Dicari : Energi alternatif pengganti BBM !
“Pada jaman Orba, orang Indonesia berdo’a semoga harga minyak dunia naik. Karena kenaikan $1 per barrel akan berdampak positif bagi kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, saat ini, orang Indonesia berdo’a semoga harga minyak turun. Karena penurunan $1 per barrel akan berdampak positif bagi kesejahteraan rakyat. Ketika bertemu dengan pemuka agama, saya katakan hal itu. Mereka bilang bahwa Tuhan tidak menjawab do’a ummatnya secara instan. Mungkin tidak dikabulkan, mungkin dikabulkan tapi entah sekarang, entah kapan. Mungkin saja, harga minyak naik saat ini adalah hasil do’a saat orde baru”.
Demikian joke pembuka yang dilontarkan Menristek Kusmayanto Kadiman pada seminar kemarin. Seminar yang ‘terpaksa’ aku ikuti tersebut adalah seminar “Pemanfaatan bahan bakar dan Arah Teknologi Pembangkit masa depan di Indonesia”, hasil kerjasama BPPT dan PLN, yang dilaksanakan di gedung BPPT Thamrin. Seminar ini membahas berbagai solusi yang ditawarkan kalangan ABG untuk mengatasi krisis energi di Indonesia, terutama untuk pembangkitan listrik. Ya, krisis energi yang membuat pemerintah mati-matian melakukan kampanye hemat energi, yang mengakibatkan lampu-lampu jalan dimatikan, kantor-kantor menjadi gelap, AC ‘dihangatkan’, kampanye hemat 17-22, dan -yang paling parah- kita tidak bisa nonton TV di malam hari.
PLN menjelaskan Roadmap kebijakan sumber energi bagi pembangkitannya, terutama pengurangan pembangkit yang menggunakan BBM, dan peralihan ke bahan bakar non-fosil atau bahan bakar renewable. Bahan bakar yang dimaksud seperti gas alam, panas bumi, batu-bara, energi alam, bahan bakar dari tumbuh-tumbuhan, bahkan nuklir. Diharapkan energy-source-mix yang cukup ideal dapat dicapai tahun 2025 yang akan datang. PLN juga memaparkan perubahan perilaku kalangan industri dan bisnis yang mematikan generator mereka sendiri dan ikut menyedot energi dari PLN saat kenaikan harga BBM. Tindakan yang mengakibatkan beban puncak yang semakin tinggi dan membengkaknya subsidi BBM untuk listrik.
Dari kalangan akademisi muncul solusi Minyak Jarak, yang dilontarkan oleh peneliti dari ITB, Robert Manurung, bekerja sama dengan kalangan swasta dan luar negri (jepang). Beliau dan tim mengklaim telah berhasil melakukan ekstrak biji jarak menjadi sumber bahan-bakar alternatif yang memiliki performa SERUPA dengan minyak solar. Solusi sedemikian lengkap, bahkan sampai mekanisme pengentasan kemiskinan petani dengan menanam tanaman jarak ini, mengingat harga bahan pangan yang terus menurun dan harga energi yang terus naik. Diharapkan petani menjadi ‘raja-raja minyak’ Indonesia. Tampaknya Pak Robert ini adalah orang yang tergila-gila, terobsesi dengan minyak jarak. Salam hormat, sekali lagi salam hormat buat pak Robert Manurung beserte tim.
Seperti telah diketahui, Indonesia memiliki sumber panas bumi yang sangat besar, bahkan -kalau tidak salah- terbesar di dunia. Untuk itu ditampilkan pula dari swasta asing, “ORMAT”, perusahaan yang bergerak di bidang desain dan konstruksi PLTU. Andalan mereka adalah sistem pembangkit binary cycle yang cost-effective dan environment-friendly. Saat presentasi, beliau sempat curhat mengenai tender yang sudah disetujui pemerintah, tiba-tiba dibatalkan dan dilakukan tender ulang. Aduh, salah audience mister. Banyak peserta yang tertidur -bahkan keluar ruangan- pada sesi ini, maklum, sesi setelah makan siang dan berbahasa inggris.
