Televisi : Dari VHS ke i-VHS
*postingan SARA*
Aku jarang lihat televisi, maksudnya menonton acara secara intensif seperti dulu. Sekarang, aku lebih sering mendengarkan TV yang diputar di ruang depan hampir tanpa henti. Hanya beberapa menit aku melihat ke layar TV setiap harinya: saat ada berita yang seru, ada lagu yang bagus, acara humor yang lucu, atau menemani teman nonton TV. Yang terakhir ini yang kadang-kadang membuatku melihat acara-acara sinetron.
Dari beberapa menit sehari melihat TV tersebut, aku melihat ada pergeseran content acara TV di primetime, terutama sinetron. Pergeseran dari VHS ke i-VHS.
VHS : Violence, Horror, and Sex
Pada wawancara dengan Ishadi SK, direktur TransTV, beberapa bulan yang lalu, terungkap jelas betapa salah satu jaring pengaman kehidupan stasiun TV adalah eksploitasi VHS:
- Violence: kekerasan, pembunuhan, penyiksaan. Diwakili acara-acara liputan kriminal, dan sinetron.
- Horror: hantu-hantu, kekuatan gaib. Diwakili oleh acara ‘melihat ke dunia lain’, dan tentu saja sinetron bidadari cantik penolong sang lakon, yang sepaket dengan setan jahat pembela musuhnya. Sinetron yang benar-benar horror juga banyak ditemukan, walaupun saat melihat efek visual hantunya anda mungkin -kemungkinan besar- akan teringat dengan musuh-musuh Ultraman Taro.
- Sex: pertunjukan aurat wanita, diwakili acara-acara ‘tengah malam’, acara berkedok pemotretan, dan tentu saja : sinetron.
Tapi aku melihat betapa sinetron Indonesia sangat kreatif, dan menggabungkan ketiga unsur tersebut jadi satu. Plotnya kurang lebih sebagai berikut: Wanita cantik diperkosa dan dibunuh beramai-ramai, lalu jadi hantu gentayangan dan membunuh pelakunya satu-persatu. Three in One in single budget. Efektif, efisien, rating tinggi.
Di jaman e-commerce, e-gov, dan i-Pod ini, masyarakat sebagai penonton semakin cerdas, menjadikan model-model sinetron seperti itu tampak kuno (walaupun ratingnya tetap tinggi). Sekarang, VHS berevolusi menjadi bentuk yang lebih canggih: i-VHS.

i-VHS : Islamic-VHS
Perlahan-lahan iklim berubah, televisi kini menggunakan agama sebagai latar belakang cerita. Sebutlah sinetron semacam ‘Insyaf’, ‘Taubat’, dan teman-temannya. Agama yang jadi latar belakang adalah, tentu saja disesuaikan dengan komposisi penonton, agama Islam. Jadilah i-VHS.
Sinetron model ini yang menceritakan tentang seseorang yang semasa hidupnya banyak maksiat, durhaka, dan sejenisnya, pada akhir hidupnya mati dengan sengsara, perutnya meletus, membusuk, tidak bisa dikubur dan lain-lainnya. Hebatnya, semuanya diklaim sebagai kisah nyata dan diharapkan agar menjadi petunjuk agar penonton bertobat dan insyaf.
Dalam sinetron-sinetron ini, sedikit banyak terkandung Violence, dan Horror. Unsur ‘Sex’ secara signifikan dikurangi, yah sepanjang pengamatanku sih, mungkin agar penonton segera insyaf dan tobat. Tapi jangan khawatir, setelah acara selesai artis-artis dangdut montough akan segera menghapus niat penonton untuk insyaf.
Dari majalah
Sedikit banyak, munculnya trend ini dipicu oleh larisnya majalah-majalah islam yang menceritakan kisah nyata yang mengerikan seperti diatas. Seperti halnya melihat novel ‘best seller’, televisi segera menjadikannya proyek untuk ditayangkan.
