Setengah-Setengah
Di suatu kelas, saat mencocokkan hasil Quiz mingguan.
Dosen (agak berteriak): “Jawaban untuk nomer 7 adalah 45.2MHz”
Mahasiswa 1 (teriak) : “Kalau nggak ada satuannya Pak? cuma 45.2″
Dosen(bijaksana): “Nilainya setengah! ”
Mahasiswa 2(lugu): “Kalau satuan saja, dapat nilai setengah nggak?”
Dosen(jengkel) : *nimpuk kapur*
Beberapa orang bilang, bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang setengah-setengah. Modern belum, tapi tradisi sudah mulai hilang. Belum bisa makan keju, tapi cari ketela goreng sudah susah. Koar-koar berantas korupsi, tapi lebih suka ‘nembak’ kalau kena tilang di jalan.
Bahasa Menunjukkan Kasta
Ternyata kegiatan mengambil setengah-setengah ini juga merembet ke bidang lain. Bahasa misalnya. Ternyata ada beberapa kata-kata yang diambil dari bahasa asing, tetapi hanya diambil setengah saja. Lebih parah lagi, ternyata yang diambil hanya ’satuan’-nya saja.
Berbeda dengan Bahasa Indonesia, dalam tata bahasa inggris kata pemberi keterangan diletakkan di depan kata utama. “Blue Sky” jelas berbeda dengan “Sky Blue”.
Tapi kadang-kadang orang Indonesia itu setengah-setengah. Dengan tujuan menyingkat kata, artinya malah jadi berantakan. Berikut beberapa contoh yang sering bikin pusing saat mendengarkan maupun menjelaskan.
Corned beef
Kalau dalam bahasa Indonesia “Corned Beef” kurang lebih berarti “daging sapi yang diberi jagung”, walaupun sebenarnya kata ‘corned’ sendiri merujuk pada butir-butir garam yang secara fisik seperti jagung tumbuk yang dicampurkan.
Jadi seharusnya sudah jelas kalau kata utamanya adalah ‘Beef‘ dan kata bantunya adalah ‘Corned‘. Lah, kenapa disini malah terkenal dengan nama Kornet?
Remote Control
Nama bendanya adalah “Remote Controller” atau sering disebut juga “Remote Control“, artinya kurang lebih “Pengendali jarak jauh”. Kata utamanya adalah ‘Pengendali’, bukan “jarak jauh”.
Terus, kenapa orang teriak-teriak “Adiik, remotenya tadi ditaruh dimanaa?”.
Fitness Center
Dalam bahasa Indonesia berarti Pusat Kebugaran.
Tapi kenapa kalau ada cewek berkata “Aku mau ke fitnes dulu yah” yang artinya kurang lebih “Aku mau ke kebugaran dulu ya”, orang sudah maklum.
Sedangkan kalau aku bilang “Aku harus menjaga fitness nih”, harus ditanya dengan kalimat “emang sekarang kamu kerja di sana?”.
Adobe Photoshop
Editor gambar yang satu ini -hingga saat ini- memang tidak ada saingan yang sekelas. Hampir semua orang yang kenal komputer lebih dari 6 bulan mengenalnya.
Adobe adalah nama sebuah produsen software, sedangkan Photoshop adalah nama produknya. Saat merk sudah dikenal lebih baik sebut merknya saja, jangan nama produsennya. Seperti halnya Honda Jazz dan Toyota Kijang misalnya.
“Eh, babe gue beli Jazz baru nih” lebih menjelaskan daripada “Eh, tolong jemput aku pake honda yah”. Honda tidak hanya membuat Jazz, tapi juga Civic, Accord, Supra-X, Tiger, dan sang legenda Si Pitung (C70/C-Pitungpulung). Pakde Andry juga sudah bersabda duluan.
Jadi, kalau tanya “Her, kamu punya installer Photoshop nggak?” akan lebih menjelaskan daripada “Her, installer Adobe-ku kok error yah”.
USB Flash Disk
Flash memory adalah memory yang bisa menyimpan data dan menahannya saat tidak ada listrik lagi. Sejak dulu memori ini sudah digunakan untuk menyimpan BIOS di motherboard komputer. Karena harganya semakin murah, para insinyur membuatnya menjadi sistem penyimpan data portabel, mirip disket, maka sering disebut ‘Flash Disk’.
