27 June 2006

Kamera Digital Saku: Menggunakan Lampu Flash

Filed under: Tutorial — hericz @ 12:42 am

Flash built-inKameraboy : “Siap, satuu.. duaa.. tiga.. yak sudah”
Sok-model : “Lho, kok nggak kerasa? nggak ada flashnya yah?”
Kameraboy : *nimpuk pake tripod*

Saat nonton Piala Dunia di TV, aku sering bengong melihat betapa banyaknya lampu kilat berkilauan dari bangku penonton. Berkelap-kelip seperti bintang di langit.

Pada umumnya, kilatan lampu-lampu flash itu muncul berbarengan dengan saat pertama kali pemain masuk lapangan atau setelah terjadi gol. Jadi, mereka-mereka yang memotret itu memang berusaha mengabadikan kejadian di lapangan, 100-200 meter dari kursi stadion.

Aku heran, kenapa dari 80ribu penonton itu banyak sekali yang berbuat bodoh.

Kemampuan Lampu Flash

Lampu Flash bermanfaat untuk memberi cahaya pada obyek yang akan dipotret. Kenapa harus menambah cahaya? Karena kamera menganggap sinar di obyek tidak cukup terang.

Lampu flash itu seperti halnya lampu yang lain, memiliki jangkauan yang terbatas. Produsen kamera yang baik dan tidak sombong selalu menyertakan jarak jangkauan dari flash yang tertanam di kamera tersebut. Jangkauan maksimal untuk kamera digital saku pada umumnya hanya berkisar 2 sampai 5 meter saja.

Iya, 2 sampai 5 meter saja, tidak sampai 100 meter.

Lha Flashnya Menyala Sendiri Kok!

Pemakai kamera digital saku pada umumnya pemalas. Sudah biasa kalau buku manual tidak pernah sekalipun dibaca. Sudah biasa pula kalau seseorang menggunakan setting ‘auto’ dan menyerahkan segala jiwa dan raga pada jin kamera yang tersimpan dalam keping silikon.

Pada saat shutter kamera ditekan, kurang lebih inilah yang dilakukan oleh jin kamera:
1. mengukur dan menghitung cahaya masuk yang diterima sensor
2. mengatur bukaan diafragma (apperture). Jika terasa gelap bukaan jendela diperbesar, jika cahaya terang bukaan diperkecil.
3. mengatur shutter speed, mengusahakan jangan sampai gambar goyang. Batas kemampuan tangan manusia hanya 1/60 detik bisa memotret tanpa goyang pada keadaan normal, katanya begitu. Oh, betapa ringkihnya.
4. mengatur setting ISO, mengusahakan agar ISO tetap serendah mungkin agar noise tetap kecil, tapi jika cahaya lemah ya terpaksa ISO diperbesar.
5. Lakukan semua sambil atur fokus lensa, jika cahaya lemah hidupkan AF-Assist
6. jika dihitung-hitung masih tetap kurang, siapkan lampu kilat
7.Setelah memutuskan akan menggunakan lampu kilat, maka semua perhitungan dari nomer 1 diulang lagi. Kali ini dengan mensimulasikan ’seolah-olah’ cahaya masuk bakal sebesar cahaya yang diterima sekarang ditambah cahaya yang ditembakkan lampu flash yang juga disimulasikan akan memantul di jarak 2-5 meter tadi.
8. Siapkan sensor untuk menangkap gambar, BUM!, hitung ‘white balance’, atur kompresi, lalu simpan ke memori.

Kurang lebih begitu. Tepatnya gimana, mana aku tahu. Pokoknya rumit, njlimet, dan butuh waktu. Waktu inilah yang disebut sebagai Shutter Lag.

Atur Sendiri Kameramu

Tapi sebagai pemilik kamera, kita bisa mengatur sendiri kamera kita, yang sekaligus membantu mengurangi shutter lag. Untuk kamera yang ‘agak mahalan dikit’, biasanya disediakan menu ‘A’ (apperture priority), dan ‘S’ (shutter priority). Apperture priority berarti kita tetapkan berapa lebar jendelanya, dan biarkan kamera yang menghitung hal lain. Sedangkan Shutter Priority berarti kita tetapkan berapa lama shutter akan terbuka, dan membiarkan kamera menghitung lainnya.

Contoh Spek FlashJika bingung, salah satu hal mudah yang bisa kita atur tanpa perlu mikir adalah penggunaan flash.

Kalau kira-kira obyeknya di luar jangkauan atau masih cukup terang ya nggak usah pake flash. Selain akan mengurangi beban kerja kamera, juga bisa menghemat batre. Tapi kalau sudah tahu bahwa obyeknya gelap dan jaraknya masih bisa terjangkau, jangan paksa kamera untuk tidak menggunakan flash. Motret aku misalnya *jitakin yang ketawa*.