Aku tidak tahu apakah sinetron macam ini, yang biasanya diberi narasi oleh ustadz-ustadzah terkenal, merupakan cara yang efektif untuk membuat tobat para penontonnya dari berbuat maksiat. Semoga saja demikian, Wallahu alam bisshowab. Bagaimanapun ini tetap lebih baik daripada sinetron yang cuma pamer properti bernilai tinggi : rumah mewah, mobil sport, paha, dan belahan dada.
Hanya saja, sebagai seorang muslim, sejak kecil aku diajari ber-Islam secara baik, menjadi manusia dengan akhlak yang baik, surga-neraka, amal baik, amal buruk. Tetapi tidak pernah diajari hal-hal seperti ini kisah-kisah seperti diatas, dan tidak tinggal di lingkungan yang mempercayainya. Jadi sangat wajar kalau aku menonton sinetron tersebut dengan tatapan yang aneh.
Aah, aku belum pantas berbicara soal agama. Lagi-lagi tadi aku sholat Shubuh kesiangan. Semoga besok bisa bangun lebih pagi, paling tidak sebelum matahari naik tinggi. Amiin.
—
gambar asli dari sini
August 24th, 2005 at 1:27 am
Seseorang pernah berpesan padaku : “Fah, Selalulah jujur. Termasuk saat Amar Ma’ruf Nahy Munkar. Jgn terburu2 mengkritik jika tidak disertai dgn usulan solusi. Itu tak ubahnya dgn sekedar mempermalukan. Dan nabi pernah bersabda bhw seseorang yg mempermalukan orang lain atas suatu kesalahan, tidak akan mati sebelum ia melakukan kesalahan yg sama” .. So, jika kita sudah punya sisi kritis, tinggal ngasah sisi solutif-nya nih
August 24th, 2005 at 5:57 am
#1, Sip mbak Iffah.
Tapi sejak kapan nih aku jadi kritikus? apalagi mempermalukan, mempermalukan siapa?Aku cuma menuliskan isi pikiranku kok. Nulis di blog-ku sendiri, seperti ngomongin kalau ‘wah perutku mules’. Jadi tolong jangan disamain levelnya dengan nulis di pikiran pembaca media masa dong;)
Hehehe.. *peluk mbak ifah*, jadi solusi untuk masalah saya apa mbak?
August 24th, 2005 at 9:35 am
Her,…kamu memang muhrimnya mbak Iffa??? koq maen peluk2 ??
peluk aku sajah *menyongsong herry dengan kesungguhan*…:-)
Tp menkomersilkan agama atas nama dakwah memang tindakan yang tidak pantas…kalo mau dakwah pure kenapa gak acaranya ceramah aja? sinetron2 i-VHS cuma akal-akalan cari duit aja. Btw…Mbak Iffa, media(pers) mana yang bersedia buat dikritik langsung?
August 24th, 2005 at 9:45 am
Gw suka merasa gmana-gtu ngeliat sinetron yg suka bawa2 agama tapi dihubungkan dengan hal2 mistis (doh, emang agama ngomongin hal mistis doang apa ya?) Misalnya di sinetron apa-tu-gw-lupa-yang-minggu2-bersedih, seseorang berdoa, trus orang2 yg nyakitin dia tiba2 _langsung_ gatel2 n luka2 aneh. Bukannya ngga mungkin, tp ya aneh aja karena, menurut gw, agama diexpose hanya untuk tujuan seperti itu.
August 24th, 2005 at 12:55 pm
setuju ama #4, sinetron2 itu tidak ada satupun yang mendidik, menurut gw loh, yang ada isinya bagaimana menyakiti orang lain.
Terus sinetron2 yang bawa2 agama malah membawa kesan agama itu hanya hal2 mistis.
August 24th, 2005 at 1:17 pm
*keplak heri karena meluk cewek laen*
yang jelas ada komentar dari anak seorang teman,”Bu, ibu, klo adek bo’ong ato nyuri ntar jadi kayak gitu juga ya bu, takut ihhh….Tuhan kok jahat sih”
August 24th, 2005 at 2:00 pm
wuehehehehe….
sinetron sucks!
gw juga gak suka masalah agama suka dibawa2…
tapi gw suka gaya ente buat ngomong ultraman taro..