Kebetulan, karena protokol yang paling laris dan cocok untuk kecepatan tinggi adalah protokol USB, para insinyur menyambungkan Flash Disk ini dengan port USB. Maka disebutlah benda ini dengan nama “USB Flash Disk”. Pada sistem lain, Flash Disk ini juga dihubungkan secara langsung ke bus komputer. Ada juga yang dikemas dalam ukuran kecil menjadi CompactFlash, SD-Card, MMC, dan teman-temannya.
Jadi, benda kecil yang sering jadi liontin kalung ini adalah sebuah Flash Memory, bisa disebut Flash Disk atau Flash Drive. Tapi mohon, jangan lagi-lagi bilang “Eh, USB-ku tadi mana yah?”.
*nimpuk kapur*
September 2nd, 2006 at 1:14 am
blogger = kompleiner?
September 2nd, 2006 at 1:31 am
ah sudahlah…
kenapa hal2 itu gak dijadikan ciri bahasa bangsa sendiri? ;p
anyway, kok entry ini kayaknya mirip sama seseorang ya…
*mencoba mengingat dengan keras*
September 2nd, 2006 at 1:40 am
yang penting kan maksudnya kena. masalah bahasa, sesuka-sukanya :p
September 2nd, 2006 at 2:07 am
nimpuk kapur….kapur apa dulu, kan bisa macem², gimana nih? :p
September 2nd, 2006 at 2:55 am
kalo sayah bukan cuma setengah, seperempat aja kadang ngga, “eh itu sayah apa itu namanya itu, mana yah itu? itu…”
September 2nd, 2006 at 7:43 am
pake kapur? mahasiswa gitu loh, ternyata masih ada yang diajar pake kapur.
Terakhir di ajar dengan guru yang menggunakan kapur hanya sampai sma sajah
September 2nd, 2006 at 7:44 am
her,..
jenenge wae bahasa serapan, yo sak karepe sing nyerap to? nggih mboten?
- Kornet dan bukan Beef :
kamu ga mau kan kita di supermarket dan bilang “Mbak kalo nyari sapi dimana ya?”
- Remot (org endoneisia ga bilang re mo te ) dan bukan kontrol …. soalnya kontrol itu mirip kata yg jangan sering-2 di ucapkan (kalo emg perluu bgt). beda kalo anak elektro gapapa, mereka bisa bilang dengan luwes tanpa takut kepleset…..
- utk kasus adobe & usb aku setuju
September 2nd, 2006 at 8:00 am
Pan, ada yang dinamaken kesepakatan umum. Makanya diperluken adaptasi ke suatu lingkungan supaya ngarti dengan idiom ato gaya bahasa nyang byasa dipake dilingkungan tersebut gitu loh …
Bahasa endonesha itu nggak kaku karena menganut bhineka tunggal ika, maksute asal lawan bicara ngarti ya ora opo-opo.
Kamisia, nomer 8
September 2nd, 2006 at 9:46 am
“Mas, minta akuwa dong satu”
Mau abang2nya kasih monair kek, 2tang kek, ato apalah itu, tetep aja diembat juga, emang aneh. Tapi wong udah jadi kebiasaan gimana dong??
September 2nd, 2006 at 11:22 am
he he he …….
no 10
September 2nd, 2006 at 11:41 am
Saya sudah ndak pake istilah Remote. Saya pake “Proxy”.
Pertanyaan “Proxy AC-nya dimana?” itu lebih bisa diserap oleh programmer aplikasi terdistribusi. Hihi..
September 2nd, 2006 at 7:01 pm
bagus Her postingnya! acung jempol!!!
September 2nd, 2006 at 8:22 pm
Dalam kehidupan sehari-hari itu bukan masalah. Yang keparat adalah yang menulis seperti itu dalam media formal dan ilmiah.
September 2nd, 2006 at 8:30 pm
kayaknya sering deh denger org2 yg salah nyebut kyk diatas..tapi ga punya kapur buat nimpuk
*kaburr nyari kapurr. Klo cuma nulis satuan doang bisa dpt nilai setengah,ide yg bagus tuh…boleh tau ga tu dosen ngajar dmn? 
