31 January 2006

Renungan 1 Muharram

Filed under: Personal — hericz @ 4:35 pm

“Demi masa, secara default manusia itu merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. (QS: Al-Ashr”

Tanpa hingar bingar liputan media dan tanpa sambutan pesta diskon supermarket, umat Islam merayakan Tahun Baru 1 Muharram. Sekedar meningatkan saja, sepertinya banyak yang tidak sadar soalnya.

Hijrah
Dalam agama Islam, digunakan istilah tahun Hijriyah, yang diawali dengan migrasi Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya dari Makkah ke Madinah. Suatu proses yang tidak mudah untuk dilakukan waktu itu. Suatu proses migrasi yang panjang, berat, dan melelahkan.

Hikmah yang diajarkan adalah bahwa manusia perlu berhijrah, bermigrasi untuk menjadi lebih baik. Berpindah dari Jogja ke Jakarta, atau dari Jakarta ke Bali termasuk hijrah. Berpindah kerja termasuk hijrah. Bahkan jika ada orang melakukan migrasi dari Wordpress ke TextPattern misalnya, itu sudah termasuk hijrah. Begitu menurutku.

Merugi?
Setiap tahun baru tiba, aku selalu merasa menjadi orang yang merugi. Saat SMA aku sering Shalat Dhuha dan shalat malam, berlanjut hingga tingkat awal kuliah. Selalu terbangun saat adzan subuh, karena itu berarti waktunya pergi ke masjid. Tidak seperti sekarang yang tidak pernah mendengar lagi suara adzan shubuh. Kalaupun berkesempatan mendengar, itu adalah sebagai panggilan untuk tidur.

Walaupun tidak setiap hari, aku dulu selalu membaca alQur’an sehingga kitab lusuh itu selalu dalam posisi yang strategis untuk dijangkau tangan. Saat ini, Qur’anku berada tersembunyi dibelakang buku Winnetou (Karl May), majalah-majalah fotografi, Buku-buku Alm. Umar Kayam, Emha Ainun Najib, La-Tahzan, ESQ, Risalah Nabawiyah (yang tidak pernah kubaca), Virus Akal Budi, dan buku-buku teknik hasil fotokopian. Duh, bulan ini kapan terakhir kali aku buka Qur’an yah?

Default hanya untuk pemula
Sepertinya, inilah momen yang tepat jika ingin mengubah seting default yang terpasang. Inilah saat yang tepat untuk membuat daftar hijrah apa yang ingin harus dilakukan tahun ini.

Tapi seperti tahun kemarin, dan tahun kemarinnya lagi. Aku terlalu penakut untuk membuat sebuah resolusi yang bemutu. Beberapa yang perlu segera adalah aku harus rajin membaca qur’an lagi, memperbaiki ‘catatan’ waktu sholat. Bekerja lebih fokus dan mengurangi nge-junk (walau sekarang memang sudah jauh berkurang) merupakan hal penting. Sementara berupaya posting tulisan yang bagus di blog sepertinya terlalu muluk-muluk.

Yang jelas, aku harus semakin sayang dan perhatian ke keluarga, dan padamu cintaku.

Amiin…

28 January 2006

Kopdar Blogger di Detik

Filed under: Ragam — hericz @ 11:44 pm

Kopdar Gratisan di detikTernyata detikcom memberi perhatian yang besar terhadap dunia blogger. Setelah cukup lama menambahkan kolom ‘BLOG’ sebagai salah satu feature detikinet, serta memberikan dobrakan dengan ‘News From Blog’, hari ini detikinet mengadakan kopdar dengan blogger-blogger.

Aku tahu dari sebuah email dari BiG di Kampung Gajah, bahwa mediabasbang (panggilan sayang warga Kampung Gajah untuk detik) mengundang blogger untuk diskusi tentang blog, penetrasi ke masyarakat, konfrensi dan lain-lain. Undangan selengkapnya bisa dilihat di blognya DGK.