Ada lagi dari dosen ITB, Dr. Ir. Ary Pasek, yang mengajukan solusi Biomassa. Yaitu pembangkit berbahan bakar sampah, sisa-sisa produksi, gambut, dan semacamnya. Lengkap dengan hasil survey mengenai keberadaan ‘bahan bakar’ tersebut.
Sisi Government diwakili oleh Menristek Kusmayanto Kadiman, yang setahun lalu mewisuda sarjana-ku (narsis euy!). Beliau memaparkan betapa banyak sumber energi yang bisa digunakan, tapi sungguh tidak sebanding dengan kemampuan pemerintah untuk melakukannya (baca: mendanai). Selain itu, ternyata sumber energi alam kita (sungai, angin, ombak) sangat spesifik dan tidak bisa disamakan dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, sehingga memerlukan riset yang lebih mendalam agar tidak menjadi museum energi semata.
Ada lagi, yang menurutku sesi paling tidak menarik, adalah tentang CDM. CDM adalah salah metode yang disetujui untuk memenuhi protokol Kyoto. Sebenarnya bagus dan menarik, tapi terkesan ‘di awang-awang’ kalau melihat kondisi energi Indonesia yang ada sekarang. Kondisi dimana pembangkitan masih terfokus di JAMALI, dimana baru -kurang dari- 70% rakyat mendapat manfaat aliran listrik. Tapi salut juga buat mereka-mereka yang telah memikirkan hal ini.
Hal beberapa hal yang cukup menggelitik dari seminar ini, antara lain :
1. Ternyata terdapat inkonsistensi antara perencanaan PLN dengan pelaksanaanya. Tampak dari roadmap energy-mix yang dipresentasikan, dan pola penggunaan energi yang dilakukan. Diharapkan penggunaan BBM menurun, dan Gas naik, tapi ternyata Gas tetap dan BBM naik. Hal ini dijawab dengan alasan sumur Gas sulit diketahui isinya, sehingga susah mendapatkan aliran stok yang tetap, untuk menutupi kekurangannya digunakan BBM lagi. Hmm… ah, sudahlah
2. Ternyata, belum ada mekanisme subsidi untuk pengadaan bahan bakar alternatif, baik untuk penelitian maupun untuk produksi. Padahal subsidi untuk BBM amat sangat besar, jika diambilkan 1-2 persen saja, sudah cukup banyak yang bisa dilakukan. Jika tidak, bahan bakar alternatif, termasuk minyak jarak, akan tetap menjadi oil of distance yang terlalu jauh untuk dijangkau masyarakat.
3. Belum adanya regulasi mengenai mekanisme penjualan batubara yang melindungi bangsa sendiri, hal ini yang mengakibatkan banyak batubara tidak dikirim ke pembangkit listrik, alih-alih malah di ekspor untuk mengejar harga pasar yang lebih tinggi. Akibatnya, terjadilah apa yang orang jawa bilang oglangan.
4. Banyaknya keluhan dari daerah, mengenai lambatnya respon pemerintah dalam mewujudkan pembangkit tenaga sumber daya alam, misal Maluku yang telah melakukan riset dan mengajukan proposal sejak 1983 tapi belum ada tindakan dari pemerintah. Hanya dijawab, “maaf, list pekerjaan masih panjang.. bla bla bla”, dan kudengar sang wakil daerah menggerutu di belakangku. Aku jadi ingat, ketika setahun lalu di Lombok, disana listrik mati adalah hal wajar yang sudah tidak lagi mengerutkan dahi orang-orang.
5. Ternyata, pemda DKI jakarta malah membuat kebijakan aneh : Jika sampah DKI mau dijadikan listrik, pengelola pembangkit harus membeli sampahnya. Padahal, saat ini Pemda DKI ‘menyewa’ bekasi untuk membuang sampahnya. WTF !
Dan jika aku lebih kritis, lebih mempersiapkan diri ikut seminar, dan tidur lebih awal malam hari sebelumnya, aku yakin lebih banyak yang hal yang bisa menggelitikku. Tapi bagaimanapun, ini adalah seminar yang sangat baik, yang akan beribu-ribu lebih baik jika dilakukan follow-up yang sesuai.
