21 September 2005

Pengamen Cilik Beramplop

Filed under: Ragam — hericz @ 1:35 am

Bis kota yang aku naiki, seperti biasa, tampak kumal dan terasa gerah. Tak kuhiraukan beberapa pedagang asongan yang hilir mudik dalam bis. Beberapa pedagang asongan melakukan orasi perkenalan terlebih dahulu sebelum membagikan dagangannya (untuk kemudian diambil lagi), beberapa pedagang lain sekedar lewat sambil menjajakan minuman dingin atau tisu basah.

Tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki, umur sekitar 10 tahun, naik bis dan membagikan amplop. Sebuah amplop putih polos lusuh dengan tulisan tangan memenuhi bagian depannya, eh udah gak putih lagi nding.

Amplop bertuah

Setelah selesai membagikan amplop, si bocah kecil segera mengambil posisi di tengah bis (kebetulan di sebelahku), menyiapkan instrumen musiknya: icik-icik terbuat dari potongan kayu dengan beberapa tutup botol yang dipaku agak longgar di ujungnya.

Setelah ‘intro’ icik-icik beberapa saat, mulailah dia bernyanyi. Duh, suaranya gak jelas, kayak berdengung-dengung thok, kurang lebih nyanyi seperti ini:

“Sungguh terpaksa.. aku bernyanyi
Mengharapkan tuan pemurah hati..”

Baru beberapa bait digumamkan, tiba-tiba salah satu tutup botol di instrumen musiknya jatuh ke lantai bis. Tanpa menghentikan lagunya, si bocah segera mencari-cari tutup botol tadi, begitu ketemu langsung dipasang kembali. Tak lama, suara icik-icik kembali terdengar mengiringi rangkaian lagu ‘medley’ yang gak jelas kapan ganti lagunya.

Pengamen cilik dan Kampanye Stop Beri Uang
Beberapa saat yang lalu, beredar email tentang kampanye Stop Beri Uang Pada Anak Jalanan. Situs stopberiuang.or.id sebagai pelopor kampanye tersebut terakhir di update tahun 2004 *duh*. Bingung juga menyikapi kampanye ini. Kalau nggak ngasih kok kasihan, kalau ngasih kok -katanya- merusak masa depan mereka sendiri.

Kalau aku sih, biasanya mengambil jalan tengah: memberi uang pada pengamen karena kadar ‘entertainment’ yang diberikan, kalau ngamennya bagus tak kasih, kalo nggak ya nggak.

Kenapa beramplop?
Kembali ke pengamen beramplop, banyak pertanyaan yang muncul saat melihat tingkah pengamen-pengamen kecil itu:
- Kenapa banyak pengamen2 cilik yang menggunakan amplop?
- Siapa yang ngajarin mereka?
- Kenapa kebanyakan pengamen beramplop kualitas ngamennya rendah?
- Apa yang bisa kita lakukan pada anak-anak ini?
- Eh, departemen sosial ada nggak sih?

16 September 2005

Nonton Dewa di Studio ANTV

Filed under: Hiburan, Personal — hericz @ 1:24 pm

Semua kata rindumu semakin membuat ku,
Tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa…

Saat mendengar lirik mendayu lagu ‘Kangen‘ dari grup DEWA diatas secara spontan aku ikut menyanyi. Tapi tangan dan mata tetep fokus ‘ngublek-ublek’ setingan kamera agar bisa menghasilkan gambar yang bagus. Aku berusaha dapat gambar yang bagus soalnya jarang-jarang bisa nonton langsung seperti tadi malam, di Studio Pengadegan anTV, dalam acara Star on Stage bersama DEWA.

Tiket dari Bhagonk
Sore hari kemarin, bhagonk a.k.a Bagus membuat pengumuman lewat YM, kurang lebih : “yang mau ikut nonton Dewa hubungi aku”. Spontan aku kontak bhagonk, dan rembug punya rembug aku dapat jatah tiket. Ternyata Didats dan Golda ikut juga “wah, bakal rame nih,” kata Didats via YM.

Berlima Satu TujuanSesuai perjanjian, kita ketemuan di Carrefour Cawang jam 8 malam. Bhagonk, Alex, Didats, dan Golda datang beberapa saat setelah aku memesan ayam goreng di food court. Setelah terburu-buru menghabiskan teh hangat, aku keluar dan mendapati mereka berempat dengan 2 motor, langsung foto-foto.

Dengan metode CengLu, kami berlima meluncur ke studio yang berjarak sekitar 500 meter di belakang Menara Saidah, Jl. MT Haryono. Sampai di studio, bhagonk dan alex baru bilang kalau mereka gak bisa ikut nonton karena ada acara yang lebih penting, yah, tinggal kita bertiga (lagi) seperti waktu lalu.

