Tahun Baru 2006
Tak terasa, tahun 2006 sudah datang, dan tahun 2005 menghilang perlahan seperti kereta api yang meninggalkanku dan hanya meninggalkan kepulan asap, ceceran oli, dan pedagang asongan yang dari tadi terus meneriakkan dagangannya.
Hanya itu saja? oh tentu tidak, tahun 2005 telah mengantarku ke sebuah stasiun baru. Entahlah, tapi kelihatannya stasiun ini sama saja dengan stasiun saat dulu saat tahun 2004 meninggalkanku. Kepulan asap yang sama, kursi-kursi yang sama, pedagang asongan yang tetap meneriakkan ‘Ikan ayam, ikan ayam’ (terjemahan bebas dari ‘iwak pitik’), dan penjual panganan penguji kekerasan gigi ‘lanting’ tetap bebas berkeliaran (harusnya mereka ditangkap karena penyiksaan gigi).
Perayaan
Tahun baru 2006 sudah mulai dihitung tadi malam. Disambut jutaan orang dengan berkumpul di tempat keramaian, menonton artis-artis berjoget di panggung. Mereka yang beruntung dapat menikmati malam tahun baru di hotel-hotel, di ‘ball room’ dihibur artis multi-platinum, dan yang lebih beruntung lagi dapat berkumpul bersama orang-orang dan teman-teman yang dicintai dan berpawai keliling kota tanpa terkena kemacetan (penekanan pada ‘tanpa terkena kemacetan’).
Sementara aku memilih berdiam di rumah, bersama teman2 dan sahabat2ku. Sekedar ngobrol tanpa arah, perdebatan paling seru hanya perebutan remote control televisi sambil makan satu kresek penuh pisang goreng, tempe goreng, dan tahu sumedang, yang kuharap bebas formalin.
Menjelang tengah malam, kami naik ke lantai atas untuk menunggu kembang api dari TMII, sekitar 1 km jauhnya. Untuk beberapa lama, yang tampak menghiasi langit hanyalah kembang api lontar yang dijual di pinggir2 jalan. Sampai tiba-tiba bunga merah tampak menyala di kejauhan, lalu hijau, lalu ungu, lalu merah lagi. Diiringi letupan-letupan yang terdengar lirih, dikalahkan seruan ‘horee’ dari tetangga-tetangga yang keluar dari rumahnya. Alhamdulillah, aku segera menyadari tahun 2005 sudah lewat, tahun baru sudah tiba, dan tripod ketinggalan di lantai bawah.
Lalu kembang api habis, menyisakan kepulan asap yang segera tertiup angin. Seperti halnya asap yang ditinggalkan kereta yang di stasiun.
Aku turun ke lantai 1, dan mendapati sebuah sms dari sahabatku (kayaknya sih mass massage, hehe):
“Tahun baru hanyalah rutinitas rotasi bumi kamerad, namun tetap jawa harus kita kuasai. Mardika kisanak!”
Yah, Selamat Tahun Baru 2006 bagi yang merayakan.
January 2nd, 2006 at 2:45 am
Tahun baru ! Mudah-mudahan di tahun ini pola hidup tidak serutinitas kemarin, bagun pagi - sarapan - pergi ke kantor - pulang - nonton TV - tidur lagi.
January 2nd, 2006 at 2:52 am
tahun baru, semoga bisa nambah penghasilan
January 2nd, 2006 at 3:19 am
ga jadi ke bandung to her ?
Met tahun baru ya
January 2nd, 2006 at 3:34 am
tahun baru.. harapan baru…
hepi nu yier
January 2nd, 2006 at 3:44 am
hepi nyu year!!!
January 2nd, 2006 at 3:55 am
tahun baru = sobek tanggalan lama ganti yang baru
January 2nd, 2006 at 4:53 am
yeah, selamat tahun baru sahabat!
January 2nd, 2006 at 5:39 am
tahun baru masehi maksudmu ?
January 2nd, 2006 at 6:49 am
eh di lantai atas kamu nggak ikut bakar2 kembang api kan her? bagusan mbakar menyan, sapa tau dapet pesugihan buat tahun ini hihihi
January 2nd, 2006 at 7:01 am
Kapan nikah, Her..?
*kaboooooooooor*
January 2nd, 2006 at 7:20 am
mEt tahuN baru….
moga cepet dapat momongan…
*minum susu coklat anget*
January 2nd, 2006 at 2:34 pm
semoga terkabul apa yang diinginkan…
semoga stok ponds masih ada..
*kabooor*
January 2nd, 2006 at 6:56 pm
#3. Di: hiks, iya gak jadi ke Bandung nih
Wah, kalau nikah, diusahakan tahun ini deh. Hihihi, terimakasih doanya
January 4th, 2006 at 2:50 am
TAHUN SELAMAT BARU!!
January 4th, 2006 at 11:19 am
dah tahun baru ya?
January 6th, 2006 at 3:47 am
met tahun baru ya Her.. aku sih di rumah aja, nonton TV cuma sampe jam 12
December 27th, 2007 at 12:11 am
tahun baru semangat baru. tahun baru sekarang semoga membasahi jiwaku dan menyirami hatiku.