27 February 2006

Perbandingan Tarif Fren dan ESIA untuk Pasangan Kekasih

Filed under: Teknologi — hericz @ 7:40 am

Tarif layanan CDMA memang gila. Dua operator, Fren dan ESIA, perang tarif secara frontal dan membuat masyarakat berdecak kagum sekaligus gembira ria.

Awalnya ESIA mempopulerkan ‘TalkTime’ (sekedar istilah marketing, tidak ada konsep baru) dengan tarif pulsa 3000/jam atau 50/menit. Esia laris manis di pasaran. Bahkan banyak HP bundel dari paket Frensip yang terproteksi dijebol dan diisi dengan nomer ESIA. Saat itu orang jual pisang goreng disebut laris seperti jual ESIA.

Kemudian, awal Februari 2006 FREN memberi kejutan dengan memberikan tarif pulsa 1388/jam, tepatnya 1376/jam. Perhitungan detailnya adalah 275/unit untuk 1 menit pertama dilanjutkan 7/unit untuk menit berikutnya, 1 Unit adalah 30 detik. Promo yang berlangsung sampai akhir maret ini ditulis 1.388/jam tentu saja supaya kelihatan sebagai angka cantik, seperti halnya paket Frensip Rp 388 ribu.

Sebagai operator yang menjanjikan “Pakai Esia Pasti Untung”, Esia menurunkan lagi tarifnya menjadi pulsa 1000/jam untuk pemakaian 1 jam lebih. Teknisnya, penggunaan jam pertama tarif ESIA adalah tetap 50/menit, baru kemudian memasuki menit ke 61 pulsa dikembalikan sebesar 2200 (info dari lea) dan perhitungan tarif menjadi pulsa 16/menit atau 960/jam.

Kategori Pemakaian

Mengingat tarif gila-gilaan ini hanya untuk panggilan internal (satu operator), layanan ini sangat cocok untuk pasangan cinta yang terpisah jarak. Timbul masalah baru, bagaimana memilih yang lebih murah dan lebih menguntungkan?

Menurut lamanya pemakaian (t), penggunaan HP sebagai sarana komunikasi dibagi menjadi sebagai berikut:

Pemakaian Singkat (t<15 menit)
Contoh penggunaan
- Pelacakan Posisi, misalnya sedang janjian ketemu atau terpisah saat belanja di Hypermarket: “Kamu dimana sayang?”
- Diskusi masalah Politik, Sosial, Budaya
- Bertengkar masalah rencana hari depan
Pemakaian singkat
*keterangan : horisontal = waktu dalam menit, vertikal = biaya dalam rupiah
Untuk pemakaian singkat ini ESIA lebih murah.

Pemakaian Sedang (15 menit< t < 1 jam)
Contoh :
- Telepon sebelum tidur
- Diskusi masalah aktivitas pekerjaan
- Bertengkar masalah keluarga dan teman
Pemakaian sedang
Untuk pemakaian jenis ini, Fren lebih murah.

Untuk pasangan yang sudah sudah punya bayi, pemakaian ini juga bisa digunakan untuk memonitor kondisi bayi saat ditinggal belanja ke warung sebelah. Jika warung cukup jauh

Pemakaian Lama (1 jam< t < 5 jam 48 menit)
Contoh :
- Membicarakan acara TV secara real time
- Diskusi mengenai kado yang akan dibeli untuk teman
- Bertengkar masalah warna baju yang baru dibeli
Pemakaian lama
Ternyata untuk pemakaian jenis ini, ESIA lebih murah.

Pemakaian super lama (t>5 jam 48 menit)
Contoh :
- HP lupa ditutup saat bertengkar, dalam keadaan batre dicolok ke listrik.
- Monitoring pasangan yang dicurigai selingkuh
Orang kurang kerjaan, nelpon kok 5 jam
Untuk pemakaian yang extreme ini, Fren lebih murah. Tapi tetep saja, nelpon 5 jam cuma habis 10 ribu itu sungguh tidak terbayangkan.

Faktor lain

Pemilihan layanan CDMA yang murah juga tergantung bagaimana kebiasaan pasangan dalam berkomunikasi, tepatnya bagaimana kebiasaan pihak wanita dalam berbicara.

Selain faktor tarif dan kebiasaan komunikasi, ada faktor lain yang mempengaruhi pemilihan operator yang tepat, yaitu kemampuan jaringan, dan daya tahan HP. Banyak pemakai CDMA yang mengeluh tidak memperoleh kanal (network busy) saat ingin melakukan panggilan, selain itu untuk daerah dengan sinyal yang tidak terlalu bagus peluang dropped call sangat besar, baru 8 menit sudah putus.

