Buka Bersama Penting Nggak Sih?
Di bulan Ramadhan yang suci ini, ada satu kegiatan yang unik, sederhana, sekaligus serbaguna, yaitu: Buka Puasa Bersama.
Acara Buka Bersama ini unik karena hanya bisa dilakukan pada bulan Ramadhan, tidak bisa di bulan-bulan lainnya. Sederhana karena acara intinya adalah makan untuk membatalkan puasa. Yah, bisa rumit sih, tergantung kreativitas sang pembuat acara. Buka Bareng juga serbaguna karena bisa digunakan untuk berbagai keperluan: kumpul-kumpul, rapat, syukuran, reuni, pengumpulan dana, dan bahkan untuk ajang kenalan.
Yang dimaksud Buka Puasa Bersama, atau Buka Bersama, atau Buka Bareng adalah suatu acara dimana sekelompok orang dikumpulkan/berkumpul untuk berbuka puasa bersama dalam satu forum (warning: ini definisi ngawur). Selanjutnya akan disebut Buka Bareng (BuBar).
Acara Buka Bersama
Dengan inti acara berupa membatalkan puasa pada waktu maghrib secara bersama-sama, rangkaian acara BuBar ini dapat menjadi bervariasi. Dari segi acara, rangkaian ‘ngabuburit’ (menghabiskan waktu sebelum waktu buka) bisa bermacam-macam sesuai komunitas yang bersangkutan. Ada yang dengan melakukan kajian agama, pengajian, arisan, rapat pekerjaan, sampai yang cuma ngobrol-ngobrol saja. Demikian pula acara setelah berbuka puasa, yang kadang-kadang malah ‘kebablasen’ sampai waktu Isya dan akhirnya acara berlanjut menjadi “Tidak Tarawih Bersama”.
Jika di lihat dari segi Ibadah, sepertinya kegiatan kajian agama merupakan pilihan yang terbaik. Akan tetapi, perlu diperhatikan, bahwa sekarang BuBar tidak hanya diikuti umat islam saja, tetapi semua anggota komunitas yang bersangkutan dipersilahkan untuk ikut rame-rame menikmati indahnya suasana buka puasa. Untuk itu, kegiatan sebelum dan setelah buka bersama untuk kasus ini dibuat seplural-friendly mungkin.
Belum 10 hari puasa Ramadhan, sudah 3 kali acara buka bersama yang aku ikuti.
Buka Bersama Teman Kuliah
Ikatan yang terjalin saat kuliah adalah salah satu ikatan yang susah untuk dilupakan. Kita yang dulu sering berkumpul dalam satu kampus, nginep-nginep di Lab, makan di kantin/warung kampus sekarang susah berkumpul. Nah, buka bersama dapat menjadi alasan pembenaran untuk melakukan kegiatan reuni kecil-kecilan.
Sabtu kemarin, bahagia sekali rasanya bisa bertemu dengan teman-teman kuliah. Sekitar 25 orang datang untuk sekedar makan-makan, ngobrol-ngobrol, foto-foto, meng-update kondisi teman seangkatan, menghitung berapa ponakan yang sudah kita punya, dan berapa yang akan bertambah dalam waktu dekat.
Ayo kumpul-kumpul lagi kapan-kapan!, tapi di tempat makan yang murah saja deh
.
Buka Bersama Warga Kampung-Gajah
Dua hari setelah buka bersama teman kuliah, senin kemarin aku kembali Buka Bersama makan bebek goreng. Kali ini dengan teman-teman di dunia maya, sahabat-sahabat di milis id-gmail alias Kampung Gajah.
Acara yang mendadak ini berhasil cuma berhasil mengumpulkan 6 orang: Awan, Caca, Didats, Budi, BIG, dan aku sendiri. Walau demikian acara ini berlangsung seru, meskipun sekedar kenalan, ngobrol-ngobrol, foto-foto, sekaligus mengirimkan Live Report ke Kampung Gajah.
Kali ini didats yang kebagian pahala terbanyak dengan memberi ta’jil pada 5 orang junker. Dan karena didats udah bayarin makan-makan, aku gak jadi mem-publish foto didats tanpa kupluk ke milis. Hehehe
Buka bersama IA
Lha yang terakhir ini, acara BuBar yang lumayan kelas berat. Bersama sekitar 400 alumni kampus dari semua jurusan dan semua angkatan. Termasuk di antaranya menteri Hatta Rajasa yang pas aku datang sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan adik/kakak angkatan dengan pertanyaan yang mencekik leher, terutama seputar kebijakan transportasi, BBM, dan bahan bakar alternatif. Seperti diungkapkan pembawa acara, acara ini diwakili elemen yang lengkap : Pemerintah, Swasta, BUMN. BUMN sendiri masih terbagi menjadi 2, yaitu BUMN sehat dan BUMN bermasalah *halah*.
Acara besar bertajuk “Silaturahmi Alumni” ini diadakan oleh Ikatan Alumni kampusku, tentu saja makanannya lumayan bermutu dan gratis.
Jadi, penting nggak sih?
