26 December 2006

Waspada Banjir

Filed under: Personal — hericz @ 12:08 pm

Jum’at malam, kira-kira jam 10 malem, aku dan istri baru pulang dari belanja. Hujan deras mengguyur Jakarta dari sore hari membuatku pilih bawa motor untuk ke HyperMart yang cuma 300 meter jauhnya. Aku memarkir dan mengunci motor, sedangkan istriku langsung menuju pintu rumah kontrakan. “Dingin-dingin begini enak banget berduaan dengan istri di rumah, apalagi besok libur,” pikirku sambil masang rantai pengaman di roda belakang yang penuh lumpur. Setelah dirasa cukup aman, aku menuju pintu menenteng helm yang basah kuyup dan mendapati istriku berdiri di depan pintu dengan wajah yang agak-agak histeris.

“Hoaa.. banjir!!, teles kabeh (basah semuaa),” teriaknya singkat dan jelas. Segera aku menyusul ke pintu dan melihat ruang depan sudah penuh air, karpet 3×2.5 meter warna coklat muda sudah digenangi air sekitar 2cm, air menyusup ke bawah rak buku, dan rak TV.

Dapur penuh dengan air yang lebih tinggi lagi, air juga sudah masuk ke kamar tidur. Untung komputer, dan perlengkapannya sudah dipasang di meja. Joystick USB Dual-X-Shock, yang biasa dipake buat balapan MotoGP dan NeedForSpeed dengan istri, tampak terendam air, dan merupakan benda pertama yang aku selamatkan malam itu.

Untunglah, buku-buku yang masih ada dalam kardus di kamar sebelah masih dalam keadaan kering. Demikian juga baju-baju yang baru diangkat dari jemuran siang harinya. Tampaknya air yang mengalir masuk ke kamar itu diserap langung oleh kasur busa yang tergeletak nganggur.

Jadilah malam itu malam yang panjang. Segala daya dan upaya dikerahkan untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Tercatat sedikitnya 8 ember-penuh air dibuang ke kamar mandi, 3 handuk-keset digunakan untuk mengeringkan lantai dan karpet. Sementara itu setumpuk koran bekas, 2 kipas angin dan sebuah hair-dryer digunakan untuk mengeringkan spring bed di kamar tidur.

Bekerja tanpa henti sambil ketawa-ketiwi, jam 2.30 pagi, spring bed sudah dinyatakan kering. Tidur.

Musim Hujan, Musim Banjir

Paginya, sambil mengeringkan karpet yang masih basah, menyelamatkan buku-buku, dan menyingkirkan koran-koran basah, aku lihat Televisi menayangkan bencana banjir di beberapa daerah. Halaman dengan rumput yang masih basah membuatku berpikir ulang untuk menjemur di luar.

Membayangkan sawah-sawah terendam air di mata petani, seperti membayangkan laptopku terbakar, atau program yang sudah mulai didebug sejak 2 bulan yang lalu tiba-tiba kena bad-sector sementara klien sudah telpon rindu siang dan malam. Selain itu, kegagalan panen dalam jumlah besar juga pertanda harga beras bakal naik terus 2-3 bulan mendatang.

Kecerobohan dan Kelalaian

Banyak kejadian banjir tak lepas dari kelalaian manusia sendiri dalam menangani alamnya. Hutan kawasan serapan air di daerah Puncak menjadi vila kawasan serapan duit, akibatnya jelas duit Jakarta mengalir ke puncak dan air dari puncak mengalir ke Jakarta. (Sejujurnya, aku khawatir nantinya nasib kawasan Puncak akan mirip dengan nasib kawasan Radiator Springs di Film The Cars semenjak dibangunnya Tol Cipularang.)

Selain itu, memang sudah dasarnya Jakarta itu daerah yang rendah dengan aliran sungai berbentuk meander yang banyak. Sejak jaman belanda konsep penanganan banjir sudah dirintis, desain banjir kanal Van Breen pada tahun 1918 yaitu Banjir Kanal Barat cukup mengagumkan untuk masa itu. Sedangkan desain Banjir Kanal Timur hingga kini belum selesai pengerjaannya.

Dulu sepertinya sempat ada konsep pembuatan sumur serapan air di tiap-tiap halaman rumah, tapi sepertinya sekarang sudah nggak ngetrend lagi. Yang ada malah swadaya masyarakat untuk melakukan betonisasi selokan-selokan yang jelas malah mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan.

Sewaktu masih tinggal di Pondok Gede, dimana belakang rumah adalah sungai kecil yang cukup jernih, aku ingat sekali kata-kata mpok yang bantu bersih-bersih disitu. “Mas heri, nanti kalau hujan gede tolong itu kursi yang sudah rusak dibuang ke sungai”, Glek.. Tampaknya, ungkapan “Buang sampah sembarangan menyebabkan banjir” sudah terbalik menjadi “Banjir membuat orang buang sampah sembarangan”. Ini bukan kelalaian, tapi sudah kebudayaan.

Dan istriku sayang, iya memang kita tinggal di lantai 3. Tapi kita harus tetap waspada dengan bencana banjir, apalagi kalau sebelum jalan-jalan kita lupa nggak mematikan kran mesin cuci lagi.