Sementara itu, banyak HP CDMA yang menjadi panas untuk pemakaian cukup lama. Modottel WTE-300 yang aku gunakan akan mulai terasa panas pada menit ke 20-30, beberapa model Nokia juga sudah panas pada menit ke 15-20. Untuk mengantisipasinya mungkin perlu digunakan hands-free kit. Tapi lumayan juga lho ide konvergensi HP dan setrika.

Jika sejak jaman kuliah dulu sudah ada persaingan operator seperti ini, mungkin kami tidak perlu susah payah membuat protokol miskol.


terinspirasi dari sebuah obrolan dengan ira.

20 February 2006

Jomblo, Sebuah Film Tentang Mahasiswa?

Filed under: Hiburan — hericz @ 8:03 am

Jomblo PosterAdalah Agus, seorang mahasiswa Universitas Negeri Bandung yang terjebak dalam lingkaran kenikmatan selingkuh. Sudah memiliki pacar yang sesuai kriterianya, keibuan dan baik, tetapi malah memilih selingkuh dengan seorang mahasiswi Teknik Lingkungan, lebih cantik tentu saja. Kalau nggak, ngapain selingkuh.

Agus berteman dengan Bimo, seorang mahasiswa asal jogja yang selalu ditolak cewek. Selalu. Mereka bersahabat dengan Olip dan Doni. Olip adalah mahasiswa Teknik Sipil asal Aceh yang 3 tahun memendam cinta pada seorang mahasiswi Teknik Industri bernama Asri. Sementara itu Doni, seorang mahasiswa yang digambarkan ganteng dan kaya, memiliki hobi ML dengan cewek-cewek yang berhasil didekatinya.

Tentang Percintaan, bukan Tentang kejombloan
Baru tadi malam aku sempat nonton JOMBLO, sebuah film yang diadaptasi dari novel populer karya Adhitya Mulya. Sejak awal, film dialirkan dengan adegan yang mengundang tawa. Humor cerdas Adhitya yang digambarkan dengan cerdas pula oleh sutradara, Hanung Bramantyo.

JOMBLO banyak bercerita tentang cinta. Cinta yang absurd, cinta yang membingungkan. Sama sekali tidak digambarkan lika-liku kehidupan mahasiswa. Mahasiswa cuma memikirkan dan membicarakan cewek, wanita, teknik mendekati wanita, serta bagaimana menghadapi wanita. Sementara yang cewek juga ribut terus masalah cowok. Ada ya mahasiswa yang mikir seperti itu terus, dan terus, dan terus, dan lulus?

Dari sisi teknis, film ini menurutku cukup bagus. Aku selalu kagum pada sutradara yang berani mengambil gambar dengan pencahayaan yang rendah dan dramatis, terang gelap. Gambar dengan cahaya terang yang datar sudah biasa dilihat di sinetron. Asal punya banyak lampu gampang buatnya, sepertinya sih begitu. Oh iya satu lagi, penggunaan cahaya biru yang kuat untuk menggambarkan suasana malam itu sangat jelek, seperti sinetron pocong.

Adegan melihat matahari terbit sepertinya tidak dikerjakan dengan baik, banyak kabut membuat adegan seolah-olah hanya kegiatan naik gunung biasa. Mungkin sudah dikejar waktu jadi tidak sempat mengambil adegan di pagi hari yang cerah. Lagipula kelihatan jelas kalau warna pagi itu nggak seperti itu. Olah digital seharusnya bisa membantu membangun suasana fajar.

Dan lagi-lagi, tata suara agak jelek. Mungkin karena aku nonton di bioskop yang studionya sempit. Lagu Serieus yang jadi soundtrack terdengar kasar dan memekakkan telinga.

Penggunaan adegan-adegan animasi sangat membantu penonton dalam menikmati kesegaran film ini. Perpaduan film-komik ini juga membuat menonton film ini menjadi pengalaman yang menyenangkan. Selain itu, narator yang kocak juga menjadi nilai tambah.

Lokasi
Ayam nyasar di LFMTampak jelas, film ini mengambil setting di kampus ITB dan Unpad. ITB menjadi UNB (Universitas Negeri Bandung), sarang cowok jomblo. Sedangkan Unpad menjadi Unjat (Universitas Negeri Jatinangor), sarang cewek cantik.

Di ITB, sebagian besar adegan dilakukan di kawasan depan, di daerah Teknik Sipil, Fisika, Aula Barat, dan gedung LFM. Beberapa adegan diambil di Student Center (yang baru jadi tahun kemarin), serta pintu terowongan kampus ke Sabuga.

Tampaknya kawasan Teknik Elektro tidak cukup menarik minat sutradara. Huh, padahal keren lho. Lebih dari itu, di sana memang gudangnya jomblo, dalam arti harfiah.

