belakangku. Aku jadi ingat, ketika setahun lalu di Lombok, disana listrik mati adalah hal wajar yang sudah tidak lagi mengerutkan dahi orang-orang.

5. Ternyata, pemda DKI jakarta malah membuat kebijakan aneh : Jika sampah DKI mau dijadikan listrik, pengelola pembangkit harus membeli sampahnya. Padahal, saat ini Pemda DKI ‘menyewa’ bekasi untuk membuang sampahnya. WTF !

Dan jika aku lebih kritis, lebih mempersiapkan diri ikut seminar, dan tidur lebih awal malam hari sebelumnya, aku yakin lebih banyak yang hal yang bisa menggelitikku. Tapi bagaimanapun, ini adalah seminar yang sangat baik, yang akan beribu-ribu lebih baik jika dilakukan follow-up yang sesuai.

Aku setuju dengan hemat energi, tanggalkan jas dan gunakan baju yang nyaman agar AC yang tidak terlalu dingin. Tapi tolong jangan matikan TV kami, dalam jangka pendek menyiksa kami-kami yang insomnia, lebih jauh lagi melanggar UU penyiaran, dan dalam jangka panjang bisa merusak struktur piramida penduduk.

19 July 2005

Gie : Catatan Seorang Demonstran

Filed under: Hiburan — hericz @ 11:23 am

Gie: Catatan Seorang Nicholas Demonstran

Gie

Senin kemarin, 18 Juli 2005, aku diajak nonton bareng cintah dan temennya, Nia, nonton film baru-nya Riri Reza, GIE. Tidak disangka-sangka, ternyata penonton berjubel juga. Aku datang ke loket 1.5 jam sebelum film diputar dan sudah dua per tiga lebih tiket terjual, jadi mau tidak mau kebagian kursi agak depan.

Film ini dibuat berdasarkan interpretasi Riri Reza (dan team) terhadap buku Catatan Seorang Nicholas Demonstran, buku harian Soe Hok Gie. Buku ini pernah diterbitkan pada tahun 1983, dan sekarang di terbitkan ulang oleh miles production dengan disponsori A-mild dengan sampul depan bergambar Nicholas Saputra.

Scene dimulai dengan pengkondisian penonton pada suasana tahun 1950 sampai 1960-an: rumah-rumah tua, mobil-mobil kuno, baju-baju tempoe doeloe, sepeda motor dan sepeda onthel berkeliaran, toko-toko dengan nama jadoel serta ditulis dengan font yang khas, dibumbui suasana ketika orang-orang tergila-gila dengan REVOLUSI. Wah, kata orang-orang tua sih, kayak kembali ke Jakarta Tempoe Doeloe.

Alur cerita diawali dari masa kecil Soe Hok Gie yang pemberontak, idealis, kutu buku, tiap hari berkeliaran di perpustakaan membaca biografi tokoh-tokoh dunia, setiap hari pula menuliskan hal-hal yang dialami di buku hariannya. Tapi ditunjukkan pula bahwa Soe Hok Gie bukan anak yang dekat dengan keluarganya sendiri walaupun dia mempunyai sahabat-sahabat yang sangat dekat dengannya.

Ketika beranjak remaja, GIE muda kuliah di fakultas sastra UI. Waktunya dihabiskan untuk aktivitas kampus, naik gunung, bikin artikel di koran, nonton film perjuangan, rapat-rapat kemahasiswaan, dan baca buku.

Karena waktu film yang cuma 2 jam, penggambaran situasi politik yang melatar belakangi tidak digambarkan secara jelas, hanya sepotong-sepotong dan itupun hanya dari sudut pandang GIE, wajar dong, sesuai judulnya.

Sepanjang film banyak diselipkan kondisi masyarakat yang begitu menderita: orang-orang hidup di jalan, antrian panjang untuk beli minyak tanah, kericuhan karena tarif bis kota yang naik. Hmm, kok mirip dengan kondisi 40 tahun kemudian yah.

Gie di gunungPenataan sinematik, tata suara, dan alur cerita benar-benar memukau. Keberanian mengambil adegan dengan di alam bebas (gunung gede), atau scene dengan cahaya-cahaya minim menimbulkan kesan artistik yang tidak ditemui pada sinetron-sinetron buatan Tak Ada Rotan Raam Punjabi Production. Tata suara yang bagus, salah satu soundtrack yang digarap Erros Sheila on 7 cukup enak didengar dan memberi semangat pada film. Soundtrack lain adalah Donna-donna, lagu Joan Baez yang dinyanyikan ulang oleh Sita (dulu anggota Rida Sita Dewi), yang ternyata memang lagu yang memberi inspirasi pada Soe Hok Gie. Ada lagi lagu genjer-genjer, yang terus terang aku baru pertama kali dengar di film GIE ini. Sita sendiri juga berperan sebagai Ira, sahabat GIE dalam aktivitas di kampus dan naik gunung.

Pemeran pembantu pada film ini juga mantap, ada Wulan Guritno, Happy Salma, dll (dan lainnya lupain aja).

Kesimpulannya, nonton film ini sangat direkomendasikan!

Review tentang GIE juga sudah ditulis oleh Oom Aris.

Satu hal yang bikin gondok film ini adalah, kenapa Happy Salma cuma muncul 15 detik?

Next Page »