12 August 2005

Optimis nasionalis berbasiskan Busway

Filed under: Ngedumel — hericz @ 5:11 pm

Jalan thamrin di hari libur. Jalur kosong yang tampak disebelah kiri adalah jalur Busway.Saat ini, banyak orang Indonesia meragukan bangsanya sendiri untuk maju. Mereka bilang orang indonesia tidak bisa diatur, tidak disiplin, buang sampah sembarangan, tidak patuh ,dan tidak suka bermusyawarah, pokoknya tidak sesuai dengan Dasadarma Pramuka.

Aku sendiri yakin kalau orang Indonesia baik-baik, bisa diatur, dan bisa disiplin. Tergantung seberapa besar kemauan pemerintah mengatur warganya.

Biasanya contoh andalanku adalah Singapura. Apakah orang Indonesia buang sampah sembarangan, atau nyerobot lampu merah saat jalan-jalan di fine city ini?.

Syukurlah sekarang ada contoh yang lebih dekat dan bisa dirasakan oleh banyak orang, terutama yang tinggal di Jakarta. Busway.

Terlepas dari isu korupsi dan manipulasi pada proyek busway, yang tentu saja aku tidak mau ambil pusing, aku melihat ada sisi positif yang bisa direnungkan.

1. Disiplin pengemudi mobil pribadi
Di jalan protokol Jakarta, jalur busway lebarnya setengah dari jalur cepat. Di pagi dan sore hari, jalur cepat ini lebih tepat disebut jalur macet. Sedangkan jalur merah busway akan tetap lengang, hanya dilalui bus merah yang lewat beberapa menit sekali. Tapi, tidak ada satu mobil pun yang menyerobot jalur Busway ini. Ini menunjukkan kalau pengemudi di Jakarta bisa disiplin.

2. Disiplin pengemudi angkutan umum

Bus hanya berhenti di halte yang disediakan. Mungkin ini karena bus yang digunakan dirancang dengan pintu yang tinggi, sekitar 70 cm, disesuaikan dengan tinggi lantai halte (aku kurang tahu duluan mana perancangan bis dan halte, seperti halnya duluan mana telur dan ayam). Bis juga tidak pakai acara ngetem karena ada jadwalnya. Yang jelas, ini menunjukkan kalau pengemudi bis juga bisa disiplin.

3. Disiplin penumpang
Tarif busway 2500 rupiah dan dibayarkan sebelum naik bis. Tidak bayar, tidak bisa masuk area halte, berarti tidak bisa naik busway. Hal ini mencegah naiknya pengamen, anak-anak jalanan, dan pedagang asongan. Penumpang tidak akan tawar-tawaran dengan kernet apalagi sengaja tidak bayar. Sumpah, ini bukan pengalaman pribadi.

Selain itu, karena bis hanya berhenti di halte, penumpang tidak bisa naik turun seenaknya. Ini menunjukkan kalau penumpang juga bisa diatur dan bisa disiplin.

Masih ada banyak hal lain yang bisa ditulis, tetapi nanti aku dikira Public Relation-nya Transjakarta.

Pesan moral dari postingan yang dangkal dan tidak bermutu ini adalah orang Indonesia juga bisa diatur dan bisa disiplin. Sama sekali tidak seburuk yang dibayangkan orang. Its not the people, its the system. Tinggal kita bertanya sekali lagi, seberapa besar kemauan pemerintah mengatur warganya? dan seberapa besar kita mau mengikuti aturan pemerintah?

Indonesia menuju usia 60 tahun. Gelas sudah terisi setengah penuh. Tinggal kita penuhi dengan karya kita.

Dirgahayu Indonesia. Selamat Ulang Tahun. Makan-makan!â„¢


ditulis 13 Aug 2005

9 August 2005

Seminggu di Samarinda

Filed under: Personal — hericz @ 5:37 pm

Meneruskan postingan sebelumnya.

Awan di atas MahakamSelama seminggu di Samarinda, aku lebih banyak berada di dalam ruangan. Pagi hari jam 8 udah siap-siap ke ruang pertemuan, jam 10 coffe break, jam 12 sholat dan makan siang, jam 3 coffe break, jam 5 bubar. Berulang setiap hari, kecuali kalau jadwalnya ke lapangan.Dengan kegiatan diatas, tidak banyak yang bisa kulihat di Samarinda. Bahkan Sungai Mahakam yang hanya berjarak 400 meter dari mess tidak sempat dikunjungi di siang hari, tapi untunglah sempat satu kali acara yang dilakukan di seberang sungai, jadi sempat melihat Mahakam yang diterangi matahari.