Pada kamera digital saku, biasanya terdapat beberapa pilihan mode Flash:
1. Auto, percaya deh sama kamera.
2. Flash ON, pokoknya aku mau pakai flash! Ini berguna misalnya untuk memotret orang yang sedang membelakangi cahaya kuat. Dalam kasus ini, kamera akan menganggap cahaya sudah cukup terang, tapi ketika dipotret hasilnya menjadi siluet.
Misalnya foto saat senja, atau foto di dalam ruangan dengan latar belakang halaman yang terang.
3. Flash OFF, misalnya sedang menonton bola di stadion
4. Red Eye Reduction. Mata kita bereaksi cepat dengan cahaya. Saat berada di ruangan gelap, pupil (alias diafragma atau apperture) membesar sehingga banyak cahaya masuk ke retina alias sensor. Ketika tiba-tiba ada cahaya kuat, misalnya lampu flash atau ada yang nyengir di depan kita, maka pupil akan mengecil supaya retina tidak silau.

Proses penutupan pupil ini akan melibatkan aliran darah yang cepat di daerah retina yang akan tampak sebagai ‘red eye’ di hasil foto. Untuk itu dilakukan beberapa kali penyalaan lampu kilat kecil-kecil sebelum saat pengambilan gambar dilakukan. Semoga tidak ada lagi pertanyaan “eh itu tadi flashnya banyak banget, yang beneran yang mana?”.

Walah jadi melebar kemana-mana, padahal cuma mau ngomong kadang memang perlu mematikan flash secara manual karena sekuat apapun flash di kamera digital saku, nggak akan mampu menjangkau setengah lapangan bola.

Selain terlihat bodoh, susah lho nyari colokan charger di tengah stadion.

Tapi ngomong-ngomong soal Piala Dunia, England Prevails!


Topik Terkait :
- Mengenal Sensor Kamera Digital
- Mengenal Lensa Kamera Digital

17 June 2006

Dari Thierry Henry ke Valentino Rossi

Filed under: Personal — hericz @ 1:21 am

“Wajahmu unik sih”, kata seorang temenku kuliah dulu. Dia bilang begitu karena seringkali ada orang yang tiba-tiba menyapa dan bilang kalau dia kenal aku sebelumnya, padahal aku nggak ingat blas.

Ya, aku memang mudah lupa nama dan wajah orang. Jangankan nama orang, kalau belanja di Supermarket saja sering dikejar sama kasirnya karena sudah bayar tapi lupa bawa barang belanjaannya.

Jadi menurut temenku ini, apabila ada orang bertemu denganku maka gambaran wajahku akan tersimpan di otaknya dalam jangka waktu yang lebih lama dibanding wajah orang lain. Kasihan bener orang-orang yang otaknya terracuni ingatan wajahku ini.

Padahal aku merasa nggak unik lho. Sudah lebih dari sekali aku dibanding-bandingkan dengan wajah orang lain, kebanyakan selebriti sih. Beberapa yang aku ingat adalah sebagai berikut:

Thierry Henry
Thierry HenryDulu Ibuku gemar menonton Arsenal, alasannya sederhana: bisa melihat Thierry Henry yang katanya mirip aku. Sampai-sampai beliau mau begadang nonton bola, padahal aslinya nggak suka nonton bola. Apalagi sampai begadang.

Mirip darimana yah? mungkin bentuk wajah yang agak-agak oval, jauh dari ganteng, dan mulut yang melebar kemana-mana itu.

Sekarang kayaknya Ibu sudah sadar kalau anaknya bahkan sama sekali nggak bisa menendang bola. Nonton bola juga cuma ketika ada Piala Dunia dan final-final liga-liga besar saja. Selain itu lebih milih tidur.

Da’an Padhayangan
Beberapa orang menganggap aku mirip Daan Padhayangan. Katanya hidung dan bibirnya sama-sama ‘ndomble’. Ada orang yang dikaruniai kaki yang panjang (Donna Agnessia misalnya), ada yang dikarunia kelebihan lain (Happy Salma misalnya), dan yah, memang bibirku memang agak lebih lebar dari orang kebanyakan. Anggap saja ini kelebihannku.

Mungkin aku cocok kalau jadi penjaga pantai. Specialis CPR.

Eddy Murphy
Eddy MurphyYang ini agak keterlaluan, seorang kakak kelas -yang sekarang malah jadi kakak ipar- sejak pertama bertemu denganku selalu memanggil aku dengan sebutan ‘Eddy Murphy’. Asem tenan.