Dari sebuah kegiatan ibadah, Buka Bersama telah bergeser menjadi alasan untuk berkumpul dan berinteraksi. Seperti telah ditulis diatas, buka bersama juga menjadi alasan untuk bersama-sama meninggalkan sholat tarawih berjamaah di masjid. Jadi penting nggak sih acara ini? atau sekedar pemanis nama acara saja?
Sambil menunggu jawaban atas pertanyaan ini, aku menerima undangan buka bersama dari pihak manapun. Semakin gratis semakin baik. Pertanyaan gak terjawab juga gak papa, lha wong pertanyaan gak penting gitu, hehe
October 13th, 2005 at 1:48 am
“sesuatu yang diada-adakan itu bid’ah.
semua bid’ah itu sesat.
semua sesat itu neraka”
nah loe… jangan ikutan bukber yang jadi “ritual”. masuk neraka ntar.. hehe..
October 13th, 2005 at 2:46 am
bisa penting, bisa tidak.
he… kok aku ngga tau ya ada BuBar IA ITB?
ngomongs, shalat tarawih kan ngga wajib, ngga harus berjama’ah & waktunya dari ba’da Isya sampe sebelum adzan Subuh. siapa tau pada shalat tarawih sendiri2 di rumah
October 13th, 2005 at 6:18 am
kalo gitu gw dukung bid’ah ‘bukber’
October 13th, 2005 at 6:57 am
ayo ke surabaya sini, tak kasih tau bebek yg lebih hebat daripada kayu tangan!
October 13th, 2005 at 7:42 am
BukBer bareng keluarga di rumah Bid’ah ga? Atawa Tajil klo g pake Kurma/yang manis Bid’ah g?
Tarawih memang tidak harus jama’ah koq,…tarawih jamaah tidak pernah di contohkan Rosulullah SAW,..prakteknya hanya ada pada jaman Khalifah Umar Ibnu Khattab. (Bid’ah kah?)
Jadi yang penting itu, GRATISâ„¢ dan ENAKâ„¢
October 13th, 2005 at 7:49 am
Yang penting niatnya
Niatnya apa ? Silaturahmi atau makan gratis sambil sekalian ngeceng? hihihihih
October 13th, 2005 at 8:13 am
Kalau soal “penting” sih relatif, kalau memang berkepentingan yaa..
hey.. di jogja gw nyari2 bebek kayu tangan kok gak dapet ya..
October 13th, 2005 at 8:48 am
Saya bahkan pernah ikut buka puasa bersama. Setelah berbuka, lho koq nggak ada yg sholat magrib ? Lantas saya bertanya ke pembantu restoran dikatakan ruang sebelah *utk makan* nggak kepake mas. Akhirnya saya denagn tiga orang yang masih punya kesadaran sholat disitu.
Sekarang untuk buka ebrsama lebih hati-hati, siapa yang ngajak.
Kalau bid’ah dsb koq saya nggak ngelihat sampe segitunya. Toh kalau bid’ah mungkin termasuk bid’ah hasanahlah, apalagi kalau gratis he..he..
October 13th, 2005 at 10:49 am
kalo dikantor gw,bubernya ama anak yatim dan kaum du’afa sebelumnya ada ceramah abis buka sholat magrib bersama, en bagi2 sarong tuk lebaran,dah rutin tiap taon.
October 13th, 2005 at 11:58 am
taraweh kan bisa dirumah…
malah lebih enak malem lagih.. biar lebih kusyuk! hihihi…
trus, kalo lu minta undangan, kapan bikin undangan ndiri?
*jitak herry*
October 13th, 2005 at 12:36 pm
ya abis buka sekalian dong maghrib bareng, lanjut juga tarawih bareng….. pegimane seeehhhh…
October 13th, 2005 at 1:49 pm
silaturahmi dan mempertahankan persahabatan temen2 lama kan penting juga…bagi gue ok2 aja buka puasa bareng…
October 14th, 2005 at 5:43 am
hmm.. her..
kalau menurut gw buka bersama sih gag wajib kalau kita diminta yg bayarin, tapi menjadi wajib jika kita dibayari! hmm.. ini teori bayar membayari lho her..
tapi kalau menurut agama.. gw manut ke #1 ajah deh
October 14th, 2005 at 7:58 am
salam kenal, ke sini dari blognya Diyana.
nurut aku sih buber itu wajib hukumnya selama nggak harus BS, krn buat perbaikan gizi *inget masa2 lajang
*
October 14th, 2005 at 9:32 am
penting dong ! pa lagi kalo buka bersama bareng mertua. biar cepet dikasih … hahahahaha
October 14th, 2005 at 4:29 pm
Tul tul, emang segala sesuatu tuh tergantung niatnya. Dan kalau gw buber, niatnya adalah makan - makan gratis nebeng sama yang punya acara huehehehehe
October 14th, 2005 at 4:46 pm
yaaahh baru liat sekarang… makna dibalik buka bersama itu sebenarnya baik, asal jangan lupa sholat maghrib. itu kewajiban yang biasanya malah terlupakan.
October 16th, 2005 at 9:25 pm
jadi kapan bukber-nya neeh? kayaknya yang habis dapat amplop dari mtv yang harus jadi donaturnya.. he..he…23x!â„¢