=))
August 24th, 2005 at 3:14 pm
*ngeliatin dulu herry dikeplak ira*
sinetron yang menamakan/membawa-bawa nama agama sangat menyebalkan, belon lagi liat artis2 munafik yang tiba2 pake krudung etc. udah gitu pocong2 yang keluar gak puguh bikin muak! trus yang mati bisa jadi jurig arwahnya ngatain tali pocong blon dibuka dll, lol.
*tendang sinetron kampring nan dry*
BTW tulisan bagus her.
August 24th, 2005 at 4:39 pm
agama…agama…agama…agama…agama…agama…agama…
sinetron…sinetron…sinetron…sinetron…sinetron…sinetron…
agama…sinetron…agama…sinetron…agama…sinetron…agama…sinetron…
*tebak, kopipes apa enggak?*
August 24th, 2005 at 7:06 pm
Klarifikasi
(#1) Sy justru sdg mdukung sisi kritisnya Herry dlm merespon lingkungan &fenomena skitar. Sy jg pake “kita”, bukan “kamu” (#2) Sy tdk anjurkn kita capek2 nyari media yg bs dkritik lgsung. Mari brcapek2 mikir alternatif solusinya sj. Merubah sesuatu yg jelek gak cukup dgn mngatakan kalo itu jelek, tp kita harus tunjukkan jg mana yg tdk jelek ato bahkan bagus. I believe we can make it better if we really try to 
Ira, Peace..
August 24th, 2005 at 7:48 pm
*megangin pipi yang memerah dikeplak cintah*
#10 hehe. Bener mbak ifah, mari bersama-sama kita lakukan apa yg kita bisa
August 25th, 2005 at 4:32 am
kenapa film2 lokal yang berbau horor.. pasti menyangkut ke agama “…” yah ??
August 25th, 2005 at 10:20 am
sebenernya gw agak kurang sukanya itu kalo agama dibawa2 tapi cara ngebawanya itu yang kurang/ngga pas.
Tuk #6, “Tuhan kok jahat sih” .. jadi inget sama renungan dari Emha Ainun N (bener gak namanya?) di radio Delta beberapa hari yang lalu. Duh, isinya gw lupa pula
Tuk #12: Udah sebut aja.. kan udah dikasih tag “postingan SARA” ama herry. tp kira2 gw jg tau kok apa isinya.. hehe..
August 25th, 2005 at 10:44 am
*herry berdakwah*
meluk mbak ifah,
dikeplak cintah
wah wah waaaah
sudah mikir susah-susah
dari sekedar denger tv di ruang tengah
jadi tulisan yang bikin cerah
*herry berdakwah*
dikeplak cintah
August 25th, 2005 at 1:38 pm
mm,… serba salah !! namanya juga hidup, pasti punya 2 sisi yang berbeda
dulu pernah ada yang bilang, gak ada sesuatu yang kebetulan, semua telah diatur. tinggal gimana cara menyikapinya ajah
seperti kata pak herry gelas setengah kosong ato setengah isi
yang jelas, kita sudah dikasih pilihan
terserah kita aja mo milih yang mana
ngelihat paha mulus trus mikir jorok, atau ngelihat paha mulus sebagai sarana ibadah
segala hal pasti ada hikmahnya kok
sebijak-bijaknya orang khan yang bisa mengambil hikmah dari suatu kejadian
seperti #1, yang baek mah sekalian dikasih solusi
mau solusi? dateng aja ke jakarta
disini banyak banget solusi
mulai dari solusi udara (dari knalpot motor, mobil, metro mini sampai bajaj) solusi air (nah ini bisa juga menyebabkan solusi udara. bayangin ajah kalo seluruh warga jakarta pipis di sepanjang sudirman. ga macet lagi kali ye…) sampe solusi…. ah sudahlah…
bali nang bandung numpak bis
masi gak nyambung yo wes
August 25th, 2005 at 10:06 pm
Sinetron memang benar-benar suXXXXXX!!!!
Aku kalau liat I-VHS merasa risih sekali, agama seperti jadi dagangan saja…
August 25th, 2005 at 10:42 pm
#15, *injek-injek sekrup*
Kalau lihat paha mulus, susyeeh mau mikir jernih! tapi mungkin kalo udah nikah beda orientasi kali yah..
