Playboy Indonesia : Seni Berbisnis Barang Seni
Katanya, tiap jenis bisnis itu ada seninya sendiri-sendiri. Bisnis komputer ada seninya sendiri, jual rumah ada seninya, apalagi jual barang seni. Beberapa orang mempermudah kata ’seni berbisnis’ ini dengan kata marketing.
Bisnis barang seni, kenapa tidak?
Jaman sekarang nilai pemahaman seni konsumen bergerak naik. Jual motor motor aja pake “Striping yang sporty!”, padahal nggak bikin tambah irit bensin.
Aku yakin semua laki-laki -termasuk aku- suka melihat wanita cantik, apalagi dengan pose yang ‘nyeni’. Hanya kepatuhan (dan pemahaman) pada nilai-nilai moral dan agama saja yang membuat reaksi masing-masing berbeda. Ada yang menikmati dan ada yang menjauhi. Ingat, menjauhi bukan berarti tidak suka. Laki-laki sepertinya ditakdirkan iri melihat tubuh wanita, kalau istilah psikolog ancur : Susu Envyâ„¢. (lihat juga penis envy).
Karena wanita memang makhluk yang indah dan nyeni, wanita dan ‘pose nyeni’-nya bisa ditempelkan pada produk-produk yang mau dijual. Apapun itu: mobil, kipas angin, kacang atom, motor, minuman vitamin C, oli, bahkan pompa air. Musik jaman sekarang pun, video klipnya nggak afdol kalo nggak pasang pose wanita ‘nyeni’. Apalagi video klip Hip Hop borjuis yang sering diputer di MTV.
Daripada Jual Roti Kacang, Mending Jual Kacang
Mungkin karena banyak produk-produk yang ditempeli ‘pose nyeni’ jadi tambah laris, banyak pengusaha yang berpikir “Ini jual roti ditambah kacang sedikit aja laris, gimana kalau aku jual kacang sekalian”.
Sejak SMA, aku memperhatikan banyak sekali majalah-majalah ‘Seni Kemolekan Tubuh Wanita” yang beredar di lapak-lapak koran dekat sekolahan. Ada banyak majalah, dari yang murahan sampai yang mahal, dari yang kertasnya burem sampai yang kertas glossy kinclong-kinclong. Jadi, pas lihat-lihat majalah komputer, kadang-kadang lirik-lirik sambil berbisik ke teman di sebelah “eh, itu memang bisa kayak gitu yah?” *sambil ngelap iler*.
Itu jaman ketika aku masih malu-malu kalau melihat cewek yang tali bra-nya kelihatan keluar dari krah kaosnya. Kalau lihat cewek pakai tanktop mungkin langsung pingsan dan mimisan.
Seni Berpolitik dan Menghadapi Massa
Coba kita lihat, berapa banyak persen pameran lukisan yang dikerumuni penonton (yang ada anjasmara dihitung juga boleh). Berapa majalah seni yang mati dua tahun terakhir ini, tapi lihat juga berapa banyak majalah ‘nyeni’ yang tumbuh subur. Ya ya ya, sex dan erotisme adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.
Bulan Maret ini, direncanakan Playboy Indonesia akan terbit. Suka atau tidak, DPR tidak punya kewenangan untuk melarang penerbitannya, bahkan Dewan Pers aja gak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan penerbit sudah memiliki ijin penerbitan. “Masalah dosa kan urusan personal ama Tuhan”. Yoih, yang penting penjualan lancar. Jual beli VCD bokep di Glodok aja gak ada yang nangkep kok, lagipula ini kan “Majalah Gaya Hidup Lelaki Modern”.
Sementara itu, biarkan satu pihak mendebat pihak lain tentang batasan Pornografi dan pornoaksi, sambil kita tunggu mereka juga memberi batasan tentang batasan ‘nyeni’ dan ‘nggilani’. Tapi ingat saudara-saudara. Bagaimanapun, betapapun, indahnya kata-kata yang akan dilontarkan oleh pendukung penerbitan kontroversial ini, adalah kata-kata yang bertumpu pada bisnis. Kalau basa enggresnya “Nothing personal, just business”. Milyaran rupiah berputar disini.
Mendengar kata-kata indahnya aku sadar, tampaknya mereka para penerbit sudah jago betul seninya berjualan barang ‘nyeni’.
January 18th, 2006 at 8:30 am
ya… dengan arti seni yang suka-suka mereka. huh! ngeles kok gak kreatip
January 18th, 2006 at 8:59 am
Klo aku sh nggak terlalu menyukai seni yang memakai tubuh manusia, apalagi tubuh cowok. Menurutku klo ada fotografer, pelukis dan artis (bukan selebritis) yang “hanya bisa laku” hanya dan hanya jika memakai tubuh manusia sebagai objeknya, maka itu sangatlah tidak kreatif.
Cowok emang seharusnya iri pada semua yang dimiliki cewek, bukan hanya tubuhnya…*meletin herry*
January 18th, 2006 at 10:25 am
Ditengah kegoblogan saya itu saya berfikir :
peminum miras ditangkepi, tapi pabriknya diizinin. Ustadz dan orang tua diminta memperhatikan pendidikan anak tapi majalah porno malah diizinin.
Kalau ditanya apakah kau suka pornografi, tentu saja suka. Kalau nggak, masak sampai punya anak :). Lha agar semuanya berjalan sesuai orbitnya, maka sebenarnya dibuatlah norma dan aturan.