Setelah Bhagonk dan Alex pergi, kami bertiga langsung antri ke pintu masuk, sambil membagi 2 tiket yang tidak terpakai ke orang yang membutuhkan. Uuh, ternyata aku gak bakat jadi calo. *jitak goldah yang maksa-maksa*.

Dalam Studio
Posisi kiri depan sangat menguntungkan untuk motret-motret, personel DEWA lebih sering berada di daerah itu. Golda memilih masuk lubang di depan panggung, “Biar masuk tipi” katanya. Sementara aku dan didats tetap berada di sisi panggung.

Ketika DEWA mulai naik pentas, aku baru sadar kalau di belakangku penuh ABG-ABG yang berteriak-teriak histeris “wah ganteng-ganteng yah..”,teriakan selengkapnya ada di sini. Aku tidak terlalu memperhatikan, soalnya mulai sibuk milih-milih setingan kamera.

Dewa On Stage
Once upon a time in anTV: Duel Andra dan Yuke Seperti biasa, DEWA tampil mengagumkan di atas panggung, dan NO-LIPSYNC. Tata panggung yang melingkar membuat Once sering berkeliling di antara penonton yang meng-elu-elukan dirinya. Ada 12 lagu yang dibawakan Dewa pada acara ini, antara lain Pangeran Cinta, Arjuna mencari Cinta, Satu, dan tentu saja Kangen.

Dhani on StageDhani dan Once bergantian menyanyi dan memegang keyboard set di kiri panggung. Andra (hail master andra), berada 3 meter di depanku, meraung-raungkan gitarnya. Tio dengan drumnya berada jauh di belakang, dan tidak sekalipun maju ke depan panggung. Yuke dengan bass berada di sisi kanan, agak jauh dari tempatku. Di ujung paling kanan ada additional player memegang gitar, aku lupa siapa namanya. Tak lupa, 2 backing vokal cewek di belakang Dhani, jauh juga di belakang.

Bintang Tamu
Mulan SeksiSecara mengejutkan, di panggung muncul 2 cewek dengan pakaian ‘aneh’: rok mini, dan stocking bolong-bolong. Sempat aku bertanya “siapa tuh?”. Penonton di depanku bilang, “Ratu!, itu Mulan personel baru” ooh, ratu. Gila, roknya mini bener, kaos singlet merah mini dipakai di luar, dan kacamata gede tahun 70-an. Kalau tidak melihat Dhani dan Andra di panggung yang sama, aku pasti langsung berpikir ini pentas dangdut.

Aah, dasar ndeso!gak tau mode kamu her, liat aja Didats yang orang jakarte dan tahu mode tiba-tiba agresif dalam mengambil gambar, terutama saat Mulan berada di depannya, atau lebih tepatnya: di atasnya.

Andra terpana melihat kecepatan gerak bintang tamu yang luar biasa iniBintang tamu yang kedua aku tidak kenal, tapi membuatku terpana dengan permainan bass-nya. Konon, kalau aku tidak salah dengar, adalah bassist grup Casiopea, Dhani sendiri bilang kalau dulu Dewa sangat mengidolakan grup ini. Malam itu beliau fusion dengan Dewa, membawakan lagu milik Casiopea yang aku gak tahu judulnya. Tapi, suer deh, keren yang tiada taranya. (update: namanya Tetsuo Sakurai, info dari mbah.dukun[at] gmail [dot]com).

Selesai
Akhirnya acara selesai, golda berhasil mendapat souvenir berupa stik drum Tyo. Aku dapat 189 foto, meski hanya 80 diantaranya yang layak simpan. Tapi gak rugi deh ikut nonton. Tak lupa ucapan terimakasih goes to:
- Bhagonk & Alex atas tiket gratisannya
- Didats & Goldah sudah rame-rame nonton, sori aku jadi nyamuk lagi.
- Temennya didats yang mboncengin aku sampai jalan raya.
- Komunitas kampung gajah yang membuatku bisa kenal teman-teman yang luar biasa ini.

14 September 2005

Review: Susu Cair Rasa Coklat Kemasan Genggam

Filed under: Ragam — hericz @ 12:49 am

Saat ini jika kita ingin membeli barang elektronik ataupun otomotif, sangat mudah mencari review yang membandingkan satu produk dengan produk yang lain. Bagaimana kalau ingin membeli susu?

Seperti yang kutuliskan, aku sangat suka minum susu cair UHT rasa coklat. Rata-rata 2 liter susu coklat (2 kotak kemasan 1 literan) aku habiskan setiap minggu, dibantu teman-teman sih. Biasanya aku minum susu ultra karena mudah didapatkan di warung-warung kecil. Pilihan jatuh ke kemasan 1 literan karena lebih murah, dan lebih awet karena bisa diminum sedikit demi sedikit (dengan dicampur es batu), dan ditutup lagi untuk disimpan di kulkas.