August 26th, 2005 at 12:31 am
assalamu’alaykum wr wb…
ehm…ehm…side A mo kasih komen duluw..;-)
aku melihat ‘demam’ tayangan2 ‘islami’ (sengaja aku beri tanda kutip dan dengan i kecil, sebagai penekanan) tidak lain dan tidak mungkin untuk mengalihkan modus dari tayangan mistis menjadi tayangan ‘islami’. hal ini karena tayangan2 mistis sudah mencapai titik saturasi, titik jenuh…terbukti tayangan Harry Pantja sudah tidak begitu dinikmati dan mendapat rating tinggi lagi.
tpi yg jeli, melihat peluang pengubahan modus ini. dengan bersumberkan majalah hidayah, mereka menjadi pelopor tayangan ‘islami’ ini. mayat hidup, hantu, dst dst masih mendominasi tayangan ini…tidak heran dan jangan marah jika aku gunakan ‘islami’ untuk tayangan jenis ini.
masalah iktibar/pelajaran yg disampaikan oleh ustadz2 di akhir acara, bagiku hanyalah sebagai PEMOLES dan PEMBENARAN..karena yg menjadi DAYA TARIK dari tayangan tersebut yaaa…HANTU2 DAN MISTIS2NYA ITU..!!
dan sama seperti halnya tayangan2 mistis, terjadi ‘penampakan’ kiai, ustadz dan ulama yg menjadi tokoh di tayangan tersebut. well well well..ini PEMBODOHAN KAUM MUSLIMIN DI INDONESIA (entah dah part ke berapa nich?)
sebenarnya tidak ada yg salah dg tayangan2 tersebut, juga terhadap majalah Hidayah, karena aku sendiri juga langganan..dan memang BANYAK sekali ilmu di situ. yg ‘patut dipersalahkan’ adalah METODE PENYAMPAIANNYA…:)
sementara utk tayangan ttg sex, bla bla bla…aku melihat bahwa sekarang tayangan yg berbau sex disamarkan…dibungkus lebih rapi+elegan. bahkan tidak mungkin kita terlena…:p
1. volley beach
2. fotografi
3. film tengah malam (kalo yg ini masih jelas vulgarnya)
4. sinetron (bahkan bajay bajuri, menurutku sudah ada sexualitas bermain di situ)
yg jelas..SINETRON INDONESIA = TAYANGAN PALING TIDAK BERMUTU…silakan merefer ke h*tp://mfahmia2705.blogspot.com/…
1. alur cerita yg dangkal, selain juga dibikin njelimet, bener2 pembodohan
2. berseri cukup panjang…tersanjung contohnya..saking panjangnya sampe tersandung..:p
3. dst dst…
sebenarnya aku sudah siapkan tulisan ttg media juga, mirip2 dg punya Herry ini…hanya bingung, apakah mo ninjau dari side A ato B…kemaren sih mo side B, tapi Herry dah posting duluan, mungkin perlu dijadikan tinjauan side A aza kali yaa?? hehehehe..:D
hanya saja, sebagian isi blog dah ada di sini..jadi, yaaa…NUMPANG NGEBLOG YAAAAA?? hahaha…:D
ah, udahan duluw…
wassalamu’alaykum wr wb
August 26th, 2005 at 12:24 pm
waaaaaaah berat koment nya
August 26th, 2005 at 12:31 pm
jadi kalah deh sama yang laen
tapi nontonnya ga sambil ngompol ketakutan to liat pocong yang bertebaran.
budhe ku suka liat yang kayak gituan tapi kalo dia ditinggal sendiri dirumah takutnya minta ampun
iya sih biar orang orang tobat tapi kalo kayak gitu bikin orang tobatnya bukan karena ikhlas taoi karena biar sa kayak di tv. Dan lagian ga perlu kayak gitu orang udah banyak yang tobat kok. itu malah membuat kita jadi takut dirumah sendiri,contohnya budhe ku.
