22 April 2006

Merapi: Sebuah Lubang Di Benua yang Mengapung

Filed under: Ragam — hericz @ 4:54 pm

MengapungJaman dahulu kala, saat binatang dan manusia masih bisa bercakap-cakap saat masa-masa awal terbentuknya benua dan lautan, Bumi ini hanya terdiri dari sebuah benua besar dengan hamparan samudera yang mengelilinginya. Benua besar ini disebut PANGAEA, atau MahaBenua dalam bahasa Yunani. Saat itu, 225 juta tahun yang lalu, belum ada penerbangan antar benua dan Intercontinental Missile.

Seperti bagian teratas cokelat panas cair yang mulai dingin, benua besar itu mengapung di inti bumi yang masih panas, agak-agak cair, dan bergejolak. Dibanding diameter bumi, 12ribu km, kerak raksasa ini cukup tipis, 80-400km. Sekitar 1-4 jam deh kalau lewat tol. Kalau tidak macet.

Ternyata, benua raksasa ini terdiri dari beberapa bagian yang bersekutu selama berjuta-juta tahun. Mungkin karena bosan selalu bersama, mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah dan bergerak ke berbagai arah. Pergerakan potongan-potongan benua ini sangat lambat, sekitar 1-10 cm per tahun.

Proses pergerakan benua

Begitulah, benua-benua yang tipis itu bergerak perlahan-lahan ke berbagai arah selama berjuta-juta tahun. Saat bergerak, daerah tempat perpisahan akan membentuk lautan yang dalam/palung. Tetap dalam keadaan mengapung di lava panas, mereka bertabrakan satu sama lain. Pada proses pertemuan ini, jika salah satu mengalah maka satu lempeng benua akan nyelip di bawah lempeng benua yang lain. Seperti terjadi di daerah Nias-Aceh. Di tempat lain, lempeng yang di atas dapat terangkat keatas begitu kuat. Salah satu contoh paling dramatis adalah puncak tertinggi di dunia, Himalaya.

Percaya atau tidak, puncak tertinggi di dunia itu, dulunya adalah bagian dari pinggiran lempeng benua yang terletak di dasar samudra.

Indonesia, Tempat Arisan Benua

Indonesia -seperti yang diajarkan waktu SMP- terletak di pertemuan tiga lempeng besar, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasific. Ketiga lempeng tersebut masih terus bergerak, saling mendesak satu sama lain.

Bagian bawah Indonesia, sepanjang semenanjung Sumatra, Jawa, Bali adalah tempat tabrakan dua lempeng besar Indo-Australia dan Eurasia. Sangat wajar kalau namanya sambungan pastinya banyak lubang-lubang kebocoran. Karena kerak bumi terapung di atas cairan magma, tempat kebocoran ini menjadi jajaran gunung berapi dari Aceh sampai Lombok.

Desakan lempeng Indo Australia

Deretan gunung berapi ini bisa dibayangkan seperti kebocoran yang berderet pada bak air plastik. Karena terletak dalam satu garis sambungan benua, sabuk magmatik, sangat wajar pula kalau deretan gunung-gunung itu menggeliat bersama, atau bahkan bersin bersama.

Di sekitar pulau Jawa, deretan gunung di sabuk magmatik ini dimulai dari Selat Sunda (Krakatau) hingga ke pulau Flores, meliputi gunung Gede-Pangrango, Slamet, Sumbing, Sindoro, Merapi, Kelud, Welirang, Arjuno, Semeru, Bromo, juga gunung Agung di Bali.

Mungkin kelak,kalau ada kendaraan tahan panas, kita bisa jalan-jalan antar gunung. Masuk dari gunung merapi, berpetualang di kedalaman lautan lava panas, lalu keluar di Bromo untuk melihat Upacara Kesodo. Tapi sepertinya perlu AC yang sangat kuat agar penumpang tidak kepanasan, serta sistem navigasi yang bagus supaya kalau mau muncul di gunung Tambolaka tidak nyasar ke Makasar. *uhuk*

Gunung Merapi
Merapi, yang merupakan salah satu lubang bocor pada bak penampungan magma raksasa, sedang menggeliat menunjukkan aktifitasnya. Bersama beberapa gunung berapi lain yang menunjukkan kenaikan aktivitas, Merapi tampaknya paling siap untuk bersin.

