19 April 2007

Dukungan Untuk Praja IPDN

Filed under: Ngedumel — hericz @ 2:58 am

Sudah jam 2 malam, aku sudah ngantuk banget, tapi aku ndak bisa tidur. Televisi yang biasanya membantuku terlelap malam ini malah membuatku semakin terjaga dan merasa sangat tersiksa. Setiap kali kupejamkan mata, terbayang wajah-wajah gelisah kalian sahabat-sahabatku Praja IPDN. Mahasiswa dan Mahasiswi dari sebuah kampus yang menjadi berita utama 2 minggu terakhir.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Terbayang di mataku betapa kalian berangkat ke Sumedang dengan semangat tinggi. Berapi-api keinginan kalian untuk membahagiakan orangtua, membanggakan nama keluarga, menyekolahkan adikmu yang pinter dan lucu ke sekolah terbaik. Lalu kalian sadar, bahwa ternyata perjalanan mulia kalian berujung pada sebuah neraka sistemik berkedok pendidikan negara.

Setiap kali aku menyentuh perutku, terasa sakitnya perutku dihantam oleh kakak kelas yang sepupunya keponakan mantunya pejabat. Dan sakitnya tidak seberapa dibanding remuknya hati kalian dianggap sebagai kaum hina, ‘bukan siapa-siapa’. Fakta bahwa kalian bukan anak komandan koramil, dan bukan keluarga staf di gubernuran, membuat nyawa kalian tidak lebih berharga dibanding bebek di kawasan berburu.

Saat mendengar suara musik di MTV, aku terbayang betapa kalian mati-matian -dalam arti harfiah- berusaha masuk klub drum band kampus. Hanya agar dianggap sedikit lebih berderajat dan pantas bersanding dengan mereka yang berkuasa di kampus karena keturunan. Mungkin mereka lupa, sekarang sudah tidak jaman kerajaan lagi. *sigh*

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Melihat para remaja cantik di TV membuatku membayangkan kalian, sahabat-sahabatku mahasiswi IPDN yang dihina, dilecehkan, diambil kehormatannya tanpa bisa sedikitpun mampu melawan sistem yang sedemikian kuatnya. Jangankan melawan, membuka mulutpun kalian sudah tidak punya sisa kekuatan lagi. Aku sungguh tidak bisa membayangkan betapa menderitanya kalian, trauma yang PASTI tidak akan terhapus seumur hidup kalian.

Aku bayangkan pula bagaimana kalian harus berbohong pada Ayah dan Ibu yang sangat kalian cintai dan hormati, “Ah ibu.. adek kan baik-baik saja nih, lihat! Ototku aja semakin besar kan? Di sana tuh aku hidup enak kok”, sambil menyembunyikan memar-memar di dada kalian atau nyeri di rahim setelah aborsi. Pasti sakiiit sekali.

Aku tidak tahu, doktrin dan ancaman apa yang dimuntahkan para senior, sehingga kalian bisa menganggap diri sendiri sudah tidak punya hak hidup lagi. Menjalani hari demi hari dengan doa “Ya Allah, kuatkanlah hambamu yang lemah ini..”, hanya agar kalian masih bisa memanjatkan doa yang sama di malam hari berikutnya.

Sekolah gratis yang ternyata membuat kalian harus membayar uang seragam, membeli diktat kuliah (yang tidak pernah sempat kalian baca), ataupun membayar ’setoran’ ke senior. Bahkan uang saku yang dikirimkan oleh Pemerintah Daerah kalian pun -yang biasanya kalian kirim kembali sebagian ke rumah untuk beli beras- tidak bisa kalian terima dengan utuh. Angka 60 juta pertahun memang angka yang menggiurkan banyak orang.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
mungkin aku hanya semalam ini tidak bisa tertidur pulas dengan raut muka penuh ketakutan. Besok pagi, atau paling lama minggu depan aku mungkin sudah lupa.

