25 December 2005

Pola Kerusakan Celana Panjang

Filed under: Personal — hericz @ 7:27 pm

Sewaktu aku masih SMA, aku bergabung dengan unit pencinta alam dan sering naik gunung. Jika tidak salah, aku sudah melihat pemandangan dari puncak seluruh gunung di Jawa dengan ketinggian diatas 2900 meter. Waktu itu, ’seragam’-ku adalah celana lapangan ‘Alpina’ yang kantongnya pating crenthel, dan convertible jadi celana pendek.

Karena sering digunakan di gunung, celanaku -seperti halnya celana lapangan lain, memiliki kerusakan yang khas:
- bagian di bawah dengkul yang sering tergesek saat berdiri diatas lutut,
- bagian belakang yang sering digunakan untuk duduk di sembarang tempat,
- bagian ujung bawah kaki yang sering terkena batu, pasir, semak, dan ranting-ranting.

Pada celana lapangan yang baik (dan mahal) bagian-bagian tersebut selalu dibuat dengan 2 lapis kain.

Mitos yang beredar saat itu adalah adalah semakin remuk celana lapangan, semakin keren. Dan celana yang bolong karena disengaja = SUX!. (dulu anak-anak band SMA sering melakukan ini).

Kerusakan yang diakibatkan kegiatan naik gunung sebenarnya juga terjadi pada celana panjang yang digunakan sehari-hari. Akan tetapi pada umumnya yang berlubang hanyalah pada bagian dengkul saja, karena di dunia nyata kita lebih sering duduk di tempat yang bersih dan empuk, serta berjalan di tempat yang bersih pula.

Waktu kuliah, tidak terhitung banyaknya celana jins-ku yang bolong di bagian dengkulnya, dan masih tetap kupakai untuk kuliah. Biasanya karena kehabisan stok celana panjang yang bersih. Akibatnya, aku malah repot kalau mau sholat,dan teteup nggak merasa keren.

Aku sadar, dulu bolongnya celana jinsku karena aku banyak bergerak, duduk bersila, dan aktifitas yang menyebabkan bagian dengkul sering bekerja keras. Bingung juga sih, dulu aku kuliah pake otak atau pakai dengkul ya?.

Tapi sekarang ada pertanyaan yang lebih membingungkan. Kenapa dalam seminggu ini 2 celana panjangku bolong di bagian selangkangan?

19 December 2005

Semacam Reverse Psychology, Tapi Bukan

Filed under: Personal — hericz @ 6:44 pm

The Atomic PeanutWarna apa yang akan sampeyan pikirkan jika aku berdiri 1 meter di depanmu dan berteriak dengan sangat keras “JANGAN PIKIRKAN WARNA HITAM” atau “JANGAN PIKIRKAN WARNA HITAM seperti hitamnya rambut” ?.

Jika sampeyan tidak memiliki kekuatan Jedi atau rajin Yoga, kemungkinan besar warna hitam yang malah terpikirkan.

Jika kita dibilang “hei kardus ini jangan dibuka yah!”, kita malah penasaran pengin buka.

Bahkan mungkin kita manusia tidak akan berkeliaran di muka bumi ini kalau dulu Adam dan Hawa tidak ‘iseng’ nyobain buah terlarang -buah khuldi- karena penasaran. OK, menyalahkan setan juga boleh.

Dunia memang kadang-kadang aneh

Kadang cara termudah untuk melupakan adalah dengan mengingatnya, dan cara termudah mengingat adalah dengan membencinya. Aku masih ingat betapa saking sebelnya sama lagu dangdut Mbah Dukun yang dinyanyikan Alam, aku bisa apal luar kepala lagu itu. Kasus yang sama -hampir sama- terjadi lagi pada lagu-lagu Rio Febrian dan Raja.

Para ahli biologi mengawetkan daun-daun yang segar dan hijau dengan cara mengeringkannya, Kakekku mengawetkan kayu jati yang keras dan kering dengan cara merendam dalam air.

Udara terasa gerah saat akan turun hujan, tapi angin terasa dingin di malam hari bulan kemarau.