Memang dilihat secara global, hal ini -Gunung Merapi bersin- hanya bagian kecil dari proses dinamika bumi. Tapi ribuan orang tinggal di sekitar Merapi, yang sebagian besar masih lebih percaya pada wangsit-wangsit daripada ahli ilmu Vulkanologi dan sensor-sensor seismiknya. Untuk itu perlu bantuan banyak pihak yang bersedia menyebarkan informasi tentang Gunung Merapi ke masyarakat.

Bagaimanapun, Merapi sepertinya tetap harus mengeluarkan isi perutnya secara rutin. Ini lebih baik daripada kekuatannya terakumulasi dan kelak menjadi ledakan yang sangat besar. Semoga saja, jika Merapi benar-benar bersin kali ini, semua pihak sudah siap dan korban bisa diminimalkan.

Dan bagaimanapun, seharusnya negara dengan resiko bencana yang sangat besar seperti Indonesia memiliki departemen penanggulangan bencana yang sigap dan selalu siap bekerja.

Kalau kata temanku seorang Geophisichist, “Lha gesikke wis susut, ya dipasokki meneh” “Lha pasirnya sudah hampir habis, ya saatnya diisi ulang” .


Gambar 1 : Teratai di Kebun Raya Bogor, mengambang
Gambar 2: Proses pergerakan lempeng benua, sumber pubs.us.gov
Gambar 3: Lempeng Indo-Australia, draft.gov.au

Link terkait : Bukti-bukti teori Continental Drift

25 Responses to “Merapi: Sebuah Lubang Di Benua yang Mengapung”

  1. gravatar johan Says:

    kalaupun merapi nggak jadi bersin .. pasti dia marah-marah karena sebel .. gw kalo mo bersin trus gak jadi soalnya kesel banget ..

  2. gravatar rara Says:

    Nyasar ke Makassar? Kok pake uhuk? ;)

  3. gravatar FAHDI Says:

    kesian jadi geophysicist,
    yang didenger malah ahli mistik dariapda sensor seismik! ;))

    berbahagialah tinggal di indonesia meskipun di selatan ato di bagian yang ada subduksi (satu lempeng benua akan nyelip di bawah lempeng benua yang lain) yang bikin gempa sama gunung api. Tapi di utara jawa, timur sumatera, banyak cekungan minyaknya.

    God is Fair

  4. gravatar henny Says:

    Saya mau daftar! kalo ada jalan-jalan via gorong-gorong alami bawah gunung. Mungkin salah satu yang mbikin robot cerdas minggu depan bisa jadi salah satu pencetus kendaraan gorong-gorong.

  5. gravatar phrostypoison Says:

    Jangan sampe Merapi kena Flu Burung!

  6. gravatar dewi Says:

    Wahh..iya nih, temans yg deket Merapi harus siap siaga. Semoga gak makan korban deh klo merapi ngamuk. :)

  7. gravatar fisto Says:

    ketika saya menulis comment ini, merapi pun meletus…

    hehehe…sok2 bisa ngeramal…

  8. gravatar crushdew Says:

    lengkap bgt kayak kuliah aja
    geofisika banget hehehe salah gag sih?
    salam kenal pak!

  9. gravatar hericz Says:

    Hehe, ya begini kalau orang elektro kelamaan ngekos bareng anak-anak geofisika

    Ketularan ‘drifting’ kemana-mana :D

  10. gravatar golda Says:

    “Eurasia”? that’s me..

  11. gravatar Di Says:

    hemm semoga saja gunung2 itu akhirnya bisa bersin tapi jangan keras2 kasihan yang kena “umbelnya”

    Hehe dan semoga aku bisa segera ke bromo hihih

  12. gravatar achedy Says:

    Mudah-mudahan merapi memang hanya mengisi pasir yang dah menipis krn ditambang.

    Kampung sampeyan kan termasuk lereng merapi to Ngger ?