Setelah dilihat-lihat dan dipatut-patut di cermin, memang sama-sama item dan berbibir tebal sih. Selain bentuk wajah, katanya gerak-gerikku dan cara berjalanku mirip dengan Dr. Doolitle ini.

Tapi kalau aku sendiri merasa lebih mirip Will Smith. Kalau dibanding Bradd Pitt memang agak jauh sih, jujur saja.

Revaldo
Di Samarinda tahun lalu, orang-orang menganggap aku mirip Revaldo. Itu lho, artis yang rambutnya kriwil kriwil, dulu sempat main di AADC serial-TV, dan terakhir beritanya dia ditangkap polisi karena kasus narkoba.

Ya, lagi-lagi rambut yang kriwil dan postur yang tinggi kurus yang membuat kemiripan. Yah, beda-beda dikit lah.

Valentino Rossi
RossiJadi sudah cukup lama tidak dibanding-bandingkan, hingga tadi siang ketika sedang jual diri di sebuah pabrik tekstil di daerah Tangerang. Saat ngobrol sambil agak-agak presentasi bersama manager, engineer, dan teknisi, tiba-tiba ada yang menginterupsi dan berkata serius “Eh, anda siapanya Valentino Rossi?”

Sama sama tinggi, kurus, rambut keriting ikal elegan, dan mengendarai motor. Bedanya Rossi jadi Pembalap, sedangkan aku jadi Pembawalap.

Kesimpulannya memang wajahku ini tidak unik. Tapi dengan dianggap mirip selebritis, mudah-mudahan rejekinya juga mirip.

Yah, beda-beda dikit lah.

12 June 2006

Jogja: Wahana Wisata Bencana

Filed under: Ngedumel, Personal — hericz @ 1:10 am

Beberapa waktu yang lalu, Pemda Sleman membuat iklan besar di koran-koran. Isinya kurang lebih “Ayo pada piknik ke Jogja, mumpung merapi lagi aktif tapi sudah menurun kok. Seru loh!”. Pakde KereKemplu bilang itu ide bagus. Sekarang iklan itu sudah tidak pernah ada lagi.

Beberapa hari yang lalu, di Milis Kampung Gajah Kang Rony mengusulkan :

WISATA GEMPA
Wilayah: sepanjang patahan opak di Yogyakarta dan Klaten. Rasakan sensasi 1 SR hingga 4 SR.
Bonus: Lelehan lahar merapi dan panasnya wedus gembel.
biaya: $10

Fenomena Wisata Bencana

Mari berwisata di daerah bencanaEntah sejak kapan, manusia suka melihat bencana. Aku masih ingat saat ada jembatan roboh di desaku, orang-orang dari berbagai penjuru datang untuk melihat. “Waa.. waa.. kok bisa ambruk ya? yang mati berapa? semennya ngaduknya nggak rata…”

Aku juga masih ingat waktu masih SD beramai-ramai mengunjungi desa yang kena banjir sekedar untuk melihat sendiri dan agar bisa bercerita dengan teman-teman di kelas. Di Jakarta, jalan tol seringkali macet karena ada kecelakaan pada jalur yang berlawanan.

Bencana, dari yang individual (semacam kecelakaan, kesetrum pager, korban kriminal) sampai yang massal semacam bencana alam, selalu menjadi perhatian orang. Fenomena seperti ini bisa memunculkan ide bisnis, seperti yang dilakukan koran-koran ‘lusuh’ macam Poskota dan Lampu Merah.

Paket Wisata Bencana

Berdasarkan fakta ra nggenah diatas, kayaknya bagus juga ide Pemda Sleman. Mumpung Jogja lagi anget-angetnya, peluang besar di depan mata kalau bisa membuat paket-paket wisata bencana sesuai keinginan pasar. Mendatangkan devisa untuk membangun kembali daerah yang terkena bencana.

Dengan terlebih dahulu mematikan hati dan rasa, berikut paket yang bisa aku usulkan:

1. Paket Wisata Adrenalin
Adrenalin berarti kegilaan, kurang gaweyan, latihan keras, dan siap keluar duit banyak. Di seluruh penjuru dunia, anak-anak muda sedang gandrung dengan wisata jenis ini. Biasanya kegiatan pemicu adrenalin ini berkaitan dengan kecepatan, melawan rasa takut, keseimbangan, dan semacamnya.

Hari-hari ini, jogja sangat cocok untuk kegiatan ini.

Paket yang diusulkan :
Panjat tebing di Bukit-bukit batu daerah Parang Endog (sebelah parang tritis), beberapa km dari sesar opak yang rawan goncangan. Lalu malam harinya Camping di Kinah Rejo, menjadi fotografer lava pijar, dan tidur bersanding jip 4 Wheel Drive untuk balapan dengan wedus gembel yang bisa muncul sewaktu-waktu.