Setelah makan eskrim yang dingin dan segar aku malah menjadi haus. Di siang hari yang panas, makan favorit orang jawa adalah sop yang panas -atau bakso-, dengan sambel yang pedes sampai megap-megap, dan ditutup dengan teh panas hingga keringat ndleler kemana-mana. Gandem rasanya.

Kita bisa membuat orang menangis dengan cara membuatnya tertawa bahagia. Dalam kesedihan yang dalam, kadang-kadang rasanya ingin tertawa.

Aplikasinya?
Kadang-kadang pula, kita bisa membuat bencana pada saat bermaksud membuat berita gembira. Yang terakhir ini memang sangat jarang terjadi. Tapi aku baru saja melakukannya. Sebuah berita gembira ditambah bumbu rasa penasaran yang besar, yang telah menimbulkan kekacauan.

Yah, aku hanya bisa minta maaf. Kebetulan kali ini tidak ada setan yang bisa disalahkan.

NB: aku masih teman kalian, mudah2an kalian masih temanku.

15 December 2005

Tidak Sempat atau Tidak Menyempatkan Diri?

Filed under: Personal — hericz @ 10:05 pm
Anggrek

Punya blog itu menyenangkan. Aku bisa tuliskan apa yang ingin kita tuliskan, entah itu benar atau salah menurut orang lain. Hal yang penting adalah, suatu saat nanti aku jadi tahu betapa bodohnya aku saat menulis tulisan ini, atau betapa briliannya aku pada tanggal ini. Sekaligus bisa mengingat bagaimana mood saat membuat tulisan ini, yang mungkin berbeda dengan beberapa jam setelah aku klik publish.

Sudah seminggu lebih aku nggak posting di blog, padahal aku sudah menulis banyak hal di teks editor kesayangan, UltraEdit. Dari catatan perjalanan ke Taman Anggrek Indonesia Permai di kawasan TMII yang lengkap dengan foto-foto anggreknya, sampai catatan perjalanan ke Bandung akhir pekan kemarin dimana aku sempat kopdar dengan sahabat-sahabat id-gmail, teman-teman kuliah, dan juga dengan anak-anak blogfam. Tentu saja, lengkap dengan skrinsyut. (Ingat, tanpa skrinsyut adalah basbang!).

Tulisan yang berkaitan dengan kejadian, seperti kopdar, sebaiknya dipublish secepat mungkin. Kalau sudah 2 hari terlewat maka akan sudah menjadi Basbang To The Maxâ„¢. Maka walaupun sudah tertulis rapi disertai skrinyut, kalau sudah lewat waktunya biasanya akan kusimpan dalam hardisk saja. Untuk tulisan tentang Taman Anggrek, aku rasa masih ngambang, nggak ada data-data yang valid, jadi males menyelesaikan. Bahkan nama anggrek pada gambar diatas pun aku nggak tahu namanya.

Selain itu, masih banyak hal lagi yang ingin dituliskan, mulai dari kasus pencokokan blogger yogya, kelaparan di Papua, Tol Cipularang yang baru sekali aku lewati, pameran buku, pembaca blog yang protes soal postingan jaman dulu, dan tentang rambutku yang sudah kriwil-kriwil tapi mesra ini.

Ada lagi tentang aggregator merdeka.or.id yang sekarang open subscription (ayo buruan submit!), tentang wikiGajah yang makin lengkap dan semakin teratur, halaman flickr-ku yang baru, dan lagi-lagi tentang rambutku yang kriwil-kriwil tapi kribo ini.

Semua itu masih melayang-layang di kepala, belum diketik. Tapi aku tidak punya cukup waktu, alias tidak sempat. Entah tidak sempat atau tidak menyempatkan diri.

Yang jelas, deadline harus ditepati, dengan atau tanpa hiatus.

5 December 2005

Bahasa Indonesia Itu Nggak Coolâ„¢

Filed under: Ngedumel — hericz @ 12:58 am

Beberapa orang mengeluh, betapa sekarang bahasa Indonesia semakin jarang digunakan secara utuh. Di setiap pembicaraan, tulisan, artikel, blog, song lyrics, nama toko, judul film lokal, atau apapun selalu ada bahasa asing yang terselip di dalamnya. Bahkan nama blog ini pun menggunakan bahasa Inggris. Its everywhere,

Kalau aku sih nggak ambil pusing. Its not a big matter. Akui sajalah, bahwa bahasa Indonesia itu nggak coolâ„¢, konvensional, dan old-fashion. Oleh karena itu, supaya pembicaraan atau tulisan lebih cool, perlu digunakan bahasa asing. Jangan banyak-banyak, cukup selipkan beberapa kata saja, gunakan sebagai keywords.

