Perbandingan Tarif Fren dan ESIA untuk Pasangan Kekasih
Tarif layanan CDMA memang gila. Dua operator, Fren dan ESIA, perang tarif secara frontal dan membuat masyarakat berdecak kagum sekaligus gembira ria.
Awalnya ESIA mempopulerkan ‘TalkTime’ (sekedar istilah marketing, tidak ada konsep baru) dengan tarif pulsa 3000/jam atau 50/menit. Esia laris manis di pasaran. Bahkan banyak HP bundel dari paket Frensip yang terproteksi dijebol dan diisi dengan nomer ESIA. Saat itu orang jual pisang goreng disebut laris seperti jual ESIA.
Kemudian, awal Februari 2006 FREN memberi kejutan dengan memberikan tarif pulsa 1388/jam, tepatnya 1376/jam. Perhitungan detailnya adalah 275/unit untuk 1 menit pertama dilanjutkan 7/unit untuk menit berikutnya, 1 Unit adalah 30 detik. Promo yang berlangsung sampai akhir maret ini ditulis 1.388/jam tentu saja supaya kelihatan sebagai angka cantik, seperti halnya paket Frensip Rp 388 ribu.
Sebagai operator yang menjanjikan “Pakai Esia Pasti Untung”, Esia menurunkan lagi tarifnya menjadi pulsa 1000/jam untuk pemakaian 1 jam lebih. Teknisnya, penggunaan jam pertama tarif ESIA adalah tetap 50/menit, baru kemudian memasuki menit ke 61 pulsa dikembalikan sebesar 2200 (info dari lea) dan perhitungan tarif menjadi pulsa 16/menit atau 960/jam.
Kategori Pemakaian
Mengingat tarif gila-gilaan ini hanya untuk panggilan internal (satu operator), layanan ini sangat cocok untuk pasangan cinta yang terpisah jarak. Timbul masalah baru, bagaimana memilih yang lebih murah dan lebih menguntungkan?
Menurut lamanya pemakaian (t), penggunaan HP sebagai sarana komunikasi dibagi menjadi sebagai berikut:
Pemakaian Singkat (t<15 menit)
Contoh penggunaan
- Pelacakan Posisi, misalnya sedang janjian ketemu atau terpisah saat belanja di Hypermarket: “Kamu dimana sayang?”
- Diskusi masalah Politik, Sosial, Budaya
- Bertengkar masalah rencana hari depan

*keterangan : horisontal = waktu dalam menit, vertikal = biaya dalam rupiah
Untuk pemakaian singkat ini ESIA lebih murah.
Pemakaian Sedang (15 menit< t < 1 jam)
Contoh :
- Telepon sebelum tidur
- Diskusi masalah aktivitas pekerjaan
- Bertengkar masalah keluarga dan teman

Untuk pemakaian jenis ini, Fren lebih murah.
Untuk pasangan yang sudah sudah punya bayi, pemakaian ini juga bisa digunakan untuk memonitor kondisi bayi saat ditinggal belanja ke warung sebelah. Jika warung cukup jauh
Pemakaian Lama (1 jam< t < 5 jam 48 menit)
Contoh :
- Membicarakan acara TV secara real time
- Diskusi mengenai kado yang akan dibeli untuk teman
- Bertengkar masalah warna baju yang baru dibeli

Ternyata untuk pemakaian jenis ini, ESIA lebih murah.
Pemakaian super lama (t>5 jam 48 menit)
Contoh :
- HP lupa ditutup saat bertengkar, dalam keadaan batre dicolok ke listrik.
- Monitoring pasangan yang dicurigai selingkuh

Untuk pemakaian yang extreme ini, Fren lebih murah. Tapi tetep saja, nelpon 5 jam cuma habis 10 ribu itu sungguh tidak terbayangkan.
Faktor lain
Pemilihan layanan CDMA yang murah juga tergantung bagaimana kebiasaan pasangan dalam berkomunikasi, tepatnya bagaimana kebiasaan pihak wanita dalam berbicara.
Selain faktor tarif dan kebiasaan komunikasi, ada faktor lain yang mempengaruhi pemilihan operator yang tepat, yaitu kemampuan jaringan, dan daya tahan HP. Banyak pemakai CDMA yang mengeluh tidak memperoleh kanal (network busy) saat ingin melakukan panggilan, selain itu untuk daerah dengan sinyal yang tidak terlalu bagus peluang dropped call sangat besar, baru 8 menit sudah putus.
Sementara itu, banyak HP CDMA yang menjadi panas untuk pemakaian cukup lama. Modottel WTE-300 yang aku gunakan akan mulai terasa panas pada menit ke 20-30, beberapa model Nokia juga sudah panas pada menit ke 15-20. Untuk mengantisipasinya mungkin perlu digunakan hands-free kit. Tapi lumayan juga lho ide konvergensi HP dan setrika.
Jika sejak jaman kuliah dulu sudah ada persaingan operator seperti ini, mungkin kami tidak perlu susah payah membuat protokol miskol.
–
terinspirasi dari sebuah obrolan dengan ira.
Adalah Agus, seorang mahasiswa Universitas Negeri Bandung yang terjebak dalam lingkaran kenikmatan selingkuh. Sudah memiliki pacar yang sesuai kriterianya, keibuan dan baik, tetapi malah memilih selingkuh dengan seorang mahasiswi Teknik Lingkungan, lebih cantik tentu saja. Kalau nggak, ngapain selingkuh.
Tampak jelas, film ini mengambil setting di kampus ITB dan Unpad. ITB menjadi UNB (Universitas Negeri Bandung), sarang cowok jomblo. Sedangkan Unpad menjadi Unjat (Universitas Negeri Jatinangor), sarang cewek cantik.
Adalah mBak Siti, seorang ibu 2 anak yang setiap hari membersihkan kantorku. Setiap hari beliau datang agak siang, menyapu, mengepel seluruh ruangan, mencuci piring, bahkan mencuci kalau ada pakaian kotor. Setiap hari, selain hari libur, tak pernah beliau tidak masuk kerja, kecuali 2 hal : ngambil rapot anaknya dan banjir.
Dalam sekejap, aku sudah kembali ke depan komputer, membuka foto-foto banjir di jalanan kemarin sore, saat banyak terjadi kemacetan karena mobil dan motor yang terendam banjir, dan penumpang bus tidak bisa menunggu di halte karena sudah beralih fungsi menjadi halte perahu. Mudah-mudahan tahun depan Sutiyoso bisa mengusahakan jalur perahu untuk bulan Januari-Februari.