Menyambut Emansipasi Lelaki
Kartini memang hebat. Bisa-bisanya dia itu bikin emansipasi-emansipasi wanita segala. Maksudnya biar para genduk ayu, eneng geulis, dan none-none bisa ikut belajar di sekolah-sekolah rakyat. Bisa ngitung duit sendiri, bisa jadi pegawe kantoran, dan bekerja selayaknya pria.
Konon, syahdan menurut cerita pak Guru, dulu memang wanita itu selalu di rumah saja. Tugasnya 3M: Masak, Macak, Manak (Memasak, Merias diri, Melahirkan). Tugas mulia yang -konon- juga merupakan kodrat seorang wanita. Sementara itu, para laki-laki bekerja di luar, mengurus sawah, berdagang di pasar, sabung ayam, jadi antek kumpeni, ataupun pegawai kelurahan.
Sekarang jaman sudah berbeda, wanita sudah berkeliaran di mana-mana. Di kantor-kantor, pabrik-pabrik, kasir Bank dan supermarket, manajer, mentri, bahkan bisa jadi presiden. 3M sekarang adalah Meeting, Make-up, and Make Money. Tidak hanya cantik dan wangi tubuhnya, wanita sekarang juga sudah seperti Kartini, Harum namanya.
a-Man-sipasi
Wah, laki-laki juga tidak mau ketinggalan kayaknya. Mengetahui berbagai keahliannya sudah dikuasai wanita, laki-laki juga harus bisa melakukan keahlian wanita. Memang dasar -konon kabarnya- pria lebih fokus dalam mempelajari sesuatu, maka pria-pria segera menguasai keahlian dasar yang dulu hanya dimiliki wanita.
Semakin sedikit wanita yang bisa memasak. Kalau seorang perempuan ditanya “Sayangku, kamu bisa masak nggak?” jawabnya “ah, sekarang kan jaman emansipasi, laki-laki juga harus bisa masak. Aku juga bisa masak sedikit-sedikit… bla.. bla.. bla”. Sementara itu, Chef terhebat dalam urusan memasak semakin didominasi lelaki.
Di sebuah kolom konsultasi Kompas kemarin, bahkan seorang pria sudah merasa diinjak-injak hak-nya oleh wanita. Kasihan juga, seorang pria yang merasa ide cemerlangnya dikalahkan tulisan rapi murid wanita, pendidikannya dinomer-duakan dari saudara perempuannya, hingga karirnya yang kalah dibanding senyuman manis rekan wanita kepada bosnya.
Macak juga semakin dikuasai pria. Kalau dulu peralatan kegantengan pria hanya pisau cukur kumis, yang juga dipakai untuk membelah bambu dan menguliti ayam, sekarang sudah macem-macem. Mulai dari pisau cukur Gillete yang jumlah pisaunya selalu bertambah(diperkirakan sebuah pisau cukur Gillete akan memiliki selusin pisau 20 tahun yang akan datang), peralatan fitness, jajaran produk fashion, hingga wewangian. Rupanya pria juga ingin Harum namanya.
Demikianlah, selamat datang era Emansipasi Lelaki. Era dimana masakan Rudy Khoirudin dielu-elukan ibu-ibu karena ingin bisa memasak sehebat dia. Karena wanita ingin tampil cantik, Rudy Hadisuwarno jadi tempat berdandan. Dan karena wanita ingin dimengerti, album ADA Band pun disponsori Softex.
–
Illustration from here, taken without permission.
April 18th, 2006 at 7:54 am
Lha kok menyebut2 IDku :P.
Soal macak, jadi inget postingku ttg metro dan uberseksual :).
Di luar sana, banyak gerakan dan situs aliran “a-Man-tipation” ini. Amazing juga ngeliat ternyata banyak banget cowo yang merasa terancam dengan feminisme ya
April 18th, 2006 at 8:18 am
saya gimana nih?
