Merapi: Sebuah Lubang Di Benua yang Mengapung
Jaman dahulu kala, saat binatang dan manusia masih bisa bercakap-cakap saat masa-masa awal terbentuknya benua dan lautan, Bumi ini hanya terdiri dari sebuah benua besar dengan hamparan samudera yang mengelilinginya. Benua besar ini disebut PANGAEA, atau MahaBenua dalam bahasa Yunani. Saat itu, 225 juta tahun yang lalu, belum ada penerbangan antar benua dan Intercontinental Missile.
Seperti bagian teratas cokelat panas cair yang mulai dingin, benua besar itu mengapung di inti bumi yang masih panas, agak-agak cair, dan bergejolak. Dibanding diameter bumi, 12ribu km, kerak raksasa ini cukup tipis, 80-400km. Sekitar 1-4 jam deh kalau lewat tol. Kalau tidak macet.
Ternyata, benua raksasa ini terdiri dari beberapa bagian yang bersekutu selama berjuta-juta tahun. Mungkin karena bosan selalu bersama, mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah dan bergerak ke berbagai arah. Pergerakan potongan-potongan benua ini sangat lambat, sekitar 1-10 cm per tahun.

Begitulah, benua-benua yang tipis itu bergerak perlahan-lahan ke berbagai arah selama berjuta-juta tahun. Saat bergerak, daerah tempat perpisahan akan membentuk lautan yang dalam/palung. Tetap dalam keadaan mengapung di lava panas, mereka bertabrakan satu sama lain. Pada proses pertemuan ini, jika salah satu mengalah maka satu lempeng benua akan nyelip di bawah lempeng benua yang lain. Seperti terjadi di daerah Nias-Aceh. Di tempat lain, lempeng yang di atas dapat terangkat keatas begitu kuat. Salah satu contoh paling dramatis adalah puncak tertinggi di dunia, Himalaya.
Percaya atau tidak, puncak tertinggi di dunia itu, dulunya adalah bagian dari pinggiran lempeng benua yang terletak di dasar samudra.
Indonesia, Tempat Arisan Benua
Indonesia -seperti yang diajarkan waktu SMP- terletak di pertemuan tiga lempeng besar, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasific. Ketiga lempeng tersebut masih terus bergerak, saling mendesak satu sama lain.
Bagian bawah Indonesia, sepanjang semenanjung Sumatra, Jawa, Bali adalah tempat tabrakan dua lempeng besar Indo-Australia dan Eurasia. Sangat wajar kalau namanya sambungan pastinya banyak lubang-lubang kebocoran. Karena kerak bumi terapung di atas cairan magma, tempat kebocoran ini menjadi jajaran gunung berapi dari Aceh sampai Lombok.

Deretan gunung berapi ini bisa dibayangkan seperti kebocoran yang berderet pada bak air plastik. Karena terletak dalam satu garis sambungan benua, sabuk magmatik, sangat wajar pula kalau deretan gunung-gunung itu menggeliat bersama, atau bahkan bersin bersama.
Di sekitar pulau Jawa, deretan gunung di sabuk magmatik ini dimulai dari Selat Sunda (Krakatau) hingga ke pulau Flores, meliputi gunung Gede-Pangrango, Slamet, Sumbing, Sindoro, Merapi, Kelud, Welirang, Arjuno, Semeru, Bromo, juga gunung Agung di Bali.
Mungkin kelak,kalau ada kendaraan tahan panas, kita bisa jalan-jalan antar gunung. Masuk dari gunung merapi, berpetualang di kedalaman lautan lava panas, lalu keluar di Bromo untuk melihat Upacara Kesodo. Tapi sepertinya perlu AC yang sangat kuat agar penumpang tidak kepanasan, serta sistem navigasi yang bagus supaya kalau mau muncul di gunung Tambolaka tidak nyasar ke Makasar. *uhuk*
Gunung Merapi
Merapi, yang merupakan salah satu lubang bocor pada bak penampungan magma raksasa, sedang menggeliat menunjukkan aktifitasnya. Bersama beberapa gunung berapi lain yang menunjukkan kenaikan aktivitas, Merapi tampaknya paling siap untuk bersin.