Kesimpulan daripada
Tidak membaca bukunya terlebih dahulu membuatku merasa nyaman karena tidak harus membanding-bandingkan. Menurutku film ini cukup layak ditonton. Tapi sekali lagi, jangan membayangkan kalau akan melihat kehidupan seorang mahasiswa jomblo, karena lebih banyak tentang konflik cinta dan persahabatan.

Perlu diingat bahwa film ini tidak sedangkal kelihatannya. Cukup dalam, banyak pesan moral, serta banyak cewek cantik. Serius! Mosok ada kampus isinya cewek cantik semua, sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi, apalagi di MIT (Mbandung Institute of Technology). Kalo di Ponds Institute sih mungkin saja.

————–
“Kenapa kamu milih kostum ayam?”
“Sebenarnya kostum nanas lebih sederhana, tapi mobilitasnya kurang”


gambar-gambar diambil dari sinemaart , tanpa ijin.

16 February 2006

Membuat Website Pribadi Untuk Orang Biasa

Filed under: Tutorial, Teknologi — hericz @ 2:40 am

Sungguh luar biasa, pak SBY sudah membuat website pribadi dalam kapasitasnya sebagai seorang presiden. Pak SBY benar-benar presiden yang gaul, kelihatan kalau Doktornya tidak berlabel Honoris Causa.

Website SBY dipersiapkan untuk menerima traffic yang besar, selain karena pengunjung yang pastinya akan melimpah juga karena banyak file-file streaming yang pastinya akan memakan bandwidth besar. Untuk itu, tanpa perhitungan teknis yang mendetail (karena aku memang nggak tahu), aku yakin biaya 84 juta bukanlah biaya yang besar.

Orang Biasa Juga Bisa

Kalau presiden bisa, orang biasa juga bisa membuat website pribadi. Tapi aku sadar, duit 84 juta masih terlalu banyak untuk orang biasa. Uang sebanyak itu kan lebih baik digunakan untuk beli Harley Davidson yang murahan, lumayan biar bisa kayak Lorenzo Lamas.

Untuk membuat website pribadi dengan domain sendiri, sebagai contoh adalah blog, biaya yang diperlukan adalah untuk hal-hal berikut:

1. Domain
Domain, gampangnya adalah alamat website yang diinginkan, misal heriganteng.com atau akucintaheri.net.

Domain dengan akhiran .net, .org, dan .com dibayar tiap tahun. Biayanya kurang lebih 80 ribu-100 ribu per tahun. Domain .info, biasanya digratiskan oleh penyedia layanan hosting saat masa promosi. Sedangkan domain or.id, dan web.id hanya perlu membayar biaya registrasi sekali dan dapat digunakan seumur hidup.

2. Hosting
Hosting adalah tempat kita meletakkan file-file yang akan ditampilkan di website. Disini kita seperti menyewa hard-disk yang bisa online. Biayanya tergantung seberapa besar tempat yang kita sewa. Untuk referensi, hericz.net menyewa 25MB dan sampai sekarang baru terpakai sekitar 6MB. Engine wordpress, theme dan databasenya sendiri sudah memerlukan tempat sekitar 3MB.

Untuk hosting ini, pilih layanan yang mendukung server-side scripting seperti PHP atau ASP, dan database seperti MySQL. Feature-feature ini sangat penting jika ingin membuat website yang berbasiskan CMS seperti halnya blog.

Untuk hosting dengan space sebesar 25MB, biaya yang diperlukan sekitar 10-15 ribu per bulan.

Sebagai referensi, tabel perbandingan harga domain dan hosting bisa dilihat di sini.

catatan : Biaya camilan, kopi, parkir motor di warnet, dan ganti rugi sandal ilang sengaja tidak dimasukkan dalam rincian biaya di dalam klausul tutorial ini.

Langkah-langkah membuat website pribadi untuk orang biasa

  • Pilih nama domain.
  • Pikirkan baik-baik, jangan sampai menyesal di kemudian hari. Lalu coba periksa apakah domain idaman sudah dipakai orang lain. Cara gampangnya, coba saja ketikkan alamat yang diinginkan di browser.

  • Daftarkan ke penyedia layanan hosting+domain
  • Pilih sesuai anggaran dan kebutuhan. Kalau cuma perlu buat ngeblog, ya tidak perlu hosting 1GB, kecuali mau sekalian digunakan untuk share file-file berukuran besar.

  • Bayar
  • Aktifkan
  • Install engine blog atau CMS
  • Banyak pilihan : Wordpress untuk orang normal, Movable Type untuk yang sudah kawin, dan TextPattern untuk yang narsis. Selain itu juga ada b2evolution, Nucleus, pMachine, atau bahkan drupal yang cocok untuk rame-rame.

