2 January 2006

Mengenal Sensor Kamera Digital

Filed under: Tutorial, Teknologi — hericz @ 7:12 pm
Lepas Landas

*sekedar meneruskan yang dulu*

Awas basbang: Mengenal Pixel dan Resolusi
Semua orang (terutama yang ganteng) tahu, pixel adalah titik penyusun terkecil dalam sebuah gambar digital. Setiap pixel memiliki informasi warna, dalam kasus ini aku anggap ini tentang gambar berwarna atau full color.

Megapixel: Ukuran File dan Ukuran Cetak
Sebuah kamdig dengan sensor 2 MegaPixels, menghasilkan file berukuran 1800×1200 pixel (2.16MP), berapa ukuran filenya, serta berapa ukuran cetak maksimumnya?

Pada gambar digital -untuk keperluan sehari-hari-, setiap pixel disimpan dalam bentuk data RGB(Red Green Blue), dimana masing-masing warna diberi jatah 8 bit sehingga untuk 3 warna memerlukan 24bit atau 3 byte. Jika menggunakan format bitmap (*.bmp), dimana tiap pixel disimpan secara utuh 24 bit, maka kamera 2MP akan menghasilkan file berukuran sebagai berikut:

Ukuran file = Jumlah Pixel x 3 byte
Ukuran file = 2.160.000 x 3
Ukuran file = 6.480.000 byte = 6.17 MB

Jadi sekali jepretan, kamera digital 2MP menghasilkan gambar sebesar 6.17MB. Walaupun byte metadata (EXIF) bisa diabaikan karena ukurannya cukup kecil, hasilnya ternyata masih sangat besar.

Syukurlah ada teknik kompresi bernama JPEG, yang mampu membuat penyimpanan file grafik menjadi jauh lebih kecil. Untuk kompresi dengan kualitas yang bagus, faktor kompresi JPEG kurang lebih 20% dari ukuran asli, dan lebih kecil lagi untuk kualitas yang lebih rendah. Dengan kualitas sedang, ukuran file diatas bisa menurun drastis menjadi sekitar 600 KB saja atau 10 persen dari ukuran asli. Hasil kompresi ini juga dipengaruhi oleh kompleksitas warna dari gambar asli.

Berdasar keterangan diatas, ukuran file JPEG kualitas tinggi bisa diperkirakan/dihitung dengan rumus: Megapixel kali 3 dibagi 10. Atau MP dibagi 3 untuk kualitas tinggi dan MP dibagi 4 untuk kualitas sedang.

Sensor 4MP -> 1.3MB per file
Sensor 5MP -> 1.7MB per file, dan seterusnya

Dengan cara ini bisa diperkirakan berapa file yang bisa ditampung dalam memory card yang dimiliki.

dasar-pixel

Ukuran Cetak
Untuk mencetak sebuah gambar dengan kualitas foto, diperlukan printer yang mampu mencetak dengan ketelitian setidaknya 300dpi. Kalau tidak salah, ini adalah standar minimum pada printer Fuji Digital Frontier yang digunakan di studio foto digital Fuji. Angka 300 dpi berarti untuk setiap inch hasil cetak terdiri dari 300 titik warna. Tiap titik warna ini analog dengan data pixel diatas.

Dengan demikian, ukuran gambar digital bisa ditentukan sesuai dengan kebutuhan cetak yang diinginkan. Untuk membuat foto ukuran 4R (kurang lebih 4×6 inch) ukuran gambar yang diperlukan adalah
Lebar : 4 x 300 = 1200 pixel
Tinggi : 6 x 300 = 1800 pixel

Ini adalah ukuran file yang didapat dari sensor 2MP. Pada prakteknya, gambar ukuran ini masih bisa dicetak hingga 8R dengan hasil yang masih cukup baik untuk foto yang ditempel di dinding kamar.

