24 October 2005

Salmonella Typhi O: 1/320

Filed under: Personal — hericz @ 11:18 am

Beberapa hari ini badanku terasa demam, terutama kalau malam sehabis buka puasa. Begitu demamnya, sampai-sampai badan terasa dingin sampai aku males mandi. Sebenarnya aku memang selalu males mandi nding.

Sabtu malam, sehabis pulang dari acara buka bersama (lagi?) iseng-iseng kuperiksa suhu tubuhku sendiri dengan menjepitkan termometer ke pangkal lengan. Ternyata suhu ketiakku, sebagai representatif suhu badan, terukur 38 derajat celsius, angka yang cukup tinggi. Pantesan badan kok rasanya menggigil, penginnya jaketan, krukup selimut, dan ngringkel di depan tivi.

Kondisi ini di perparah saat aku mencoba makan nasi, rasanya kok tidak enak dan agak-agak sakit di mulut dan tenggorokan. Di acara buka bersama, nasi dus dari rumah makan Sederhana (yang menu dan harganya nggak sederhana itu), hanya sekitar 68% yang berhasil di download ke jaringan ususku *halah*. Sudah ku paksa-paksa masuk ke mulut tetapi malah mual. Tanpa melupakan anak-anak yang kelaparan di Afrika, Timur Tengah, dan Sukabumi, dengan sadar aku buang sisa makananku.

Setelah konsultasi kesehatan dengan Wawan, temanku yang baru sembuh dari tipus, aku disarankan untuk periksa ke dokter sekaligus cek darah. Kebetulan rumah temenku ini dekat dengan Rumah Sakit.

Minggu pagi, seusai nonton sinchan tentunya, Wawan mengantarku ke Rumah Sakit. Setelah mendaftar dan menunggu beberapa lama, akhirnya tiba giliranku diperiksa Dokter.

Cek Darah
Seperti saran wawan, dokter menyarankan aku untuk cek darah. Kalau dihitung-hitung, sampai sekarang aku baru kali ini cek darah. Ketika jarum suntik menusuk lenganku dan darahku mulai masuk ke tabung suntik, diam-diam aku bersyukur. Ternyata darahku warnanya merah, bukan hitam seperti yang diperkirakan orang-orang. *fiuuh lega*

Rasa lega tidak berlangsung lama.

Lembar hasil tes darah sudah tidak asing bagiku, beberapa waktu lalu aku setiap hari menatap lembar yang sama saat menunggu Wawan yang opname karena tipus. Karena itu, aku langsung njujuk bagian bawah untuk melihat angka-angka penting.

Trombosit : 209 ribu/ul, normalnya 150-450 ribu/ul.
Salmonella Thypi 0 : 1/320
Salmonella Paratyphi AO : 1/160
Salmonella Paratyphi BO : 1/80

Masya Allah, kena tipus nih badanku.

Setelah mendiskusikannya dengan wawan, lembar ini segera ku serahkan ke dokter yang memeriksaku.

Hasil cek darah, analisa dokter, analisa Wawan, dan analisa cintah kurang lebih sebagai berikut:

- Positif kena tipus
- Trombosit masih normal, normal tapi rendah (209 ribu/ul)
- Yang bikin sakit saat makan itu sariawan alias lumpangen
- Rambutku sudah gondrong dan derajat kriwilitasnya sangat tinggi

Untuk tipusnya, dokter memberi pilihan rawat inap atau rawat jalan. Aku pilih rawat jalan-jalan.

Untuk sariawan atau lumpangen, kata orang jawa sih obatnya gampang, cukup ditutul pake alu. Tapi hari gini dimana nyari alu? Karena susah, aku pilih mengkonsumsi vitamin C saja.

Untuk rambut yang gondrong dan kriwil, aku disarankan potong rambut, atau rebonding. *duh*

Untuk itu, mungkin beberapa hari ini aku harus bersantai beristirahat dan nggak ngantor. Online masih bisa sedikit-sedikit pake IM3 walau agak mahal. Meskipun nggak ngantor, dan praktis nggak pergi kemana-mana, aku akan berusaha mandi teratur. Hal ini perlu supaya ketiakku tetap menjadi representatif suhu badan saja, tidak merangkap sebagai representatif bau badan.

Kalau ada yang kurang kerjaan dan baca tulisan ini, tolong doakan aku cepat sembuh yah.