  • Otak-atik tampilannya
  • Bisa dengan cara pasang theme lain yang banyak tersedia di internet, edit theme yang ada, atau membuat theme baru.

  • Selesai
  • Website pribadi siap digunakan.

hericz.net cuma habis 200 ribu, dan sudah online 1 hari setelah pembayaran.

Ingat kata om roy, gratisan itu norak. Tapi 84 juta?


update :
link terkait :
- Kompas : Situs Presiden Senilai Rp 44,638 Juta per Bulan
- Priyadi.net: 84 juta rupiah untuk situs kepresidenan itu relatif murah

11 February 2006

Mbak Siti dan Rutinitas Banjir

Filed under: Personal — hericz @ 12:25 am

Sungai Cempaka MasAdalah mBak Siti, seorang ibu 2 anak yang setiap hari membersihkan kantorku. Setiap hari beliau datang agak siang, menyapu, mengepel seluruh ruangan, mencuci piring, bahkan mencuci kalau ada pakaian kotor. Setiap hari, selain hari libur, tak pernah beliau tidak masuk kerja, kecuali 2 hal : ngambil rapot anaknya dan banjir.

Minggu kemarin, mBak Siti tidak masuk 2 hari. Karena minggu kemarin bukanlah musim pengambilan raport, maka penyebabnya bisa ditebak dengan mudah. Banjir.

“Banjir-e ageng sanget mas!, mboten kados tahun wingi. Lha mejo tivi mawon ngantos klelep kok, biasane kan mboten,” (“Banjirnya besar sekali mas!, tidak seperti tahun kemarin. Lha meja tivi saja sampai tenggelam kok, biasanya kan tidak”) penjelasan beliau minggu kemarin sambil memperagakan ketinggian air dengan tangan. Tanpa ekspresi kemarahan, tetap sambil tersenyum seperti halnya orang menceritakan pengalaman arung jeram.

Mbak Siti memang lebih sering berbicara dengan bahasa jawa kromo campur ngoko kepada kami.

Komunitas Banjir

Dua hari kemarin, mBak Siti kembali tidak masuk kerja. Dan lagi-lagi, karena minggu inipun juga bukan musim pengambilan raport, kamipun sudah bisa menebak penyebabnya. Baru siang tadi mBak Siti kembali datang, dan langsung disambut oleh orang sekantor dengan berbagai pertanyaan.

  • Aku: “Pripun mbak Siti? banjir malih nggih?”. (“Gimana mbak Siti, banjir lagi ya?”)
  • Mbak Siti: “Wah, sakniki malah mundak inggil mas toyane, wonten ngajengan mawon sak menten”, (”Wah, sekarang malah tambah tinggi mas airnya. Di depan rumah saja segini“) jawabnya sambil mengangkat tangannya setinggi leher.
  • Aku : “Sakniki sampun asat?” (”Sekarang sudah surut?“)
  • Mbak Siti : “Dereng, niki wau taksih sak dengkul wonten nglebet, kasure mawon melu klebes”. (”Belum, tadi di dalam rumah saja masih se lutut, kasur saja ikut basah“).
  • Aku : “Lha terus barang-barang-e pripun?” (“Lha terus, barang-barang bagaimana?“)
  • Mbak Siti : “lha nggih ditinggal kemawon, sing kebanjiran nggih mboten piyampak kok”. (”Lha ya ditinggal saja, yang kebanjiran tidak sendiri kok“).

Jawaban terakhir dilontarkan dengan santai sambil mulai mencuci piring dan gelas yang menumpuk di dapur.

Demikianlah, tampaknya kebersamaan antar warga yang kebanjiran sudah sedemikian erat. Mereka bisa saling bergantian menjaga barang, menjaga rumah. Dan yang pasti, mereka pasrah dengan keadaan yang sedemikian ini. Aku terharu mendapati betapa banyak orang yang harus terkena musibah rutin tersebut.

Halte BoatwayDalam sekejap, aku sudah kembali ke depan komputer, membuka foto-foto banjir di jalanan kemarin sore, saat banyak terjadi kemacetan karena mobil dan motor yang terendam banjir, dan penumpang bus tidak bisa menunggu di halte karena sudah beralih fungsi menjadi halte perahu. Mudah-mudahan tahun depan Sutiyoso bisa mengusahakan jalur perahu untuk bulan Januari-Februari.

“Mas, pulang dulu nggih,” suara mBak Siti terdengar sayup-sayup di pintu depan. “Ya mBak, semoga sudah surut biar bisa dibersihkan”.

Kapan ya mBak Siti dan tetangga-tetangganya bisa hanya tidak masuk kerja saat mengambil raport anaknya saja?

Next Page »