Tapi kalian harus mengalaminya setiap malam, selama 1,2,3 tahun selama di kampus? Oh, sepertinya tidak. Kalian pasti harus menahan ketakutan seumur hidup kalian, membayangkan teman sebarak, teman main, teman makan siang, teman berlari-lari saat mau ujian masuk IPDN, teman yang mengompres luka memar di jidatmu hasil penggulingan, yang MATI, MATI, MATI tanpa kau sempat memberikan bantuan saat dia dihajar bos-bos besar, senior, anak para ningrat di kantor kabupaten.

Dan kalian semakin pedih lagi saat melihat makam sahabatmu -yang dilaporkan hilang pada orang tuanya- itu dijadikan monumen agar adik-adik kelas kalian -si anak petani, anak tukang becak, anak buruh bangunan- yang didatangkan dari berbagai daerah menyadari bahwa mereka baru saja masuk ke sebuah neraka untuk orang miskin, surga untuk orang berkuasa, dan sumber kekayaan bagi dosen dan staf peminum darah. Neraka dimana jagoan beladiri pun tidak akan sanggup melawan.

Sedangkan kisah-kisah praja putri yang MATI dalam keadaan hamil, babak belur, terbuang di daerah terpencil menjadi sebuah dongeng turun temurun yang mengerikan. Mengingat kalian bisa menjadi tokoh pengganti dalam dongeng tersebut saat kalian membuka satu kalimat saja.

Lalu wajah-wajah ‘pembunuh’ yang masuk TV tanpa merasa malu, tanpa sedikitpun raut muka penyesalan, membuat kalian semakin tenggelam dalam ketakutan yang luar biasa.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Aku membayangkan betapa tanggung jawab kalian begitu besar. Menjaga nama baik Daerah, menjaga nama baik kontingen kalian harus kuat menjaga semua kepedihan itu sendiri. Betapa susahnya birokrasi jika ingin komplain.

Aku tahu, kalau seorang anak pejabat terlibat kasus pembunuhan, maka kasusnya tidak akan pernah sampai di pengadilan. Maka aku juga tahu betapa takutnya kalian, kalau pelaku pembunuhan bukan hanya satu, atau 10, tapi 100 atau 1000 anak pejabat. Karena kalian juga tahu, senior-senior miskin itu sepertinya hanya ikut-ikutan saja.

Aku sudah mulai sadar bahwa ternyata tendangan kungfu di dada hanyalah seujung kuku dibanding siksa batin dan jiwa yang kalian alami selama berada di sana.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Tidakkah kalian lihat betapa luasnya dunia ini. Tukang jamu menggendong dagangannya keliling kampung, berangkat dengan wajah penuh harapan, pulang dengan hati gembira. Setiap 100 meter di pinggir jalan ada penjual voucher HP, es cendol, Mie Ayam, pisang kremes yang terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Mereka berangkat dengan penuh harapan, dan pulang dengan bangga membawa rejeki halal sekedarnya untuk diberikan ke anak istrinya. Mereka bahagia, dan mereka bukan PNS.

Dunia tidak hanya menjadi pegawai negeri sipil. Sistem informasi belum secanggih dalam film-film Bioskop TransTV tadi malam. Kalian masih bisa keluar, menyelamatkan diri dari neraka sistemik itu dan menghilang tanpa diketahui siapapun.

Aku yakin, ayah ibu kalian lebih suka melihat kalian jadi nelayan yang HIDUP jujur di sebuah pulau terpencil daripada melihat makam PNS muda yang dimakamkan dengan penuh pengormatan dari rekan-rekan kuliahnya yang tidak bisa diajak ngobrol.

Tolong dipikirkan lagi, bedanya matinya seorang pejuang kemerdekaan, matinya seorang yang berjihad, dan mati konyol karena dihajar idiot berkuasa. Idiot yang hanya bisa masuk kampus megah itu karena pakde dan buliknya, bukan karena otaknya.

Itupun jika kalian tidak ingin mimpi buruk ini berlangsung seumur hidup kalian. Karena sekarang definisi PENGECUT, PEMBERANI, BERMARTABAT, DISIPLIN, KOMITMEN dan PENGKHIANAT sudah mempunyai arti yang berbeda di kampus jahannam itu. Ayo, jadilah PRAJA yang BERANI dan BERMARTABAT -dalam arti sebenarnya-. Kalo kata MTV, speak your mind, anggap saja ini sebuah acara Fear Factor berhadiah ketenangan jiwa.

