Perjalanan ke Samarinda
*postingan gak penting*
Minggu, 31 Juli 2005
Boarding di Bandara Cengkareng jam 10. Pesawat Adam-Air, terminal B2. Jadwal Take-off jam 11.30.
Tempat duduk bernomer 25, untuk pesawat jet Boieng 737, itu berarti kursi paling belakang. Jika ada nomer 26, pastilah kursi itu sudah berada di dalam toilet. Temenku sempat bilang, “wah, bakal berisik nih”.
Masuk kabin, kami berlima dengan sekitar 10 tas dan bawaan yang dibawa masuk. Termasuk osiloskop, yang karena tidak ada lagi tempat, terpaksa diletakkan di bawah kakiku. Duduk di kursi belakang sungguh tidak menyenangkan, diperparah lagi dengan tidak adanya lubang jendela di sebelah. Untunglah aku duduk di sisi gang, dimana pramugari lalu lalang hilir mudik. Tidak ada yang spesial, semua biasa saja, tapi lumayanlah buat pengusir bosan.
Pesawat take off. Temenku benar, sangat berisik. Bahkan susah untuk sekedar ngobrol.
Setelah hampir 2 jam take off, rasa bosan berganti rasa kantuk. Sebenarnya aku tidak tahu sudah berapa lama, handphone sebagai petunjuk waktu dimatikan, yang jelas sudah terasa lama sekali. Rombonganku sudah terlelap semua, aku tidak bisa memejamkan mata, jadi kembali ke rasa bosan. Berbagai macam cara sudah dicoba, baca kompas, baca koran tempo, bahkan makan pisang goreng bawaan dari kantor, tapi tetap saja bosan. Pramugari tetap hilir mudik: mengantarkan makanan, mengambil sampah, dan menjajakan dagangan (souvenir). Tapi mungkin karena aku tipe pria yang setia, aku tidak begitu memperhatikan mereka seperti halnya ketika baru masuk kabin. Berita mogok kerja karyawan PT. Kereta Api di Koran Tempo lebih menarik perhatianku.
Quis Onboard
Tiba-tiba ada pengumuman dari ruang kemudi, seperti biasa suara pilot tidak terdengar jelas. Para penumpang terjaga dari tidurnya, “Wah, udah hampir sampai nih,” pikirku. Ternyata salah, pilot malah keluar dari ruang kemudi dan memegang mic menghadap penumpang. Tak disangka-sangka, pilot memberikan kuis kecil-kecilan, katanya untuk hiburan ala kadarnya. Peraturannya sederhana: pilot bertanya, penumpang menjawab, penumpang benar, dapat hadiah.
Pertanyaan pertama dan kedua begitu mudah, apalagi bagi penggemar milis seperti aku.Tapi metode “ngacung if you know the answer” membuatku susah mendapat bagian menjawab, sekali lagi karena tempat duduk yang di ujung belakang. Giliran pertanyaan ketiga, “apa perbedaan profesor teknik dan profesor sejarah?”, tetap sambil membaca koran tempo aku angkat tangan kananku. Lah, ternyata satu kabin yang angkat tangan cuma aku. Pramugari-pramugari menyambutku dan membimbingku (halah) ke depan, ke arah pilot yang berulang-ulang bilang “wah, masih mahasiswa nih kayaknya, ganteng sekali, ayo silahkan maju kesini…”
Jawabannya jelas, profesor teknik botak di depan, profesor sejarah botak di belakang. Seharusnya semua orang tahu teka-teki basbangnyol (basi banget dan konyol) itu. Intinya, aku mendapatkan jam dinding Adam Air sebagai souvenir. Sebenarnya pas penyerahan hadiah aku minta cium pramugari, biar kayak di tivi-tivi. Tetapi mungkin karena faktor mukaku, wanita-wanita itu -dengan sekuat tenaga- berusaha menolak dengan sopan. Tidak apa-apa, sudah biasa.
Pilot, Kapten Hidayat, sempat menanyakan “Masih mahasiswa dik?”, “Baru lulus pak,” jawabku (tidak kulanjutkan ’setahun kemarin’). “Kuliah dimana?”, “ITB” jawabku sambil berjalan ke kursiku di belakang. Kudengar Kapten sempat bilang, “Anak saya juga di ITB”. Belakangan, ketika bertemu lagi di luar pesawat, aku baru tahu kalau anaknya kuliah di ITB fakultas SBM, tapi sayang, laki-laki.