Lalu ada yang ngatain, lha kalau u menolak u munafik. Lha kalau saya munafik maka yang ngatain saya itu lebih munafik lagi
January 18th, 2006 at 12:09 pm
her, jangan2 liat poto telanjang elu nangis… =))
trus, kau ini termasuk pro atau kontra?
January 18th, 2006 at 2:53 pm
saya ingin menjadi “player” yang pro dan responsible tapi itu susah, perlu belajar, maka saya setuju saja klo majalah itu masuk kesini
January 18th, 2006 at 5:07 pm
sebenarnya sih,playboy terbit atau gak terbit sama saja. toh tabloid yang ada gambarnya wanita “nyeni” juga banyak. hanya saja playboy dah punya nama internasional jadi perdebatannya semakin seru.
January 18th, 2006 at 5:47 pm
hhmm… jadi pengen liat, Playboy edisi Indonesia kayak apa sih? *gubrakk..!*
majalah aslinya belom pernah liat sih…*jujur* tapi pernah buka websitenya, gara2 temenku yang dulu kerja di TRAX pindah ke Playboy-Indonesia
January 18th, 2006 at 6:20 pm
halah! makin marak saja yang jualan atas nama seni. bla bla bla bla bla. kalo sudah urusan seni, seperti lingkaran setan *lah emang setan semua isinya*. huh!
January 18th, 2006 at 9:22 pm
siapa si yg mendefinisikan seni? semuanya juga bisa, termasuk setan.
January 18th, 2006 at 11:50 pm
aku mau menunggu Playgirlâ„¢ aja masuk..
January 19th, 2006 at 11:13 am
*tersinggung*
aku bekerja untuk seni. dan mengelola bisnis barang-barang seni juga.
heri sindir aku yah???!
January 19th, 2006 at 11:48 am
hei hei, blog walking neh, kopinya dunk:p
January 19th, 2006 at 12:07 pm
her, pinjem ya kalo dah beli
January 19th, 2006 at 4:35 pm
wah, heri mah gak mungkin beli, terlalu mahal, belinya yang di lampu merah ajah…*kabur*
January 19th, 2006 at 10:29 pm
#dian ina : weleh, ada yang GR nih. Sini tak kasih permen biar gak ngambek
#Rendy : pertanyaan sudah terjawab :p
January 20th, 2006 at 4:07 am
pantesan sekarang jadi cc envy..
*gag nyambung*
January 23rd, 2006 at 7:56 am
40 ribu bo! Ayo ayo dibeli… nanti bakalan jadi barang sejarah ;P
January 23rd, 2006 at 12:09 pm
:)) huahahhaha…
selamat datang budaya global
January 23rd, 2006 at 12:54 pm
seni yang mengumbar nafsu..
January 23rd, 2006 at 3:34 pm
berantas pornografiâ„¢
January 24th, 2006 at 7:25 pm
kalau kamu beli ya her, nanti aku pinjem :))
=))
January 25th, 2006 at 10:00 am
gimana caranya install linux?
January 26th, 2006 at 10:43 am
seni itu indah
asalkan ga terlalu berbeda arah dengan ajaran agama
*nyeruput susu coklat anget*
February 3rd, 2006 at 2:01 pm
[…] Hericz : Playboy Indonesia Seni Berbisnis Barang Seni […]
February 3rd, 2006 at 8:35 pm
waaaaaaaaaaaah bahaya kalau seandainya majalah playboy bner2 terbit, gmn ntra anak cu2 guwa. kiamat neeeh kya yg g tau ajab aja…………..
February 8th, 2006 at 4:56 am
emang itu sebuah seni, yang tidak baik. seni itu adalah sesuatu yang indah dan baik di pandang (dalam arti positif), Than’ks…..
December 12th, 2006 at 12:07 pm
iya tuh!!! majalah play boy bikin negara kita rusak aja….. BTW gua ada barang antik nich… jam antik asli dari rusia di jual dengan harga nego 150 jt aja bo….kalo ada yang minat hub gua puguh_satrio1@yahoo.com
thanks
June 5th, 2007 at 8:08 pm
Armensius Purba
Buat yang telah memberikan komentar pada blog ini, saya menawarkan kepada anda sebuah bisnis yang tidak memiliki resiko apapun(0% risk) dan akan memberikan keuntungan kepada anda berupa nilai $.Silahkan anda bergabung dengan AGLOCO.COM. Agloco ini adalah Revolution Internet Economic yang dikelola oleh para veteran dari perusahaan AGLOCO yang telah direkomendasikan oleh BILL GATES. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Afrid Y Fransisco yang pertama kali memperkenalkan program ini kepada saya.Terimakasih
September 4th, 2007 at 9:31 pm
menurut gw soch santai - santai aja asal pada diri kitasendiri sudah memiliki iman yang kuat,,
jangan samapai kita yang mengelarah egh malah kita yang kecanduan,,
kita ambil aj positifnya,jangan ambil negatifnya terus,itu salah satu contoh kebiasaan buruk kita,,
positifnya aja kita ambil,misalnya,,
itu bisa jadi bahan perbandingan kita sebagai orang timur yang berbudaya serba indah dan baik,,dengan budaya modern yang menerapkan kebebasan berkreasi,,
selama itu masih ada batasnya dan belum da peraturan2 yang melarangnya kita ga usah repot2 ngusik2 orang lain selama kita ga di usik, seperti prinsip “golden rule principle”