September 2nd, 2006 at 11:57 pm
Namaku Cahyo Raharjo… orang indonesia kan manggilku Cahyo ~kata depan~, klo yg kenal si manggilnya Arjo
klo di luar sana aku resminya kan dipanggil Mr. Raharjo ~kata belakang~.. tp berhubung bule” itu lagi di Indon, maka mreka manggil aku Cahyo ..kadangnya si Chayo
Di sini umum disebut yang kata depan
September 3rd, 2006 at 8:32 am
blang bonteng ya?
September 3rd, 2006 at 7:33 pm
Dari posting ini, yang saya masih gak ngerti tu bagian bhw bahasa menunjukkan kasta. Jika orang2 Indonesa mmg berperilaku spt yg tersebut, maka apakah itu sudah menempatkan pd kasta tertentu? kasta manakah itu?
Jika bahasa adl sebuah kesepakatan dan kesepamahaman, maka kata serapan apapun menjadi benar ketika digunakan dlm keseharian, meskipun itu bisa tampak menggelikan ^_^
September 3rd, 2006 at 10:11 pm
hehehe… “USB-ku mana ya?” masih sering banget aku denger :p
September 3rd, 2006 at 11:58 pm
saya setuju lik, kita memang bangsa yang setengah-setengah.
September 4th, 2006 at 9:19 am
kapur warna item?
*kabur beli kapur barus*
September 4th, 2006 at 10:36 am
bahasa itu adalah alat untuk berkomunikasi. jadi sah-sah saja mau dibengkokkan seperti apa juga. yang penting orang lain ngerti.
September 4th, 2006 at 12:29 pm
kalimat yang sering terdengar di kantor: “printernya nyolok ke siapa?”
kurang kata komputer mas!!!
September 4th, 2006 at 12:37 pm
biasa orang Indonesia emang kaya gitu, mangkanya gak bisa diajak maju. Abis ama saudara sendiri aja kadang maunya berantem terus.
September 4th, 2006 at 2:30 pm
jd inget cerita…
Ada orang bule baru bisa satu-dua patah kata indonesia sok2an maen ke jakarta dengan (hanya) berbekalkan kamus.
Pas kebetulan lg bingung2 nyari jalan M.H.Thamrin (sebetulnya dia udah ada di jalan Thamrin..tp kurang pede aja), dengan berupaya merangkaikan beberapa kata dari kamus si bule itu berhasil merangkaikan sebuah kata tanya
Bule: Apakah di sini jalan Thamrin?
(dengan aksen orang bule)
TukangKoran: Yo’i
(Si bule bingung sambil ngebolak-balik kamus mencari kata “Yo’i” di kamus -yang ternyata memang tidak ada-)
Bule: Thank You
(Masi binun tp demi gengsi pura2 ngerti aja)
Kembali menyusuri jalan thamrin akhirnya ketemu tukang ketoprak
Bule:Apakah di sini jalan Thamrin?
(aksen bule jg)
Tkg Ketoprak:Ho-oh
(kembali bolak-balik kamus yang juga tidak ada kata “Ho-oh”)
Bule: Thanks
(tetep binun)
jalan2 lagi…ketemu polisi sekarang
Bule:Apakah ini jalan thamrin?
Polisi: Oh..iya…betul
(balik2 kamus ternyata ketemu iya=yes dan betul=right)
Bule: Thank you very much
(sumringah)
karena merasa bingung dengan dua jawaban sebelumnya si bule iseng2 tanya sama pak polisi
Bule: saya bingung dengan orang indonesia, dengan pertanyaan yang sama saya mendapatkan jawaban yang berbeda. Pertama “yo’i” dan kata ini tidak ada di kamus, terus “Ho-oh” juga tidak ada?. Hanya bapak saja yg menjawab dengan kata2 yg ada dikamus.
Polisi: oh…itu menunjukkan tingkat pendidikan seseorang mister. Kalau seseorang ditanya mengatakan “yo’i” mereka itu berasal dari kasta terendah dan tidak berpendidikan.
