31 March 2006

Memilih dan Dipilih

Filed under: Ragam, Personal — hericz @ 9:10 pm

Manusia memang suka memilih. Makanan, minuman, istri, komputer, pekerjaan, mobil, motor, webhosting, pakaian, semua dipilih. Tidak harus selalu yang terbaik, tapi yang paling cocok dan mantep.

Menurut sumber yang pernah aku baca, ada beberapa level proses pemilihan. Proses pemilihan saat membeli rumah dan membeli rambutan pasti berbeda. Aku sering heran dengan teman-temanku yang sehari-hari memilih menghabiskan bandwidth dengan browsing Friendster. “Iseng aja her, sambil memilih calon istri nih”, katanya.

Di perkotaan, orang-orang memilih berbelanja di minimarket, supermarket, ataupun hypermarket agar dapat memilih sendiri barang yang mau dibeli. Sensasi memilih apel langsung dari keranjang besar merupakan nilai lebih berbelanja. Sensasi memegang, mengamati, dan mengendus sabun mandi juga membuat para produsen berlomba-lomba membuat kemasan yang bagus, disertai sampel bau produk kalau perlu.

Proses memilih itu penting dan terkadang sangat personal. Kalau di toko pakaian, cara paling efektif mengusir calon pembeli adalah SPG yang berusaha membantu saat ada calon pembeli yang sedang asyik memilih. Jelas, itu menggangu ritual penting dalam berbelanja. Menurutku, SPG terbaik adalah SPG yang diam, memegang brosur, dan baru berbicara dengan tangkas saat calon pembeli memilih bertanya. Bertanya pada SPG pilihannya tentu saja.

Memilih itu memang menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi menjadi yang terpilih.

Tak Sekedar Memilih Blog
Blog Awards 2006Saat ini, sekumpulan orang gila sedang membuat sebuah acara besar bertajuk BlogAward 2006. Acara ini secara umum adalah memilih blog-blog terbaik, blog yang dianggap layak untuk dijadikan pilihan orang awam sebagai contoh.

Proses pemilihan peraih BlogAward-nya saja sih sederhana. Pemilik blog bisa memilih untuk mendaftarkan blognya, dan bisa juga didaftarkan orang lain yang memilih blog tersebut sebagi blog favoritnya. Nantinya, blog-blog yang terdaftar akan memasuki proses pemilihan untuk mendapatkan yang tercocok diantara yang tercocok yang dilakukan lewat penjurian serta lewat polling.

Akan tetapi, BlogAward bukan sekedar acara pilih-memilih saja.

Lihat saja, berbagai komunitas blog berkumpul : blogfam, merdeka, loenpia, IMB, Multiply-ers, komunitas blog.indosiar, komunitas blog boleh.com, … (daftar terus bertambah). Beberapa media massa mendukung. Tak lupa selebritis dalam bidang penulisan ikut disertakan. Sebut saja mbak Helvy Tiana Rosa, Fira Basuki, bahkan Angelina Sondakh sudah menyatakan dukungannya dan siap membantu untuk acara Road Show berupa Seminar atau TalkShow beberapa waktu lagi. Jika berkenan, Hermawan Kertajaya dan Wimar Witoelar-pun juga akan diajak serta. Kerjasama dengan WWF dijalankan, sebuah band musik (Bintang Band) diikut sertakan. Belum lagi kerjasama dengan pihak-pihak ketiga.

Kenapa kita memilih repot-repot membuat acara seperti ini? Kita perlu publikasi sebesar-besarnya untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat yang sebesar-besarnya pula. Tujuan utamanya adalah agar masyarakat menjadi kenal dengan blog, mau membaca blog, dan mau menulis di blog.

Hei, bedanya jaman prasejarah dan jaman sejarah adalah tulisan. Cut Nyak Dien mungkin lebih keras perjuangannya, tapi Kartini yang dipilih menjadi simbol perjuangan wanita karena dia menulis. Banyak mahasiswa yang pemikirannya lebih tajam dan radikal daripada Soe Hok Gie, tapi dia dipilih untuk difilmkan karena tulisannya.