Pemandanganku tiap pagi dan sore hanyalah Islamic Center yang masih dalam tahap pembangunan. Islamic Center ini berjarak sekitar 500 meter dari mess, memiliki 4 buah tower yang tingginya kurang lebih 100 meter, kata orang setempat bangunan ini lebih besar dari masjid Istiqlal Jakarta.

Islamic Center

Malam-malam dilewati dengan mencari makanan di luar, berhari-hari aku mencari menu Ikan Patin, tapi selalu kehabisan. baru pada hari kamis malam aku berhasil mendapatkan Patin pertamaku. Wuih, beneran enak nih ikan yang katanya khas kalimantan.

Souvenir ShopMalam sebelum balik ke Jakarta, Gempur, seorang warga kampung id-gmail, berbaik hati dengan mengajakku berjalan-jalan keliling Samarinda. Minum ronde di tepian mahakam, belanja souvenir, sholat maghrib di Masjid Agung Samarinda, belanja amplang, dan juga diajak ke kantornya untuk sekedar ngejunk sebentar. Terimakasih Oom Gempur, mudah-mudahan aku bisa reply kebaikanmu.

Selamat tinggal Samarinda

Sabtu pagi, akhirnya Mazda E2000 membawa kami meninggalkan kota Samarinda menuju Balikpapan. Jalan yang terlihat lurus ketika berangkat, ternyata terasa berbelok-belok pada kecepatan tinggi. Hal ini cukup menyiksa, apalagi dengan perut kosong karena semua -kebetulan- kesiangan. Kondisi perut yang tidak nyaman ini membuat dua orang meminta istirahat dulu untuk sarapan, termasuk aku.

Warung BanyuwangiSekian lama mencari warung makan, akhirnya ketemu sebuah warung di tengah hutan Soeharto. Sebuah warung ditengah pepohonan tinggi dengan label ‘Warung Banyuwangi’, di tengah warung terdapat TV yang memutar VCD cewek-cewek berpakaian mini joget-joget gak jelas dengan irama dugem. Sebenarnya ingin nonton sih, tapi aku lebih memilih fokus ke Indomie goreng, telo goreng, dan teh hangat. Matahari sudah cukup tinggi.

Bandara Sepinggan Affair
Dari ‘Warung Banyuwangi’ perjalanan masih sekitar 1.5 jam ke Bandara Sepinggan Balikpapan. Tapi kondisi perut yang telah terisi membuat suasana terasa nyaman. Tak terasa kamipun tiba, boarding, antri nitip bagasi, dan masuk ruang tunggu.

No Selingkuh !Saat menunggu keberangkatan, beberapa gadis cantik mengedarkan angket seputar kenaikan tarif layanan bandara Sepinggan dari 15 ribu ke 30 ribu. Setelah mengisi angket, aku dibujuk-bujuk oleh senior-senior untuk foto bersama gadis pengedar angket. Dengan ‘terpaksa’ akupun mengajaknya foto bersama. Sambil membayangkan hukuman yang akan diterima bila sampai di Jakarta nanti.

Take Off
Garis pantai kalimantanJam 11.25 pesawat meninggalkan bandara Sepinggan. Selamat tinggal Kalimantan. Pulau dengan limpahan rejeki yang tiada terkira. Di atas tanah dipenuhi kayu-kayu hutan, bawah tanah dipenuhi batubara, gas dan minyak, untuk mengangkut disediakan sungai-sungai yang lebar terbentang. Bersyukurlah kalian yang tinggal di kalimantan.

Pemandangan terakhir pulau kalimatan yang kulihat adalah garis pantai Kalimantan dengan perahu nelayan yang sendiri.


Keterangan :
gambar 1 : Awan di atas mahakam, diambil dari atas jembatan mahakam
gambar 2 : Islamic Centar yang baru dibangun, dari jendela kamar
gambar 3 : hericz dan Gempur, di toko souvenir
gambar 4 : Warung banyuwangi, di tengah hutan soeharto
gambar 5 : hericz dengan gadis pengedar angket yang cantik, bandara sepinggan
gambar 6 : nelayan di garis pantai, dari seat 15E, LionAir

8 August 2005

Perjalanan ke Samarinda

Filed under: Personal — hericz @ 4:05 pm

*postingan gak penting*

Minggu, 31 Juli 2005
Boarding di Bandara Cengkareng jam 10. Pesawat Adam-Air, terminal B2. Jadwal Take-off jam 11.30.

