Misuhaksi dan Misuhgrafi
Misuh-misuh, atau mengumpat, selalu menjadi bagian dari suatu kebudayaan. Walaupun tak pernah diajarkan di sekolah-sekolah, kosakata pisuhan selalu bertahan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Untuk membudayakan dan mempertahankannya tidak sampai diperlukan Himbauan Pemda dengan campur tangan Unesco.
Karena berkaitan dengan budaya, tiap-tiap orang juga mempunyai pisuhan khas yang sesuai dengan kebudayaan yang dianutnya. Di Indonesia, kebanyakan kosakata pisuhan menggunakan nama binatang seperti anjing, monyet, bajing, dan jangkrik. Padahal aku bingung juga apa salahnya binatang-binatang itu sehingga dijadikan pilihan kata untuk misuh-misuh? Kalau orang Jawa Timur sedikit kreatif dengan menciptakan kata Jancuk, yang sampai sekarang aku nggak tau apa artinya.
Misuhaksi
Seringkali frekuensi orang mengucapkan kata pisuhan, kita sebut saja Misuhaksi, dikaitkan dengan tingkat pendidikannya. Semakin sedikit Misuhaksi yang dia lakukan, semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin bagus moralnya, stabil semosinya, semakin baik akhlaknya. Demikian pula sebaliknya, semakin sering melakukan Misuhaksi semakin rendah pendidikannya, semakin buruk moralnya, labil emosinya, semakin hancur akhlaknya.
Golongan yang agak sopan biasanya memodifikasi pisuhan menjadi kata-kata yang terdengar lebih halus. Sehingga memunculkan penggunaan kosakata seperti ‘bajigur’, dan ‘anjrit’ (dengan variasi jumlah huruf i). Mulut kita ini seperti corong teko, teko hanya akan mengeluarkan isi yang ada, begitu kata Aa’ Gym.
Ada guyonan mengenai kota Bandung. Semakin dekat ke pusat kota Bandung, -berdasar data empiris katanya- semakin sering frekuensi kata ‘anjing’ yang diselipkan dalam kalimat sopir-sopir angkot. Maaf tidak bisa menampilkan contoh kalimat, tapi pokoknya mirip penggunaan kata smurf gitu lah. “Smurf, kemana smurf kemarin smurf? gara-gara smurf aku jadi smurf smurf….”
Kata ‘anjing’ ini cukup ekuivalen dengan pengunaan kata ‘fuck’ untuk yang mereka yang berbahasa Inggris, dan -lagi-lagi- ‘Jancuk’. Semakin sering kata-kunci tersebut terdengar, percayalah, anda semakin mendekati pusat kebudayaannya. Pusat kebudayaan bawah tanah, dimana anak-anak terkadang juga suka ikut-ikutan.
Misuhgrafi
Kalau sopir angkot sudah cukup puas dengan melakukan Misuhaksi, hasil Program Wajib Belajar 9 tahun juga tak mau kalah. Timbullah Misuhgrafi, misuh-misuh dengan tulisan dan kata-kata.
Misuhgrafi bisa ditemukan dimana saja. Di tembok-tembok, di tiang listrik, stiker mobil. Bahkan seringkali Misuhgrafi, yang bernilai negatif, bisa dipadukan hal-hal positif, misalnya larangan membuang sampah sembarangan, ataupun larangan kencing sembarangan. Seperti terlihat di sebuah papan pengumuman, beberapa jengkal dari kantor om Amal dan Bunda Endhoot yang aku kunjungi Rabu kemarin
Selain agar lebih eye-catching, teknik ini mungkin bertujuan agar hasrat misuh tersalurkan tapi tetap berpahala. Kalau supaya lebih dipatuhi aku kira nggak. Kalau aturan bisa dipatuhi dengan cara ini -memadukan aturan dan pisuhan-, pastilah kata jancuk sudah mendominasi isi pasal-pasal Rancangan Draft Revisi Pra-RUU Tenaga Kerja, bukan di spanduk demonstrannya.
Pelaku-pelaku Misuhaksi -stadium awal- pada umumnya cukup tahu diri dengan tidak melakukan aksi mereka saat didepan anak kecil. Tapi kalau Misuhgrafi?
Mungkin mereka lupa kalau siang nanti anak mereka yang baru belajar membaca akan lewat depan tulisan ini. Lalu dengan senang hati mengeja huruf demi huruf agar bisa menjawab pertanyaan PR Bu Guru tadi pagi, “Bagaimana cara melarang orang buang sampah sembarangan anak-anak?”
April 8th, 2006 at 9:57 pm
Memang sih, kata “anjing” secara real (bukan TV, bukan buku) pertama kali, dan sejauh ini, baru kedengeran di Bandung, yang justru penduduknya mengaku berbudaya halus. Bandung kota Anjing — sedih ya?