Mempertahankan reputasi sebagai Jam Quaretz Itemâ„¢ (keplak didats), aku datang terlambat karena harus menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Dengan dipandu markum, akhirnya aku bisa menemukan tempat kopdar tersebut. Sesampainya di detik, aku sudah terlewatkan hal yang penting, yaitu acara makan siang bersama acara perkenalan, dan pendahuluan mengenai apa yang dibicarakan. Setelah beberapa menit menyesuaikan diri, akhirnya aku tahu apa yang sedang dibicarakan. “Kita ngomongin BLOG, bukan ngomongin detikinet,” demikian kalimat yang diulang-ulang oleh antek terkemuka detikinet, DoniBU.

Seru!
Kopdar gratisan kali ini dihadiri oleh teman-teman blogger dari Blogfam, blogbugs, loenpia.net, blog indosiar, dan saya sendiri ikut numpang nama komunitas id-gmail dan merdeka.or.id.

Banyak hal penting yang dibahas. Tapi karena telat dan lapar, hanya beberapa poin penting yang berhasil saya tangkap :
- bagaimana blog bisa dikenal lebih luas oleh masyarakat
- bagaimana agar blog bisa mendapat tempat sebagai media baru yang kedudukannya -paling tidak- sejajar dengan main stream media.
- apa langkah-langkah kita?

Ternyata, banyak kegiatan yang sudah diagendakan oleh blogger-blogger, seperti halnya indosiar blog award 2006, dan rencana blogfam blog.indosiar (ralat oleh mbak ajeng) mengadakan kunjungan ke SMP-SMA untuk memberi ‘penyuluhan’ tentang blog. Mengingat kegiatan-kegiatan seperti itu kebanyakan hanya diketahui oleh kalangan blogger saja, Detikinet berjanji *catet* akan mendukung sepenuhnya perkembangan blog, terutama di masalah publikasi.

Agar tidak dibilang sekedar OmDo, saat ini detik sudah menyediakan slot banner untuk untuk kegiatan komunitas blog, dan 5000 CD untuk membantu publikasi offline (dari sponsor). Kolom News From Blog sendiri juga siap jika akan diisi dengan keterangan mengenai agenda tersebut. Jadi kalo blogger pengin apa-apa, ayo bareng-bareng kita bikin, nanti detik yang akan melakukan blow-up-job!

Ide-ide

Dari berbagai ide yang saling mendukung dalam forum tersebut, salah satu ide menarik adalah ide mengenai tahun 2007 sebagai “Tahun Blog Indonesia”. Aku sangat setuju jika itu benar-benar terjadi. Targetnya tidak muluk-muluk sih, paling tidak di tahun 2007 anak SD sudah bisa bertanya “Papa-papa, blog itu apa sih?”.

Selain itu, bersama-sama akan dibentuk wikiblog indonesia, yang ditujukan tempat rujukan utama jika ada blogger-blogger baru yang ingin belajar segala sesuatu tentang blog. Dibuat dalam format wiki supaya semua pihak bisa berkontribusi.

Aku yakin, banyak sekali orang-orang kritis, orang-orang dengan ilmu segudang, orang-orang yang jago menulis, orang-orang yang ingin berbagi pengalaman, tetapi belum mengenal blog. Saat ini, publikasi sangat dibutuhkan untuk menceburkan orang-orang seperti ini ke dalam dunia blog. Kalau menurut impian um pri, terutama wakil-wakil rakyat.

Beberapa jempol untuk detik, semoga forum diskusi hari ini tidak berakhir di postingan blog ini saja, tapi juga berlanjut, dan bisa Menggalang Kekuatanâ„¢ massive yang baru. “People Power” katanya.

Karena hari ini detik, terutama dbu, sangat baik hati dan berpikiran jauh ke depan, sepertinya nama panggilan sayang untuk detik.com juga perlu diganti. Ada ide?

update:
artikel terkait :
- detikinet
- Priyadi
- Om Amal
- Budiyono

peringatan: panggilan sayang tidak boleh ditulis dan dibaca dengan Peras Aanâ„¢.

18 January 2006

Playboy Indonesia : Seni Berbisnis Barang Seni

Filed under: Ngedumel — hericz @ 5:32 am

Kelinci UculKatanya, tiap jenis bisnis itu ada seninya sendiri-sendiri. Bisnis komputer ada seninya sendiri, jual rumah ada seninya, apalagi jual barang seni. Beberapa orang mempermudah kata ’seni berbisnis’ ini dengan kata marketing.

