10 April 2007

32 Jam di Banda Aceh

Filed under: Ragam, Personal — hericz @ 12:20 pm

Dari dulu aku sangat ingin bisa pergi ke Banda Aceh, bahkan sebelum bencana tsunami tahun 2004. Minggu kemarin, akhirnya aku mendapat kesempatan dari kantor untuk melakukan perjalanan dinas ke propinsi di Ujung Sumatra tersebut.

Mendarat hari Selasa, aku langsung menuju hotel Medan. Sebuah hotel yang katanya sudah cukup bagus di Banda Aceh, tapi kondisinya menurutku kurang bagus, baik lobinya maupun kondisi kamarnya. Maksudnya, dengan harga yang sama kalau di daerah lain sudah dapat kamar yang lebih baik, paling tidak TV di kamar ada remote control-nya. *doh*

Di Lobi hotel tampak foto berukuran besar dengan pigura berlampu bergambar kondisi hotel sesaat setelah tsunami 2004. Ada kapal besar yang nangkring di depan Hotel, padahal sungai jaraknya cukup jauh dari hotel.

Hotel Medan, Desember 2004
Kapal di Sungai

Kopdar dengan rekan id-gmail

Beruntung juga ikut milis gila id-gmail. Setelah seharian berkeliling di lingkungan PLN Banda Aceh, sore harinya, aku dijemput oleh Abe untuk jalan-jalan. Sekitar jam 7 malam, kalau di Banda Aceh masih agak sore, kami menuju padepokan AirPutih, tempat pendekar Dudi Gurnadi bersemedi dan menyebarkan ilmu kanuragannya untuk Aceh.

Sayang sekali, Alex yang sudah digadang-gadang untuk bisa ketemu dan membawakan titipan masyarakat tidak bisa keluar rumah karena Ibunya sedang sakit. Sudah sembuh belum lex?

Laporan lengkap, dan foto-foto mengenai kegiatan kopdar ini sudah ditulis lengkap oleh Abe.

Kondisi Aceh

Pada saat sampai di Bandara pada hari selasa, aku merasa takjub dengan keramaian di Bandara tersebut. Bandara terasa sesak oleh penumpang dari berbagai jurusan. Setelah aku tanya ke Sopir yang menjemput kami, menurutnya Aceh menjadi ramai begini setelah bencana Tsunami.

Internet-Teknologi
Pendekar Dudi juga mengatakan, bahwa sebelum Tsunami, di Aceh hanya terdapat 3-4 Warnet saja. Tapi sekarang sedikitnya ada 9 warnet yang beroperasi, selain itu aku melihat banyak iklan di media lokal banyaknya ISP-ISP yang melakukan bisnis di sana.

Pada awalnya internet di sana banyak melayani kebutuhan orang-orang luar daerah maupun luar negeri yang berkiprah dalam pembangunan aceh, tapi sekarang semakin banyak masyarakat lokal (kebanyakan dari luar daerah juga) yang disertakan dalam urusan IT untuk NGO-NGO tersebut. Tampaknya hal tersebut membuat masyarakat lokal semakin melek dengan internet.

Properti
Sementara itu harga sewa bangunan baik rumah, ruko, atau kos-kosan sangat tinggi. Bahkan Abe sampai berniat pindah kos karena sewanya yang sangat mahal. Menurutku juga kamar 3×3 di pinggiran kota seharga 6 juta/tahun memang sangat mahal, bahkan untuk di Jakarta, tapi itu harga yang wajar di Aceh.

Kata Abe, dulu pada saat NGO internasional mulai masuk ke Aceh, harga sewa rumah di pinggir jalan bisa mencapai 200-300 juta per tahun. Gila, ini sudah bisa buat beli rumah di Bekasi. Hal ini berbeda sekali dengan kondisi di Jogja, beberapa hari setelah terjadi gempa harga Bambu (yang merupakan kebutuhan terbesar bahan bangunan) hanya naik 500-1000 rupiah per batang. Ini mungkin karena budaya Aceh sekarang dipengaruhi budaya Kerajaan Samudra Pasai yang memang berjiwa pedagang.