First Step in Kalimantan
Hari ini, adalah pertama kali aku menginjakkan kaki di pulau Kalimantan, tepatnya di Bandara Balikpapan. Saat menunggu pengambian barang, sempat ada orang yang langsung menyapaku. Mungkin dia tahu karena satu pesawat dan melihat aksiku saat kuis. Beliau menanyakan osiloskop yang aku bawa, “Mas, ini alat buat ngukur batu bara yah? atau kandungan tanah?”, hmm.. “oh, anu pak, ini osiloskop, buat ngukur listrik,” demikian dialog berlagsung sampai barang-barang bagasi ditemukan dan kita berpisah tanpa kuingat namanya. Keluar bandara langsung ketemu dengan tim penjemput.
Aku baru tahu, kalau di Balikpapan ternyata kota yang indah, jalanan bersih, mulus, dan lancar. Tidak ada pengamen di perempatan jalan, apalagi yang bersihin kaca atau jualan peta. Padahal aku berharap ada yang jual peta Kalimantan di perempatan jalan, wajar kok di Bandung dan Jakarta.
Lihat kiri-kanan jalan, tampak beberapa Mal sedang dibangun, spanduk-spanduk perumahan baru terpasang dengan rapi di tepi jalan. Saat mobil berada pada tempat yang cukup tinggi, tampak hutan hijau mengelilingi kota tersebut, nggak terlalu hijau sih tapi cukup segar di mata. Mungkin karena terlihat takjub, Bos sempat nanya, “Gimana her, mau pindah sini aja?”.
Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda sangat menyenangkan. Karena baru pertama kali, aku disuruh duduk di muka, duduk disamping pak sopir yang sedang bekerja, mengendalikan mobil supaya baik jalannya. Pada 30-50 kilometer pertama, perjalanan sangat mengesankan. Jalan bagus, lebar, dan lurus. Seperti jalan tol di Jakarta, perbedaannya hanya jalan disini tidak bayar dan tidak macet. Perjalanan bersama senior-senior juga membuat pembicaraan sangat menyenangkan. Seperti anak TK, aku tanya-tanya terus, ini jalan apa?itu sungai apa?ini arah kemana? dan mereka berbaik hati menjawab -hampir- semua pertanyaanku.
Kilometer berikutnya, katanya sih area Bukit Soeharto (masih ingat kan?itu lho, yang bilang “Pemerintah lebih mementingken kesejahteraan daripada rakyat”), jalan mulai berkelok-kelok, tapi tetap mulus dan lebar. Keluar dari daerah hutan Bukit Soeharto, jalan kembali lurus, dengan banyak area pertambangan -mungkin- batubara di kiri kanan jalan.
Tiba di Samarinda
Menjelang senja, kami menyeberangi sungai Mahakam. Tampak tongkang-tongkang dan kapal hilir mudik di bawah jembatan. Dari jembatan itu pula, tampak sebuah bangunan masjid yang sangat besar, dengan menara-menara tinggi sedang dibangun tidak jauh dari situ.
Akhirnya sampai juga, langsung nonton GP. John Hopkins terjatuh di lintasan. Rossi melambaikan tangan. Bendera merah dikibarkan. Race diulangi. Aku tertidur.
—
Ditulis 31 Juli 2005 di Karang Asam, tepian mahakam, Samarinda. Baru nemu filenya
ket:
gambar 1 : boarding pass
gambar 2 : jam dinding gratisan dari adam air
gambar 3 : jalan lurus dan panjang, antara Balikpapan dan Samarinda
gambar 4 : senja di jembatan Mahakam
August 8th, 2005 at 3:49 pm
Oalah her…her… kalau kamu jadi ngesun pramugari ntar kasihan dia didamprat sama Jeng Ira wakakak
August 8th, 2005 at 3:54 pm
jadi inget tulisan mu *faktor muka* (ha ha ha … sambil pegang perut ahhh)
eniwey, pengalaman baru her !! selamat !!
August 8th, 2005 at 3:58 pm
kang herry, kok bisa professor teknik botak di depan sedangkan professor sejarah botak dibelakang?
btw. jamnya dilempar ke bandung dong.. rumahku ga ada jam nih.. ditunggu cerita lanjutannya kang!
August 8th, 2005 at 6:49 pm
wuihhhh…. hebat bisa terbang!!!!