Bisnis barang seni, kenapa tidak?
Jaman sekarang nilai pemahaman seni konsumen bergerak naik. Jual motor motor aja pake “Striping yang sporty!”, padahal nggak bikin tambah irit bensin.

Aku yakin semua laki-laki -termasuk aku- suka melihat wanita cantik, apalagi dengan pose yang ‘nyeni’. Hanya kepatuhan (dan pemahaman) pada nilai-nilai moral dan agama saja yang membuat reaksi masing-masing berbeda. Ada yang menikmati dan ada yang menjauhi. Ingat, menjauhi bukan berarti tidak suka. Laki-laki sepertinya ditakdirkan iri melihat tubuh wanita, kalau istilah psikolog ancur : Susu Envyâ„¢. (lihat juga penis envy).

Karena wanita memang makhluk yang indah dan nyeni, wanita dan ‘pose nyeni’-nya bisa ditempelkan pada produk-produk yang mau dijual. Apapun itu: mobil, kipas angin, kacang atom, motor, minuman vitamin C, oli, bahkan pompa air. Musik jaman sekarang pun, video klipnya nggak afdol kalo nggak pasang pose wanita ‘nyeni’. Apalagi video klip Hip Hop borjuis yang sering diputer di MTV.

Daripada Jual Roti Kacang, Mending Jual Kacang
Mungkin karena banyak produk-produk yang ditempeli ‘pose nyeni’ jadi tambah laris, banyak pengusaha yang berpikir “Ini jual roti ditambah kacang sedikit aja laris, gimana kalau aku jual kacang sekalian”.

Sejak SMA, aku memperhatikan banyak sekali majalah-majalah ‘Seni Kemolekan Tubuh Wanita” yang beredar di lapak-lapak koran dekat sekolahan. Ada banyak majalah, dari yang murahan sampai yang mahal, dari yang kertasnya burem sampai yang kertas glossy kinclong-kinclong. Jadi, pas lihat-lihat majalah komputer, kadang-kadang lirik-lirik sambil berbisik ke teman di sebelah “eh, itu memang bisa kayak gitu yah?” *sambil ngelap iler*.

Itu jaman ketika aku masih malu-malu kalau melihat cewek yang tali bra-nya kelihatan keluar dari krah kaosnya. Kalau lihat cewek pakai tanktop mungkin langsung pingsan dan mimisan.

Seni Berpolitik dan Menghadapi Massa
Coba kita lihat, berapa banyak persen pameran lukisan yang dikerumuni penonton (yang ada anjasmara dihitung juga boleh). Berapa majalah seni yang mati dua tahun terakhir ini, tapi lihat juga berapa banyak majalah ‘nyeni’ yang tumbuh subur. Ya ya ya, sex dan erotisme adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.

Bulan Maret ini, direncanakan Playboy Indonesia akan terbit. Suka atau tidak, DPR tidak punya kewenangan untuk melarang penerbitannya, bahkan Dewan Pers aja gak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan penerbit sudah memiliki ijin penerbitan. “Masalah dosa kan urusan personal ama Tuhan”. Yoih, yang penting penjualan lancar. Jual beli VCD bokep di Glodok aja gak ada yang nangkep kok, lagipula ini kan “Majalah Gaya Hidup Lelaki Modern”.

Sementara itu, biarkan satu pihak mendebat pihak lain tentang batasan Pornografi dan pornoaksi, sambil kita tunggu mereka juga memberi batasan tentang batasan ‘nyeni’ dan ‘nggilani’. Tapi ingat saudara-saudara. Bagaimanapun, betapapun, indahnya kata-kata yang akan dilontarkan oleh pendukung penerbitan kontroversial ini, adalah kata-kata yang bertumpu pada bisnis. Kalau basa enggresnya “Nothing personal, just business”. Milyaran rupiah berputar disini.

Mendengar kata-kata indahnya aku sadar, tampaknya mereka para penerbit sudah jago betul seninya berjualan barang ‘nyeni’.