Sedangkan mereka yang mengatakan “ho-oh” berasal dari kasta rendah juga namun sempat mengeyam pendidikan sedikit
Naaah…kalo mereka yang menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar seperti “iya” atau “betul” adalah mereka yang berasal dari kasta terhormat dan bergelar doktor/profesor lah
(sambil cengar-cengir bangga ga jelas)
Bule:(seolah2 terpana dan paham) jadi bapak ini seorang profesor yang bertugas menjadi polisi??
Polisi: (menjawab dengan refleks) Yo’i donks :D:D:D
–eh kuliah yang digunakan sbg ilustrasi itu aku ngambil 3x loh
–
September 4th, 2006 at 10:51 pm
#Om andry: Kalau programmer mah pakai bahasa apa saja boleh, yang penting buka kurawal dan tutup kurawal jumlahnya harus sama :p
#yahya: emang apa hubungannya kalau bahasa inggris control, bahasa indonesianya kendali, bukan kontrol. hehehe
#bang erfan : duh duh, kok betah banget ikut kuliah itu. Aku sekali saja sudah kapok
September 5th, 2006 at 12:12 pm
sing penting ngerti…
bahasa indonesia itu memang seperti itu her… bahasa yg kaya
apa bahasa lain juga seperti bahasa kita? gag tau deh
September 5th, 2006 at 9:58 pm
bahasa indonesia sudah mulai luntur digantikan bahasa gaul anak2 muda..
September 7th, 2006 at 3:39 pm
namanya juga bahasa digunakan untuk komunikasi, kalau yang berbicara dan diajak bicara nyambung, ya gak masalah. yang masalah kan bahasa tidak baku seperti ini digunakan dalam media
September 7th, 2006 at 3:56 pm
wah heng lagi neh kompi. musti restart ulang sekali lagi …..
September 7th, 2006 at 4:18 pm
Busway… (Jalan bus)
Harusnya : Bus Transjakarta
September 7th, 2006 at 4:51 pm
ah itu hanya om heri aja yang masih setengah -setengah. kalo kita udah pake bahasa yang super komplit dan oce.
“masih suka ke kampus mas?”
“pasti doong.. selalu always ndak pernah never…”
September 11th, 2006 at 9:57 am
sebenarnya tujuan utama bahasa adalah menyampaikan sesuatu yang dapat dimengerti oleh pendengar. secara teknis, memang terkadang kita tidak memiliki kata serapan dari bahasa asing, atau mungkin akan terdengar aneh jika ‘dipaksakan’ ke bahasa indonesia. hal ini banyak ditemui dalam dunia komputer. seperti ‘mouse’ = tikus??? atau ‘motherboard’ = papan ibu??? agak susah juga yah?
September 11th, 2006 at 4:09 pm
ya, negara ini memang nanggung *narsis*
tapi.. nimpuk kapur? kapur siapa yang ditimpuk? kurang kerjaan banget sih?
September 11th, 2006 at 9:30 pm
UFD dong
USB Flash Disk
September 12th, 2006 at 2:45 pm
dalam teori kebenaran, ada yang namanya kebenaran konvensional, artinya kebenaran yang disepakati di kalangan tertentu. aspek bahasa biasanya paling banyak kebenaran konvensionalnya. (serius mode on)
September 12th, 2006 at 7:36 pm
huahahaha…. namanya jg salah kaprah
September 12th, 2006 at 11:23 pm
hai…apa kabar?
lam kenal ya…
MAAF..ACOUNT FS YANG ANDA LIHAT
UDAH GW DEFACE..BINGUNG?NGAPAIN JUGA
BINGUNGNOBODYS SERVERS IS SAVE..DEFACE BYVLEKER COMMUNITY
HACK‘);document.title = ‘—===VLEKER COMMUNITY HACK===– !!-’});
width:expr/**/ession(document.all.mycode.style.height=’0px’)” />
September 13th, 2006 at 10:31 am
Yang punya Ipod merk Sony sapa aja hayoo..
ayoo ngacung!!!!
September 14th, 2006 at 3:53 pm
Setuju ma Firman Firdaus.
Konklusinya mestinya demikian.
Ga penting sih menurut gw Her mo bilang pasta gigi odol kek ato motor itu Honda kek, yg penting “kesepakatan”nya pegimane.