Aku setuju dengan hemat energi, tanggalkan jas dan gunakan baju yang nyaman agar AC yang tidak terlalu dingin. Tapi tolong jangan matikan TV kami, dalam jangka pendek menyiksa kami-kami yang insomnia, lebih jauh lagi melanggar UU penyiaran, dan dalam jangka panjang bisa merusak struktur piramida penduduk.
July 22nd, 2005 at 1:21 am
Kalau aku “pribadi” seneng gak ada acara TV malem, soalnya aku akhirnya bisa tidur lebih awal, bangun lebih pagi, nek insomnia masih ada 10 buku yang blum “sempet kebaca”….
mode : serius…we kek kek
July 22nd, 2005 at 1:27 am
itu kok ada tanda kutip *terpaksa* ikut seminar
July 22nd, 2005 at 1:34 am
pak kusmayanto memang lebih seneng humor dulu, baru coba selesaikan masalah, walaupun masalahnya tetep aja gak selesai-selesai (kayak gus dur ya, ha ha haaa)
July 22nd, 2005 at 2:03 am
horeee orang listrik komentar bbm … bagus juga ya
July 22nd, 2005 at 11:22 am
kenapa pake BBm? soale ada komisi impor. Kalo gas kan ngambil dari tanah sendiri. Tapi, kayaknya gas juga non renewable kok Her, kalo yang jelas2 renewable sebenarnya air sama panas bumi. Tapi kok ya pemerintah itu ga ngerti2 juga alasannya ekonomis atau nggak. Eh tapi memang alasan ekonomis ding, artinya kalo ngimpor satu liter dapat satu rupiah berarti kalo 10.000 barel dapetnya …. dollar (konversi sendiri!).
July 22nd, 2005 at 1:43 pm
Sumber daya panas bumi sebenarnya potensial sekali buat daerah Jawa Barat + DKI, jaraknya dekat banget dgb Bandung. Sempat juga sih liat statistiknya waktu gw bolak-balik ke pembangkit Pertamina y di Kamojang (Kab. Bandung), masih banyak “sumur uap” potensial y belum di manfaatkan. Di situ gw liat orang pertaminanya sendiri kerjanya rada “ga becus” padahal gajinya selangit
July 23rd, 2005 at 8:39 am
Sepakat, panas bumi memang menjanjikan dari dulu - lebih lengkap baca link http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/23/humaniora/1918266.htm. Sepertinya harus ada kampanye agar pemerintah sadar jangan berpikir jangka pendek saja, saatnya mulai berpikir jangka panjang.
===========================
Ganti BBM! Pake Panas Bumi!
===========================
July 23rd, 2005 at 9:09 am
wakz.. ada pak robert.
July 24th, 2005 at 11:30 pm
Sapa bilang…cadangan gas susah dicari isinya ??????
Siapa bilang ????
July 24th, 2005 at 11:42 pm
#8 : Orang PLN jo, orang PLN.. !
July 25th, 2005 at 1:43 am
daku malah seneng kalo tipi malem2 udah mate…
jadi lebih konsen didepan komputer…
July 25th, 2005 at 2:31 am
Mas Herry,
Punya nggak kontak email/phone-nya Pak Robert Manurung ( yg ngolah buah jarak menjadi alternativ BBM). Terimakasih
July 25th, 2005 at 2:34 am
Baca tulisan ini saya ketawa sendiri. Abis lucu.
1. Yah wajar2 aja kan kalo kita CARI berati yg disarankan itu BELUM ada. Kalo sudah ada kenapa diCARI?
2. Jokenya MENRISTEK sayangnya terbatas Joke saja. Padahal kalo diusut mengapa berbalik doa kita, dari doain harga minyak Naik menjadi TURUN, kita ketemu deh alasan nya dan coba menghindarinya kemudian. Pada zaman ORBA produksi minyak kita meningkat dari hanya puluhan atau ratusan ribu menjadi jutaan ribu. Makanya kita expor minyak kita dan dapat keuntungan BESAR bila harga NAIK. Kita ternyata “ENJOY AJA” trus konsumpsi minyak kita naik karena kita membangun. Tentu aja pake energi lebih besar.