Susu Kemasan Genggam
Saat di jalan atau sedang berada jauh dari rumah/kantor, kadang aku beli susu kemasan kecil yang bisa digenggam serta langsung habis sekali minum. Karena banyak susu kemasan kecil yang ada dipasaran, kadang-kadang bingung juga mau milih yang mana, karena tidak pernah ada review yang membandingkan susu-susu tersebut side-by-side.

Kebetulan kemarin saat mampir ke Carefour untuk membeli susu, aku menemukan 7 macam susu coklat kemasan kecil berjajar dalam satu rak, langsung saja kubeli ke-7 macam susu tersebut: Susu Bendera (frisian flag), Yes!, Yahuii, Prolene, Susu Ultra, PowerPuff Girl, dan Indomilk. Payahnya, aku tidak mendapatkan SEDOTAN satupun. Aku nggak tahu apa ini kesalahan kasir atau diriku yang tidak tahu dimana mengambil sedotannya. Lha sadarnya pas sudah sampai rumah.

Tujuh Susu

Perbandingan Susu Cair Rasa Coklat Kemasan Genggam
Dalam memilih susu ada beberapa faktor yang kuperhatikan, yaitu harga, rasa, kandungan gizi, distribusi, serta harus disertai label Halal. Dalam review ini kusertakan juga faktor kemasan, mosok udah dibuatin kemasan semenarik mungkin gak diitung sih. Yang direview hanya susu cair rasa coklat, karena aku nggak doyan susu putih, terlalu eneg dan amis.

Kelengkapan maksudnya adalah adanya informasi nama dan alamat produsen, telpon layanan konsumen, kelengkapan data informasi gizi, dan komposisi bahan.

Kandungan gizi dilihat dari data Informasi Gizi yang tersedia, hanya dipilih beberapa point saja.

Rasa, dinilai secara subyektif, semau ingsun. Silahkan protes. Enegitas adalah rasa eneg yang diperoleh setelah meminum 1 kemasan susu, skala 1 berarti tidak eneg, dan skala 5 berarti eneg seperti susu putih. Sedangkan Amisitas adalah aroma amis dari susu tersebut.

Distribusi menunjukkan penilaian atas kemudahan susu diperoleh di pasaran, semakin tinggi nilainya berarti semakin mudah didapatkan.

Dari ke-7 susu yang aku beli, salah satu tidak diminum karena aku tidak menemukan label halal, mungkin aku kurang teliti. Kebetulan kemasannya terkena tumpahan susu yang lain dan baru diketahui esok harinya sehingga sudah bau aneh dan sempat membuatku muntah-muntah. Cintah langsung beraksi, dibuang ke tempat sampah. Untuk itu, penilaian untuk kategori Rasa diberi nilai kira-kira saja. Susu PowerPuff Girl bersegmen anak-anak, maka diasumsikan rasanya cukup enak.

Berikut tabel perbandingan ke-7 susu tersebut

Tabel Perbandingan Susu

Jadi kurang lebih kesimpulannya sebagai berikut :
- Kalau ingin murah dan gizi cukup lengkap, minum susu Ultra, jika tidak Indomilk saja.
- Jika terbiasa minum susu bendera (kental manis), susu bendera cair rasanya cukup familiar.
- Kalau ingin kalsium tinggi dan lemak rendah, minum prolene. Tapi rasanya cukup ‘aneh’.
- Kalau ingin yang enak, pilih susu dengan target anak-anak (Yes dan Yahuii).

Tips minum susu cair:
- Pilih susu sesuai selera dan kebutuhan gizi, coba hitung Angka Kebutuhan Gizi sendiri.
- Pilih kemasan yang masih bagus, kemasan yang sudah rusak mungkin saja sudah bocor atau terinfeksi kuman.
- Lihat dulu tanggal kadaluarsa pada kemasan
- Sebelum diminum, jangan meremas kemasan terlalu keras karena bisa merusak kemasan dan membuat susu tidak tahan lama.
- Simpan dalam kulkas atau tempat yang sejuk dan kering.
- Kocok dulu sebelum diminum
- Susu lebih enak diminum dalam keadaan dingin, campurkan es batu jika perlu. Walaupun begitu, susu enak juga dinikmati hangat-hangat (maksudnya, dihangatkan dulu)
- Jangan lupa minta sedotan saat membeli!

