Musik: Manusia, Frekuensi Natural, dan Nostalgia
Artikel asal-asalan tentang bagaimana menjawab kalau orang tua bilang “… dulu waktu Bapak masih muda, yang namanya musik itu enak, penuh makna, menentramkan, gak gedombrengan kayak lagumu, apa itu grupnya, Hari Hijau?”.
Frekuensi Natural
Setiap benda di dunia ini mempunyai frekuensi natural sendiri. Frekuensi natural adalah frekuensi, atau satu set frekuensi, dimana benda tersebut bergetar atau ikut ber-resonansi saat ada benda lain yang bergetar pada frekuensi tersebut. Jika kita belajar mekanika, maka kita mungkin masih ingat bagaimana menghitung frekuensi natural pegas atau ayunan.
Karena manusia juga merupakan ‘benda’, maka manusia juga mempunyai frekuensi natural, aku yakin itu. Frekuensi natural dalam hal ini adalah seperangkat frekuensi, yang disebut musik. Musik dimana manusia merasa nyaman saat mendengarnya.
Sebagian orang Indonesia akan merasa nyaman saat diperdengarkan lagu-lagu dangdut, bahkan tanpa disengaja tubuh ikut bergoyang (berresonansi) seirama irama musik. Sebagian lagi merasa nyaman dengan lagu keroncong, sebagian yang lain tentram dengan musik gamelan, saking tentramnya sampai tertidur. Sementara itu, orang eropa demen dengerin musik opera yang kalau aku dengar sih, seperti lolongan anjing.
Kapankah pembentukan Frekuensi Natural Manusia?
Jika pada benda mati frekuensi natural terbentuk sejak benda itu ada. Maka pada manusia frekuensi natural terbentuk seiring pertumbuhannya. Tentu saja dengan dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan. Jika orang tua suka musik jazz, anaknya juga akan suka, paling tidak gak alergi dengan musik ini, apalagi tiap hari diperdengarkan musik jenis ini.
Pada usia pertumbuhan, anak-anak masih labil, masih mudah berubah bentuk. Pada masa inilah terjadi pembentukan frekuensi natural dari manusia. Masa SMP dan SMA adalah puncaknya. Kita akan mendengarkan lagu-lagu yang lagi ngetrend, ngetop, yang sering diputar di media. Jika kepribadian kita cukup kuat, kita akan memilih aliran musik sesuai keinginan kita, dan jika tidak kita pilih sesuai keinginan kelompok kita. GAUL GITU LHO !
Efek Nostalgia
Karena waktu itu jenis musik yang mirip-mirip tersebut setiap hari kita dengarkan ke otak yang masih labil, lama-lama musik jenis itulah yang menjadi frekuensi natural kita. Membuat kita bergoyang setiap kali lagu itu diperdengarkan, dan bertahun-tahun kemudian jantung berdebar-debar teringat kenangan masa itu, pikiran melayang, jiwa terbang *haiyah*.
Jangan heran kalau saat musik-musik baru bermunculan, kita ikut mendengarkan dan beli kasetnya, ikut manggut-manggut dibuatnya dan bilang ‘wow, lagunya keren nih’, tetapi tetap tak bisa mengalahkan aura Always-nya Bon Jovi, Kangen-nya Dewa, lagu-lagu sendunya Kla-Project, OASIS, dan lagu-lagu lain yang lagi ngetop saat aku masih SMP-SMA. Aku yakin, auranya masih akan tetap terasa berpuluh tahun lagi.
Jangan heran pula, kalau ada angkatan yang sangat hapal lagu-lagunya Scorpion, Power Metal, atau Vina Panduwinata. Sekali lagi, tergantung alirannya. Ada lagi yang bergoyang dengan musik Panbers, d’Lloyd, KoesPlus. Generasi ini, biasanya sekarang masih mendengarkan lagu-lagu ini sambil aktif berdiskusi mengenai pengobatan alternatif.
Eh, tapi ada pula lho, yang merasa baru menemukan Frekuensi Naturalnya pada usia senja, lihat saja acara Goin’ Country, sering senyum-senyum sendiri kalo lihat acara itu.
Tapi harus diperhatikan pula, kalau suatu saat kita sudah bertengkar dengan ABG dan bilang “..musikmu kok tidak karuan gini sih? pas jamanku dulu musik itu bla bla bla..”, mungkin itu pertanda periode pembentukan natural frekuensi kita sudah berhenti. Saatnya memperbanyak ibadah.
—
gambar asli diambil tanpa permisi dari sini.