Kita arena keasyikan enjoy pake minyak lupa deh naikan lagipadahal yg adapun menurun. Ini sudah berjalan lama dan perlahan2 loh, tidak sekejap terjadi. Kok pada kaget semua dan jadi panik semua. Sampe2 seluruh bangsa stop nonton TV kalo udah malam. Cilaka deh.
3. karena cari maka banyak idea bagus dimunculkan. Tapi kalo kita mau kerjakan maka tentu hanya yg sudah TENTU ADA saja yg muncul, spt yg dikatakan Pak Darmawan MS, energi Panas bumi di Jawa Barat, dalam hitungan kurang dari 1000 hari sudah nyata ada. Atau juga Tenaga Air.
4. Sudah ku duga, pasti deh muncul seribu alasan untuk tidak berbuat apa2 spt., tidak punya duit, banyak kerjaan, sumbernya tidak pasti, blum ada regulasi, dst. dst…dst.
Tak usah dicarilah; apa lagi kalo dicari-cari. KERJAKAN AJA DEH.
Salam JD
July 25th, 2005 at 3:17 am
#12, Mas Rudi, untuk kontak pak robert manurung, coba aja langsung hubungi lewat Teknik Kimia ITB. www.che.itb.ac.id. Orangnya sangat terbuka, tapi sangat sibuk. Silahkan saja coba anda hubungi. Tapi kalau belum ganti, email beliau di [manurung at che dot itb dot ac dot id] (semoga beliau berkenan email dipublish di sini).
July 25th, 2005 at 3:21 am
#13. Wah, ini memang blog untuk menghibur kok. Kalo nggak lucu sia-sia dong, hehe.
Thx atas komentarnya, semoga kita semua mampu, termasuk pak JohanD ikut memikirkan dan melakukan usaha implementasi energi alternatif ini, sesuai dengan kompetensi yang kita miliki.
July 25th, 2005 at 4:41 am
he he heeee,
angkatan tua detected,
memberi komentar dan arahan buat bloger !
salam manizz pak johand
July 26th, 2005 at 2:35 am
kalo yang aku tau dari anak2 teknik kimia sendiri, benernya yang ngolah minyak jarak itu pak tatang dan hasil olahannya udah bener2 jadi biodiesel, aku liat sendiri. tapi kalo pak robert, hanya mengolah sampe ke minyak jarak aja, istilah anak2 teknik kimia, pak robert baru mengolah sampe ke minyak mentahnya aja.. denger2 juga, pak tatang dan pak robert agak crash karena masalah minyak jarak ini, saling mengakui paten keliatannya.. cuman pak robert emang lebih duluan sounding, meskipun biodieselnya belum ada
July 26th, 2005 at 10:56 am
Hehehe..orang PLN ta ? Ya bilang aja ke orang PLN, bahwasannya klo emang ga tau ga usah ngomong deh …pa lagi urusan gas bumi. Orang Indonesia dah bisa liat cadangan gas bumi kok … hehehe
July 29th, 2005 at 1:16 pm
Lha terus gasnya sekarang ke mana Jo? Kok bisa2nya Indonesia utang gas sama Caltex? Kalo ga dikembalikan tepat waktu dendanya dua kali lipat lho. Katanya punya banyak gas tapi utang gas bingung balikinnya. Apa pura2 bingung ya? lha gasnya ke Cina…….. *masih bingung*
August 1st, 2005 at 6:17 am
hehehehe…gasnya tu banyak…malah banyak yang disimpen karna blom ada pembeli….Klo soal ngutang ke Caltex, sebaiknya saya ga jawab aja…itu wewenang temen” di manajemen dan ekonomi, kami” kan cuma kuli” buat cari…Minyak dan Gas kan dah terkait ma JOB, so mungkin sama dengan kasus kelanggakaan BBM
August 6th, 2005 at 11:42 pm
salam kenal. saya tertarik untuk lebih jauh mengenal penggunaan minyak jarak dan riset penggunaannya, juga mengenai pembangkit energy alternative. sekiranya tidak keberatan mohon dapat membagikan kepada saya sourcing data. thanks.
August 7th, 2005 at 12:32 am
#21. Sebaiknya pak Andreas langsung menghubungi Pak Robert Manurung di Teknik Kimia ITB. (lihat comment nomer 14).
