peringatan: posting panjang dan beresiko tinggi
Sabtu, 30 Juli 2005, 9.30 pagi
Satu hari sebelum pergi ke Samarinda, aku ke Glodok untuk membeli beberapa perlengkapan, sekalian mengantarkan cintah beli DVD-ROM.
Seperti biasa, dari kos cintah di daerah Thamrin, aku berniat naik busway ke glodok. Seperti biasa pula, aku selalu jeprat-jepret kamera. Kali ini targetku adalah lift di halte busway Sarinah yang tak kunjung diaktifkan. Penginnya sih mau di publish di blog. Sambil jalan, aku foto pintu bawah lift di depan gedung PBB, pintu atas lift yang di depannya kotor bekas sampah, berlanjut ke pintu lift tengah atas yang jadi tempat mangkal pengemis dan pedagang kaki lima. Kemudian, memotret gedung sarinah sambil turun ke arah loket penjualan tiket.
Kejadiannya
Saat ingin mengabadikan adegan saat Cintah membeli tiket busway, tepat di sebelah kiriku tampak seorang polisi sedang menghentikan mobil kijang di jalur cepat. wah, sasaran empuk nih, langsung saja, jepret-jepret-jepret (sebenarnya kameraku nggak bunyi sih, biar mantep aja), kuambil gambar pak polisi tersebut. TIGA kali pengambilan gambar dengan sudut yang sedikit berbeda. Pak polisi membelakangi aku, bernegosiasi dengan sopir mobil kijang. Di sebelah pengemudi tampak anak kecil kebingungan.
Ketika ingin mengambil gambar keempat, tiba-tiba pak Polisi berbalik dan melihat kepadaku. Kami saling bertatapan. Waktu berhenti.
“HEI, NGAPAIN KAMU?, MOTRET SAYA YAH”, pak polisi berteriak sambil belari kearahku yang berada di depan loket ticketing busway. Karena aku tidak merasa bersalah aku mendekat ke pagar pembatas yang tingginya sekitar 1 meter, mendekati pak polisi yang terus-terusan berteriak-teriak “FOTO APA KAMU? HEH, FOTO APA KAMU?”. Beliau berdiri di aspal lintasan busway, berusaha membentak aku dengan sedikit mendongak karena lantai halte lebih tinggi sekitar 70 cm dari aspal.
Dengan santai aku jawab, “Ya foto-foto aja pak”. Pak polisi semakin marah, dan memaksa melihat kameraku. Segera kupencet tombol preview dan tampak gambar pak polisi di sebelah mobil kijang. “DIHAPUS YAH, DIHAPUS!”, wah karena kaget dengan teriakannya aku tunjukkan di depan matanya, delete picture. “Udah pak, udah dihapus, nih tinggal gambar-gambar lift dan gedung sarinah”, sambil kupencet tombol navigasi.
Pak polisi tetap emosi, dia rebut kameraku, tentu saja aku melawan. “AYO IKUT KE POS DULU!”, sambil tetap berusaha merenggut kameraku. Kamera lepas dari tanganku, tapi masih terikat ke strap yang masih melingkar di lenganku. Tiba-tiba pak polisi menarik kamera dengan lebih keras, dan strap pun putus. Kamera sepenuhnya di tangan pak polisi.
“AYO IKUT KE POS!”, teriak pak polisi lagi, “Lho, saya lewat mana pak?”, “LOMPAT AJAH”. Hehe.. akhirnya aku pun melompat pagar halte busway dan mengikuti pak polisi menyusuri jalur busway ke Pos Polisi.
“Lho, saya salah apa pak?Bapak kan tadi menjalankan tugas polisi”, kataku sambil setengah berlari mengejar polisi ke pos di perempatan Thamrin, diantara gedung Sarinah dan Gedung PBB. “UDAH, IKUT AJAH, INI HARUS DIPERIKSA DULU”.
Sampai di Pos, disana sudah ada polisi lain (sebut saja Polisi 2). Pak polisi memintaku menunjukkan gambar yang tadi diambil. Aku jawab “Sudah dihapus pak, tadi bapak lihat sendiri pas saya hapus”, sambil kutunjukkan lagi foto-foto lift dan gedung sarinah yang baru direnovasi. Barulah pak polisi agak tenang. Kemudian terjadi dialog yang cukup panjang tapi seru ini :
The Dialog
Polisi(P) : “Kamu dari mana?wartawan yah?”, pak polisi bertanya dengan kasar. Mode interogasi diaktifkan.
Me (M) : “Wah, bukan pak. Saya cuma orang biasa, lagi jalan-jalan aja terus foto-foto. Emang salah saya apa pak?, kan kebetulan tadi ada polisi menjalankan tugas terus saya abadikan. ”
P : “Nggak boleh foto-foto orang sembarangan. MetroTV aja kalau meliput polisi harus ijin dulu”
M : “Lho, itu kan media pak, mau ditayangkan. Emang ada aturannya motret orang harus ijin dulu?”