Tapi kalau temanku bertanya padaku mengapa aku repot-repot ikut acara ini, aku memilih jawaban sederhana: Agar dimasa yang akan datang orang-orang memilih ngeblog daripada browsing friend-list di friendster. Bahkan jika keperluannya adalah memilih calon istri.


hericz.net juga dapat ‘penghargaan’ dari orang-orang baik hati, bisa dilihat disini

22 March 2006

Nampak Sama Nyata Beda

Filed under: Ngedumel, Personal — hericz @ 1:42 am

Sewaktu masih kecil, aku selalu menunggu kedatangan koran Minggu Pagi yang langganan sepaket dengan Kedaulatan Rakyat. Saat Minggu Pagi datang, rubrik yang pertama aku cari adalah “Nampak Sama Nyata Beda” atau disingkat NSNB.

NSNB ini adalah sebuah kuis kecil-kecilan, intinya pembaca harus mencari 10 titik perbedaan pada dua buah gambar kartun hitam putih yang ada disitu. Rasanya puas sekali kalau bisa menemukan ke-10 perbedaan yang tersembunyi tersebut: kumis yang beda panjangnya, jumlah ruji pada sepeda, ibu-ibu dengan konde dan tidak. Sederhana tapi menyenangkan, namanya juga anak-anak.

Sepertinya bukan hanya aku yang suka rubrik tersebut. Buktinya kalau aku terlambat mengambil Minggu Pagi, dijamin tidak bisa membulet-buletin perbedaan yang ada. Harus menunggu edisi minggu berikutnya lagi. Nggondok pol.

Kamuflase

Nampak sama nyata bedaAku jarang naik taksi, kadang-kadang saja kalau habis belanja bareng Ira, hujan deras, terburu-buru, atau pulang kemaleman. Yang aku tahu, cuma ada tiga jenis taksi di jakarta, Taksi “Tarif Lama”, taksi Biasa, dan BlueBird. Taksi Tarif Lama itu kalau nggak salah artinya: baru duduk sebentar, Tarifnya kayak sudah Lama keliling kota. *halah*

Memang sih, banyak juga ‘taksi biasa’ yang bagus pelayanannya selain Bluebird, tapi karena jarang-jarang naik taksi dan nggak tahu mana taksi yang bagus dan tidak, aku pake rumus sederhana: naik BlueBird. *tanpa bermaksud SPAM lho*.

Lha masalahnya itu sekarang banyak taksi yang warnanya mirip BlueBird. Beberapa kali aku hampir salah nyegat taksi yang ‘Tarif Lama’ dengan warna biru muda. Bener-bener mirip, sampai logo dan font untuk nomer taksi saja sama. Karena itulah, aku sekarang jadi terbiasa menunggu taksi sudah cukup dekat baru mengayunkan tangan mencegatnya.

Awal tahun lalu, baru ada satu dua operator taksi yang mengkamuflasekan diri menjadi mirip BlueBird, tapi kok semakin lama semakin banyak. Sepertinya, tinggal menunggu waktu saja sampai semua taksi di Jakarta berwarna biru. Dan di Bandung tentu saja.

Sebenarnya bukan hanya taksi. Kalau jalan-jalan di Jogja, coba cari bakpia maka semua produk akan dibungkus karton kuning dengan merk berupa angka tersablon di atasnya. Semua bakpia menyaru Bakpia ‘75′ yang konon pertama hadir dalam kemasan tersebut.

Coba juga cari Dodol Garut di Bandung, semuanya akan mirip kemasan Dodol “Picnic”. Padahal kemasan picnic sendiri awalnya meniru kemasan Coklat cemilan meneer-meneer Belanda.

