27 November 2005

Wanita, Kuis, dan Mawar

Filed under: Personal — hericz @ 3:41 am

Kuis MawarLama kelamaan aku heran setelah menyadarinya. Setiap majalah wanita selalu menyediakan rubrik kuis kepribadian. Kuis-kuis ini dapat ditemukan di majalah Aneka, Kawanku, Femina, Cita&Cinta, tapi tidak ada di AutoBild, Chip Foto Video, PC-Media, ataupun majalah Bobo sekalipun.
Sepertinya feature ini adalah syarat wajib sebuah majalah wanita.

Apakah anda wanita introvert atau ekstovert?”
“Kamu mandiri, atau anak mami?”
“Hidupmu sehat atau tidak?”
“Anda tipe Inner beauty atau Outer beauty?”

Belasan pertanyaan, lengkap dengan pilihan ganda, biasanya pilihannya cuma 3. Di akhir kuis terdapat ‘kunci jawaban’, hasil penilaian atas jawaban kuis tersebut, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk kondisi kepribadian yang bersangkutan. Aneh menurutku.

Teka-teki Mawar
Berdasarkan studi literatur dan sejarah *halah*, wanita suka sekali diberi bunga, terutama mawar. Anehnya, mereka tidak suka diberi bunga plastik, yang tak kalah cantiknya, lebih mahal, dan awet luar biasa. Bunga kertas juga awet tidak seperti bunga mawar yang layu setelah 2 atau 3 hari saja.

Usut punya usut, -katanya sih- memang itu yang diinginkan wanita. Dengan mawar yang layu dalam waktu kurang dari satu minggu tersebut, sang pria mempunyai kewajiban untuk memberi lagi bunga mawar yang masih segar seminggu kemudian. Sekuntum mawar yang segar. Sekuntum bunga yang menyegarkan kembali rasa cinta. Refresh!.

Kuis harian
Kegemaran wanita akan kuis, rupanya membuat pria terkena dampaknya. Dari cerita teman-teman yang sudah punya pacar ataupun istri, ada keseragaman kuis-kuis harian yang didapatkan.

“Mas, kamu sayang nggak sama aku?”
“Kamu kangen nggak?”
“Kalau aku gendut, kamu masih cinta aku nggak?”
“Kalau si *nama-wanita* cerai, apa kamu bakal ninggalin aku dan ngejar dia?”
“Aku cantik nggak?”

Di akhir pertanyaan-pertanyaan tersebut, mungkin wanita menghitung skor pasangan dan membuat nilai kuis. Kalau skornya rendah, biasanya akan diberi ‘pertanyaan bonus’ : “Kalau begitu kita putus saja ya?”. Jawaban yang tepat sangat diperlukan di bagian ini. Serius!.

Pertanyaan-pertanyaan ini diulang-ulang terus. Setiap bulan, setiap minggu,atau bahkan setiap hari. Jawabannya tentu saja selalu sama. Harus sama kalau tidak ingin mendapat ‘pertanyaan bonus’. Katanya lagi, ini karena wanita suka menyegarkan kembali. Seperti halnya bunga mawar setiap minggu. Refresh!.

Kalau ada wanita yang membaca ini, ketahuilah bahwa kuis-kuis itu sungguh membosankan. Eh, tapi rasa bosanku hilang saat melihat wajahmu yang menjadi cerah, senyum yang mengembang saat kuberikan jawaban yang sama. Sama seperti jawabanku kemarin, minggu kemarin, tahun kemarin.

Pernah suatu kali -via telpon- iseng aku menjawab “Ingin jawaban jujur atau jawaban yang menyenangkan?”. Telpon langsung ditutup. Aku nggak nyobain lagi, mungkin kapan-kapan.

Tragedi kuis
Beberapa hari yang lalu, aku kembali mendapatkan ‘kuis mendadak’ seperti itu via telpon. Kali ini bukan berupa pertanyaan,tapi berupa ’soal cerita’ dimana aku harus bertindak atas soal tersebut. Karena pikiranku sedang memikirkan hal lain, aku gagal, termasuk di ‘pertanyaan bonus’. Kegagalan yang sungguh fatal, sampai-sampai the cintah membuat keputusan yang membuat sakit kepala, nyut-nyutan. Tapi namanya juga laki-laki, kalau ditanya “Kowe ra popo her?” pasti jawabku “Aah, nggak papa, santai sajah, paling gitu thok”. Padahal…

Mungkin hanya karena rasa cinta yang begitu dalam *gubrak*, akhirnya aku kembali bersamanya. Kemarin aku sudah bisa nonton pameran buku bareng lagi. Memilih dan menawar buku-buku Seno Gumira Ajidarma, bersahut-sahutan meminta bonus saat memborong Winnetou-nya Karl May 3 seri sekaligus, berdebat memutuskan buku Umar Kayam mana yang akan dibeli kali ini. Tak lupa kembali aku bilang “nggak papa” saat dia membawa sekantong kresek komik, isinya sekitar 10 biji, dan bilang “Aku borong komik lagi gak papa kan?”.