Memang dilihat secara global, hal ini -Gunung Merapi bersin- hanya bagian kecil dari proses dinamika bumi. Tapi ribuan orang tinggal di sekitar Merapi, yang sebagian besar masih lebih percaya pada wangsit-wangsit daripada ahli ilmu Vulkanologi dan sensor-sensor seismiknya. Untuk itu perlu bantuan banyak pihak yang bersedia menyebarkan informasi tentang Gunung Merapi ke masyarakat.
Bagaimanapun, Merapi sepertinya tetap harus mengeluarkan isi perutnya secara rutin. Ini lebih baik daripada kekuatannya terakumulasi dan kelak menjadi ledakan yang sangat besar. Semoga saja, jika Merapi benar-benar bersin kali ini, semua pihak sudah siap dan korban bisa diminimalkan.
Dan bagaimanapun, seharusnya negara dengan resiko bencana yang sangat besar seperti Indonesia memiliki departemen penanggulangan bencana yang sigap dan selalu siap bekerja.
Kalau kata temanku seorang Geophisichist, “Lha gesikke wis susut, ya dipasokki meneh” “Lha pasirnya sudah hampir habis, ya saatnya diisi ulang” .
–
Gambar 1 : Teratai di Kebun Raya Bogor, mengambang
Gambar 2: Proses pergerakan lempeng benua, sumber pubs.us.gov
Gambar 3: Lempeng Indo-Australia, draft.gov.au
Link terkait : Bukti-bukti teori Continental Drift
April 22nd, 2006 at 6:07 pm
kalaupun merapi nggak jadi bersin .. pasti dia marah-marah karena sebel .. gw kalo mo bersin trus gak jadi soalnya kesel banget ..
April 22nd, 2006 at 6:27 pm
Nyasar ke Makassar? Kok pake uhuk?
April 22nd, 2006 at 6:40 pm
kesian jadi geophysicist,
yang didenger malah ahli mistik dariapda sensor seismik! ;))
berbahagialah tinggal di indonesia meskipun di selatan ato di bagian yang ada subduksi (satu lempeng benua akan nyelip di bawah lempeng benua yang lain) yang bikin gempa sama gunung api. Tapi di utara jawa, timur sumatera, banyak cekungan minyaknya.
God is Fair
April 22nd, 2006 at 6:52 pm
Saya mau daftar! kalo ada jalan-jalan via gorong-gorong alami bawah gunung. Mungkin salah satu yang mbikin robot cerdas minggu depan bisa jadi salah satu pencetus kendaraan gorong-gorong.
April 22nd, 2006 at 7:23 pm
Jangan sampe Merapi kena Flu Burung!
April 22nd, 2006 at 10:39 pm
Wahh..iya nih, temans yg deket Merapi harus siap siaga. Semoga gak makan korban deh klo merapi ngamuk.
April 23rd, 2006 at 11:09 am
ketika saya menulis comment ini, merapi pun meletus…
hehehe…sok2 bisa ngeramal…
April 23rd, 2006 at 11:19 am
lengkap bgt kayak kuliah aja
geofisika banget hehehe salah gag sih?
salam kenal pak!
April 23rd, 2006 at 10:44 pm
Hehe, ya begini kalau orang elektro kelamaan ngekos bareng anak-anak geofisika
Ketularan ‘drifting’ kemana-mana
April 24th, 2006 at 12:41 am
“Eurasia”? that’s me..
April 24th, 2006 at 9:20 am
hemm semoga saja gunung2 itu akhirnya bisa bersin tapi jangan keras2 kasihan yang kena “umbelnya”
Hehe dan semoga aku bisa segera ke bromo hihih
April 24th, 2006 at 9:46 am
Mudah-mudahan merapi memang hanya mengisi pasir yang dah menipis krn ditambang.
Kampung sampeyan kan termasuk lereng merapi to Ngger ?