Jangan pula lupakan kemasan agar-agar mentah, Satelit Sriti, Satelit Globe, Dua Sriti, Satelit palapa. Semua berwarna kuning, dengan gambar agar-agar warna-warni di depannya. Sampai bingung, mana merk yang asli?

Generik
Saat sudah banyak yang meniru, tiba-tiba semuanya menjadi generik. Merk yang tanpa ‘Brand’. Bahkan kemasan seperti itu menjadi syarat untuk produk yang bersangkutan. Bakpia harus kardus kuning, Dodol Garut harus karton merah muda, Agar-agar harus plastik kuning, dan Taksi harus biru muda. Jangan-jangan kenangan selama 12 tahun harus berseragam sekolah benar-benar sudah mendarah daging dalam diri manusia.

Saat semuanya sudah menjadi generik dan nampak sama, sepertinya aku harus berterima kasih pada Minggu Pagi dan NSNB-nya, ternyata berguna juga ilmunya.

Eh, ada yang punya skrinsyutnya?

17 March 2006

Simple ABG Text Generator

Filed under: Hiburan, Teknologi — hericz @ 2:09 am

Seperti halnya di dunia nyata, ABG di internet pada umumnya sangat mudah dilihat dari cara mereka berkomunikasi. Ada ciri khusus yang begitu jelas yang membedakan tulisan orang biasa dengan tulisan ABG. Orang-orang yang sering menghabiskan bandwidth dengan nongkrong di friendster pasti hapal.

Cara ABG Beda!
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang berkomunikasi bahasa tulisan melalui surat pada masa muda-nya, ABG jaman sekarang belajar berkomunikasi bahasa tulis dengan SMS. Terbatasnya jumlah karakter di SMS mengakibatkan bahasa tulis yang unik, yaitu penyingkatan yang kadang-kadang terasa berlebihan bagi orang lain.

Seperti halnya para Geek tempoe doeloe, ABG juga suka mengganti huruf dengan angka. Seperti ‘telo’ menjadi ‘t3lo’, ‘heri’ menjadi ‘h3r1′, dan seterusnya.

Satu lagi yang membuat mata pegal saat membaca tulisan ABG adalah penggunaan huruf kapital secara acak dalam tulisan. Berbeda dengan mbak lilis yang mempunyai pola tetap dan bisa di-decode dengan mudah, penggunaan huruf kapital pada tulisan ABG sungguh tidak bisa kumengerti.

Bergaul dengan Bahasa Mereka?
Ketika tiba-tiba ada yang menyapa di Yahoo Messenger atau di email dengan bahasa ABG, orang-orang segenerasi denganku akan puyeng mendadak untuk menerjemahkan susunan huruf tersebut. Dan masalah akan bertambah ketika tiba waktunya membalas sapaan mereka. Ternyata memencet Shift secara acak bukan masalah gampang, apalagi m3ngg4nti dengan 4ngk4-4ngk4. 4duuh, jari ter4sa pegaaal mendadak.

Untuk itu aku coba membuat Simple ABG Text Generator untuk membantu orang-orang yang tangannya sudah tidak selincah ABG dalam membuat susunan huruf aneh. Coba saja deh, mohon kripik pedasnya.

Untuk menggunakan Simple ABG Text Generator ini tidaklah sulit, tinggal kopi paste saja teks yang ingin di-ABG-kan ke kotak sebelah kiri, pilih level ABG yang anda kehendaki, dan klik ‘Go ABG Go!’. Jika bukan karena FMCOPD ,di sebelah kanan akan muncul teks ABG sederhana.

Contoh:
Input : (Tao of id-gmail)

Input : The Tao of id-gmail


Output :

Output

Keterangan :
- URL : Simple ABG Text Generator
- Kebutuhan : browser yang mendukung javascript.