Maaf, aku mulai ngantuk membayangkan bahwa semua ini ujung-ujungnya ternyata lagi-lagi masalah uang dan kekuasaan. Lagipula sudah hampir jam 3, biasanya jam segini kalian sudah selesai dihajar dan bersiap-siap tidur, mengumpulkan tenaga agar tetap hidup saat dihajar besok malam.

—-
Terimakasih buat seorang ibu yang sore tadi sudah menceritakan semua dengan berlinang air-mata.

14 April 2007

Piramida Pelacuran Nasional

Filed under: Ngedumel — hericz @ 1:40 am

Seorang pemuda berusaha ngobrol dengan seorang gadis cantik yang baru dikenalnya di bis kota:

Cowok :”Eh begini, aku boleh cium kamu ndak?”
Cewek :”KURANG AJAR! Gak mau lah, capek deeh”

Cowok :”Kalau aku kasih duit 1 milyar, aku boleh cium kamu?”
Cewek :*melirik sinis* “Yah, kalau kamu punya uangnya, boleh saja”.

Cowok :”hmm.. kalau cuma ada 50 ribu boleh cium?”
Cewek :”KAMU PIKIR AKU PELACUR?”
Cowok: “Lho, kamu tadi sudah jawab boleh cium kalau ada uangnya kan? berarti sekarang tinggal masalah tawar menawar saja tho. 100 ribu boleh?”.

***

Aku tumbuh besar di sebuah desa di Jogja, jauh dari pusat keramaian dan pusat pemerintahan. Karena didominasi kehidupan petani, kehidupan berjalan dengan santai dan damai. Walau begitu, sudah menjadi cita-cita hampir semua anak (dan orang tuanya) untuk menjadi pegawai negeri, polisi, tentara atau apapun yang berseragam dan digaji negara.

Sudah menjadi pengetahuan umum di desaku, bahwa untuk menjadi ‘apapun yang berseragam’ itu, perlu banyak biaya. Untuk jadi polisi perlu 25-40 juta, untuk jadi pegawai kabupaten perlu 10-20 juta, dan seterusnya. Biaya bisa bervariasi tergantung kekuatan ‘orang dalam’ tempat anak-anak petani itu dititipkan. Bagi para petani, ‘uang tiket’ sebesar itu berati sawah beberapa ribu meter yang didapat dari warisan harus dijual.

Pengorbanan menjual sawah dihitung-hitung tidak rugi untuk masa depan sang anak supaya jadi ‘orang’, lagipula sawah sudah tidak memberi keuntungan lagi. Pupuk mahal, tikus merajalela, harga gabah murah. Dan sebagian besar memang mereka tidak menyesal, setelah beberapa tahun anak-anak mereka sudah bisa membeli RX-King, membangun rumah yang cukup bagus, dan tentu saja berseragam. Oh iya, waktu itu belum musim honda Tiger dan Bajaj Pulsar.

Regenerasi Pelacuran Kekuasaan

Anak-anak petani tadi akan duduk satu meja, berdiri satu lapangan, menghormat ke satu pembina upacara, dan mengantri satu loket gaji dengan ribuan orang lainnya di pemerintahan. Loket gaji yang membuat mereka sadar bahwa uang tiket mereka tidak sebanding dengan gaji mereka. Perlahan-lahan -secara massal, dan terstruktur- akan diajarkan bagaimana agar segera balik modal.

Caranya bermacam-macam, meminta uang dari masyarakat, memberi setoran ke atasan agar cepat naik pangkat, dan lain-lain.

