Sehat itu Mahal Jendral!
Entah bagaimana, sebulan terakhir ini aku sering kali pergi ke Rumah Sakit. Rasanya paling tidak seminggu sekali aku berkunjung dari satu RS ke RS yang lain.
Dimulai sekitar sebulan yang lalu, cintah terkena batuk yang sangat mengganggu dan menyiksa. Pertama kali dicoba diperiksakan ke sebuah rumah sakit di dekat monas. Karena suatu hal cintah ‘mutung’ dan tidak mau melanjutkan proses pendaftaran. Usut punya usut, ternyata itu adalah sebuah rumah sakit bersalin. *duh*
Gagal periksa, aku usulkan untuk mendatangi klinik kecil di dekat kantor. Di sana direkomendasikan untuk cek foto rontgen. Btw, aku memang senang dengan pelayanan klinik tersebut, mungkin karena klinik kecil, dokternya sangat ramah dan membantu pasien. Selain itu bu dokter-dokter muda yang jaga disitu juga ah sudahlah..
Berbekal rekomendasi dari klinik, kita pergi ke sebuah rumah sakit besar untuk cek dengan sinar-X. Terus terang aku kaget, sekedar pendaftaran, sinar-X, dan obat-obatan, biaya yang dikeluarkan hampir setengah juta.
Minggu berikutnya, aku ke rumah sakit lagi untuk menjenguk ayah teman kuliahku. Beliau terkena serangan stroke ringan. Syukurlah, saat aku menjenguk, sore harinya beliau sudah diperbolehkan pulang. (Hi Dee Chan, sudah sampai Inggris belum?, nitip kunci ama garam yah)
Minggu berikutnya lagi, aku pulang ke Jogja, Kakekku sedang opname di sebuah Rumah Sakit kecil karena terkena serangan jantung ringan. Alhamdulillah, saat aku datang menjenguk, kakekku pun sudah dinyatakan boleh meninggalkan Rumah Sakit untuk istirahat di rumah.
Menginap di Rumah Sakit
Satu minggu kemarin, malam-malam kuhabiskan di sebuah Rumah Sakit di daerah pondok gede. Temanku dinyatakan terkena tipus dan harus opname. Beruntung temanku ini mendapat jaminan kesehatan dari perusahaan tempatnya bekerja, sehingga bisa fokus pada penyakitnya saja, tidak komplikasi dengan sakit kepala mikirin bayar pake apa.
Aku, sebagai penunggu, juga kebagian enak, karena di kamar kelas 1 ini ada tipi, dan terdapat kamar mandi yang cukup luas dan bersih. Ada juga wastafel dengan air yang lancar dan cermin besar, lumayan, jadi sering sisiran.
Tanya kenapa?
Dari ‘pengalaman’ dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain inilah, ada beberapa hal yang terkesan di pikiranku.
Di Rumah Sakit kecil di dekat desaku di Yogya, saudaraku menceritakan kalau dia baru mengurus administrasi beberapa jam setelah Kakekku mendapat pelayanan dan sudah keluar dari fase kritisnya. Yah, sebuah rumah sakit sederhana, menempati gedung 2 lantai, di depan RS hanya berisi mobil ambulans, mobil-mobil tua, dan motor pegawai. Rumah sakit dimana kita ngobrol dengan dokter dan perawat dengan bahasa jawa.
Sedangkan rumah sakit di kota besar, saat masuk sudah biaya pendaftaran ini dan itu, jaminan kesehatan, asuransi, biaya pelayanan ini, pelayanan itu, uang muka sekian persen, dan lain-lainnya. Setelah semua beres, baru pasien mendapat pelayanan kesehatan. Sebagai gambaran, biaya opname harian paling murah sekitar 40-100 ribu, belum termasuk biaya perawatan, kunjungan dokter (30-80ribu/hari), ditambah biaya obat.
Kartu Gakin? Kompensasi BBM?
Sekali lagi aku katakan, temenku cukup beruntung karena ada jaminan dari perusahaan. Bagaimana kalau yang sakit adalah seorang tukang ojek, yang jatuh dari motor karena berebut penumpang yang baru turun dari bis. Atau seorang tukang tambal ban yang dagangan bensin ecerannya meleduk? (kayak lagunya Iwan Falz ya?) Serius lho, banyak kejadian seperti ini, dan mereka tidak mendapatkan perawatan ‘alakadarnya’ sekalipun. Mengurus bukti keluarga miskin kadang menjadi dilema. Di Jakarta untuk membuat KTP, sebagai salah satu syarat bisa memiliki kartu GaKin, bisa habis 200 ribu. Duit dari hongkong?
Saat mendapati situasi seperti ini -ruwetnya administrasi RS-, kadang kita pengin marah pada petugas pendaftaran dan adminstrasi. Tapi kalo dipikir-pikir, kita tidak bisa dong menyalahkan dan mengumpat-umpat ke front office. Mereka kan hanya ‘prajurit’ dari jendral-jendral manajemen Rumah Sakit tersebut. Kalau ingin melihat kendaraan perangnya, coba saja tengok tempat parkir direksi, kita bisa bingung membedakan tempat parkir dan show room mobil baru.
Mungkin suatu saat kita bisa bertemu jendral-jendral rumah sakit tersebut, baru kita bisa marah dan berteriak: “Sehat itu Mahal Jendral!” *PLAK*
—
- Diketik di laptop pinjeman (thanks to Ancak) sambil ‘nglengsor’ di atas gelaran sleeping-bag sebelah ranjang pasien.
-Untuk informasi praktis seputar kesehatan untuk konsumen, lihat artikel-artikel Mbak Lita
Duh, bingung juga waktu ditanyain gitu. Bukan karena aku gak punya alasan kenapa aku ngeblog, tapi karena semakin lama aku melakukannya, semakin banyak alasan mengapa aku ngeblog. Maaf ya, aku gak biasa banget bilang ‘Loe dan Gue’, maklum dong, orang jogja asli.
Pertanyan diatas ditanyakan kepadaku siang tadi, saat aku menemani sang Playboy CSS,
Sedangkan aku dan Goldah ditanyain di luar studio. Hanya sebentar banget, jadi jawabannya hanya sepatah dua patah kata. Salah satunya “Kenapa loe ngeblog?”, jawaban versi panjangnya ada di paragraf awal diatas.
Sebelum acara shooting, tiba-tiba Didats dan Goldah memberi kado yang tak terduga, sebuah tripod buat