4 March 2006

Maaf, Aku nggak Makan Keju

Filed under: Personal — hericz @ 6:01 pm

Say No To Cheese!Bukannya sombong, tapi aku tidak doyan yang namanya keju. Makanan mahal dan simbol kemewahan ini tidak cocok masuk ke sistem pencernaanku. Memaksakan diri makan roti rasa keju (yang kejunya banyak) hanya akan membuat mulutku eneg dan membuat perutku tidak enak selama berjam-jam sehingga perlu dinetralisir dengan seteguk susu coklat.

Jangankan memakannya, melewati stand penjual jagung keju di mall bisa membuatku hampir muntah karena bau keju yang sangat menyengat. Aku juga bingung, sebenarnya yang bikin mual itu rasanya atau baunya.

Sayangnya, semakin hari keju semakin populer di Indonesia. Setiap makanan kini diberi keju untuk menunjukkan kalau makanan itu kelas atas. Di Bandung roti bakar diberi keju, pisang bakar diberi keju, martabak manis diberi keju, surabi diberi keju, pisang bolen diberi keju, bahkan jagung bakar-pun diberi keju. Anjriit.

Karena itu, sudah menjadi kebiasaan kalau mendapat oleh-oleh makanan yang -kata orang- ‘berkelas’ aku bongkar dulu isinya untuk melihat apakah ada keju batangan di dalamnya. Jika benda kuning itu terdeteksi, langsung kubuang kejunya atau diserahkan pada sukarelawan yang kebetulan duduk di dekatku, baru makanan yang bebas-keju itu aku makan.

Apalagi burger!
Dulu di sebelah barat GSP UGM ada stand hamburger bernama ‘Monalisa’, entah sekarang masih ada atau nggak. Dasar iseng, aku dan arjo mencoba untuk makan makanan aneh itu. Dengan penuh perjuangan hamburger yang rasanya sangat tidak njawani tersebut berhasil dihabiskan. Dua jam berikutnya aku dan arjo harus muter-muter mencari susu murni karena perut terasa eneg gak karuan.

Saat kuliah, makan burger di McD menjadi kegiatan cukup sering dilakukan. Pada awalnya, aku sekali dua kali ditraktir makan burger, dan memang rasanya sangat aneh. Walaupun lembaran keju bisa dibuang ke tempat sampah dengan mudah, tapi pasta yang ndleler sungguh menjijikkan dan rasanya sangat asing di lidahku. Untunglah rasa mual di perut ternyata bisa dinetralkan dengan segelas besar Coca Cola. Baru aku sadar mengapa minuman hitam itu selalu tersedia di rumah makan cepat saji. Berikutnya, McD hanya kukenal sebagai penjual ayam goreng dan es krim.

Makanan sok Jepang dan Itali
Hokben juga menjadi fenomena yang aneh buatku. Itu gorengan bakso kecil-kecil dengan -lagi-lagi- pasta yang rasanya aneh kenapa bisa digemari anak-anak kuliahan. Nasinya juga sedikit dan hei, itu nasi kok ditaruh di mangkok sih? emangnya soto!. Wahai kalian, batagor lebih enak dan lebih murah lho.

Setelah lulus, selera teman-temanku berubah. Mereka sekarang suka makan pizza yang tentu saja penuh dengan keju. Ada yang naik gaji, makan pizza. Pindah tugas, makan pizza. Dapat kerja, makan pizza. Karena rame-rame dan gratisan, tentu saja aku ikut dengan konsekuensi aku harus dipesankan porsi non-keju sendiri.

Aneh tidak aneh
Sebenarnya aku dipaksa mbak Yanti untuk nulis 5 keanehan dalam diriku. Tapi ngomongin nggak doyan keju saja sudah menimbulkan beberapa derivat keanehan yang lain, jadi cukuplah.

Akhir kata, sebagai makhluk modern, aku akan terus berjuang agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Aku akan berjuang, berusaha keras, berlatih agar bisa makan keju seperti orang lain. Doakan aku yah, dan jangan lupa Say Cheese!