ISO dan Noise
Selain ukuran megapixel, sensor juga berkaitan erat dengan ISO yaitu bilangan yang menunjukkan kepekaan sensor terhadap cahaya. ISO yang kecil (50-100)berarti kurang sensitif, cocok digunakan di tempat yang terang. ISO besar berarti lebih sensitif, cocok digunakan di tempat yang lebih gelap. Semakin besar ISO makin sensitif pula suatu sensor dan pada umumnya akan menimbulkan lebih banyak noise (gangguan warna).
Noise
Bilangan ISO ini ekuivalen dengan bilangan ASA pada kamera film. Jika pada film hanya bisa menggunakan satu jenis ASA untuk satu roll, pada kamera digital ISO bisa diatur sekehendak hati sesuai dengan keperluan.

Saat ini dipasaran kamera kelas konsumen, kepekaan sensor pada umumnya hanya mencapai ISO400, itupun sudah memberikan noise yang cukup mengganggu. Semakin besar ISO yang mampu dilakukan suatu sensor yang mustinya diimbangi dengan semakin kecilnya noise, semakin mahal pula suatu kamera digital. Jika tertulis ISO mencapai 800 tetapi noise yang dihasilkan sangat besar, sama saja bohong.

Pada kamera kelas low-end, menggunakan ISO 50-pun noise sudah tampak, walaupun tidak mengganggu. Sedangkan pada kamera yang lebih mahal seperti Canon 350D atau Nikon D70, noise belum cukup mengganggu meskipun di ISO yang cukup tinggi (ISO800-1600). Oh iya, kata ‘mengganggu’ sendiri masih cukup subyektif tergantung seberapa narsis pengamat foto.

Beberapa orang juga mengatakan bahwa noise ini berkaitan dengan ukuran fisik sensor, lihat artikel sebelumnya. Semakin besar sensor, semakin kecil noise yang dihasilkan.

Sengaja tidak membandingkan kamera handphone disini, karena hasil pemotretan selalu penuh dengan noise yang amat-sangat mengganggu, kecuali buat ABG tentu saja. Bahkan noise tetap saja muncul dengan sangat jelas pada handphone yang high-end sekalipun.

Keterangan: Handphone high-end = handphone yang paling banyak ditemui di high-school kota besar.

Dynamic Range
Dua buah televisi yang menayangkan acara tivi yang sama, seringkali memberikan warna yang berbeda. Televisi yang mahal akan memberikan kontras warna yang lebih baik, gambar terasa cerah dan penuh warna, sedangkan tivi yang lebih murah akan memberikan gambar yang tidak terlalu indah. Perbedaan warnanya seperti melihat baju baru dan baju lama pada iklan sabun cuci.

Kurang lebih itulah yang menggambarkan istilah dynamic range. Semakin bagus (lebar) dynamic range suatu kamera, semakin indah hasilnya, dan semakin mahal pula harganya.

Kalau pada sistem audio, sensor dengan dynamic range tinggi mungkin setara dengan sistem HiFi (High Fidelity).

Bagaimana Memilih Kamera Digital Berdasarkan Sensornya?
Secara umum, perbedaan pada sensor yang membedakah harga kamera digital adalah:
1. Ukuran Megapixel
Seperti sudah ditulis diatas, kamera dengan sensor 2MP sudah bisa dihasilkan gambar cetak ukuran 4R, yang merupakan ukuran standar pencetakan foto. Bahkan aku sudah menguji-coba dengan mencetak hingga ukuran 8R dan ternyata hasilnya masih cukup baik.

Jadi kalau cuma buat foto-foto saat piknik, motret boneka baru, dan hanya untuk dicetak di kertas 4R, kamera 3MP sudah lebih dari cukup. Apalagi ‘cuma’ buat ngeblog/prenster, 1MP juga sudah kelewatan gedenya. Tapi jika berniat jadi juragan poster, atau suka mengedit gambar sebelum dicetak (di crop misalnya) pertimbangkan beli kamera dengan resolusi yang besar.

2. ISO dan Noise
Kamera dengan kepekaan tinggi (ISO besar) harganya lebih mahal. Tapi jika sering diperlukan untuk memotret konser, pameran fashion, atau kegiatan indoor lain tanpa flash, ISO tinggi sangat diperlukan.