22 October 2005

Nonton Sheila on 7 di Studio AnTV

Filed under: Hiburan — hericz @ 6:34 am

Hmm, sudah 2 hari yang lalu tapi gak papa deh. Tanggung jawab moral buat yang udah pada ngajakin nonton.

Yah, setelah nonton Dewa beberapa waktu yang lalu, kemaren aku ke studio AnTV lagi. Kali ini band yang tampil, yang juga membuatku gak ikut tarawih, adalah Sheila on 7. Sebuah band Yogya yang merangkak dari bawah hingga menjadi band papan atas Indonesia.

Beberapa hari yang lalu aku menghubungi bhagonk untuk menanyakan keberadaan tiket gratisan nonton di ANTV, tapi katanya sudah nggak dijatah lagi. Yo uwis, gak nonton sheila on 7 juga nggak papa kok *berlinang air mata*.

Hari kamis malam, setelah berbuka puasa, tiba-tiba didats menghubungiku, katanya temennya punya tiket masuk ANTV dan masih ada satu tiket nganggur, makanya dia ngajakin aku (ini bukan flirting kan dats?).

Para narsis yang ngajakin nonton :DSingkat cerita, kami berlima sudah berada di depan studio. Hampir saja gak jadi nonton karena TERNYATA gak ada yang punya tiket. Acara sudah dimulai sekitar 10 menit dan kita berlima masih berputar-putar di luar studio. Tapi syukurlah staff ANTV berbaik hati -mungkin iba- melihat kami berputar-putar gak jelas, dan mempersilahkan kami masuk, tanpa tiket.

Di dalam Studio
Waduh, seperti yang sudah dibayangkan, penonton di dominasi oleh kaum ABG. Perkiraanku sih kebanyakan masih anak SMP dan SMA.

Hmm, lihat ke panggung, ada Duta, Erros, Sakti, Adam, dan eh, itu drummer barunya yah?baru lihat sekali secara langsung.

Duta on StageDibanding Dewa dalam Star on Stage bersama kemarin, Sheila on 7 kali ini tampak lebih mempersiapkan diri dalam segi skenario panggung. Di sela-sela lagu, satu demi satu mereka bercerita tentang kisah-kisah lucu, mengharukan, maupun menyedihkan yang -katanya- mereka alami sendiri. Duta yang menceritakan kepecundangannya saat masih kecil, adam yang bercerita tentang betapa dia mudah menangis kalau mendapat cerita sedih, dan seterusnya.

Aksi panggung juga tak kalah asyiknya. Seperti yang pernah ditampilkan sebelumnya, Sheila menampilkan gaya gitar berantai (atau apapun deh namanya), dimana 4 orang memainkan 3 gitar, terus.. wah susah njelasinnya. Lihat gambarnya aja deh.

Gitar foursome

Kesimpulan setelah acara berakhir adalah : gebukan drum Brian Kresno Putra mantap dan cukup menyatu dengan musik sheila on 7, pantesan menurut polling di website resmi Sheila dianggap pantas menggantikan Anton.

Menurutku suara Duta masih cukup kuat dan bersih, tapi sampai rumah kok temanku bilang “Her, suarane Duta kok elek men!, nek band lokal mesti wis dibalangi watu kuwi”. Aku nyengir aja dengernya.

Sheila dan masa-masa SMA
Terus terang, Sheila on 7 adalah salah satu band yang harus melalui masa perjuangan berat. Masih ingat dulu waktu SMA-ku bikin acara Tutup Buka Tahun, kalo gak salah tahun 1998, Sheila termasuk band tamu yang dijadwalkan manggung terakhir (haha, beberapa band setelah band-ku yang ancurrr karena gak pernah latihan).

Waktu itu Sheila (nama dulu) belum terkenal seperti sekarang, bahkan belum mengeluarkan album pertamanya. Walau demikian, Sheila sudah cukup dikenal anak muda di yogyakarta karena lagu-lagunya sering diputar di radio Geronimo. Di acara SMA tersebut, pas waktunya tampil, Sheila mutung dan batal manggung karena suatu hal. Beberapa bulan kemudian, muncul album Sheila on 7 yang pertama.

Setahun setelah kejadian itu, giliran jikustik (G-coustic) yang diundang sebagai bintang tamu untuk acara yang sama. Seperti halnya Sheila, waktu itu jikustik juga belum terkenal -seperti sekarang-, dan lagi-lagi terjadi kasus di panggung yang mengakibatkan seluruh pemain mutung dan turun panggung sebelum waktunya. Beberapa bulan kemudian, muncul jikustik dengan albumnya yang pertama.