Boarding pass nomer 25Tempat duduk bernomer 25, untuk pesawat jet Boieng 737, itu berarti kursi paling belakang. Jika ada nomer 26, pastilah kursi itu sudah berada di dalam toilet. Temenku sempat bilang, “wah, bakal berisik nih”.

Masuk kabin, kami berlima dengan sekitar 10 tas dan bawaan yang dibawa masuk. Termasuk osiloskop, yang karena tidak ada lagi tempat, terpaksa diletakkan di bawah kakiku. Duduk di kursi belakang sungguh tidak menyenangkan, diperparah lagi dengan tidak adanya lubang jendela di sebelah. Untunglah aku duduk di sisi gang, dimana pramugari lalu lalang hilir mudik. Tidak ada yang spesial, semua biasa saja, tapi lumayanlah buat pengusir bosan.

Pesawat take off. Temenku benar, sangat berisik. Bahkan susah untuk sekedar ngobrol.

Setelah hampir 2 jam take off, rasa bosan berganti rasa kantuk. Sebenarnya aku tidak tahu sudah berapa lama, handphone sebagai petunjuk waktu dimatikan, yang jelas sudah terasa lama sekali. Rombonganku sudah terlelap semua, aku tidak bisa memejamkan mata, jadi kembali ke rasa bosan. Berbagai macam cara sudah dicoba, baca kompas, baca koran tempo, bahkan makan pisang goreng bawaan dari kantor, tapi tetap saja bosan. Pramugari tetap hilir mudik: mengantarkan makanan, mengambil sampah, dan menjajakan dagangan (souvenir). Tapi mungkin karena aku tipe pria yang setia, aku tidak begitu memperhatikan mereka seperti halnya ketika baru masuk kabin. Berita mogok kerja karyawan PT. Kereta Api di Koran Tempo lebih menarik perhatianku.

Quis Onboard
Tiba-tiba ada pengumuman dari ruang kemudi, seperti biasa suara pilot tidak terdengar jelas. Para penumpang terjaga dari tidurnya, “Wah, udah hampir sampai nih,” pikirku. Ternyata salah, pilot malah keluar dari ruang kemudi dan memegang mic menghadap penumpang. Tak disangka-sangka, pilot memberikan kuis kecil-kecilan, katanya untuk hiburan ala kadarnya. Peraturannya sederhana: pilot bertanya, penumpang menjawab, penumpang benar, dapat hadiah.

Pertanyaan pertama dan kedua begitu mudah, apalagi bagi penggemar milis seperti aku.Tapi metode “ngacung if you know the answer” membuatku susah mendapat bagian menjawab, sekali lagi karena tempat duduk yang di ujung belakang. Giliran pertanyaan ketiga, “apa perbedaan profesor teknik dan profesor sejarah?”, tetap sambil membaca koran tempo aku angkat tangan kananku. Lah, ternyata satu kabin yang angkat tangan cuma aku. Pramugari-pramugari menyambutku dan membimbingku (halah) ke depan, ke arah pilot yang berulang-ulang bilang “wah, masih mahasiswa nih kayaknya, ganteng sekali, ayo silahkan maju kesini…”

Jam gratisan dari Adam AirJawabannya jelas, profesor teknik botak di depan, profesor sejarah botak di belakang. Seharusnya semua orang tahu teka-teki basbangnyol (basi banget dan konyol) itu. Intinya, aku mendapatkan jam dinding Adam Air sebagai souvenir. Sebenarnya pas penyerahan hadiah aku minta cium pramugari, biar kayak di tivi-tivi. Tetapi mungkin karena faktor mukaku, wanita-wanita itu -dengan sekuat tenaga- berusaha menolak dengan sopan. Tidak apa-apa, sudah biasa.

Pilot, Kapten Hidayat, sempat menanyakan “Masih mahasiswa dik?”, “Baru lulus pak,” jawabku (tidak kulanjutkan ’setahun kemarin’). “Kuliah dimana?”, “ITB” jawabku sambil berjalan ke kursiku di belakang. Kudengar Kapten sempat bilang, “Anak saya juga di ITB”. Belakangan, ketika bertemu lagi di luar pesawat, aku baru tahu kalau anaknya kuliah di ITB fakultas SBM, tapi sayang, laki-laki.