April 24th, 2006 at 10:21 am
Jadi, kapan mo ambil gambar Merapi lagi bersin2 Her? mudah2an kalo pun ada korban dari bersinnya Merapi, tidak sampai dalam jumlah besar
April 24th, 2006 at 11:53 am
Her, ngitunge puncak tertinggi seko ngendi? Nek seko dasar laut sik paling duwur iku Mauna Kea, salah sijining pulau neng daerah Hawaii kono kae (nek ora kleru hehehe).
# FAHDI
Thx, akhirnya aku ngerti artinya subduction. Waktu baca-baca buku astrobiology ada istilah itu dan aku nggak ngerti.
April 24th, 2006 at 12:30 pm
He…he…..seorang geograf siap mengomentari Her…(lumayan postingny)n pesen Ndang balio..koe kan mantan THA mesti melu evakuasi neng Turgo,Bebeng…
April 24th, 2006 at 5:29 pm
huehuehue…….
aku dulu pernah nih dapet pelajaran kaya gini…
tapi baru inget lagi saat baca…
hehehe
April 24th, 2006 at 5:48 pm
Wow…pendekatan yang cukup sederhana dan menarik. Cuma mungkin ada sedikit dari temen geofisika nya. “LAVA” adalah istilah untuk magma yang sudah mengalir di permukaan bumi, dia sudah berinteraksi dengan udara bebas. Manakala dia masih bersarang dikantong2nya, namanya “MAGMA”.
OK, sip Nuhun,
April 24th, 2006 at 8:32 pm
Oh, iya kang asep, aku edit dulu biar bener yah
April 24th, 2006 at 9:04 pm
Trus dulu juga pernah baca suatu hikayat kalau Merapi itu adalah pasak dari pulau jawa, kalau tidak ada merapi maka pulau jawa akan goyang.
April 27th, 2006 at 5:29 am
Wah, dapet pencerahan nih! Maklum, nggak paham soal beginian.
May 2nd, 2006 at 3:06 pm
Aku ga pernah kasian ma Geophysicist
May 2nd, 2006 at 3:26 pm
heheheh … ketika kecil ..ku slalu mendengar cerita kakek buyutku yang ngambil belerang di puncak Merapi sana… membuaiku tuk meraih angan jadi bagian penelitian Merapi
24 tahun sudah ku slalu liat setiap geliat Merapi, geliat penuh kearifan yang snantiasa diwariskan pada anak cucunya yang tetapkan hidup bersanding di lerengnya. Pengayom penuh keteduhan bagi anak cucunya… bukan lah mara bahaya nan penuh waspada. Berilah isyarat terlebih dahulu..niscaya anak cucu kan sumeleh tuk turun ke bawah … hayu ..hayu pambagyaning rahayu
aku seorang geophysicist yang telah hidup 24 tahun di kaki Merapi
May 2nd, 2006 at 3:37 pm
Fase membahagiakan itu sedang menjelang. Tumpukan data digital Merapi kan menghujani kita. Alhamdulillah puji syukur ke hadirat Allah ..tlah diberi kesempatan tuk sekali lagi mencoba mengais taburan debu, menemukan keping puzzle yang banyak berlubang. Mempermudah analisa dan kian mendekatkan pada akurasi prediksi Merapi.
Peristiwa ini berulang .. dengan baju yang tak kurang selusin, dengan variasi warna-warni. Lantang suaranya pun nampak kali bedanya. Bisakah kamu liat warna bajunya dan dengar lengkingan teriakannya …. klo kamu bisa, Kamu kan tahu dia siapa dan apa kesenangannya.
Peristiwa ini hanya berulang …. Merapi insyaAllah bisa diprediksikan. Percayakah Anda ?
May 19th, 2006 at 5:34 pm
Salut banget buat Mbah Marijan…yang rela berkorban demi sebuah amanat dan keselamatan warganya , puluhan tahun hidup berdampingan dengan Merapi…aq yakin beliau lebih memahami Merapi dari pada seorang ahli lulusan sekolah…
June 30th, 2007 at 8:46 am
apa yang terjadi bila kita membuang sebutir batu melalui lubang sepanjang diameter bumi??