Eh, sepertinya pertanyaan terakhir ini juga sudah ditanyakan puluhan kali.


gambar diambil dari http://web.syr.edu/ without permission

23 November 2005

Pindah Kandang

Filed under: Personal — hericz @ 4:31 pm
new kodok ngerock!

Sebenarnya sudah lama pengin punya domain sendiri. Tapi males aja mbayangin harus melakukan hal-hal menyebalkan :mindah-mindahin postingan yang lama, bikin template lagi, dan terutama harus bayar. *huh*. Aku pengin ini jadi life time journey, dimana -insyaAllah- 30-40 tahun lagi aku masih bisa lihat postingan-ku yang tidak penting dan tidak bermutu ini, tanpa khawatir blogsome tutup.

Domain dan hosting sudah online sejak sebelum lebaran, tapi nggak sempat ngedit-ngeditnya. Kalau kata anak muda, sibuk gitu loh. Lha gimana, blog sendiri aja sampai nggak sempat nglihat, tahu-tahu sudah banyak yang nimpukin sampai bingung balesnya (akhirnya gak dibales semuah).

Singkat cerita, akhirnya aku lakukan hal-hal yang menyebalkan diatas *terutama bayar*, dan inilah blog yang baru. Aku pake engine blog yang sudah ada, Wordpress, karena aku nggak punya banyak waktu luang, dan tentu saja karena aku gak bisa.

Maka, Bismillahirrahmanirrahiim
Mulai saat posting ini dipublish, blog yang lama tidak berlaku lagi, dan digantikan blog yang baru.

Yowis, pokoknya maturnuwun buat:
- Anak-anak kampung gajah yang selalu bikin keributan di blog orang (nggak usah disebutin satu-satu yah, kebanyakan). Makasih udah bantu-bantu milih-milih warna ijonya. Siapa aja yah kemaren?
- Anak-anak merdeka.or.id yang selalu menjaga postingan tetap keren. Terutama nana yang ngompori buat beli domain.
- Om Dudi Gunardi yang memberi tutorial mengenai migrasi blogsome ke WP.
- Buat Ira the cintah yang mendukung 90% aku ngeblog (mendukung tapi nggak mbayarin, hehe).
- Tak lupa buat semua orang-orang kurang kerjaan yang sering mampir dan nimpukin ke blog yang lama, padahal udah jelas isinya gak penting, dan kurang bermutu. Tolong itu, anu, eh rss-feed dan link-nya pada diupdate yah.

Selain itu, pihak-pihak lain yang berkaitan adalah :
- Gerald R. Urquhart Ph.D dari Tropical Biodiversity and Conservation Michigan State University yang mengijinkan foto kodoknya dipakai untuk header. Via email tentu saja.
- idwebhost, makelar domain sekaligus persewaan rak piring buat naruh blog ini. Terutama ayik sebagai juragan merangkap kastemer serpis. (nih, udah tak iklanin, mosok aku nggak diberi diskon!).
- blogsome, yang selama ini jadi tempat menumpakan tulisan. Yeah, blogsome emang keren.

Yah, kurang lebih begitu. Maaf juga kalau ada yang blogrollnya gak keangkut kesini. Gak tahu nih, OPML entry dari newsgator agak kacau.

Terus kalau ada halaman yang error, tolong aku dikasih tahu.

Terimakasih

18 November 2005

Kesenjangan Antara ATM dan Ekonomi Rakyat

Filed under: Ngedumel — hericz @ 12:45 pm

“Nggak ada uang kecil nih mas?”. Pertanyaan yang sudah dapat ditebak saat aku sodorkan duit 50 ribuan untuk beli 2 kotak susu ultra coklat kemasan kecil. “Wah, nggak ada” jawabku sambil membuka dompet yang isinya cuma uang seribuan. Lha memang nggak ada beneran, emang mau dibayar pake apa lagi?. “Bayarnya nanti sore aja mas,” kata penjaga warung.

Untung pemilik warung baik dan sudah kenal denganku. Kalau lagi di warung yang belum dikenal -sekedar beli teh botol, kupat sayur, vitamin C, mie rebus, atau koran pagi-, saat uang dibayarkan pemiliknya malah keliling ke tetangga-tetangga untuk memecah uang satuan terkecil ATM tersebut.

Lebih parah lagi kalau pas dari ATM pagi-pagi langsung naik angkot tanpa bawa uang kecil. Wah, bisa didamprat sama sopirnya. “Bah, macam mana pula pagi-pagi bikin ribut kau?”

De javu?

Kondisi ekonomi memang begitu, di satu sisi duit sudah disimpen di bank, dimana pengambilan uang dilakukan lewat ATM dengan pecahan minimun 50 ribu. Di sisi lain ekonomi rakyat masih berlangsung pada kisaran satuan ribuan.

BNI sendiri sekarang malah membuat aturan baru, dimana pengambilan dibawah 5 juta di counter terkena biaya Rp 3000, sedang pengambilan di atas 5 juta harus menggunakan nomer PIN yang -menurut pengumuman di bank- harus buat dulu di CSO (BNI memang sungguh percaya diri, menganggap semua orang tahu singkatan CSO).