Kayaknya acara Tutup Buka Tahun SMA-ku bawa hoki, tapi syaratnya harus ada kasus dulu di panggung hehehe.

Sheila di tengah kemunculan Band baru
Meskipun sekarang muncul band-band baru, Sheila tetap punya tempat di hatiku *halah*. Terus terang, album Peterpan yang baru keren juga, gak sendu mendayu-dayu seperti Keris Patih. Duh, aku setuju sama roni, seharusnya namanya Selendang Selir. Lho, kok malah ngomongin band lain.

Mengingat fans Sheila On 7 tumbuh dewasa, alangkah sebaiknya musik Sheila juga ikut mendewasakan diri. Tumbuh berkembang seiring waktu. Lebih baik memanjakan telinga fans lama, dari pada mencari fans baru tho?.

Btw, ini postingan panjang amat yah?

17 October 2005

Mengenal Lensa Kamera Digital

Filed under: Tutorial, Teknologi — hericz @ 12:26 am

*learning by writing*

Lensa Kamera DigitalSaat melihat hasil foto yang tajam dari sebuah kamera digital, biasanya orang akan bertanya “Wah,berapa megapixel nih?”. Pertanyaan ini cenderung slaah kaprah karena ukuran sensor tidak memiliki relevansi yang erat dengan ketajaman gambar. Bagian kamera yang sangat berpengaruh pada ketajaman hasil adalah lensanya. Sekedar info, resolusi televisi VCD hanya 320×240pixel (tepatnya 352×240 (NTSC) or 352×288 (PAL)), dan gambarnya bisa tajam bukan?.

Pada prinsipnya, lensa pada kamera digital dan kamera film sama saja. Hanya saja aku pengin menulis tentang kamera digital, lagipula kalau di judul ada kata ‘digital’ kesannya lebih keren gitu.

Panjang fokus

Lensa kamera digital

Tugas lensa adalah memproyeksikan obyek di depan lensa ke sensor pada kamera (pelajaran SMP), lha jarak dari pusat lensa ke titik fokusnya itu yang dimaksud panjang fokus, jarak fokus, atau focal length.

Terdapat 2 jenis panjang fokal lensa pada kamera digital: lensa tetap (fixed length), dan lensa zoom.
- Lensa tetap hanya memiliki satu panjang fokus, biasanya sekitar 6-7mm. Untuk mengenali kamera ini, biasanya tidak ada keterangan ‘optical zoom’.
- Lensa zoom memiliki mekanisme yang memungkinkan panjang fokusnya berubah-ubah. Pada umumnya panjang fokus berkisar dari 6-7mm sampai 18-28mm (yang lebih besar juga banyak).

Panjang fokal yang bisa berubah-ubah ini bisa diperoleh dengan menggunakan susunan lensa yang rumit. Pada kamera digital kelas konsumer, perubahan susunan lensa ini digerakkan oleh motor. Sedangkan pada kamera DSLR yang digunakan profesional, BISA digerakkan secara manual.

Susunan lensa ini akan memakan tempat yang cukup besar, oleh karena itu kamera digital dengan lensa zoom pada umumnya memiliki lensa yang menjulur kedepan. Semakin besar focal-length terbesarnya, semakin panjang pula moncong lensa. Moncong ini semakin panjang lagi jika kamera memiliki feature ‘Optical Image stabilizer’, dimana terdapat lensa tambahan yang dirancang untuk mengurangi efek akibat goncangan. Contoh kamera jenis ini adalah Canon PowerShot S2 IS (akhiran IS berarti Image Stabilizer).

Akan tetapi, beberapa model kamera digital dirancang stylish tipish dengan menyusun lensa ini secara vertikal, sejajar badan kamera. Cahaya masuk dibelokkan dengan prisma, dilewatkan susunan lensa yang berjajar vertikal, menuju sensor yang terdapat di dasar badan kamera. Dengan cara ini, kamera bisa begitu tipis, hingga cuma 1 cm saja. Walaupun berakibat terjadinya sedikit distorsi cahaya, kamera jenis ini cukup larish Manish. Contoh kamera ini adalah Sony seri T (T3, T5), dan Pentax WP5.