April 18th, 2006 at 8:20 am
maksudnya supaya para perempuan kembali giat memasak?
opo sih intine? aku rodo gak mudeng iki
April 18th, 2006 at 8:35 am
Makanya her..pake yang bersayap!
tak mudah berkerut tak mudah tembus
April 18th, 2006 at 8:39 am
iya saya juga baca koran kompas kemarin…ada ga ya di kompas.com edisi cetak? kalau ada di link aja mas.. ngenes aja bacanya..
bukan dunia jadi kebalik atau gimana sih, tapi jadi tidak imbang, jadi double standard..seharusnya masing-masing ngerti peran-nya masing-masing untuk yang terbaik
April 18th, 2006 at 8:43 am
iki mas nemu ning kompas
http://kompas.com/kompas-cetak/0604/16/konsultasi/2584032.htm
April 18th, 2006 at 9:19 am
ira gag bisa masak ya?
hihihi…
April 18th, 2006 at 10:44 am
jadi kamu milih emansipasi yang mana neh, masak, macak apa manak
April 18th, 2006 at 11:01 am
tes…
April 18th, 2006 at 11:39 am
bersih, rapi, itu penting..
[terutama kalo pas keluar :p area kantor, AKA jalan jalan..]
Tapi centil / cryptic soal dandan?
GAK LAH….
April 18th, 2006 at 11:42 am
#om hanidyo : wah, terimakasih link-nya, tadi tak cari-cari gak ketemu
April 18th, 2006 at 2:34 pm
maksudnya dalam rangka hari Kartini yah her ? btw buat apa yah emansipasi wanita masih didengungkan wong fitrahnya udah jelas .. kalaupun ada kesempatan boleh kerja harus seijin suami kalau nggak yah dirumah hehehe
April 18th, 2006 at 4:48 pm
metropolis man, kosmopolitan man?
issue yang selalu di update dengan meminjam ‘tren terkini’ agar produk-produk dagang tersebut laku …
April 18th, 2006 at 4:54 pm
#3 mbak lita, tuh pertanyaannya dah dijawab ma didats…*pukul pukul heri pake panci*
April 18th, 2006 at 4:56 pm
jadi perempuan juga masih ada diskriminasi lho. kalo yang cantik, biasanya cepat naik karirnya ketimbang yang jelek. eh, ini juga berlaku buat cowok juga yah?
April 18th, 2006 at 5:10 pm
3R: Rudi Khoirudin, Hadisuwarno, Hartono.
Hihihi. Semoga laen hari jenis kelamin ga jadi dipermasalahin. Emang kenapa jadi cowok kemayu dan cewek macho?
hihihi..
April 18th, 2006 at 7:35 pm
Hidup laki-laki! Jangan mau kalah sama perempuan ya!
April 18th, 2006 at 8:26 pm
Tambahan buat perempuan jaman dahulu,
3R, Dapur, Sumur, Kasur.
April 18th, 2006 at 9:39 pm
Emansipasi sedahsyat apa pun, peranan pria dan wanita selamanya takkan pernah sama.
Buktinya sampai saat ini masih sering kita dengar ucapan, “Ladies First”.
April 19th, 2006 at 2:49 am
Menyambut Emansipasi Lelaki
Kodok Ngerock! � Menyambut Emansipasi Lelaki bagi para laki-laki dan perempuan yang tidak bisa berperan kedalam dua dunia sekaligus..very well said hericz! :)…
April 19th, 2006 at 8:42 am
pengen setara hak perempuan dgn lelaki ??, wah enak tuh, kalo naik bis atau kreta penuh, gak usah kasih duduk perempuannya dong.. suruh aja wanita berdiri, lelakinya duduk … hehehe *egois*
April 19th, 2006 at 11:00 am
saya dan istri sama2 bisa masak, cuma bedanya saya males masak, sedangkan dia suka masak
hmmm… yummy…
April 19th, 2006 at 12:10 pm
Emansipasi laki-laki? Hmm, ada Dharma Pria donk hehehehe
April 19th, 2006 at 2:54 pm
Cowok Juga Manusia (TM)
Hahahahaha….
April 19th, 2006 at 2:56 pm
tulisan2 mas heri emang selalu unik dan bagus. Udah pernah diterbitkan jadi buku blon nih?
April 19th, 2006 at 4:38 pm
RA Kartini hanya sekadar ingin sekolah dan menulis, sesuatu yang secara naluriah diinginkan oleh setiap orang, yaitu belajar dan berekspresi. Konon pemerintah Hindia Belanda yang membesarkan Kartini dan kemudian dicorongkan kembali oleh pemerintah RI, lebih-lebih Orba. Kalau menurut almarhum Mahbub Djunaidi, kolumnis langganan Tempo zaman Orba, Dewi Sartika lebih “memberontak” dibanding Kartini, oleh karena itu tidak terlalu disukai pemerintah kolonial.