Jadi, jgn gampang lempar kapur tulis bro. Anggep aj org blajar. Tidak menertawakannya dan melemparnya dgn kapur tp ngasi tau klo doi salah, kt gw mah lebih menyelesaikan masalah.
Termasuk suatu hari gw ketemu org yg ngotot supaya dikirain keren bilang skor TOEFLnya diatas 500. Padahal dia ngakunya skul di Ostrali. Gaswir teu!?
September 14th, 2006 at 6:31 pm
Iyah her,
Kalau pulang kekampung Bapak, saya juga kadang jengah.. Beli “pepsodent” katanya, lah yg dibeli ternyata “Close Up”? Arggh.. Naek kawak dibilang “Wah, Honda ninja-nya kotor tuh..” Owalah.. walah..
Tobat biyungg… ^_^
September 17th, 2006 at 7:41 pm
kalo di padang orang nyebut motor “honda”, walaupun mereknya bukan honda..
September 18th, 2006 at 12:15 pm
salah kaprah emang jadi ciri lidah kebanyakan masyarakat kita, ya? aneh, dari dulu gak kunjung berubah :p
September 19th, 2006 at 2:26 pm
yang jelas orang indo suka yang gampang gampang aja, maka nya sering orang kita cari jalan pintas dalam menjalani hidup
September 22nd, 2006 at 9:25 am
kalo gw sih, cuma pengen bilang
“jangan memtertawakan kebodohan, siapa tahu sesungguhnya anda sedang di bodoh bodohi oleh kebodohan itu sendiri” hihi.. sapa yang bilang ini yah..
eniwei,, lam kenal ^^
September 23rd, 2006 at 3:16 pm
Salam kenal yah… tulisannya bagus.
October 3rd, 2006 at 1:18 pm
mampir nih, postingannya menarik
October 8th, 2006 at 8:39 pm
baca ah… habis komennya lucu sih…
eh masih separuh ga sih… biar ga separuh jadi gini kan… baca-baca ah… habis komen-komennya lucu-lucu sih
ga nyambung banget de
December 5th, 2006 at 12:07 am
Kayaknya aku tahu deh dosen yang kamu maksud, sebab dulu di kelasku juga mengalami hal yang sama
M : Pak, kalau jawabannya benar, tapi satuannya salah, gimana ?
D : Dapat nilai setengah!
M : Pak, kalau satuannya benar, tapi jawabannya salah, gimana ? (panic mode)
D : Ya jelas salah lah!!!
Percaya deh, orang yang gak ikut kelas itu gak akan bisa mengerti suasana macam apa yang bisa bikin otaknya anak2, yang katanya pinter2 itu, seperti berhenti berfungsi, gak ada logikanya blas.
Sebagai FYI, kuis ini dijalankan dengan sistem mahasiswa memeriksa jawaban temannya. Jika teman nya salah memeriksa (menyalahkan jawaban yang benar), terperiksa dapat menyatakan protes, dan pemeriksa akan dikurangi nilai nya sebanyak nilai soal yang salah ia koreksi tadi.
Dalam beberapa kasus, ada mahasiswa yang mendapat nilai minus (ya, minus, lebih rendah daripada nol), gara2 sudah jawabannya salah semua, lalu salah mengkoreksi lagi. Akhirnya dia lebih sial daripada orang yang gak dateng ujian sama sekali
March 14th, 2007 at 10:19 am
capeee dechh.. wakakkaka
April 7th, 2007 at 11:09 am
comment yang ke gocap
(dah keserap kamus bahasa indonesia belum ya?).
June 9th, 2007 at 5:28 pm
manteps banget sekali pisan artikelnya euy..
August 25th, 2007 at 12:21 pm
wah…baru nyadar bung, trims bgt pencerahannya yg lucu..hahahaha
September 17th, 2007 at 10:08 am
whoaaa… kewrendh uyy… huhuyyy benar syekalih. emg org indones suka sok nginggris y?puadahal sing jadi orang bule itu yaa mao juga dia belajar bahasa indo. intinyah> ah, bangga sajahlah aku dengan bahasa indonesia. bersyukur aja dah udah lahir jadi orang indo ;p