Terserah mau English, French, atau Japanese. Yang penting message delivered, pesan tersampaikan. Jika sepertinya lawan bicara tidak paham, dont worry, just give them translation after it, beri saja mereka terjemahan setelahnya. Easy isn’t it? Gampang kan?

Selain kelihatan lebih cool, penggunaan bahasa asing yang diselipkan juga akan menunjukkan kalau kita ini kaum terpelajar, clever, berpengetahuan luas, serta Go International. Biarkan lawan bicara atau pembaca tulisan kita tahu bahwa kita ini classy, berkelas gitu loh. Tidak perlu memaksakan diri seperti kaum marginal yang hanya berbahasa Indonesia saja, bersusah payah ngomong berdasarkan EYD. Tidak perlu pedulikan apa kata polisiEYD atau something like that.

Oleh karena itu, saat aku sedang menulis sesuatu, dan kupikir something is missing, maka pastilah di tulisan tersebut belum kutambahkan the secret recipe, bumbu rahasia yang membuat tulisanku lebih hot!. Pastilah aku belum menambahkan kata-kata asing didalamnya.

Kadang-kadang juga, saat menulis sesuatu yang memang nggak penting dan ngambang, aku tambahkan a little bit of english. Dan alakazzam, hasilnya akan lebih fantastic.

Lebih menyentuh
Penggunaan kata-kata asing ini diyakini akan lebih menyentuh pembaca dan lawan bicara. Misalnya:
- “Hidupku boring banget” akan lebih berkesan dibanding “Hidupku membosankan sekali”.
- “Happy birthday sayangku”, kedengaran lebih cantik dibanding “Selamat ulang tahun”.
- “My body is not delicious” akan lebih touching dibanding “Badanku sedang tidak enak”.

Jangan over dosage
Sekali lagi, cukup selipkan saja kata-kata asingnya, jangan terlalu banyak. Too much english will kill you. Tulisan dengan bahasa asing yang terlalu banyak akan terlihat complicated dan not friendly, membuat orang jadi malas membaca. Apalagi jika seluruh artikel tersebut berbahasa inggris. Kecuali jika memang tulisan ditujukan untuk orang asing. Aku kan menulis kan paling-paling cuma dibaca saudara setanah airku, nggak perlu inggris semua dong.

Aku sendiri tidak suka membaca artikel berbahasa inggris karena, just be honest, sebenarnya kemampuan bahasa inggrisku lemah. Tapi ingat, dengan menambahkan kata-kata berbahasa inggris saat menulis, aku jadi kelihatan smart kan?

Tidak terbatas English
Selain English, aku juga mempelajari bahasa-bahasa lainnya. Walaupun hanya sepatah dua patah kata, tapi akan lebih cool kalau diselip-selipkan. Kalau artikel bertema cinta selipkan bahasa prancis, artikel agama islam selipkan bahasa arab, artikel bertema manajemen dan industri selipkan bahasa jepang. Untuk artikel bertema teknologi selipkan bahasa jerman, tapi jika tidak bisa, English will work fine.

Tapi perlu diingat, kata yang diselipkan haruslah bahasa asing. Jangan menyelipkan bahasa daerah, jawa misalnya. Karena walaupun sama-sama tidak mengerti artinya, pembaca akan complaint kalo mendapati kata-kata berbahasa daerah. Selain itu, artikel jadi kelihatan weird.

Jadi, jika nanti muncul lagi tulisanku yang terdapat bahasa asing di dalamnya, whether it neccessary or not, dapat dipastikan kalau aku sedang tidak percaya diri dengan tulisanku itu, dan mengambil jalan pintas memasukkan kata-kata asing tersebut. Well, like I said before, Bahasa Indonesia itu nggak Coolâ„¢.

That’s it, mari kita jadikan EYD menjadi English yang Diselipkan, dan sampai jumpa pada tulisan berikutnya, Au Revoir!