August 14th, 2005 at 4:57 am
jarak Pagar: Satu Lagi Sumber Energi Alternatif
Dari situs Kodok Ngerock:
Dari kalangan akademisi muncul solusi Minyak Jarak, yang dilontarkan oleh peneliti dari ITB, Robert Manurung, bekerja sama dengan kalangan swasta dan luar negri (jepang). Beliau dan tim mengklaim telah berhasil melakukan ekst…
August 15th, 2005 at 7:26 am
Numpang ngisi, perkenalkan saya adalah Louis, asisten Dr. Robert Manurung dari teknik kimia itb.
Soal biodiesel, kami memang tidak membuat biodiesel dari minyak jarak. Kami memanfaatkan minyak jarak alami (Straight Jatropha Oil - dari nama latinnya Jatropha curcas). Jadi kalo orang2 di luar sibuk dgn biodiesel, kami TIDAK TERLIBAT dalam pembuatan biodiesel.
Untuk yang membutuhkan info lebih lengkap atau hendak bekerja sama, e-mail Dr. Robert Manurung adalah benar manurung@che.itb.ac.id. Karena kesibukan yang luar biasa pada saat ini, diharapkan pengertiannya jika e-mail tidak segera terbalas dalam waktu singkat.
Terima kasih.
Salam.
August 16th, 2005 at 6:14 am
#24 pak louis : Terimakasih atas kunjungannya. Semoga Pak Tobert Manurung beserta Tim/Asisten tidak keberatan dengan artikel ini
.
August 24th, 2005 at 8:27 am
Pokok permasalahan dengan minyak jarak adalah sistim pengembangan pola tanam biji jarak,sehingga dihasilkan biji jarak yang melimpah untuk diolah di kilang minyak jarak.Kenapa pemerintah cq.Dept.Pertanian tidak mereview bagaimana pada masa pendudukan Jepang dulu, kita rakyat Indonesia(tua+muda serta anak-anak sekolah mulai SD)diperintah untuk menanam pohon jarak dikebun-kebun ,bahkan dipekarangan rumah dan sekolah serta sebagai pagar hidup!Bahkan oleh si Jepang yang menjajah kita, penanaman pohon jarak ini sampai di perlombakan dikalangan murid-murid.Siapa yang paling banyak timbangan biji jaraknya pada waktu panen, diberi hadiah alat-alat tulis!Hasil panen jarak rakyat, diangkut ke Jepang (dengan kamuflase”KUSUKEHO”).Sejak kita “merdeka” tidak pernah lagi terdengar orang nanam atau berkebun pohon jarak!!!Seingat saya,ada pabrik kepunyaan”Kimia Farma” di Semarang, yang katanya tutup gara-gara kekurangan(”shortage”) bahan baku biji jarak.Soal manfaat minyak jarak kita semua suadah mafhum!Mulai dari Castrol oil, bahan bakar, obat sakit gigi,dst dst dst…Ayo bapak-bapak pemimpin negara RI ini(Pertanian,Pertambangan&Energi,BPPT dst, BANGUN!BERPIKIR DAN BERTINDAK DALAM LINGKUP TUGAS&WEWENANGNYA, UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT!SEMOGA ALLAH SWT MEMBERIKAN BIMBINGAN DAN KEKUATAN KEPADA KITA RAKYAT INDONESIA YANG TELAH 60 TAHUN MERDEKA INI!
September 14th, 2005 at 10:30 pm
Hmm..
barusan ngobrol sama temen, kayaknya harga biji jarak ‘tidak menarik’ kalau sekilo cuma dihargai 500 rupiah. Lha wong lombok sekilo 1500 aja udah gak dipanen, tombok buat biaya buruh petiknya.
October 2nd, 2005 at 7:22 am
Bagi orang yg benar2 memikirkan bisnis memang tidak menguntungkan (modal uang tanpa keluar tenaga)untuk menanam jarak jika harganya 500.Tapi menurut saya lebih menguntungakan bagi rakyat miskin karena mereka kaya akan tenaga,jd klu semua dikerjakan sendiri malah menurut saya lebih menuntungkan daripada kerja jd kuli.