Istilah Pelacuran sepertinya terlalu kasar, tapi pada intinya begitu.
- Sudah, nggak usah ikut sidang tilang. Bisa nitip lewat saya, 25 ribu saja.
- Kamu bisa dapat KTP, tapi bayar 250 ribu.
- Ndak usah repot-repot ikut ujian, bayar saja 300 ribu, nanti SIM tinggal foto.
- Kamu bisa naik pangkat tapi harus setor 40 juta.
- Kamu bisa jadi kepala bagian, tapi harus setor 50 juta.
- Pesawat yang patah mau saya cat dulu, kamu butuh berapa agar bilang ke wartawan kalau ini ‘nggak menyalahi aturan’?
- Kamu bisa tetep dapat subsidi 60juta/tahun/praja, tetap bisa jadi staf kabupaten kalau kamu tutup mulut tentang teman2-mu yang mati dipukuli.
- Sebelum bapak kasih laporan tentang hasil investigasi di Kampus saya, ini ada sedikit uang saku buat keluarga di rumah.

Ini tidak bisa dihentikan. Sistemnya sudah terlalu kuat, karena sudah merasuk ke alam bawah sadar masing-masing member, dan sudah merasuk ke alam bawah kantong anak istri mereka di rumah. Saat sudah terbiasa berpenghasilan -misalnya- 10juta/bulan (hasil melacur), susah kalau harus hidup biasa dengan gaji 1.5juta/bulan.

Karena terstruktur, terorganisir, serta rapinya sistem doktrinasi pelacuran ini, sampai-sampai saat ada orang luar yang mau membantu menyelamatkan malah dituduh memojokkan, menyerang, atau memberitakan secara tidak berimbang.

Bahkan, karena saking kuat pengaruh saling melacur di lingkungan pemerintahan ini, masyarakat sampai ikut terdoktrinasi.

Tidakkah kalian lihat, bahwa sistem aliran uang di lembaga-lembaga itu mempunyai rantai-DNA yang sama dengan arisan berantai, MLM ngawur, dan skema investasi via ATM, ataupun sistem-sistem piramida pembunuh massal lainnya.

***

Aku tahu, banyak orang yang tidak menganggap dicium sebagai penyerahan harga diri atau sesuatu yang sakral (oh hebatnya doktrinasi film holywood) tapi aku masih bertanya-tanya, wanita-wanita cantik itu dibayar berapa oleh manajemen agar mau dicium Tukul Arwana.


gambar ambil dari uptownshelter tanpa ijin

10 April 2007

32 Jam di Banda Aceh

Filed under: Ragam, Personal — hericz @ 12:20 pm

Dari dulu aku sangat ingin bisa pergi ke Banda Aceh, bahkan sebelum bencana tsunami tahun 2004. Minggu kemarin, akhirnya aku mendapat kesempatan dari kantor untuk melakukan perjalanan dinas ke propinsi di Ujung Sumatra tersebut.

Mendarat hari Selasa, aku langsung menuju hotel Medan. Sebuah hotel yang katanya sudah cukup bagus di Banda Aceh, tapi kondisinya menurutku kurang bagus, baik lobinya maupun kondisi kamarnya. Maksudnya, dengan harga yang sama kalau di daerah lain sudah dapat kamar yang lebih baik, paling tidak TV di kamar ada remote control-nya. *doh*

Di Lobi hotel tampak foto berukuran besar dengan pigura berlampu bergambar kondisi hotel sesaat setelah tsunami 2004. Ada kapal besar yang nangkring di depan Hotel, padahal sungai jaraknya cukup jauh dari hotel.

Hotel Medan, Desember 2004
Kapal di Sungai

Kopdar dengan rekan id-gmail

Beruntung juga ikut milis gila id-gmail. Setelah seharian berkeliling di lingkungan PLN Banda Aceh, sore harinya, aku dijemput oleh Abe untuk jalan-jalan. Sekitar jam 7 malam, kalau di Banda Aceh masih agak sore, kami menuju padepokan AirPutih, tempat pendekar Dudi Gurnadi bersemedi dan menyebarkan ilmu kanuragannya untuk Aceh.

Sayang sekali, Alex yang sudah digadang-gadang untuk bisa ketemu dan membawakan titipan masyarakat tidak bisa keluar rumah karena Ibunya sedang sakit. Sudah sembuh belum lex?

Laporan lengkap, dan foto-foto mengenai kegiatan kopdar ini sudah ditulis lengkap oleh Abe.