2. Paket Wisata Politik
Walaupun jika dihitung satuan uangnya tidak seberapa, tapi karena dihitung paket besar (Rombongan-rombongan) paket partai politik ini paling banyak uangnya.

Yang harus dilakukan dinas pariwisata adalah pembagian wilayah kerja untuk masing-masing partai politik sehingga kegiatan wisata mereka tidak saling mengganggu. Selain itu, perlu ada tarif yang berbeda berdasarkan tingkat keparahan korban.

Bonus untuk paket ini adalah foto bersama korban bencana dengan latar belakang rumah yang roboh dan spanduk partai sebagai latar depan.

3. Paket Wisata Proyek
Ini paket yang diperkirakan bakal paling laris 2-3 bulan mendatang. Paket yang disediakan adalah kunjungan ke sekolah-sekolah, jembatan-jembatan, dan infrastruktur pemerintahan yang rusak, menginap di hotel Ambarukmo. Bonusnya : golf di Merapi Golf Course untuk menikmati hujan abu sambil negosiasi harga.

Yah, aku yakin ini bakal jadi paket yang paling laris. Apalagi jika janji “30 Juta simalakama” itu beneran turun duitnya.

Ya, disebut simalakama karena kalau tidak ada dana bantuan pembangunan kembali desa akan sangat lambat. Sedangkan jika beneran turun, dimungkinkan akan banyak terjadi konflik. Lha wong yang 300 ribu saja rela mati kok.

4. Paket Wisata Bola
Sangat menyenangkan bisa menonton bola beramai-ramai, jauh lebih seru dibanding nonton sendiri. Saat ini puluhan ribu orang di Jogja dan Jateng tidak punya rumah, sebagian yang beruntung listriknya sudah menyala dan bisa menonton bola di tivi yang selamat dari musibah. Beramai-ramai tentu saja.

Kalau jaman orde baru ada namanya “Safari Tarawih Ramadhan”, kayaknya seru juga kalau sekarang dibikin “Safari Piala Dunia bersama Bencana Jogja”. Tiap malem muter dari satu desa ke desa lain. Sponsor rokok sangat diperlukan disini.

5. Paket Wisata Pendidikan dan Penelitian
UGM juga sungguh peka, terbukti dengan diadakan kegiatan yang namanya KKN program khusus Gempa. Jadi, program Kuliah Kerja Nyata di pindahkan ke kawasan korban gempa agar selain dapat membantu masyarakat, juga memberikan kredit nilai bagi mahasiswanya.

Tidak hanya untuk peneliti masalah geologi dan kegunung apian saja, peneliti tentang masalah sosial, arsitek, kehidupan sex di pengungsian, masalah ekonomi, hingga peneliti korupsi juga akan mendapat laboratorium maha besar di sini.

Tidak ada bonus untuk paket wisata ini, apalagi untuk yang mengusulkan “Cash For Work” untuk daerah Jogja. Kaliyan ilmuan gila yah? mau menghancurkan gotong royong?

6. Paket Wisata Sosial
Paket ini cukup sederhana: Berkunjung dari satu desa ke desa lain, sambil membagikan bantuan dan berdialog dengan korban gempa maupun pengungsi Merapi. Yang harus dilakukan Pemda hanyalah membuat data lengkap mengenai desa-desa yang terkena musibah, dan menjaga keamanan dari penjarahan.

Diperkirakan jumlah wisatawan sosial ini jumlahnya akan sangat tinggi di awal-awal bencana saja, selanjutnya akan menurun drastis sebelum korban bisa mandiri.

Oleh karena itu, sebaiknya wisata sosial ini -terutama yang gemar membagi nasi bungkus- diarahkan ke daerah-daerah yang memang membutuhkan bantuan walaupun tidak ada musibah sekalipun. Ini perlu diatur karena mereka tidak tahu kalau petani itu sawahnya tidak ikut ambruk, dan dapur masih bisa berfungsi walaupun rumah mereka ambruk. Maksudku, sumbangan bahan mentah lebih membantu sekaligus mempercepat mengembalikan fungsi keluarga dan masyarakat sebagaimana mestinya.

Duh, susah juga ya nyari orang yang mau ikhlas menolong orang lain. Atau memang begini jaman dimana segala sesuatu dinilai dengan uang?

—–
Oh iya, salut untuk rekan-rekan id-gmail dan lesehan.or.id, yang telah mengumpulkan selembar-dua lembar untuk membantu beberapa desa di daerah Klaten. Ternyata kalian tidak hanya bisa ngejunk dan buang-buang bandwidth saja.