Sudut gambar?
Penggunaan panjang fokus yang berbeda menimbulkan efek sudut pandang yang berbeda terhadap suatu obyek.

Sudut gambar

Lensa dengan fokus yang pendek sering disebut lensa lebar (wide lens), digunakan untuk pemotretan obyek yang luas. Sedangkan lensa panjang digunakan untuk memotret obyek yang lebih sempit, atau obyek yang jaraknya lebih jauh.

35mm Ekuivalen?
Di majalah atau situs panduan belanja seringkali dituliskan bilangan panjang fokus 35-105mm ekuivalen, padahal ketika dilihat pada spesifikasinya kamera cuma tertulis 6-18mm. Begini ceritanya:

Sudah bertahun-tahun lamanya orang menggunakan kamera film, ukuran film ada bermacam-macam, tapi yang paling dominan adalah film ukuran 35mm. Sehingga para tukang poto sudah terbiasa dengan efek yang dihasilkan untuk tiap-tiap panjang fokus. Misalnya, untuk memotret close-up digunakan panjang fokus 80-100mm,untuk mengambil gambar pemandangan dengan lensa lebar 28mm, dan seterusnya.

Sedangkan sekarang, ukuran sensor kamera digital (fisik, bukan megapixelnya) yang diproduksi berbeda-beda. Pada umumnya kamera kelas konsumer memiliki sensor yang lebih kecil (1/1.8 inch-1/2.5 inchi) dibanding kamera kelas prosumer, apalagi dibanding kamera profesional. Sensor berukuran sama dengan film 35mm disebut juga Full Frame Sensor, kamera model ini harganya bisa mencapai 80juta rupiah.

Perbandingan sensor

Perbedaan ukuran sensor ini menimbulkan perbedaan sudut gambar yang dihasilkan, walaupun dengan lensa dengan panjang fokus yang sama.

Untuk memudahkan konsumen membayangkan bagaimana sudut gambar yang bisa dihasilkan, produsen biasanya menyertakan bilangan ekuivalen jika dibandingkan dengan kamera 35mm.

Jadi jangan heran kalau ada kamera dengan tulisan pada lensa :6-18mm, tapi dituliskan 36-108mm, ini maksudnya angka ekivalensi dibanding lensa 35mm.

Optical Zoom
Selain ukuran megapixel sensor, optical zoom paling sering muncul di spek kamera digital. Optical zoom adalah perbandingan antara panjang fokus terjauh dibanding panjang fokus terdekat. Misal, lensa 35-105mm (ekv) berarti memiliki 3x (105/35) optical zoom.

Faktor lain
Selain lensa, faktor yang mempengaruhi kualitas hasi pemotretan adalah kualitas sensor, dan tentu saja the man behind the lens yang memegang kendali atas pengaturan diafragma (aperture), pencahayaan, kecepatan rana (shutter speed), dan komposisi. Perlu ditulis di sini juga nggak ya?


thanks to mbah baskara atas koreksinya :D

12 October 2005

Buka Bersama Penting Nggak Sih?

Filed under: Ngedumel, Personal — hericz @ 5:08 pm

Di bulan Ramadhan yang suci ini, ada satu kegiatan yang unik, sederhana, sekaligus serbaguna, yaitu: Buka Puasa Bersama.

Acara Buka Bersama ini unik karena hanya bisa dilakukan pada bulan Ramadhan, tidak bisa di bulan-bulan lainnya. Sederhana karena acara intinya adalah makan untuk membatalkan puasa. Yah, bisa rumit sih, tergantung kreativitas sang pembuat acara. Buka Bareng juga serbaguna karena bisa digunakan untuk berbagai keperluan: kumpul-kumpul, rapat, syukuran, reuni, pengumpulan dana, dan bahkan untuk ajang kenalan.

Yang dimaksud Buka Puasa Bersama, atau Buka Bersama, atau Buka Bareng adalah suatu acara dimana sekelompok orang dikumpulkan/berkumpul untuk berbuka puasa bersama dalam satu forum (warning: ini definisi ngawur). Selanjutnya akan disebut Buka Bareng (BuBar).

