Memilih dan Dipilih
Manusia memang suka memilih. Makanan, minuman, istri, komputer, pekerjaan, mobil, motor, webhosting, pakaian, semua dipilih. Tidak harus selalu yang terbaik, tapi yang paling cocok dan mantep.
Menurut sumber yang pernah aku baca, ada beberapa level proses pemilihan. Proses pemilihan saat membeli rumah dan membeli rambutan pasti berbeda. Aku sering heran dengan teman-temanku yang sehari-hari memilih menghabiskan bandwidth dengan browsing Friendster. “Iseng aja her, sambil memilih calon istri nih”, katanya.
Di perkotaan, orang-orang memilih berbelanja di minimarket, supermarket, ataupun hypermarket agar dapat memilih sendiri barang yang mau dibeli. Sensasi memilih apel langsung dari keranjang besar merupakan nilai lebih berbelanja. Sensasi memegang, mengamati, dan mengendus sabun mandi juga membuat para produsen berlomba-lomba membuat kemasan yang bagus, disertai sampel bau produk kalau perlu.
Proses memilih itu penting dan terkadang sangat personal. Kalau di toko pakaian, cara paling efektif mengusir calon pembeli adalah SPG yang berusaha membantu saat ada calon pembeli yang sedang asyik memilih. Jelas, itu menggangu ritual penting dalam berbelanja. Menurutku, SPG terbaik adalah SPG yang diam, memegang brosur, dan baru berbicara dengan tangkas saat calon pembeli memilih bertanya. Bertanya pada SPG pilihannya tentu saja.
Memilih itu memang menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi menjadi yang terpilih.
Tak Sekedar Memilih Blog
Saat ini, sekumpulan orang gila sedang membuat sebuah acara besar bertajuk BlogAward 2006. Acara ini secara umum adalah memilih blog-blog terbaik, blog yang dianggap layak untuk dijadikan pilihan orang awam sebagai contoh.
Proses pemilihan peraih BlogAward-nya saja sih sederhana. Pemilik blog bisa memilih untuk mendaftarkan blognya, dan bisa juga didaftarkan orang lain yang memilih blog tersebut sebagi blog favoritnya. Nantinya, blog-blog yang terdaftar akan memasuki proses pemilihan untuk mendapatkan yang tercocok diantara yang tercocok yang dilakukan lewat penjurian serta lewat polling.
Akan tetapi, BlogAward bukan sekedar acara pilih-memilih saja.
Lihat saja, berbagai komunitas blog berkumpul : blogfam, merdeka, loenpia, IMB, Multiply-ers, komunitas blog.indosiar, komunitas blog boleh.com, … (daftar terus bertambah). Beberapa media massa mendukung. Tak lupa selebritis dalam bidang penulisan ikut disertakan. Sebut saja mbak Helvy Tiana Rosa, Fira Basuki, bahkan Angelina Sondakh sudah menyatakan dukungannya dan siap membantu untuk acara Road Show berupa Seminar atau TalkShow beberapa waktu lagi. Jika berkenan, Hermawan Kertajaya dan Wimar Witoelar-pun juga akan diajak serta. Kerjasama dengan WWF dijalankan, sebuah band musik (Bintang Band) diikut sertakan. Belum lagi kerjasama dengan pihak-pihak ketiga.
Kenapa kita memilih repot-repot membuat acara seperti ini? Kita perlu publikasi sebesar-besarnya untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat yang sebesar-besarnya pula. Tujuan utamanya adalah agar masyarakat menjadi kenal dengan blog, mau membaca blog, dan mau menulis di blog.
Hei, bedanya jaman prasejarah dan jaman sejarah adalah tulisan. Cut Nyak Dien mungkin lebih keras perjuangannya, tapi Kartini yang dipilih menjadi simbol perjuangan wanita karena dia menulis. Banyak mahasiswa yang pemikirannya lebih tajam dan radikal daripada Soe Hok Gie, tapi dia dipilih untuk difilmkan karena tulisannya.
Tapi kalau temanku bertanya padaku mengapa aku repot-repot ikut acara ini, aku memilih jawaban sederhana: Agar dimasa yang akan datang orang-orang memilih ngeblog daripada browsing friend-list di friendster. Bahkan jika keperluannya adalah memilih calon istri.
–
hericz.net juga dapat ‘penghargaan’ dari orang-orang baik hati, bisa dilihat disini
Aku jarang naik taksi, kadang-kadang saja kalau habis belanja bareng Ira, hujan deras, terburu-buru, atau pulang kemaleman. Yang aku tahu, cuma ada tiga jenis taksi di jakarta, Taksi “Tarif Lama”, taksi Biasa, dan BlueBird. Taksi Tarif Lama itu kalau nggak salah artinya: baru duduk sebentar, Tarifnya kayak sudah Lama keliling kota. *halah*

Bukannya sombong, tapi aku tidak doyan yang namanya keju. Makanan mahal dan simbol kemewahan ini tidak cocok masuk ke sistem pencernaanku. Memaksakan diri makan roti rasa keju (yang kejunya banyak) hanya akan membuat mulutku eneg dan membuat perutku tidak enak selama berjam-jam sehingga perlu dinetralisir dengan seteguk susu coklat.