First Step in Kalimantan
Hari ini, adalah pertama kali aku menginjakkan kaki di pulau Kalimantan, tepatnya di Bandara Balikpapan. Saat menunggu pengambian barang, sempat ada orang yang langsung menyapaku. Mungkin dia tahu karena satu pesawat dan melihat aksiku saat kuis. Beliau menanyakan osiloskop yang aku bawa, “Mas, ini alat buat ngukur batu bara yah? atau kandungan tanah?”, hmm.. “oh, anu pak, ini osiloskop, buat ngukur listrik,” demikian dialog berlagsung sampai barang-barang bagasi ditemukan dan kita berpisah tanpa kuingat namanya. Keluar bandara langsung ketemu dengan tim penjemput.

Aku baru tahu, kalau di Balikpapan ternyata kota yang indah, jalanan bersih, mulus, dan lancar. Tidak ada pengamen di perempatan jalan, apalagi yang bersihin kaca atau jualan peta. Padahal aku berharap ada yang jual peta Kalimantan di perempatan jalan, wajar kok di Bandung dan Jakarta.

Lihat kiri-kanan jalan, tampak beberapa Mal sedang dibangun, spanduk-spanduk perumahan baru terpasang dengan rapi di tepi jalan. Saat mobil berada pada tempat yang cukup tinggi, tampak hutan hijau mengelilingi kota tersebut, nggak terlalu hijau sih tapi cukup segar di mata. Mungkin karena terlihat takjub, Bos sempat nanya, “Gimana her, mau pindah sini aja?”.

Samarinda BalikpapanPerjalanan dari Balikpapan ke Samarinda sangat menyenangkan. Karena baru pertama kali, aku disuruh duduk di muka, duduk disamping pak sopir yang sedang bekerja, mengendalikan mobil supaya baik jalannya. Pada 30-50 kilometer pertama, perjalanan sangat mengesankan. Jalan bagus, lebar, dan lurus. Seperti jalan tol di Jakarta, perbedaannya hanya jalan disini tidak bayar dan tidak macet. Perjalanan bersama senior-senior juga membuat pembicaraan sangat menyenangkan. Seperti anak TK, aku tanya-tanya terus, ini jalan apa?itu sungai apa?ini arah kemana? dan mereka berbaik hati menjawab -hampir- semua pertanyaanku.

Kilometer berikutnya, katanya sih area Bukit Soeharto (masih ingat kan?itu lho, yang bilang “Pemerintah lebih mementingken kesejahteraan daripada rakyat”), jalan mulai berkelok-kelok, tapi tetap mulus dan lebar. Keluar dari daerah hutan Bukit Soeharto, jalan kembali lurus, dengan banyak area pertambangan -mungkin- batubara di kiri kanan jalan.

Tiba di Samarinda
Jembatan Mahakam, SamarindaMenjelang senja, kami menyeberangi sungai Mahakam. Tampak tongkang-tongkang dan kapal hilir mudik di bawah jembatan. Dari jembatan itu pula, tampak sebuah bangunan masjid yang sangat besar, dengan menara-menara tinggi sedang dibangun tidak jauh dari situ.

Akhirnya sampai juga, langsung nonton GP. John Hopkins terjatuh di lintasan. Rossi melambaikan tangan. Bendera merah dikibarkan. Race diulangi. Aku tertidur.


Ditulis 31 Juli 2005 di Karang Asam, tepian mahakam, Samarinda. Baru nemu filenya
ket:
gambar 1 : boarding pass
gambar 2 : jam dinding gratisan dari adam air
gambar 3 : jalan lurus dan panjang, antara Balikpapan dan Samarinda
gambar 4 : senja di jembatan Mahakam

6 August 2005

Menilang Polisi Dengan Kamera

Filed under: Ngedumel, Personal — hericz @ 4:00 pm

peringatan: posting panjang dan beresiko tinggi

Sabtu, 30 Juli 2005, 9.30 pagi
SarinahSatu hari sebelum pergi ke Samarinda, aku ke Glodok untuk membeli beberapa perlengkapan, sekalian mengantarkan cintah beli DVD-ROM.

Seperti biasa, dari kos cintah di daerah Thamrin, aku berniat naik busway ke glodok. Seperti biasa pula, aku selalu jeprat-jepret kamera. Kali ini targetku adalah lift di halte busway Sarinah yang tak kunjung diaktifkan. Penginnya sih mau di publish di blog. Sambil jalan, aku foto pintu bawah lift di depan gedung PBB, pintu atas lift yang di depannya kotor bekas sampah, berlanjut ke pintu lift tengah atas yang jadi tempat mangkal pengemis dan pedagang kaki lima. Kemudian, memotret gedung sarinah sambil turun ke arah loket penjualan tiket.