Padahal dulu waktu masih di kampus, aku sering ngambil uang di counter langsung. Selain karena bisa dapet duit pecahan, 5 ribuan misalnya, saldo memang sudah tidak cukup lagi untuk diambil dari ATM. Hehe, biasa deh mahasiswa rantau kalau lagi sepi proyek.

Pengelola ATM tampaknya tidak sadar betul akan kondisi ini. Bahkan sedikit demi sedikit menghapus ATM dengan pecahan 20.000 dengan pecahan 50.ooo, bahkan di kampus sekalipun.

Mungkin juga pengelola ATM berkomplot dengan pemilik-pemilik minimarket, yang terus menggencet warung kecil, agar setelah ambil duit dari ATM langsung belanja di mini market karena dipastikan punya kembalian. -hihi, teori konspirasi-

Padahal, lihat sendiri kan, di Indonesia ini banyak orang yang jarang sekali memegang duit 50 ribuan. Contohnya adalah orang-orang yang berdesak-desakan beberapa waktu lalu untuk sekedar mendapat subsidi 100 ribu/bulan. Entah mereka memang miskin atau berpura-pura miskin.

Kesenjangan yang terus dipersempit
Tampaknya pemerintah sadar betul akan kesenjangan ini. -Mungkin- salah satu caranya adalah membuat uang 50-ribuan tidak terkesan bernilai lagi, dengan membuat uang 50ribuan baru yang kesannya kok kayak duit mainan. Menaikkan harga BBM juga cara yang cukup bagus untuk menaikkan harga barang-barang, jadi pemilik warung kecil tidak perlu repot mencari kembalian.

Kalau nggak salah, DPR pusat naik gaji -eh, tunjangan nding- mulai bulan ini yah? Sekedar mengingatkan, kalau bapak-bapak mau ngambil 10 juta di BNI harus bikin nomer PIN dulu yah di CSO. Tahu kan CSO?

Pesan moralnya sih, emang lebih enak berpura-pura jadi wakil rakyat, daripada berpura-pura jadi rakyat miskin.

11 November 2005

VCMD: Visit Calon Mertua Day

Filed under: Personal — hericz @ 1:15 am
Sunset Sumbing

Selain buka bersama, lebaran juga merupakan momen yang serbaguna. Pada hari Idul Fitri dan hari-hari sesudahnya -tanpa keperluan yang penting- kita jadi merasa nyaman untuk berkunjung ke rumah tetangga-tetangga, sanak saudara, bahkan rumah calon mertua.

Bahkan, aku merasa wajib untuk sekedar berkunjung ke rumah-rumah sedulur-sedulur untuk bersalam-salaman, saling meminta maaf. Walaupun, terakhir kita bertemu dengan mereka adalah lebaran tahun kemarin, jadi mungkin permintaan maaf tahun ini untuk kesalahan pada kunjungan tahun kemarin. Mungkin karena tahun lalu aku makan kacang bawang tapi hanya milih bawangnya saja. Yah, yang penting kan menyambung silaturahiim-nya.

VCMD
Berbeda dengan pasangan yang tinggal dalam satu kota, dimana berkunjung ke rumah pacar adalah hal yang biasa, bagiku lebaran adalah saat yang tepat untuk melakukan silaturahiim ke rumah calon mertua. Walaupun tahun kemarin aku sudah ke rumahnya beberapa kali, dengan berbagai alasan.

Dengan tekat kuat, kamera digital, dan sepeda motor, aku datang ke rumah cintah di daerah Temanggung. Perjalanan 2 jam, Jogja-Temanggung, terasa sangat pendek karena sepanjang perjalanan dilalui dengan memikirkan apa yang akan diperbincangkan disana. Rencana, rencana, rencana…

Seperti tahun sebelumnya, aku mendapat sambutan yang hangat dari mereka. “Walah, kok gondrong sekarang. Mbok dipotong rambutnya,” kata ibu. “Hehe, iya bu, maaf belum sempat”. “Sama siapa ke sini? adik kok nggak diajak?”. (semua dialog diterjemahkan dalam bahasa indonesiah).

Yah, begitulah pembicaraan berjalan ngalor-ngidul cukup lama. Setiap kali ingin mengungkapkan apa yang dipikirkan di jalan (dan dirumah, dan di kantor, dan di mana-mana) tadi kok rasanya mulut nggak bisa bicara. Aku merasa belum siap.

Akhirnya, karena waktu sudah cukup siang yang terucap cuma, “Pak, bu, permisi mau ke tempat teman-teman dulu”. “Ya, silahkan, hati-hati yah. Salam buat ibunya …”

Well, semua yang sudah dipikirkan dan direncanakan tidak jadi terucap. Akan kucari kesempatan lain. Lagipula, nggak harus pas lebaran tho. Yah, paling tidak hari itu bisa jalan-jalan seharian bareng cintah di segarnya alam pegunungan.

Dan tiba-tiba waktu habis seiring kami berdua menatap matahari memerah, terbenam di lereng gunung Sumbing.

Yeah, chicken go to hell. Better luck next time. Bigger brave next time. Maaf ya sayang.

Btw, ada yang bisa ngasih tutorial untuk VCMD-Preparation?

Next Page »