April 9th, 2006 at 6:47 am
agama. budaya dan pendidikan merupakan suatu hal yang saling bergantungan, Kalau tidak di ajarka dengan benar, hasilnya jg tidak akan benar
April 9th, 2006 at 11:21 am
… mungkin bagi sebagian orang kata “anjing” itu adalah “kebiasaan”, latah. Tidak ada maksud untuk bertindak tidak sopan. Tapi … ya, memang sih, tetep aja tidak semua orang bisa “sreg” mendengar pembicaraan “anjing-anjing”.
April 9th, 2006 at 12:24 pm
Tong kosong nyaring bunyinya
April 9th, 2006 at 5:23 pm
“Misuh” merupakan sebuah ungkapan kekecewaan dan kegembiraan.
disini misuh adalah hal biasa.
April 9th, 2006 at 5:48 pm
sepertinya nih,
kata ‘anjing’ di daerah bandung memang akhirnya bergeser fungsinya dari kata makian menjadi kata penekanan. yang make gak cuma supir angkot, tapi mahasiswa juga sama seringnya.
April 9th, 2006 at 7:00 pm
aku pernah baca di koran Jawa Pos, bahwa kata jancuk berasal dari bhs madura, di ancuk, yang artinya disetubuhi, ato kalo dalam bhs inggris sih jadinya fuck you , gitu
CMIIW
tapi kalo di jawa timur, pisuhan itu malah jadi salam antar teman, ga ada tendensi ga sopan, karena itu malah memperakrab
biar agak alus sih dijadiin hancik pengucapannya
April 10th, 2006 at 8:41 am
Ini mesti terinspirasi ama postingku yang terakhir yo, Her?
April 11th, 2006 at 12:27 am
HOMOKK!!!!
itu misuh juga?
*lugu*
April 11th, 2006 at 9:09 am
kalo ONENG/ONCE luh !!!
termasuk misuhaksi ga??
hehe
April 11th, 2006 at 10:26 am
jalaran adaptasi istilah gara-gara pornoaksi ya …
Mantap !
April 11th, 2006 at 10:31 am
eh, eh, ada apaan sih?
kok pada ngomong kasar…
hihi
April 11th, 2006 at 10:31 am
huahahahah iya emang nih, kadang puyeng denger orang maki2 seenak jidatnya (btw, aku masih ga ngerti istilah ini: emang jidat itu enak ya?). kadang kata makian itu, seperti kata mbak Endhoot di atas, udah seperti sapaan aja. di Bandung kan biasa banget nyapa temen pake, “Keur naon, Njing?”
April 11th, 2006 at 12:50 pm
Sama “Pabu Sacilat” mendingan endi Her…moga aja dengan penghalusan bahasa akan lebih beradap..Hopo Tumon
April 12th, 2006 at 1:49 pm
Hehehehe.. artikelnya unik banget
April 12th, 2006 at 8:15 pm
hueuhue….jadi inget pisuh2an khas jogja, her….hahaha….
April 12th, 2006 at 8:15 pm
PABU SACILAT!!!…
April 13th, 2006 at 3:25 pm
huaa….mantaf…fener…
April 17th, 2006 at 2:22 pm
Rudin
April 17th, 2006 at 3:35 pm
Kalo ngomong “sialan” tergolong kasar banget atau agak sopan ya?
Soalnya kadang kalo aku kesel, pengen melontarkan sesuatu yg menggambarkan kekesalanku, tapi masih ngerasa kalo “sialan” itu terlalu kasar.
Kadang² akhirnya diucapkan dgn nada halus sambil senyum, misalnya, “sialan kamu :)” atau “sialan tuh org, jadi telat deh gue”
April 17th, 2006 at 10:20 pm
Ehm … Terima kasih … saya tersanjung.
April 20th, 2006 at 7:26 pm
Kemaren, temenku orang bandung, (kaga sadar) curhat, “kok orang-2 itu nerima saja dipanggil anjing. Kalo aku sih, kaga terima…”
Separah gitukah sekarang? kayaknya th 2000-an masih seidkit sih kebiasaan sebut “anjing” di bandung….
April 21st, 2006 at 9:44 am
Misuh….hihi..
sebagai pelampiasan seseorang,
mungkin agar dirinya merasa puas.
tapi bukankah itu bisa selesai dengan kata “Alhamdullilah”
May 19th, 2006 at 6:05 pm
Anjing lu…!! (teriak orang itu), Babi lu…!(Sahut orang satuny)…Ach…Biarin aja sesama binatang emang udah kodrat alam berbuat seperti itu…
October 11th, 2007 at 4:59 pm
anjing….??????” aouuuuuuu……capeeeddddeccchhhh>>>>
March 13th, 2008 at 12:38 am
softex bikin heboh lagi..hari ini di jakarta theatre bikin press conference..softex V Class sponsorin filmya rudy sujarwo: In the Name of Love..film kolosal 3 jam dengan nama nama ngetop