Hukum Syariah
Penerapan Hukum Syariah di NAD juga sepertinya masih setengah-setengah. Bahkan masyarakat sendiri meragukan niat dari pemerintah dalam pelaksanaannya. Dari beberapa orang yang aku tanyai, sebagian mengatakan kalau hukum ini hanya berlaku untuk orang kecil saja, kalau pejabat, orang kaya, ataupun orang aparat masih juga kebal hukum. Wallahu alam, perlu tim investigasi khusus untuk menjawabnya.

Di lain pihak, ada pihak-pihak yang menyalahgunakan hukum syariah ini untuk melakukan pemalakan. Di berbagai media lokal, banyak diberitakan tentang sekelompok polisi syariah dadakan (4-6 orang) yang ‘merazia’ tempat-tempat hiburan dan wisata. Mereka mendatangi pasangan muda-mudi yang sedang duduk berdua, lalu mengancam akan mengarak atau menghukum sesuai syariah, tapi bisa dibebaskan kalau membayar ‘uang denda’ yang berkisar 1 juta, negotiable.

Preman sinting, mana ada orang pacaran bawa duit segitu, ini kan Aceh bukan Texas.

Preman-preman seperti ini seharusnya menjadi prioritas utama untuk segera dibasmi, kepercayaan masyarakat terhadap hukum Syariah harus segera diperbaiki jika benar-benar ingin membentuk Aceh yang lebih baik.

Pulang ke Jakarta

Rabu sore, aku sudah harus kembali ke Jakarta. Sebenarnya kantor memberi jadwal sampai hari kamis atau jum’at, tapi aku minta sampai hari rabu saja mengingat istri sedang dalam kondisi hamil dan sendirian di rumah kontrakan.

Di Bandara, kondisinya sama dengan saat aku datang, terminal penuh sesak dengan penumpang ke berbagai jurusan. Aku sempat kaget mengetahui ada pesawat yang melayani rute Aceh-Ambon.

Dengan perjalanan kemarin, berarti aku sudah menginjak seluruh pulau besar di Indonesia. Walaupun cuma untuk 32 jam saja.

25 Responses to “32 Jam di Banda Aceh”

  1. gravatar ndra Says:

    oleh2nya manah?

  2. gravatar Ibnu Umar Says:

    aceh…tetep aja gak berubah
    ngopii terus, sementara relawan sibuk ngangkutin jenazah …

  3. gravatar vnz Says:

    DAri dulu pengen ke Aceh tapi belum keturutan :(

  4. gravatar Luthfi Says:

    horeeee ……..
    tumben selisih antar postingnya deket

  5. gravatar Markentir Says:

    Numpang lewat, lam kenal… ! Postingan mas okay punya deh! Tsunami,.. hikz ngeri! Eya mas, blog saya mo saya kasi judul “Kriting nDangdut” bagus gak ya? Gmn c bikin themes nya? Thanks berat…

  6. gravatar endhoot Says:

    Her, oleh2 daon mana?

  7. gravatar hericz Says:

    #endhoot+ndra: nggak ada oleh-oleh, alex gak bisa muncul :p

    #Markentir: awas lho, itu nama kriting ndangdut itu membawa tanggung jawab besar lho :D

  8. gravatar abe Says:

    Yoih her,
    Harga disini sinting kalau menurutku ketika pertama kali menjejakkan kaki disini. Sama seperti yg “kamyu” bilang harga hotel di Banda Aceh yg tidak berkelas sama dengan harga hotel diprovinsi lain yg berkelas.

    Terus sebagai ilustrasi, Aku sewa rumah di Medan (sebelum nikah) dengan spesifikasi 2 lantai dan 4 kamar serta 2 kamar mandi hanya Rp.4Jt setaon. Nah di Aceh kamar 3×3 dan kamar mandi diluar (tentu saja tidak ada AC dan fasilitas manja lainnya) dihargai Rp.6Jt, DEM!

    Niwe eperibadih, aku baru pindahan kos ke rumah kontrakan. Jadi kalau mau ke Aceh dan ogah nginep di hotel (yg biasanya mahal) boleh lah nginep di rumah (masih kontrakan) saya dan fanny. ^_^

  9. gravatar geblek Says:

    pesta daun neh sama gajah aceh

  10. gravatar rani Says:

    wah aceh, sedap. cobain ayam tangkap gak? Itu sedap banget!