Disclaimer: review ini hanya sebagai catatan pribadi saja, tidak disponsori oleh produsen, dan tidak minta ijin karena memang tidak perlu ya tho?. Kalau sampeyan merasa produsen susu, aku menerima sumbangan susu dalam bentuk apapun tanpa perlu izin RT/RW, asal halal, thoyib, dan jangan yang kadaluarsa.

9 September 2005

Jalan-jalan ke Planetarium TIM

Filed under: Hiburan, Personal — hericz @ 6:20 am

Tiket planetarium TIMBarusan lihat-lihat foto hasil jepretan pas jalan-jalan minggu lalu dan jadi ingat kalau Sabtu kemarin aku pergi ke planetarium di Taman Ismail Marzuki. Iya iya, belum jadi ke pantai.

Singkat cerita kami pergi ber-empat: aku, cintah, adikku yang kebetulan lagi di Jakarta, dan teman kuliah/kos waktu di bandung, Bastian. Naik angkutan ke TIM cukup mudah, dari Kebon Sirih (ujung Jalan Sabang) naik 502, langsung turun di depan TIM.

Begitu masuk TIM, karena baru pertama kali, langsung mengikuti keramaian, ke bagian belakang dulu. Ternyata di belakang sedang ada lomba, aku tidak memperhatikan itu lomba apa. Terlanjur di belakang, kami terus lihat-lihat Galeri Deklamasi, isinya buku-buku lama, tapi bukunya bagus-bagus lho. Tapi mengingat di rumah masih bertumpuk buku yang belum terbaca, ya harus menahan diri.

Setelah bosan lihat-lihat buku, dan adikku juga mulai komplain”ngapain sih di sini?gak jelas”, hehe, aku memang ndak ngasih tahu dari awal kalau mau masuk planetarium. Ya sudah, langsung tak ajak masuk ke planetarium. Kebetulan jadwal pertunjukan tinggal beberapa menit lagi, aku langsung antri tiket, adikku tidur di kursi tunggu.

Hanya menungu beberapa saat setelah dapat tiket, pintu sudah dibuka, dan kami segera masuk ke ruang pertunjukan.

Kubah putih
Kubah planetariumWow, sebuah ruangan berbentuk kubah besar, diameter kira-kira 30 meter, mungkin lebih. Atap ruangan tampak putih bersih, dengan garis-garis bujur dan lintang yang tampaknya cukup presisi. Di tengah ruangan teronggok sebuah proyektor berbentuk bola berwarna biru, berdiameter sekitar 1 meter, ada tulisan “Carl Zeiss” di bagian bawah, dengan banyak lensa-lensa di kulitnya. Kursi-kursi penonton, yang tampaknya didesain untuk posisi tidur, berjajar di seluruh ruangan. Dan yang cukup terasa adalah rasa dingin yang menusuk tulang (dalam arti yang sebenarnya), pertanda Air Conditioner diset tanpa mengindahkan aturan hemat energi.

Kursi-kursi segera penuh penonton tua dan muda, beberapa orang tampak foto-foto, beberapa yang lain mengacung-acungkan handycam, tapi tak lama. Lampu dimatikan, pertunjukan dimulai. Atap kubah menghilang, berubah menjadi langit malam yang penuh dengan bintang-bintang. Bulan purnama tampak baru terbit di sebelah kiri. Pembawa acara memberi narasi mengenai apa yang ada di ‘langit’ tersebut.

Ditunjukkan satu-persatu posisi rasi bintang, lengkap dengan simbol-simbolnya. Bahkan posisi bintang pun ikut bergerak perlahan seiring perjalanan waktu. Jadi ditunjukkan posisi bintang dari setelah matahari terbenam, sampai matahari terbit lagi. Tentu saja waktunya dipercepat karena waktu pertunjukan hanya 1 jam. Posisi matahari untuk berbagai posisi lintang, gerak semu harian bintang, dan gejala-gejala astronomi lainnya juga dijelaskan dengan animasi.

Sampai lampu dinyalakan lagi, aku benar-benar terhanyut, seperti halnya anak-anak kecil yang duduk mengelompok di bagian lain ruangan. Yah, bagaimanapun sebenarnya aku sudah tahu -hampir- semuanya, dari SMP dan SMA juga sudah diajarkan.

Kenangan Bersama Cintah
Satu hal yang paling mengesankan adalah pada saat bintang-bintang diproyeksikan ke langit-langit kubah. Mereka sungguh tampak begitu nyata, begitu cantik berkilauan di langit. Aku jadi teringat dulu waktu masih di Bandung, sekali-dua kali bersama cintah pergi ke suatu tempat di Dago untuk memandang langit malam. Berdua menikmati bulan purnama, bintang-bintang, night-landscape kota Bandung, dan angin malam yang dingin, ditemani roti bakar yang dibeli di Pasar Simpang.

« Previous PageNext Page »