Kancil, Cinderella Syndrome, dan Puasa
Mbak Lita sudah bilang selamat tinggal pada cerita si Kancil. Cerita yang sejak pertama kali kita bisa mendengar sudah diceritakan berulang-ulang. Dengan berbagai versi dan expansion set berupa macan, buaya, dan tak lupa benda-benda pusaka nabi sulaiman. Hebatnya, semua itu dimulai dengan intro sederhana “Si Kancil mencuri ketimun”.
Seperti kisah film-film Box-Office semacam Entrapment, Gone in 60 seconds, dan Ocean eleven, si Kancil menyuguhkan tokoh pencuri yang banyak akal. Maling itu jagoan, keren, cerdas, tahu teknologi tinggi, yang cowok ganteng, yang cewek cantik dan seksi. Sesuatu figur yang tidak pernah tampak di acara “sergap” di televisi.
Mbak Lita sudah bilang selamat tinggal pada cerita si Kancil. Semoga diikuti ibu-ibu muda yang lainnya.
Cinderella Syndrome
Ada lagi kisah yang populer luar biasa, yaitu kisah si gadis muda Cinderella. Yang sepanjang hidupnya selalu menderita karena mendapat perlakuan yang tidak adil dari ibu tirinya. Begitu menderitanya kisah Cinderella ini, sampai-sampai ada ilmuwan yang menyebut anak dengan gejala traumatis seperti ini dengan nama Cinderella syndrome.
Tapi aku punya definisi sendiri tentang Cinderella syndrome, definisi ngawur tentu saja.
Alkisah, hidup Cinderella yang menderita tiba-tiba berubah. Dengan bantuan Peri Biru, Cinderella diberi satu set Gaun buatan Versace, sepatu kaca, tiara berlian, dan voucher make-up artist. Tak lupa diberi pinjaman Kereta Limousine model terbaru lengkap dengan chauffeur (baca: Sopir). Oh tentu dia dipilih karena kebaikan hatinya.
Demikianlah, Sang Pangeran tampan jatuh cinta dan mereka hidup bahagia selamanya. Dan Cinderalla diselamatkan dengan cara diberi akses ke peralatan kecantikan.
Inilah Cinderella syndrome, ketika para gadis muda berlomba-lomba bersolek, mempercantik diri, memakai gaun terindah, dan sepatu terunik agar seorang pangeran tampan, berkedudukan tinggi, dan kaya -Mensekneg misalnya- hadir untuk menyelamatkan hidupnya. Oh iya, orang cantik kan hidupnya lebih mudah.
Enak lho, hidup bisa berubah menjadi jauh lebih baik hanya dalam waktu 1 malam.
Ramadhan
Perubahan instan memang sangat menyenangkan, terutama perubahan ke arah lebih baik. Dari kulit berwarna gelap menjadi kulit kuning bangsat langsat, dan dari rambut kribo menjadi rambut mudah diatur kadang-kadang aku harapkan juga. *menerawang ke dinding*.
Tapi ada hal yang lebih penting dari pada itu, masalah hati, jiwa, tingkah laku. Kalau dalam bahasa agama disebut Akhlak. Akhlak yang dibungkus Iman dan Taqwa kepada Allah SWT.
Untuk itu ada Bulan Ramadhan, yang menurut petunjuk pemakaiannya sih untuk melakukan perubahan hati dan jiwa bertahap dari ulat menjadi kupu-kupu. Tidak 30 menit seperti janji Mak Erot, tidak 1 malam -sebelum jam 12- seperti Cinderella, tapi 30 hari. Sebulan penuh.
Tanpa pengawas yang terlihat sedang memonitor pelaksanaan puasa kita, tapi maaf, kita tidak bisa berulah seperti kancil yang mengakali peraturan. Ada Sang Maha Melihat, Sang Maha Mengetahui yang tidak bisa ditipu dengan trik Pusakane Nabi Sulaiman.
Tanpa peri biru yang mengayunkan tongkat kecilnya, tapi dengan fasilitas dan akses ke perpustakaan jiwa yang lebih besar, disertai bonus-bonus untuk setiap level yang dilewati.
Jadi, kita tinggal memilih. Mau jadi si Kancil, Cinderella, atau Kupu-kupu.
Selamat menikmati ibadah puasa dan rangkaian feature-nya.