  11. gravatar QZoners Says:

    Wah, aceh… Moga setelah banyak bencana mereka lebih paham tentang pentingnya menjalankan syariah Islam

  12. gravatar hericz Says:

    #rani : wah, jelas dong. sampai 2 kali makan ayam tangkap :D

  13. gravatar yusuf arek solo Says:

    semoga Aceh menjadi jauh lebih baik…. kapan ya bisa ke aceh pengeeen bangeet
    doain yaa.. maklum wong ndesoo katrowk tenan

  14. gravatar dudi Says:

    32 jam di banda aceh masih kurang hen. masih perlu lebih lama lagi untuk liat keindahan aceh.

    sayang kemarin kita gak sempet duduk makan duren bareng ya. kekeke

  15. gravatar tjoet poetry Says:

    ass..saya tjoet putri dari atjeh, maaf sebelumnya, saya cuma mw ngasih kabar ttg Atjeh skrg..Alhamdulillah sudah jauh lebih baik dan insya Allah semakin lebih baik.

  16. gravatar cut Says:

    atjeh??

    yup
    tmpt nya mang asik bgt
    wlpn ngga ada mall disini
    but cukup asik jg la
    kl bs minum kopi ulee kareeng
    mie aceh lampuuk
    nongkrong di kojek
    n weekand di pantai lhoknga :)….

    n still berharap kl pembangunan pasca tsunami nya bs dijalanin dengan baik
    n bnr2 mikir tuk kebaikan masyarakat

  17. gravatar tya Says:

    askm.Sy slh 1 mhs dr aceh,yg saat ne kul di Pekanbaru.Sy mrsa sgt sedih dgn kondsi aceh saat ne,yg smkin hboh dgn kedzaliman diaceh…!ap lg brsan smpt bc comment dr tmn2 diats.Sy brhrp,aceh kedpn lbh baek n lbh mnjlnkn syariah islam.AMINNN.

  18. gravatar mamat Says:

    kemaren baru dari sana… cuman tetep… Lemot bangets sekali pisan itu koneksinya… dari 4 yang tak jalani waktu malam pas ngenet.. hampir semuanya membuat fakir koneksi .. huhuhuhuh.. mirip telkomnyet jadinya…

  19. gravatar sarah Says:

    mau asam sunti na donk..soalna itu bumbu kas aceh banget….

  20. gravatar stantovic Says:

    waktu smu dulu, di band aceh perasaan warnet ada lebih dari 10 tuh….duh..kapan ya bisa balik ke sana lagi

  21. gravatar stantovic Says:

    waktu smu dulu (1999-2002), di banda aceh perasaan warnet ada lebih dari 10 tuh….duh..kapan ya bisa balik ke sana lagi

  22. gravatar Zahara AyU Says:

    hmmm….so detail dude…. Ngasih gue banyak informasi after left aceh since 2000. Trus jadi mikir lagi…ternyata ini ya yang dipikirin ma people non-aceh… JAdi brasa ngdapatin other view ’bout aceh… Thanks Dude…

  23. gravatar budi setiawan Says:

    Saya baru pulang dari Aceh, kelihatannya memang PAD dan subsidi baik dari pusat maupun fund dari luar cukup besar, kita do’akan ya Orang Aceh bisa amanah sehingga mereka bisa jadi ummat yang besar seperti pendahulunya. Tapi ‘katanya’ mulai muncul korupsi2an nih wah,hati2 akh nanti datang Tsunami babak dua

  24. gravatar kurakuras Says:

    aceh…
    kapan ya aku diajak ksana??????
    hiks…

    nyobain mie kepiting di lhoknga,ueeennaak tenan lho,hehe

  25. gravatar brainopener Says:

    Aceh nggak akan pernah maju kalau orang Aceh masih punya hobi untuk bohong.
    Aceh juga nggak akan pernah lebih baik kalau anak-anak muda Aceh masih mencampur antara kebusukan dan kebaikan.Hari Jum’at ke mesjid bawa ambal,hari Minggu ke laut bawa cewek.

Leave a Reply