Kejadiannya
Lift yang belum juga diaktifkanSaat ingin mengabadikan adegan saat Cintah membeli tiket busway, tepat di sebelah kiriku tampak seorang polisi sedang menghentikan mobil kijang di jalur cepat. wah, sasaran empuk nih, langsung saja, jepret-jepret-jepret (sebenarnya kameraku nggak bunyi sih, biar mantep aja), kuambil gambar pak polisi tersebut. TIGA kali pengambilan gambar dengan sudut yang sedikit berbeda. Pak polisi membelakangi aku, bernegosiasi dengan sopir mobil kijang. Di sebelah pengemudi tampak anak kecil kebingungan.

Ketika ingin mengambil gambar keempat, tiba-tiba pak Polisi berbalik dan melihat kepadaku. Kami saling bertatapan. Waktu berhenti.

“HEI, NGAPAIN KAMU?, MOTRET SAYA YAH”, pak polisi berteriak sambil belari kearahku yang berada di depan loket ticketing busway. Karena aku tidak merasa bersalah aku mendekat ke pagar pembatas yang tingginya sekitar 1 meter, mendekati pak polisi yang terus-terusan berteriak-teriak “FOTO APA KAMU? HEH, FOTO APA KAMU?”. Beliau berdiri di aspal lintasan busway, berusaha membentak aku dengan sedikit mendongak karena lantai halte lebih tinggi sekitar 70 cm dari aspal.

Dengan santai aku jawab, “Ya foto-foto aja pak”. Pak polisi semakin marah, dan memaksa melihat kameraku. Segera kupencet tombol preview dan tampak gambar pak polisi di sebelah mobil kijang. “DIHAPUS YAH, DIHAPUS!”, wah karena kaget dengan teriakannya aku tunjukkan di depan matanya, delete picture. “Udah pak, udah dihapus, nih tinggal gambar-gambar lift dan gedung sarinah”, sambil kupencet tombol navigasi.

Pak polisi tetap emosi, dia rebut kameraku, tentu saja aku melawan. “AYO IKUT KE POS DULU!”, sambil tetap berusaha merenggut kameraku. Kamera lepas dari tanganku, tapi masih terikat ke strap yang masih melingkar di lenganku. Tiba-tiba pak polisi menarik kamera dengan lebih keras, dan strap pun putus. Kamera sepenuhnya di tangan pak polisi.

“AYO IKUT KE POS!”, teriak pak polisi lagi, “Lho, saya lewat mana pak?”, “LOMPAT AJAH”. Hehe.. akhirnya aku pun melompat pagar halte busway dan mengikuti pak polisi menyusuri jalur busway ke Pos Polisi.

“Lho, saya salah apa pak?Bapak kan tadi menjalankan tugas polisi”, kataku sambil setengah berlari mengejar polisi ke pos di perempatan Thamrin, diantara gedung Sarinah dan Gedung PBB. “UDAH, IKUT AJAH, INI HARUS DIPERIKSA DULU”.

Sampai di Pos, disana sudah ada polisi lain (sebut saja Polisi 2). Pak polisi memintaku menunjukkan gambar yang tadi diambil. Aku jawab “Sudah dihapus pak, tadi bapak lihat sendiri pas saya hapus”, sambil kutunjukkan lagi foto-foto lift dan gedung sarinah yang baru direnovasi. Barulah pak polisi agak tenang. Kemudian terjadi dialog yang cukup panjang tapi seru ini :

The Dialog
Polisi(P) : “Kamu dari mana?wartawan yah?”, pak polisi bertanya dengan kasar. Mode interogasi diaktifkan.
Me (M) : “Wah, bukan pak. Saya cuma orang biasa, lagi jalan-jalan aja terus foto-foto. Emang salah saya apa pak?, kan kebetulan tadi ada polisi menjalankan tugas terus saya abadikan. ”
P : “Nggak boleh foto-foto orang sembarangan. MetroTV aja kalau meliput polisi harus ijin dulu”
M : “Lho, itu kan media pak, mau ditayangkan. Emang ada aturannya motret orang harus ijin dulu?”
P : “Ada peraturannya. ”
M : “Peraturannya apa pak?ada undang-undangnya?”, sekilas aku lihat Cintah udah berada di samping pos polisi, kayaknya dia tadi juga ikut lompat pagar deh. Duh, dasar Cintah.
P : “Ada peraturannya, nanti kalau mau tahu, tanya ke atasan saya. ”
M : *halah…*
Polisi 2 : “Kamu pasti dari luar daerah yah, jadi nggak tahu ada aturan seperti itu. Asal dari mana?”
M : “Jogja pak.”
P2: “Tuh, kan.. dari luar daerah, pantesan tidak tahu.”
P : “Udah, mana identitasmu?”, kukeluarkan KTP ku, langsung dicatat sama pak polisi di koran yang ada disitu.
P : “Kamu masih mahasiswa yah?”
M : *mikir sejenak, “Iya pak, ini kartu mahasiswa saya”, ku keluarkan KTM. Pak polisi tampak melunak.
P : “Lah, apalagi kamu kan mahasiswa, harusnya tahu peraturan seperti ini. ”
P2: “Nggak boleh dik, foto polisi yang sedang bertugas. Sama-sama tahu lah..” (Heh,sama-sama tahu?)