Acara Buka Bersama
Dengan inti acara berupa membatalkan puasa pada waktu maghrib secara bersama-sama, rangkaian acara BuBar ini dapat menjadi bervariasi. Dari segi acara, rangkaian ‘ngabuburit’ (menghabiskan waktu sebelum waktu buka) bisa bermacam-macam sesuai komunitas yang bersangkutan. Ada yang dengan melakukan kajian agama, pengajian, arisan, rapat pekerjaan, sampai yang cuma ngobrol-ngobrol saja. Demikian pula acara setelah berbuka puasa, yang kadang-kadang malah ‘kebablasen’ sampai waktu Isya dan akhirnya acara berlanjut menjadi “Tidak Tarawih Bersama”.

Jika di lihat dari segi Ibadah, sepertinya kegiatan kajian agama merupakan pilihan yang terbaik. Akan tetapi, perlu diperhatikan, bahwa sekarang BuBar tidak hanya diikuti umat islam saja, tetapi semua anggota komunitas yang bersangkutan dipersilahkan untuk ikut rame-rame menikmati indahnya suasana buka puasa. Untuk itu, kegiatan sebelum dan setelah buka bersama untuk kasus ini dibuat seplural-friendly mungkin.

Belum 10 hari puasa Ramadhan, sudah 3 kali acara buka bersama yang aku ikuti.

Buka Bersama Teman Kuliah
Buka bersama EL-99Ikatan yang terjalin saat kuliah adalah salah satu ikatan yang susah untuk dilupakan. Kita yang dulu sering berkumpul dalam satu kampus, nginep-nginep di Lab, makan di kantin/warung kampus sekarang susah berkumpul. Nah, buka bersama dapat menjadi alasan pembenaran untuk melakukan kegiatan reuni kecil-kecilan.

Sabtu kemarin, bahagia sekali rasanya bisa bertemu dengan teman-teman kuliah. Sekitar 25 orang datang untuk sekedar makan-makan, ngobrol-ngobrol, foto-foto, meng-update kondisi teman seangkatan, menghitung berapa ponakan yang sudah kita punya, dan berapa yang akan bertambah dalam waktu dekat.

Ayo kumpul-kumpul lagi kapan-kapan!, tapi di tempat makan yang murah saja deh :D .

Buka Bersama Warga Kampung-Gajah
Ngirim Live Report setelah berbukaDua hari setelah buka bersama teman kuliah, senin kemarin aku kembali Buka Bersama makan bebek goreng. Kali ini dengan teman-teman di dunia maya, sahabat-sahabat di milis id-gmail alias Kampung Gajah.

Acara yang mendadak ini berhasil cuma berhasil mengumpulkan 6 orang: Awan, Caca, Didats, Budi, BIG, dan aku sendiri. Walau demikian acara ini berlangsung seru, meskipun sekedar kenalan, ngobrol-ngobrol, foto-foto, sekaligus mengirimkan Live Report ke Kampung Gajah.

Kali ini didats yang kebagian pahala terbanyak dengan memberi ta’jil pada 5 orang junker. Dan karena didats udah bayarin makan-makan, aku gak jadi mem-publish foto didats tanpa kupluk ke milis. Hehehe

Buka bersama IA
Hatta Rajasa saat Buka BersamaLha yang terakhir ini, acara BuBar yang lumayan kelas berat. Bersama sekitar 400 alumni kampus dari semua jurusan dan semua angkatan. Termasuk di antaranya menteri Hatta Rajasa yang pas aku datang sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan adik/kakak angkatan dengan pertanyaan yang mencekik leher, terutama seputar kebijakan transportasi, BBM, dan bahan bakar alternatif. Seperti diungkapkan pembawa acara, acara ini diwakili elemen yang lengkap : Pemerintah, Swasta, BUMN. BUMN sendiri masih terbagi menjadi 2, yaitu BUMN sehat dan BUMN bermasalah *halah*.

Acara besar bertajuk “Silaturahmi Alumni” ini diadakan oleh Ikatan Alumni kampusku, tentu saja makanannya lumayan bermutu dan gratis.

Jadi, penting nggak sih?
Dari sebuah kegiatan ibadah, Buka Bersama telah bergeser menjadi alasan untuk berkumpul dan berinteraksi. Seperti telah ditulis diatas, buka bersama juga menjadi alasan untuk bersama-sama meninggalkan sholat tarawih berjamaah di masjid. Jadi penting nggak sih acara ini? atau sekedar pemanis nama acara saja?

Sambil menunggu jawaban atas pertanyaan ini, aku menerima undangan buka bersama dari pihak manapun. Semakin gratis semakin baik. Pertanyaan gak terjawab juga gak papa, lha wong pertanyaan gak penting gitu, hehe

Next Page »