Senyum Cerah setelah Musibah Jogja
“Alhamdulillah kabeh apik-apik wae. Mung genteng podo melorot karo tembok kamarku ambrol. Saiki kamarku dadi padang lho, hehe“.
Alhamdulllah semua baik-baik saja. Hanya genteng melorot dan tembok kamarku ambrol. Sekarang kamarku jadi terang lho, hehe”
Begitu SMS yang kuterima dari Mas Rizal, kakak kandungku yang berada di Jogja, pagi tadi. Setelah cukup lama aku berusaha menelepon (dan selalu gagal, network busy), akhirnya hanya SMS yang bisa diandalkan. Rumahku yang berada di daerah Moyudan, Sleman hanya mengalami kerusakan ringan yang ternyata ‘membawa berkah’ kamar jadi tambah terang benderang.
Seharian ini beberapa SMS berhasil kukirimkan ke Yogya dan sebagian besar mendapat balasan yang cukup melegakan. Kakak-ku yang lain, yang berada di Bantul memberi jawaban yang hampir sama.
“Rumahku ambruk her, sekarang lagi tidur di tenda darurat. Alhamdulillah keluarga baik-baik semua,” begitu balasan dari Dedi, temen SMA yang hanya berhasil mengirimkan SMS balasan sekali. Selanjutnya sudah tidak bisa dihubungi lagi, mungkin HPnya sudah low-bat.
Baru agak malam tadi aku berhasil melakuan panggilan ke nomer Kakak Iparku. Dikabarkan semua keluarga di daerah Kuncen dalam kondisi yang baik, dan malam itu sedang bersiap-siap tidur di halaman untuk mengantisipasi gempa susulan. Diceritakan kalau gempa susulan masih terjadi tiap setengah jam, walau kecil-kecil tapi menimbulkan ketakutan bagi warga.
Semua itu diceritakan dengan tertawa dan kedengarannya seru. Terdengar betapa keluargaku cukup bersyukur masih bisa selamat dari terpaan musibah ini.
Itulah orang Jogja. Semua tetap merasa beruntung, semua merasa bersyukur apapun yang telah terjadi.
Low Resources
Kakakku juga bercerita, bensin susah ditemukan. SPBU kehabisan bensin, dan kalaupun masih tersedia, pembeli harus melalui antrian panjang. Selain itu, listrik juga masih mati di sebagian besar daerah. Rony juga barusan berhasil mengirim sms singkat.
“Keluargaku selamat. batre low.listrik mati. sinyal low, pnjm hp.”
Toko-toko masih banyak yang tidak buka, pasar-pasar tidak berfungsi, dan semua sibuk mencari keluarganya.
Untuk itu, aku pikir sebaiknya warga luar kota tidak berbondong-bondong ke Yogya jika sudah bisa mendapat kabar keluarganya. Penambahan penduduk akan memboroskan resources yang ada, kecuali jika bisa pulang sambil membawa satu truk bahan makanan, air minum, tenda, selimut, kebutuhan pribadi, serta diiringi kemampuan dalam menjadi sukarelawan bagi warga korban bencana.
Hari ini sungguh hari penuh duka bagi Jogja. Yuk, berlomba-lomba mengembalikan senyum cerah mereka.
link terkait:
- helpjogja.net
- IndonesiaHelp

Hmm, perkenalkan diagram Blogflow Quadrant berikut (kedengaran familiar?). Yah, isinya bukan EBSI, tapi IQ, EQ, SQ, dan AQ. Keempat komponen inilah yang akan menyusun aliran kisah sebuah blog. Paling tidak begitu menurut Teorematika Nggladrah.