3. dynamic range
Jika tergolong manusia yang “ah, kalo gambarku sudah masuk komputer itu sudah bagus”, berarti dynamic range rendah tidak masalah. Tapi kalau termasuk “Lho, hidungku kok hitam pucat begini yah?”, membeli kamera dengan dynamic range tinggi bisa dipertimbangkan. Masalahnya tidak ada kamera yang memberi keterangan mengenai hal ini. Sehingga perlu melihat-lihat ke situs-situs review kamera digital serta melihat sendiri contoh hasil pemotretan dari masing-masing kamera.


Kalau ada yg salah tolong segera di komen, sebelum dibaca orang yang bener-bener nggak tahu. Tapi santai saja, tulisannya panjang banget gini, pasti orang males baca.

Tahun Baru 2006

Filed under: Ragam — hericz @ 12:26 am

Kembang Api TMII, dari lantai 2Tak terasa, tahun 2006 sudah datang, dan tahun 2005 menghilang perlahan seperti kereta api yang meninggalkanku dan hanya meninggalkan kepulan asap, ceceran oli, dan pedagang asongan yang dari tadi terus meneriakkan dagangannya.

Hanya itu saja? oh tentu tidak, tahun 2005 telah mengantarku ke sebuah stasiun baru. Entahlah, tapi kelihatannya stasiun ini sama saja dengan stasiun saat dulu saat tahun 2004 meninggalkanku. Kepulan asap yang sama, kursi-kursi yang sama, pedagang asongan yang tetap meneriakkan ‘Ikan ayam, ikan ayam’ (terjemahan bebas dari ‘iwak pitik’), dan penjual panganan penguji kekerasan gigi ‘lanting’ tetap bebas berkeliaran (harusnya mereka ditangkap karena penyiksaan gigi).

Perayaan
Tahun baru 2006 sudah mulai dihitung tadi malam. Disambut jutaan orang dengan berkumpul di tempat keramaian, menonton artis-artis berjoget di panggung. Mereka yang beruntung dapat menikmati malam tahun baru di hotel-hotel, di ‘ball room’ dihibur artis multi-platinum, dan yang lebih beruntung lagi dapat berkumpul bersama orang-orang dan teman-teman yang dicintai dan berpawai keliling kota tanpa terkena kemacetan (penekanan pada ‘tanpa terkena kemacetan’).

Sementara aku memilih berdiam di rumah, bersama teman2 dan sahabat2ku. Sekedar ngobrol tanpa arah, perdebatan paling seru hanya perebutan remote control televisi sambil makan satu kresek penuh pisang goreng, tempe goreng, dan tahu sumedang, yang kuharap bebas formalin.

Menjelang tengah malam, kami naik ke lantai atas untuk menunggu kembang api dari TMII, sekitar 1 km jauhnya. Untuk beberapa lama, yang tampak menghiasi langit hanyalah kembang api lontar yang dijual di pinggir2 jalan. Sampai tiba-tiba bunga merah tampak menyala di kejauhan, lalu hijau, lalu ungu, lalu merah lagi. Diiringi letupan-letupan yang terdengar lirih, dikalahkan seruan ‘horee’ dari tetangga-tetangga yang keluar dari rumahnya. Alhamdulillah, aku segera menyadari tahun 2005 sudah lewat, tahun baru sudah tiba, dan tripod ketinggalan di lantai bawah.

Lalu kembang api habis, menyisakan kepulan asap yang segera tertiup angin. Seperti halnya asap yang ditinggalkan kereta yang di stasiun.

Aku turun ke lantai 1, dan mendapati sebuah sms dari sahabatku (kayaknya sih mass massage, hehe):
“Tahun baru hanyalah rutinitas rotasi bumi kamerad, namun tetap jawa harus kita kuasai. Mardika kisanak!”

Yah, Selamat Tahun Baru 2006 bagi yang merayakan.

« Previous Page