17 January 2006

Mencoba Busway Koridor II

Filed under: Ngedumel — hericz @ 1:06 am

16 Januari 2006, Jam 8 malam.

Halte Busway tampak penuh sesak, dan tambah terasa hiruk pikuk saat bis yang aku tumpangi merapat untuk menaik-turunkan penumpang.

Dari dalam halte -yang gelap- puluhan orang berdesakan ingin naik bis, sementara dari dalam bis puluhan orang, termasuk aku, berebut ingin keluar. Beberapa orang berteriak-teriak “YANG TURUN DULU DONG, YANG TURUN DULU!”, beberapa wanita mengeluh karena kegenjet kiri, kanan, depan belakang. Seorang pria berpakaian kantoran mengangkat tasnya di atas kepala sambil bercanda “Wah, kayak mudik nih”.

Petugas jaga tampak kebingungan mengatur aliran penumpang. Aku diam saja, dan terus berjalan pelan mengikuti aliran penumpang yang mau turun. Turun ke halte untuk pindah ke bus jurusan Blok-M. Di dalam halte terasa lebih nyaman. Banyak cewek cantik.

Itulah suasana hari kedua setelah peresmian Busway Koridor II dan III. Akibat terminal transit Harmoni yang belum jadi, Halte Monas (Jl. Medan Merdeka) yang sempit dan gelap dijadikan transit sementara untuk transfer jurusan Pulogadung-Harmoni ke Harmoni-Blok M.

Kurang Armada atau ..
Penderitaan di halte monas sebenarnya merupakan puncak dari keadaan yang sudah dialami penumpang semenjak dari halte-halte sebelumnya. Bis sudah penuh sesak sejak aku naik di Halte Pulomas. Di beberapa halte berikutnya, penumpang berjubel menunggu angkutan. Terutama di Halte Pecenongan, dimana puluhan penumpang tampak memenuhi halte, dan setiap kali ada yang berhenti, bus sudah terlalu penuh untuk ditambahi penumpang. Entah sudah berapa jam mereka menunggu disana tanpa terangkut.

Suasana seperti di Halte Monas terlebih dahulu terjadi di sini, hampir 10 menit bus berhenti diselingi teriakan-teriakan penumpang yang berdesak-desakan. Sementara itu beberapa orang bingung harus turun dimana untuk pindah ke arah Blok-M, dan beberapa yang lain bingung bagaimana untuk pindah ke arah Kalideres.

Oom Yos, kayaknya bis dan petugasnya kurang tuh.

Yang penting Kopdar
Dari halte monas aku lalu menunggu bus ke arah Blok M, menuju Plasa Semanggi dimana akan dilakukan Kopdar dengan teman-teman dunia maya. Kali ini bintang tamu kita adalah nana dari Bali, dan juga Donceh dari Surabaya.

Kopdar yang ke-1601 ini dimeriahkan oleh :
- Teman-teman id-gmail : Donceh, Idban, Markum, Golda (dan ’saudaranya’), Oki, Wesly, LuZipeng, dan Erwin+gerombolannya (update: yg inget cuma Indra ).
- Teman-teman merdeka.or.id : Nana (ditemani sepupunya), dan Gage (bersama teman ceweknya yang imut -dalam arti harfiah-).

Maksudnya skrinsyut kopdar

Deuh, ini Kopdar id-gmail yang keberapa bulan ini? Memang pantes deh kalau milis ini di beri nama id-kopdar saja. ID-Kopdar, Indonesian Kopdar Community *lirik didats*.

Masih Optimis dengan Busway?
Aku dulu sangat optimis dengan busway, tapi melihat kondisi sekarang aku menjadi agak pesimis juga. Walaupun masih besar harapan agar busway menjadi sarana transportasi yang nyaman dan aman, sepertinya sebelum halte Harmoni siap digunakan aku tidak akan menggunakan Busway dulu. Bus Patas masih jauh lebih nyaman, lebih dingin, dan paling tidak aku bisa duduk selama 45 menit perjalanan.

Satu lagi, aku mau protes. Kemarin pas peresmian supirnya wanita cantik, lha kok sekarang sopirnya bapak-bapak berkumis?.

Next Page »