*tepok jidat*

37 Responses to “Waspada Banjir”

  1. gravatar nYam Says:

    suka duka manten anyar ^_^…enake udah ada mesin cuci…nitip dong

  2. gravatar Lita Says:

    Pantesan ketawa-ketiwi, lha wong banjirnya banjir buatan je…
    *ngakak*

    Laen kali, kalo mo ninggalin rumah, dobel-cek ya! Paranoid dikit gak papa asal gak mesti begadang ngeringin kasur toh
    *ngakak lagi*

  3. gravatar hanindyo Says:

    ngurut dada baca bagian yang terakhir

  4. gravatar Ratna Says:

    Ternyata…. *ngakak*

  5. gravatar Azil Says:

    mesin cuci udah lunas?

  6. gravatar Dhika Says:

    hehehe…penginnya sih ngakak, cuma saru ah, tertawa diatas ‘penderitaan’ orang :)

  7. gravatar cahyo Says:

    hehehehe..saya dulu juga pernah kejadian mirip seperti ini mas. tapi, gara-gara saluran air yang ke got, mampet ketutup sama kain. halah, pas udan, banjir tenan..:-D

  8. gravatar Imponk Says:

    namanya juga musim penghujan. udah biasa kan?

  9. gravatar didats Says:

    jrit!
    gw kira banjir beneran!

    hihihi… :D

  10. gravatar Fernando Says:

    mesin cuci merk apa yg ada kran-nya mas? :D

  11. gravatar andriansah Says:

    Pengen sedih tapi gak jadi

    hahahaha

  12. gravatar Junkerz side B Says:

    mesin cucinya belum lunas,makanya ngambek…:p

  13. gravatar fahmi jelek Says:

    bwahahahaaa… mbencekno soro! :p

  14. gravatar Luthfi Says:

    gebleg …. pasti masih kiriditan yaa ….. :-)

  15. gravatar -f Says:

    untung banjir buatan kran, kalo banjir air mata. entah sampe kapan bisa ngeringinnya?
    -
    -
    *nyengir kuda*

  16. gravatar endhoot Says:

    *guyur Herry n Ira ama aer seember*

  17. gravatar achmadi Says:

    *ngakak kenceng*

  18. gravatar golda Says:

    jadi kebanjiran karena lupa matiin keran toh? kirain emang karena banjir dimana.. dasar semprul :p

  19. gravatar trio Says:

    wong kenthir!

  20. gravatar pandri Says:

    ya, 19 orang kena tipu! :)

  21. gravatar pandri Says:

    and still counting! hahaha*

  22. gravatar oon Says:

    hah!…mesin cucinya bisa ketawa ketiwi?
    *saalh pokus

  23. gravatar arham_kendari Says:

    ceritanya dalem..
    romantis-romantis tragis..
    mbaca endingnya, pingin rasanya sayah ikutan mbalikin Piala Citra..

  24. gravatar truegossiper Says:

    update update, mas. :)

  25. gravatar Tony Dwi Cahyanto Says:

    oh… pointnya ke situ ta…..

  26. gravatar andrias ekoyuono Says:

    hahaha…bener2 gw baca ampe terakhir nih

  27. gravatar indo_is_the_best Says:

    KURANG AJAR !!!! Kirain crita srius …. pantes yang diselamatin duluan JOYSTICK, huhhhhh …..

    Tapi kayaknya ada kesalahan pengetikan pada paragraf trakhir 2 baris terbawah…

    HARUSNYA

    apalagi kalau sebelum jalan-jalan kita lupa mematikan kran mesin cuci lagi.

  28. gravatar setanbedul Says:

    waspada banjir atau waspada lupa matiin air.

    enaknya py pompa air. apa lagi mesin cuci (kl ampe bocor kayak gitu.. pasti yg bgs punya)

  29. gravatar Bedegul Says:

    enaknya jadi penjahat…ehh sorry maksudku pejabat… mereka walaupun kena banjir air & lumpur di Jakarta, tapi mereka kebanjiran uang di puncak :-)

  30. gravatar febby Says:

    banjir….
    gila rmh gw kebanjiran ampe seatap, oh jakarta kejamnya dikau…..
    semua barangku hbs… ludes….

  31. gravatar Teza Says:

    boleh ikutan gabung gak…

  32. gravatar pelajar Says:

    bersabar la tuhan akan menolong kamu semua
    …semasa mendapat kesusahkan akan mendapat kesenangan pada masa yang sama…susah susah sekarang senang senang kemudian.

  33. gravatar Phetek Guarong Says:

    waktu jakarta banjir kemarin itu menjadi berkah bagi kita semua coz kita bisa swimming-swimming nieh! gratis n sepuas-puasnya lagi he….he…

  34. gravatar debry Says:

    hwa HahaHAha…….

  35. gravatar Lyra Says:

    Banjir? Udah deh gak usah protes ma pemerintah!!
    Pemerintah gak bakal bisa bertindak.
    Psst… Kata Mama Lauren, kita sendiri yang harus bertindak. Pemerintah? Gak bakal bisa!

  36. gravatar niky Says:

    seharusnya masyarakat harus lebih peduli lagi trhada lngkungannya ,pemerintah juga seharusnya lebih peduli lagi kepada rakyatnya

  37. gravatar fatimah Says:

    sangat memprihatinkan!ni salah siapa hayo?????????????udah ngliat akibatnya kok g brubah.hari gini gt loch???harusnya pemerintah bikin program n masarakatnya ikut mendukung.kasihan pak fauzi bikin program,dah pusing2,e……..rakyatnya buang sampah sembarangan!!!!!!!!!!!

Leave a Reply