Pengamen Cilik Beramplop
Bis kota yang aku naiki, seperti biasa, tampak kumal dan terasa gerah. Tak kuhiraukan beberapa pedagang asongan yang hilir mudik dalam bis. Beberapa pedagang asongan melakukan orasi perkenalan terlebih dahulu sebelum membagikan dagangannya (untuk kemudian diambil lagi), beberapa pedagang lain sekedar lewat sambil menjajakan minuman dingin atau tisu basah.
Tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki, umur sekitar 10 tahun, naik bis dan membagikan amplop. Sebuah amplop putih polos lusuh dengan tulisan tangan memenuhi bagian depannya, eh udah gak putih lagi nding.

Setelah selesai membagikan amplop, si bocah kecil segera mengambil posisi di tengah bis (kebetulan di sebelahku), menyiapkan instrumen musiknya: icik-icik terbuat dari potongan kayu dengan beberapa tutup botol yang dipaku agak longgar di ujungnya.
Setelah ‘intro’ icik-icik beberapa saat, mulailah dia bernyanyi. Duh, suaranya gak jelas, kayak berdengung-dengung thok, kurang lebih nyanyi seperti ini:
“Sungguh terpaksa.. aku bernyanyi
Mengharapkan tuan pemurah hati..”
Baru beberapa bait digumamkan, tiba-tiba salah satu tutup botol di instrumen musiknya jatuh ke lantai bis. Tanpa menghentikan lagunya, si bocah segera mencari-cari tutup botol tadi, begitu ketemu langsung dipasang kembali. Tak lama, suara icik-icik kembali terdengar mengiringi rangkaian lagu ‘medley’ yang gak jelas kapan ganti lagunya.
Pengamen cilik dan Kampanye Stop Beri Uang
Beberapa saat yang lalu, beredar email tentang kampanye Stop Beri Uang Pada Anak Jalanan. Situs stopberiuang.or.id sebagai pelopor kampanye tersebut terakhir di update tahun 2004 *duh*. Bingung juga menyikapi kampanye ini. Kalau nggak ngasih kok kasihan, kalau ngasih kok -katanya- merusak masa depan mereka sendiri.
Kalau aku sih, biasanya mengambil jalan tengah: memberi uang pada pengamen karena kadar ‘entertainment’ yang diberikan, kalau ngamennya bagus tak kasih, kalo nggak ya nggak.
Kenapa beramplop?
Kembali ke pengamen beramplop, banyak pertanyaan yang muncul saat melihat tingkah pengamen-pengamen kecil itu:
- Kenapa banyak pengamen2 cilik yang menggunakan amplop?
- Siapa yang ngajarin mereka?
- Kenapa kebanyakan pengamen beramplop kualitas ngamennya rendah?
- Apa yang bisa kita lakukan pada anak-anak ini?
- Eh, departemen sosial ada nggak sih?
Sesuai perjanjian, kita ketemuan di Carrefour Cawang jam 8 malam. Bhagonk, Alex, Didats, dan Golda datang beberapa saat setelah aku memesan ayam goreng di food court. Setelah terburu-buru menghabiskan teh hangat, aku keluar dan mendapati mereka berempat dengan 2 motor, langsung foto-foto.
Seperti biasa, DEWA tampil mengagumkan di atas panggung, dan NO-LIPSYNC. Tata panggung yang melingkar membuat Once sering berkeliling di antara penonton yang meng-elu-elukan dirinya. Ada 12 lagu yang dibawakan Dewa pada acara ini, antara lain Pangeran Cinta, Arjuna mencari Cinta, Satu, dan tentu saja Kangen.
Dhani dan Once bergantian menyanyi dan memegang keyboard set di kiri panggung. Andra (hail master andra), berada 3 meter di depanku, meraung-raungkan gitarnya. Tio dengan drumnya berada jauh di belakang, dan tidak sekalipun maju ke depan panggung. Yuke dengan bass berada di sisi kanan, agak jauh dari tempatku. Di ujung paling kanan ada additional player memegang gitar, aku lupa siapa namanya. Tak lupa, 2 backing vokal cewek di belakang Dhani, jauh juga di belakang.
Secara mengejutkan, di panggung muncul 2 cewek dengan pakaian ‘aneh’: rok mini, dan stocking bolong-bolong. Sempat aku bertanya “siapa tuh?”. Penonton di depanku bilang, “Ratu!, itu Mulan personel baru” ooh, ratu. Gila, roknya mini bener, kaos singlet merah mini dipakai di luar, dan kacamata gede tahun 70-an. Kalau tidak melihat Dhani dan Andra di panggung yang sama, aku pasti langsung berpikir ini pentas dangdut.
Bintang tamu yang kedua aku tidak kenal, tapi membuatku terpana dengan permainan bass-nya. Konon, kalau aku tidak salah dengar, adalah bassist grup 

Barusan lihat-lihat foto hasil jepretan pas jalan-jalan minggu lalu dan jadi ingat kalau Sabtu kemarin aku pergi ke planetarium di Taman Ismail Marzuki. Iya iya, belum jadi ke pantai.
Wow, sebuah ruangan berbentuk kubah besar, diameter kira-kira 30 meter, mungkin lebih. Atap ruangan tampak putih bersih, dengan garis-garis bujur dan lintang yang tampaknya cukup presisi. Di tengah ruangan teronggok sebuah proyektor berbentuk bola berwarna biru, berdiameter sekitar 1 meter, ada tulisan “Carl Zeiss” di bagian bawah, dengan banyak lensa-lensa di kulitnya. Kursi-kursi penonton, yang tampaknya didesain untuk posisi tidur, berjajar di seluruh ruangan. Dan yang cukup terasa adalah rasa dingin yang menusuk tulang (dalam arti yang sebenarnya), pertanda Air Conditioner diset tanpa mengindahkan aturan hemat energi.