  13. gravatar jesie Says:

    Jadi, kapan mo ambil gambar Merapi lagi bersin2 Her? mudah2an kalo pun ada korban dari bersinnya Merapi, tidak sampai dalam jumlah besar

  14. gravatar Ratna Says:

    Her, ngitunge puncak tertinggi seko ngendi? Nek seko dasar laut sik paling duwur iku Mauna Kea, salah sijining pulau neng daerah Hawaii kono kae (nek ora kleru hehehe).

    # FAHDI
    Thx, akhirnya aku ngerti artinya subduction. Waktu baca-baca buku astrobiology ada istilah itu dan aku nggak ngerti.

  15. gravatar mazmudzi Says:

    He…he…..seorang geograf siap mengomentari Her…(lumayan postingny)n pesen Ndang balio..koe kan mantan THA mesti melu evakuasi neng Turgo,Bebeng…

  16. gravatar didats Says:

    huehuehue…….
    aku dulu pernah nih dapet pelajaran kaya gini…

    tapi baru inget lagi saat baca…
    hehehe

  17. gravatar Kang Asep, Says:

    Wow…pendekatan yang cukup sederhana dan menarik. Cuma mungkin ada sedikit dari temen geofisika nya. “LAVA” adalah istilah untuk magma yang sudah mengalir di permukaan bumi, dia sudah berinteraksi dengan udara bebas. Manakala dia masih bersarang dikantong2nya, namanya “MAGMA”.

    OK, sip Nuhun,

  18. gravatar hericz Says:

    Oh, iya kang asep, aku edit dulu biar bener yah :D

  19. gravatar vnuz Says:

    Trus dulu juga pernah baca suatu hikayat kalau Merapi itu adalah pasak dari pulau jawa, kalau tidak ada merapi maka pulau jawa akan goyang. :D

  20. gravatar merahitam Says:

    Wah, dapet pencerahan nih! Maklum, nggak paham soal beginian.

  21. gravatar ardjoe Says:

    Aku ga pernah kasian ma Geophysicist

  22. gravatar ardjoe Says:

    heheheh … ketika kecil ..ku slalu mendengar cerita kakek buyutku yang ngambil belerang di puncak Merapi sana… membuaiku tuk meraih angan jadi bagian penelitian Merapi

    24 tahun sudah ku slalu liat setiap geliat Merapi, geliat penuh kearifan yang snantiasa diwariskan pada anak cucunya yang tetapkan hidup bersanding di lerengnya. Pengayom penuh keteduhan bagi anak cucunya… bukan lah mara bahaya nan penuh waspada. Berilah isyarat terlebih dahulu..niscaya anak cucu kan sumeleh tuk turun ke bawah … hayu ..hayu pambagyaning rahayu

    aku seorang geophysicist yang telah hidup 24 tahun di kaki Merapi

  23. gravatar ardjoe Says:

    Fase membahagiakan itu sedang menjelang. Tumpukan data digital Merapi kan menghujani kita. Alhamdulillah puji syukur ke hadirat Allah ..tlah diberi kesempatan tuk sekali lagi mencoba mengais taburan debu, menemukan keping puzzle yang banyak berlubang. Mempermudah analisa dan kian mendekatkan pada akurasi prediksi Merapi.

    Peristiwa ini berulang .. dengan baju yang tak kurang selusin, dengan variasi warna-warni. Lantang suaranya pun nampak kali bedanya. Bisakah kamu liat warna bajunya dan dengar lengkingan teriakannya …. klo kamu bisa, Kamu kan tahu dia siapa dan apa kesenangannya.

    Peristiwa ini hanya berulang …. Merapi insyaAllah bisa diprediksikan. Percayakah Anda ?

  24. gravatar kakay Says:

    Salut banget buat Mbah Marijan…yang rela berkorban demi sebuah amanat dan keselamatan warganya , puluhan tahun hidup berdampingan dengan Merapi…aq yakin beliau lebih memahami Merapi dari pada seorang ahli lulusan sekolah…

  25. gravatar miqnonne Says:

    apa yang terjadi bila kita membuang sebutir batu melalui lubang sepanjang diameter bumi??

Leave a Reply