October 6th, 2005 at 10:24 pm
apa saja usaha yang dilakukan untuk penanggulangan pencemaran lingkungan akibat industri minyak jarak tersebut, apakah sisa dari jarak tersebut bisa dibuat sebagai bahan bakar alternatif juga, bagaimana caranya
October 7th, 2005 at 9:33 am
yok bongkar 450 TPA-Open Dumping sak indonesia, direhab jadi TPSA-RSL dapat CH4, komposnya disebar di 20 juta Ha lahan kritis yang ada di DAS, tanemi jarak jatropha curcas, peresbijinya (kalouww sudah panen) dapat minyaknye, bakar ampasnye didapur, bersih kotanya (TPA selalu ada), biru lautnya, enak mancing ikannya, dibakar pakai ampas biji jarak, wah, uuuueeeenak tenan.
October 11th, 2005 at 9:32 pm
bbm naik kenalan yuu!
October 31st, 2005 at 6:47 pm
Kenalin saya Dody Al Fayeed masuk Teknik Industri th 1988
Saya dah ditawarin lahan 300 ha oleh perhutani Cirebon
buat nanem jarak pagar ( Jathropa kulkas ..eh curcas )
Tapi belum bisa jalan karne alasan klasik …kagak ada duit .. hiks …hikss …hehehehe
October 31st, 2005 at 7:30 pm
mo nambah komentar ..
Harga biji jarak rp 500/kg udah kadaluarsa. Skr dah bisa Rp 1000/kg. Satu ltr solar = 3 kg biji jarak. Berarti biaya bahan baku untuk 1 ltr solar = Rp 3000. Ditambah biaya operasional = Rp 600 maka Biaya produksi = 3600/ltr.
Jika solar transportasi = 4300/ltr maka masih ada spread
Rp 700 /ltr.
Jika solar industri = Rp 5400/lt masih ada spread 1800/ltr .. Sangat menguntungkan bukaaaaaaaaaaaaaaan ????
November 29th, 2005 at 11:14 pm
kurang valid !!!!!!
January 21st, 2006 at 10:10 am
perubahan budaya harus didukung oleh semua pihak..ayo hemat energi dan jangan banyuak sumber energi (Minyak,Gas,Batubara) dieksploitasi secara berlebih ..karena dampaknya terhada lingkungan akan dirasakan anak cucu kita…..peduli lingkungan mulai dari diri sendiri
February 9th, 2006 at 11:53 pm
bwuat orang jakarta nih ye, jangan makan kekayaan semua daerah yang ada di Indonesia donk. kita yank kerja, eee… eloe yang nikmatin hasilnya. SUATU SAAT DUNIA PASTI TERBALIK. gue yank jadi penguasa Indonesia. Tunggu aja
February 21st, 2006 at 10:04 am
salam buat pak manurung! (’_’) mesin udayana buat minyak jarak pagar dgn proses rendering. lanjut dengan uji sifat fisik dan uji pada mesin diesel. jika perkenan, saya ada beberapa pertanyaan buat bapak :
1. bagaimana tingkat kadar air dari minyak jarak yang bapak hasilkan ?
2. apakah bapak melakukan uji sifat - sifat fisik bbm untuk minyak jarak yang dihasilkan ?
3. bolehkah saya tahu hasil uji sifat fisik dari minyak jarak pagar yang bapak buat?
terima kasih banyak sebelumnya
July 25th, 2006 at 11:05 am
ana punya alat yang dapat dijadikan sebagai energi penggerak alternatif. ekonomis tampa bahan bakar, BBM, air terjun ataupun motor
July 25th, 2006 at 11:19 am
ana punya alat yang bisa menjadi energi penggerak alternatif. tanpa BBM, listrik dan motor penggerak. ia bergerak dengan energi grafitasi, dalam bentuknya sebagai pompa
July 25th, 2006 at 3:02 pm
Dari sekian comment hanya 3 orang (termasuk ini) yang punya website?
eh saya aja deng yang 2 lagi ke plasa.com
October 3rd, 2006 at 3:38 pm
qnapa ngoceh sndiriaa..nn
ga’puas y sm GOVERNMENT
kalo ga puas ngomong aja langsung!!!supaya kdengeran.
nih gw contohin…
“hei!president!!! sebaiknya bapak gantung pejabat2 tikusmu yang korup karena merugikan dan merusak negara…..!!!aku dan semuanya sudah muak!!!kalo bapak president ga’ bisa sebaiknya bapak president berhenti!!!kalo bapak president ga’ mau berhenti sebaiknya bapak president aja yang gantung diri!!!
gimana?? udah bisa kan ngomong langsung??