April 20th, 2006 at 4:51 am
HIDUP PRIA!!
April 20th, 2006 at 10:51 am
Kalau wanita maunya ‘emansipasi selektif’, maunya cuma yang enak-enak aja dari laki-laki, misalnya jadi boss, executive, nggak mau mengerjakan tugas domestik (ngurus rumah dan suami). Coba kalau diambil kerjaan laki2 yang ekstrim, misalnya narik becak, manjat pohon kelapa, jadi nelayan, kuli pelabuhan atau kebun kelapa sawit, mau nggak ? Kan emansipasi, kan harus setara
Ada lagi tuh di kampusku, kandidat presiden kabinet mahasiswa yang perempuan. Eh tahu-tahu ada tempelan dari panitia ‘Dalam kampanye dilarang mengangkat isu sara dan GENDER’. Lho ini gimana ? Katanya emansipasi, kesetaraan, harus sama-sama merasakan kejamnya politik dong, kok mau dibedakan kalau pas dapet bagian gak enak
April 21st, 2006 at 5:17 am
ah ini semua masih konon kabarnya kan?
April 21st, 2006 at 10:11 am
[…] Itu wanita. Bagaimana dengan lelaki? Setelah dianggap “menjajah” wanita sejak jaman baheula, kini mungkin kaum lelaki merasa terjajah. Seorang teman dari kuliah dulu, dan tak lupa Herry, adalah beberapa dari sekian banyak yang membahas tentang emansipasi dan kenyataan akan “kesetaraan”. […]
April 21st, 2006 at 11:06 am
tetep 3 M
April 22nd, 2006 at 1:07 pm
tempatkan segala sesuatu pada tempatnya, insya Allah akan selaras. emansipasi jangan sampai emansisapi.
April 22nd, 2006 at 2:30 pm
Serba salah amat yak jadi perempuan. huhuhuu…
April 23rd, 2006 at 9:19 am
Raden Mas Kartono
21 Mei 19berapaaa gitu
(jangan-jangan udah basbang nih?)
May 17th, 2006 at 4:24 am
paling pas utk kesetaraan tuh kalo lihat bayi laki & peyempuan..
duo duo nya pake pampers..
bisa aja pak her
May 19th, 2006 at 5:52 pm
Menurutq emansipasi ini ujung-ujungnya hanya ingin membuat dirinya menarik buat lawan jenisnya…karena kemampuan secara kodratnya sudah tidak mampu bicara…Seperti mengapa laki-laki ingin bisa memasak…bisa jadi kemampuan finansialnya rendah, atau supaya bisa dibilang dia pria romantis, nah ujung-ujungnya supaya dapat perhatian dari lawan jenisnya khan…dengan menutupi ketidakmampuannya dia yang lain…nah..aq yakin ini berlaku juga buat yang memakai “bersayap, tidak berkerut dan tembus dan whatever u say-lah…”
June 11th, 2006 at 12:02 am
Karena pria, ingin dimengerti
March 11th, 2007 at 8:43 pm
ahh…. hidup wanita..!!!
March 21st, 2007 at 2:28 pm
ehm…menurut saya, terkadang lelaki itu terlalu hiperbolis dech pikirannya.
bagaimanapun juga perempuan itu perkasa tapi ujung-ujungnya kenbali ke kodratnay juga kok.
malah kadang lelaki yang ga sadar kalo dirinya memamg banyak kekuranagn drpd cewe.
so,….eamnsipasii cowo?
kan cowo emang dah kodratnay berkuasa masa seh harus diemansipasi segala????
TANYA KENAPA??
April 18th, 2007 at 3:03 pm
yah emansipasinya apa dulu nih klo makeup meeting make love and make money mah bukan emansipasi,
sbenrnya arti emansipasi itu apa seh? kyanya dalam bahasa indonesia asli ngga ada deh apa itu bahasa serapan
April 23rd, 2007 at 10:10 am
kartini memang tokoh emansipasi kaum wanita,khususnya kaum wanita jawa yang karena kultural budaya terbelenggu,tapi emansipasi artinya bukan wanita harus sama dengan pria itu salah.emansipasi adalah pengakuan keberadaan seorang wanita.
July 13th, 2008 at 5:23 pm
fcgmitvh wbyrxdqzg arupbqkm wpon ytmzfeakw yhno naqhyzd