August 26th, 2005 at 12:33 pm
halah aku nulisnya ga bener
August 26th, 2005 at 1:30 pm
sinetron, halah!
kalo kata temen di liputan, berita pun sekarang sudah sinetron banget. hanya pembodohan bagi masyarakat, cerita yang berputar dari darah, air mata, wanita cantik, penjahat, pahlawan, berulang-ulang dan menjemukan. bah!
sinetron.., ah sudahlah!
setuju ama #1 mending cari solusinya, hayo semua mikir!
August 26th, 2005 at 3:30 pm
Bener banget, untuk sinetron sekarang pada kacau, terlebih lagi yg pake “berbau islami” aduhh puyeng deh..kasian gitu loh..ngerusak moral banget..
piye iki solusinya???loh kok malah gw yg nanya ya…
August 26th, 2005 at 10:03 pm
hmm itu mungkin adalah salah satu strategi untuk mengejar rating yg tinggi, mengingat persentase jumlah muslim yg tinggi, setelah beberapa saat yg lalu “ngeboom” dengan serial dari taiwan dan sejenisnya, dilanjutkan dengan acara2 berbau mistik, ini sendiri mempunyai efek samping terhadap masyarakat, dimana2 terdapat embel2 F4, meteor garden, dsb, terus menjamur lah si kolor ijo *menurut analisis saya, isu kolor ijo ini sengaja ditiupkan untuk menggoyang kestabilan politik yg emang udah gak stabil menjelang pemilu. cuma analisis aja sih, terus sekarang yg masalah acara berbau islam ini, ini sih seperti biasa, ada salah satu stasiun TV yg sukses dengan acara berbau islam, ya pasti dalam waktu dekat stasiun TV lain ikut menayangkan acara yg sama.
Tapi saya masih bingung akan 1 hal:
Tayangan televisi dipengaruhi oleh keadaan masyarakat.
ato keadaan masyarakat dipengaruhi oleh televisi.
*hahahaha, sok tua ah gw nulisnya *
kekekeke ^___^
August 28th, 2005 at 11:08 pm
begitulah tivi yg katanya ngikutin rating ituh. nonton tv lagi ah! hihihi
August 29th, 2005 at 3:14 pm
aku gak punya tivi. jadi nggak kompeten untuk berkomentar. -demikian-
August 29th, 2005 at 10:09 pm
mwahahaha.. kocak! tapi gue juga jarang nonton tipiii…
August 29th, 2005 at 11:17 pm
ya… namanya juga jualan slot iklan.
September 7th, 2005 at 3:28 pm
weh acara tivi sekarang dah nggak mutu lagi, yang bermutu dan enak di tonton serta memberikan manfaat dah jarang banget. Sekarang adanya cuman eksploitasi anak anak muda, gaya hidup, rebutan harta, kesenangan. Ga ada yang acara TV yang berupaya agar penontonya mengikuti gaya hidup yang lebih baik, malah ngajarin yang buruk buruk contonya nggosipin orang
September 22nd, 2005 at 12:06 pm
Bukan Sinetron: Tentara Bunuh Istri dan Hakim
Ini bukan cerita sinetron TV kita yang sekarang katanya hanya berisi VHS (Violence, Horror, and Sex) dan iVHS (Islamic VHS) itu. Ini kisah nyata. Terjadinya pun di Indonesia. Belum juga lama. Baru satu hari setelah kemarin lusa. *maksa berrima hehehe..*
September 25th, 2005 at 3:36 pm
intinya di indonesia banyak orang cari sekarang gak jadi soal halal apa haram
semuanya halall
November 23rd, 2005 at 11:44 am
TV Bagus untuk dicerna tapi jelek untuk dinikmati, soalnya banyak kriteria yang diluar acara mendidik malah banyak membidik hal yang jorok tapi melihat kisi-kisi yang senonoh.
December 25th, 2005 at 7:39 pm
tayangan mistik di tv ada baiknya bila pada ranah logis untu dewasa ini, karena masyarakat perlu pemahaman islam yang baik, di islam sendiri tidak hanya mistik saja yang ada tapi berjuta ilmu yang mungki dapat kita ambil darinya. tapi saya prihatin tayangan mistik sekarang ini ‘berlebi-lebihan” maaf ,terkesan murahan dan mempengaruhi dari segi kejiwaan