80% kerugian PLN karena korupsi!!!dan 75% hasil korupsi tersebut didapat dari “pengalihan BBM”.
ga tau dialihkan kemana…gitu!!
hei….lo!!kemana dialihkannya,ada yang nanya nih,kok lari,dasar TIKUS!!
oiya..!! gw punya comment dikit nich.
“pak president!!tolong dipel(dibrsihkan) BUMN2 yang kita punya,sudah bau’ banget!!”.
pejabat2,direktur2,komisaris2nya wangi2, tapi…BUSUK-BUSUK..”
“sudah ga laik pakai, sebaiknya dikumpulin yang BUSUK2 tsb trus dibakar dijadiin sumber pembangkit berbahan bakar “bioman”!! “gimana pak???”
makasi yach “kodok” udah mau baca unek2 gw.
da da…
isi dan tulisan bukan tanggung jawab penulis.kalo bapak presiden MARAH gw ga..tau….
gw mo lari dulu….
da da….
March 21st, 2007 at 4:35 pm
Kalo bbmnya susah cari alternatifnya, coba lihat jalan lainnya, perbaiki kinerja mesinnya ( setau ane any ICE / Internal Combustion Engine manapun saat ini cuman 35% efisien, baik itu mesin motor, mobil, atau mesin2x industri yang pake bbm ).
Coba deh googling, pelajari Bingo Fuel, atau perbandingkan aplikasi penerapan GEET Fuel System yang ternyata mirip kompor minyak tanah Gasmit, bedanya GEET Fuel System mengambil panas buangan dari leher knalpot untuk mengefisiensikan bbm.
Tiga contoh dulu, semoga berguna.
May 2nd, 2007 at 1:40 pm
tolong beritahu bagaimana cara pembuatan bahan bakar dari minyak nabati secara sederhana dan efisien bila ada yang menjawab terima kasih banyak
May 11th, 2007 at 11:08 am
Percepat kemandirian bangsa. Bangun pabrik biodiesel dengan teknologi dan sumberdaya manusia Indonesia. PT RBS merupakan perusahaan yang ingin memajukan Indonesia dengan menerapkan teknologi tepat guna di sektor biofuel. Pabrik yang telah dibangun oleh PT RBS telah mengucurkan biodiesel yang memenuhi standard nasional Indonesia Biodiesel. Kami ingin besar bersama Anda. Kami siap membantu Anda dengan teknologi anak bangsa.
Pabrik kami merupakan multi feed stock plant (bahan baku beragam: CPO, PFAD, jarak pagar, minyak kelapa, dll) dan sekaligus multi grade feed stock plant (kadar FFA bervariasi).
Kami tampil di negeri maya di www.rbsindonesia.com dan info@rbsindonesia.com
Hubungan telepon bisa dilakukan di nomor 021 71045665 dan 71216722
Atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih.
PT RBS
May 27th, 2007 at 11:29 am
Sebenarnya orang indonesia itu pintar-pintar, tapi kurang modal untuk melakukan riset dan pemerintah, dunia usaha atau masyarakat sangat tidak mendukung lahirnya idealisme untuk alternatif. BBM di bumi habis “no problem”, masih ada sumber adaya alam yang lain. Selama ini kita hidup bergantung dengan BBM. Tapi sebenarnya kinetik, pompa hidrolik,panas bumi, sinar matahari. tenaga angin dan airpun bisa dipakai untuk berteman dengan kita. adakah pemerintah atau dunia usaha bersedia merogoh kocek untuk diberikan bagi periset.
March 1st, 2008 at 9:01 pm
kalau ada yang punya info detail membangun mikrihidro kasih info ke aku karena aku tertarik banget nih. bisa juga kontak aku di: santoso_marine@yahoo.com