P : “Ada peraturannya. ”
M : “Peraturannya apa pak?ada undang-undangnya?”, sekilas aku lihat Cintah udah berada di samping pos polisi, kayaknya dia tadi juga ikut lompat pagar deh. Duh, dasar Cintah.
P : “Ada peraturannya, nanti kalau mau tahu, tanya ke atasan saya. ”
M : *halah…*
Polisi 2 : “Kamu pasti dari luar daerah yah, jadi nggak tahu ada aturan seperti itu. Asal dari mana?”
M : “Jogja pak.”
P2: “Tuh, kan.. dari luar daerah, pantesan tidak tahu.”
P : “Udah, mana identitasmu?”, kukeluarkan KTP ku, langsung dicatat sama pak polisi di koran yang ada disitu.
P : “Kamu masih mahasiswa yah?”
M : *mikir sejenak, “Iya pak, ini kartu mahasiswa saya”, ku keluarkan KTM. Pak polisi tampak melunak.
P : “Lah, apalagi kamu kan mahasiswa, harusnya tahu peraturan seperti ini. ”
P2: “Nggak boleh dik, foto polisi yang sedang bertugas. Sama-sama tahu lah..” (Heh,sama-sama tahu?)
Titik Balik
M : “Lho, kalaupun ada aturannya, Bapak nggak boleh dong bertindak seperti tadi. Saya bisa tuntut bapak karena melakukan tindakan kurang menyenangkan.”
P : …lupa dia jawab apa
M : “Terus, bapak lihat ini, tali kamera saya putus. Saya bisa tuntut bapak untuk ganti rugi, apalagi kalau sampai kamera saya rusak.”
P : diam sejenak, lalu berkata dengan pelan “Ya sudah, sini saya ganti, berapa harga tali kameramu itu, 20 ribu cukup?“, pak polisi mengeluarkan uang 20 ribu dari dompetnya. Kalau aku tidak di pos polisi, pasti aku sudah ketawa. Aku pegang duitnya, tidak akan kuambil sih, sempat terpikir “ini saat balas dendam kena tilang 50 ribu di plasa senayan”… Tapi Cintah sudah teriak-teriak, “gak usah, gak usahh”. Iya lah, aku juga nggak mau, mungkin aja duit ini habis dapet dari sopir kijang tadi kan. Sama-Sama Tahu Lahâ„¢ :p
M : “Nggak pak, ini bukan masalah uangnya….”, sambil ku kembalikan uang ke tangannya.
P : “Ooh, Atau kurang, ini, 50 ribu juga tidak apa-apa“, pak polisi memasukkan 20ribuan dan mengeluarkan 50ribuan.
M : “Nggak pak, harusnya bapak bertindak sopan, saya kan tadi tidak lari, tidak akan kabur. Bahkan menghapus foto seperti yang bapak bilang”
P : “Ya udah, kamu mau berapa?” Pak polisi membuka dompetnya di depanku, tampak ada 2 lembar 50ribuan, 1 lembar 20 ribuan, dan beberapa ribuan serta kertas-kertas kecil.
M : Nggak pak, terimakasih.
P : Ya sudah, pokoknya lain kali kalo foto orang harus ijin dulu yah.
M : Menyiapkan kamera untuk memotret, ” OK pak, sekarang saya minta ijin untuk foto bersama bapak disini”
P : “Oooh, jangan dik, jangaaan. Nggak boleh, jangan, jangan”.
M : *mrenges*
Kemudian pak polisi memperkenalkan diri, memperlihatkan namanya, jabatannya, satuannya. Aku juga bilang kalau sering lewat situ, kalau ketemu nanti tak mampir deh pak.. dll. Akhirnya aku keluar dari pos polisi. Sambil terus-terusan ketawa bersama Cintah. Kembali ke loket busway, kali ini karena tanpa persetujuan yang berwajib, kami lewat tangga yang berputar-putar. Melewati lagi pintu-pintu lift yang belum berfungsi dan kotor.
Catatan akhir
Pak polisi, SATU foto bapak memang benar-benar sudah saya hapus. Bapak lihat sendiri kan? Sama-Sama Tahu Lahâ„¢ pak. Mudah-mudahan kesejahteraan bapak-bapak polisi ditingkatkan, sehingga tidak perlu lagi mengharap rejeki dari salam perdamaian, dan tidak perlu lagi takut terekam kamera saat ‘menjalankan tugas’. Apalagi cuma kamera resolusi rendah yang tidak bisa dijadikan bukti apapun, seperti punyaku.
ket:
gambar 1 : Gedung sarinah, diambil sesaat sebelum kejadian
gambar 2 : Pintu lift busway lantai atas yang kotor dan belum berfungsi
gambar 3 : Ngambil 3 foto, dihapus 1, masih 2 dong. Ini salah satunya