Titik Balik
M : “Lho, kalaupun ada aturannya, Bapak nggak boleh dong bertindak seperti tadi. Saya bisa tuntut bapak karena melakukan tindakan kurang menyenangkan.”
P : …lupa dia jawab apa
M : “Terus, bapak lihat ini, tali kamera saya putus. Saya bisa tuntut bapak untuk ganti rugi, apalagi kalau sampai kamera saya rusak.”

P : diam sejenak, lalu berkata dengan pelan “Ya sudah, sini saya ganti, berapa harga tali kameramu itu, 20 ribu cukup?“, pak polisi mengeluarkan uang 20 ribu dari dompetnya. Kalau aku tidak di pos polisi, pasti aku sudah ketawa. Aku pegang duitnya, tidak akan kuambil sih, sempat terpikir “ini saat balas dendam kena tilang 50 ribu di plasa senayan”… Tapi Cintah sudah teriak-teriak, “gak usah, gak usahh”. Iya lah, aku juga nggak mau, mungkin aja duit ini habis dapet dari sopir kijang tadi kan. Sama-Sama Tahu Lahâ„¢ :p

M : “Nggak pak, ini bukan masalah uangnya….”, sambil ku kembalikan uang ke tangannya.
P : “Ooh, Atau kurang, ini, 50 ribu juga tidak apa-apa“, pak polisi memasukkan 20ribuan dan mengeluarkan 50ribuan.
M : “Nggak pak, harusnya bapak bertindak sopan, saya kan tadi tidak lari, tidak akan kabur. Bahkan menghapus foto seperti yang bapak bilang”
P : “Ya udah, kamu mau berapa?” Pak polisi membuka dompetnya di depanku, tampak ada 2 lembar 50ribuan, 1 lembar 20 ribuan, dan beberapa ribuan serta kertas-kertas kecil.
M : Nggak pak, terimakasih.
P : Ya sudah, pokoknya lain kali kalo foto orang harus ijin dulu yah.
M : Menyiapkan kamera untuk memotret, ” OK pak, sekarang saya minta ijin untuk foto bersama bapak disini”
P : “Oooh, jangan dik, jangaaan. Nggak boleh, jangan, jangan”.
M : *mrenges*

Kemudian pak polisi memperkenalkan diri, memperlihatkan namanya, jabatannya, satuannya. Aku juga bilang kalau sering lewat situ, kalau ketemu nanti tak mampir deh pak.. dll. Akhirnya aku keluar dari pos polisi. Sambil terus-terusan ketawa bersama Cintah. Kembali ke loket busway, kali ini karena tanpa persetujuan yang berwajib, kami lewat tangga yang berputar-putar. Melewati lagi pintu-pintu lift yang belum berfungsi dan kotor.

Catatan akhir
Bapak polisi sedang bertugasPak polisi, SATU foto bapak memang benar-benar sudah saya hapus. Bapak lihat sendiri kan? Sama-Sama Tahu Lahâ„¢ pak. Mudah-mudahan kesejahteraan bapak-bapak polisi ditingkatkan, sehingga tidak perlu lagi mengharap rejeki dari salam perdamaian, dan tidak perlu lagi takut terekam kamera saat ‘menjalankan tugas’. Apalagi cuma kamera resolusi rendah yang tidak bisa dijadikan bukti apapun, seperti punyaku.

ket:
gambar 1 : Gedung sarinah, diambil sesaat sebelum kejadian
gambar 2 : Pintu lift busway lantai atas yang kotor dan belum berfungsi
gambar 3 : Ngambil 3 foto, dihapus 1, masih 2 dong. Ini salah satunya

« Previous Page