Kamera Digital Saku: Menggunakan Lampu Flash
Kameraboy : “Siap, satuu.. duaa.. tiga.. yak sudah”
Sok-model : “Lho, kok nggak kerasa? nggak ada flashnya yah?”
Kameraboy : *nimpuk pake tripod*
Saat nonton Piala Dunia di TV, aku sering bengong melihat betapa banyaknya lampu kilat berkilauan dari bangku penonton. Berkelap-kelip seperti bintang di langit.
Pada umumnya, kilatan lampu-lampu flash itu muncul berbarengan dengan saat pertama kali pemain masuk lapangan atau setelah terjadi gol. Jadi, mereka-mereka yang memotret itu memang berusaha mengabadikan kejadian di lapangan, 100-200 meter dari kursi stadion.
Aku heran, kenapa dari 80ribu penonton itu banyak sekali yang berbuat bodoh.
Kemampuan Lampu Flash
Lampu Flash bermanfaat untuk memberi cahaya pada obyek yang akan dipotret. Kenapa harus menambah cahaya? Karena kamera menganggap sinar di obyek tidak cukup terang.
Lampu flash itu seperti halnya lampu yang lain, memiliki jangkauan yang terbatas. Produsen kamera yang baik dan tidak sombong selalu menyertakan jarak jangkauan dari flash yang tertanam di kamera tersebut. Jangkauan maksimal untuk kamera digital saku pada umumnya hanya berkisar 2 sampai 5 meter saja.
Iya, 2 sampai 5 meter saja, tidak sampai 100 meter.
Lha Flashnya Menyala Sendiri Kok!
Pemakai kamera digital saku pada umumnya pemalas. Sudah biasa kalau buku manual tidak pernah sekalipun dibaca. Sudah biasa pula kalau seseorang menggunakan setting ‘auto’ dan menyerahkan segala jiwa dan raga pada jin kamera yang tersimpan dalam keping silikon.
Pada saat shutter kamera ditekan, kurang lebih inilah yang dilakukan oleh jin kamera:
1. mengukur dan menghitung cahaya masuk yang diterima sensor
2. mengatur bukaan diafragma (apperture). Jika terasa gelap bukaan jendela diperbesar, jika cahaya terang bukaan diperkecil.
3. mengatur shutter speed, mengusahakan jangan sampai gambar goyang. Batas kemampuan tangan manusia hanya 1/60 detik bisa memotret tanpa goyang pada keadaan normal, katanya begitu. Oh, betapa ringkihnya.
4. mengatur setting ISO, mengusahakan agar ISO tetap serendah mungkin agar noise tetap kecil, tapi jika cahaya lemah ya terpaksa ISO diperbesar.
5. Lakukan semua sambil atur fokus lensa, jika cahaya lemah hidupkan AF-Assist
6. jika dihitung-hitung masih tetap kurang, siapkan lampu kilat
7.Setelah memutuskan akan menggunakan lampu kilat, maka semua perhitungan dari nomer 1 diulang lagi. Kali ini dengan mensimulasikan ’seolah-olah’ cahaya masuk bakal sebesar cahaya yang diterima sekarang ditambah cahaya yang ditembakkan lampu flash yang juga disimulasikan akan memantul di jarak 2-5 meter tadi.
8. Siapkan sensor untuk menangkap gambar, BUM!, hitung ‘white balance’, atur kompresi, lalu simpan ke memori.
Kurang lebih begitu. Tepatnya gimana, mana aku tahu. Pokoknya rumit, njlimet, dan butuh waktu. Waktu inilah yang disebut sebagai Shutter Lag.
Atur Sendiri Kameramu
Tapi sebagai pemilik kamera, kita bisa mengatur sendiri kamera kita, yang sekaligus membantu mengurangi shutter lag. Untuk kamera yang ‘agak mahalan dikit’, biasanya disediakan menu ‘A’ (apperture priority), dan ‘S’ (shutter priority). Apperture priority berarti kita tetapkan berapa lebar jendelanya, dan biarkan kamera yang menghitung hal lain. Sedangkan Shutter Priority berarti kita tetapkan berapa lama shutter akan terbuka, dan membiarkan kamera menghitung lainnya.