Seumur-umur gini aku belum pernah naik pesawat…
August 8th, 2005 at 11:55 pm
wah, baca cerita elo dan liat poto2nya gue jadi kangen samarinda.
August 9th, 2005 at 1:04 am
Dikauw ada bakat jadi penulis, jadi wartawan!! angle fotopun, udah lumayan bagus, tinggal ganti kamera aja
u’re really owesome!
August 9th, 2005 at 1:42 am
photonya aplot donk her.., gw kan pengen liat samarinda juga
nice post!
August 9th, 2005 at 2:14 am
wah wah wah asik tuh kayaknya kesana, kapan gw kesana yah??? atas biaya kantor lagi
faktor muka? hahahaha, sadar diri loe kayaknya…
August 9th, 2005 at 2:22 am
Her..napsu(keinginan) potomu luar biasa..hehehe baru kali ini aku ngeliat orang yang sbegitu besarnya keinginannya untuk memotret.. tapi emang jadi enak ngeliat hasil2 nya.. senyum2 sendiri liat hasilnya..begitu lengkap dokumennya..salut her
August 9th, 2005 at 4:12 am
Mestinya di bandara Sepinggan di tulis …
Penampilan seperti Tukang Par**r dilarang Masuk …:)
August 9th, 2005 at 4:20 am
Sempet ke tenggarong gak? Udah lihat kereta gantung di pulau?
August 9th, 2005 at 4:33 am
eh Herry…. ga nge-rock di pinggir sungai Mahakam?
August 9th, 2005 at 4:46 am
samarinda ama wonosobo bagusan mana ?
huehue
August 9th, 2005 at 10:40 am
#7 Wah, entar foto-foto samarinda tak bikin postingan sendiri. Belum sempat euy. Ini aja diketik pas di samarinda
#11. Gak sempat ke tenggarong, orang yang mau ngajakin membatalkan mendadak
#13. Bagusan wonosobo
(hehe.. pertanyaan menjebak)
#10. *timpuk gempur pake amplang samarinda*
August 10th, 2005 at 2:57 am
he..he…23x!â„¢
“Tetapi mungkin karena faktor mukaku, wanita-wanita itu -dengan sekuat tenaga- berusaha menolak dengan sopan.”
koclak!
August 10th, 2005 at 3:46 am
Udah Her..nyante aja…ntar kamu tak sun deh !!!
August 10th, 2005 at 7:34 am
kata-kata yg ini pasti diedit… gw minta bukti rekamannya..
“wah, masih mahasiswa nih kayaknya, ganteng sekali, ayo silahkan maju kesini…”
hahahaha…
August 10th, 2005 at 7:21 pm
Heran juga ya? Mas ini katanya berwajah ganteng, tapi kok pramugari banyak yang nolak nyium… Apa karena Aroma H***nya kental banget…
*Ngacir*
August 11th, 2005 at 3:40 am
Aduh..keren banget sih gambar-gambarnya..hiks..mauuu dong…
August 12th, 2005 at 1:50 am
wah jadi kenal samarinda nih, nice picture snapshot…
September 24th, 2005 at 12:59 pm
whaaa….jadi kangen ama samarinda neh jadi pingin pulanga aja…….hik3x
October 1st, 2005 at 12:55 am
*baru sempet baca content thread ini*
adam air, anaknya sbm.. wah.. gw tau tuh siapa…
August 10th, 2007 at 4:47 pm
ADA TAK SEBARANG MAKLUMAT TENTANG MAKANAN AMPLANG?AKU SANGAT2 PERLUKAN MAKLUMAT TENTANG AMPLANG..TOLONG BANTU AKU..lynne_ok23@yahoo.com
August 10th, 2007 at 4:48 pm
ADA TAK SEBARANG MAKLUMAT TENTANG MAKANAN AMPLANG?AKU SANGAT2 PERLUKAN MAKLUMAT TENTANG AMPLANG..TOLONG BANTU AKU.. lynne_ok23@yahoo.com
July 5th, 2008 at 12:15 am
Samarinda…? Perasaan Samarinda itu biasa aja dech. Udah macet, banjir lagi kalo ujan. Apalagi skarang PON, jalanan bnyk yg di tu2p, mo ke luar kota susah bngt. Tp ya udah deh, terima apa adanya, krn unda tinggal di samarinda. Viva Samarinda