Kondisi Aceh

Pada saat sampai di Bandara pada hari selasa, aku merasa takjub dengan keramaian di Bandara tersebut. Bandara terasa sesak oleh penumpang dari berbagai jurusan. Setelah aku tanya ke Sopir yang menjemput kami, menurutnya Aceh menjadi ramai begini setelah bencana Tsunami.

Internet-Teknologi
Pendekar Dudi juga mengatakan, bahwa sebelum Tsunami, di Aceh hanya terdapat 3-4 Warnet saja. Tapi sekarang sedikitnya ada 9 warnet yang beroperasi, selain itu aku melihat banyak iklan di media lokal banyaknya ISP-ISP yang melakukan bisnis di sana.

Pada awalnya internet di sana banyak melayani kebutuhan orang-orang luar daerah maupun luar negeri yang berkiprah dalam pembangunan aceh, tapi sekarang semakin banyak masyarakat lokal (kebanyakan dari luar daerah juga) yang disertakan dalam urusan IT untuk NGO-NGO tersebut. Tampaknya hal tersebut membuat masyarakat lokal semakin melek dengan internet.

Properti
Sementara itu harga sewa bangunan baik rumah, ruko, atau kos-kosan sangat tinggi. Bahkan Abe sampai berniat pindah kos karena sewanya yang sangat mahal. Menurutku juga kamar 3×3 di pinggiran kota seharga 6 juta/tahun memang sangat mahal, bahkan untuk di Jakarta, tapi itu harga yang wajar di Aceh.

Kata Abe, dulu pada saat NGO internasional mulai masuk ke Aceh, harga sewa rumah di pinggir jalan bisa mencapai 200-300 juta per tahun. Gila, ini sudah bisa buat beli rumah di Bekasi. Hal ini berbeda sekali dengan kondisi di Jogja, beberapa hari setelah terjadi gempa harga Bambu (yang merupakan kebutuhan terbesar bahan bangunan) hanya naik 500-1000 rupiah per batang. Ini mungkin karena budaya Aceh sekarang dipengaruhi budaya Kerajaan Samudra Pasai yang memang berjiwa pedagang.

Hukum Syariah
Penerapan Hukum Syariah di NAD juga sepertinya masih setengah-setengah. Bahkan masyarakat sendiri meragukan niat dari pemerintah dalam pelaksanaannya. Dari beberapa orang yang aku tanyai, sebagian mengatakan kalau hukum ini hanya berlaku untuk orang kecil saja, kalau pejabat, orang kaya, ataupun orang aparat masih juga kebal hukum. Wallahu alam, perlu tim investigasi khusus untuk menjawabnya.

Di lain pihak, ada pihak-pihak yang menyalahgunakan hukum syariah ini untuk melakukan pemalakan. Di berbagai media lokal, banyak diberitakan tentang sekelompok polisi syariah dadakan (4-6 orang) yang ‘merazia’ tempat-tempat hiburan dan wisata. Mereka mendatangi pasangan muda-mudi yang sedang duduk berdua, lalu mengancam akan mengarak atau menghukum sesuai syariah, tapi bisa dibebaskan kalau membayar ‘uang denda’ yang berkisar 1 juta, negotiable.

Preman sinting, mana ada orang pacaran bawa duit segitu, ini kan Aceh bukan Texas.

Preman-preman seperti ini seharusnya menjadi prioritas utama untuk segera dibasmi, kepercayaan masyarakat terhadap hukum Syariah harus segera diperbaiki jika benar-benar ingin membentuk Aceh yang lebih baik.

Pulang ke Jakarta

Rabu sore, aku sudah harus kembali ke Jakarta. Sebenarnya kantor memberi jadwal sampai hari kamis atau jum’at, tapi aku minta sampai hari rabu saja mengingat istri sedang dalam kondisi hamil dan sendirian di rumah kontrakan.

Di Bandara, kondisinya sama dengan saat aku datang, terminal penuh sesak dengan penumpang ke berbagai jurusan. Aku sempat kaget mengetahui ada pesawat yang melayani rute Aceh-Ambon.

Dengan perjalanan kemarin, berarti aku sudah menginjak seluruh pulau besar di Indonesia. Walaupun cuma untuk 32 jam saja.