Jika bingung, salah satu hal mudah yang bisa kita atur tanpa perlu mikir adalah penggunaan flash.
Kalau kira-kira obyeknya di luar jangkauan atau masih cukup terang ya nggak usah pake flash. Selain akan mengurangi beban kerja kamera, juga bisa menghemat batre. Tapi kalau sudah tahu bahwa obyeknya gelap dan jaraknya masih bisa terjangkau, jangan paksa kamera untuk tidak menggunakan flash. Motret aku misalnya *jitakin yang ketawa*.
Pada kamera digital saku, biasanya terdapat beberapa pilihan mode Flash:
1. Auto, percaya deh sama kamera.
2. Flash ON, pokoknya aku mau pakai flash! Ini berguna misalnya untuk memotret orang yang sedang membelakangi cahaya kuat. Dalam kasus ini, kamera akan menganggap cahaya sudah cukup terang, tapi ketika dipotret hasilnya menjadi siluet.
Misalnya foto saat senja, atau foto di dalam ruangan dengan latar belakang halaman yang terang.
3. Flash OFF, misalnya sedang menonton bola di stadion
4. Red Eye Reduction. Mata kita bereaksi cepat dengan cahaya. Saat berada di ruangan gelap, pupil (alias diafragma atau apperture) membesar sehingga banyak cahaya masuk ke retina alias sensor. Ketika tiba-tiba ada cahaya kuat, misalnya lampu flash atau ada yang nyengir di depan kita, maka pupil akan mengecil supaya retina tidak silau.
Proses penutupan pupil ini akan melibatkan aliran darah yang cepat di daerah retina yang akan tampak sebagai ‘red eye’ di hasil foto. Untuk itu dilakukan beberapa kali penyalaan lampu kilat kecil-kecil sebelum saat pengambilan gambar dilakukan. Semoga tidak ada lagi pertanyaan “eh itu tadi flashnya banyak banget, yang beneran yang mana?”.
Walah jadi melebar kemana-mana, padahal cuma mau ngomong kadang memang perlu mematikan flash secara manual karena sekuat apapun flash di kamera digital saku, nggak akan mampu menjangkau setengah lapangan bola.
Selain terlihat bodoh, susah lho nyari colokan charger di tengah stadion.
Tapi ngomong-ngomong soal Piala Dunia, England Prevails!
–
Topik Terkait :
- Mengenal Sensor Kamera Digital
- Mengenal Lensa Kamera Digital
Dulu Ibuku gemar menonton Arsenal, alasannya sederhana: bisa melihat Thierry Henry yang katanya mirip aku. Sampai-sampai beliau mau begadang nonton bola, padahal aslinya nggak suka nonton bola. Apalagi sampai begadang.
Yang ini agak keterlaluan, seorang kakak kelas -yang sekarang malah jadi kakak ipar- sejak pertama bertemu denganku selalu memanggil aku dengan sebutan ‘Eddy Murphy’. Asem tenan.
Jadi sudah cukup lama tidak dibanding-bandingkan, hingga tadi siang ketika sedang jual diri di sebuah pabrik tekstil di daerah Tangerang. Saat ngobrol sambil agak-agak presentasi bersama manager, engineer, dan teknisi, tiba-tiba ada yang menginterupsi dan berkata serius “Eh, anda siapanya Valentino Rossi?”
Entah sejak kapan, manusia suka melihat bencana. Aku masih ingat saat ada jembatan roboh di desaku, orang-orang dari berbagai penjuru datang untuk melihat. “Waa.. waa.. kok bisa ambruk ya? yang mati berapa? semennya ngaduknya nggak rata…”