Piramida Pelacuran Nasional
Seorang pemuda berusaha ngobrol dengan seorang gadis cantik yang baru dikenalnya di bis kota:
Cowok :”Eh begini, aku boleh cium kamu ndak?”
Cewek :”KURANG AJAR! Gak mau lah, capek deeh”Cowok :”Kalau aku kasih duit 1 milyar, aku boleh cium kamu?”
Cewek :*melirik sinis* “Yah, kalau kamu punya uangnya, boleh saja”.Cowok :”hmm.. kalau cuma ada 50 ribu boleh cium?”
Cewek :”KAMU PIKIR AKU PELACUR?”
Cowok: “Lho, kamu tadi sudah jawab boleh cium kalau ada uangnya kan? berarti sekarang tinggal masalah tawar menawar saja tho. 100 ribu boleh?”.
***
Aku tumbuh besar di sebuah desa di Jogja, jauh dari pusat keramaian dan pusat pemerintahan. Karena didominasi kehidupan petani, kehidupan berjalan dengan santai dan damai. Walau begitu, sudah menjadi cita-cita hampir semua anak (dan orang tuanya) untuk menjadi pegawai negeri, polisi, tentara atau apapun yang berseragam dan digaji negara.
Sudah menjadi pengetahuan umum di desaku, bahwa untuk menjadi ‘apapun yang berseragam’ itu, perlu banyak biaya. Untuk jadi polisi perlu 25-40 juta, untuk jadi pegawai kabupaten perlu 10-20 juta, dan seterusnya. Biaya bisa bervariasi tergantung kekuatan ‘orang dalam’ tempat anak-anak petani itu dititipkan. Bagi para petani, ‘uang tiket’ sebesar itu berati sawah beberapa ribu meter yang didapat dari warisan harus dijual.
Pengorbanan menjual sawah dihitung-hitung tidak rugi untuk masa depan sang anak supaya jadi ‘orang’, lagipula sawah sudah tidak memberi keuntungan lagi. Pupuk mahal, tikus merajalela, harga gabah murah. Dan sebagian besar memang mereka tidak menyesal, setelah beberapa tahun anak-anak mereka sudah bisa membeli RX-King, membangun rumah yang cukup bagus, dan tentu saja berseragam. Oh iya, waktu itu belum musim honda Tiger dan Bajaj Pulsar.
Regenerasi Pelacuran Kekuasaan
Anak-anak petani tadi akan duduk satu meja, berdiri satu lapangan, menghormat ke satu pembina upacara, dan mengantri satu loket gaji dengan ribuan orang lainnya di pemerintahan. Loket gaji yang membuat mereka sadar bahwa uang tiket mereka tidak sebanding dengan gaji mereka. Perlahan-lahan -secara massal, dan terstruktur- akan diajarkan bagaimana agar segera balik modal.
Caranya bermacam-macam, meminta uang dari masyarakat, memberi setoran ke atasan agar cepat naik pangkat, dan lain-lain.
Istilah Pelacuran sepertinya terlalu kasar, tapi pada intinya begitu.
- Sudah, nggak usah ikut sidang tilang. Bisa nitip lewat saya, 25 ribu saja.
- Kamu bisa dapat KTP, tapi bayar 250 ribu.
- Ndak usah repot-repot ikut ujian, bayar saja 300 ribu, nanti SIM tinggal foto.
- Kamu bisa naik pangkat tapi harus setor 40 juta.
- Kamu bisa jadi kepala bagian, tapi harus setor 50 juta.
- Pesawat yang patah mau saya cat dulu, kamu butuh berapa agar bilang ke wartawan kalau ini ‘nggak menyalahi aturan’?
- Kamu bisa tetep dapat subsidi 60juta/tahun/praja, tetap bisa jadi staf kabupaten kalau kamu tutup mulut tentang teman2-mu yang mati dipukuli.
- Sebelum bapak kasih laporan tentang hasil investigasi di Kampus saya, ini ada sedikit uang saku buat keluarga di rumah.
Ini tidak bisa dihentikan. Sistemnya sudah terlalu kuat, karena sudah merasuk ke alam bawah sadar masing-masing member, dan sudah merasuk ke alam bawah kantong anak istri mereka di rumah. Saat sudah terbiasa berpenghasilan -misalnya- 10juta/bulan (hasil melacur), susah kalau harus hidup biasa dengan gaji 1.5juta/bulan.
Karena terstruktur, terorganisir, serta rapinya sistem doktrinasi pelacuran ini, sampai-sampai saat ada orang luar yang mau membantu menyelamatkan malah dituduh memojokkan, menyerang, atau memberitakan secara tidak berimbang.
Bahkan, karena saking kuat pengaruh saling melacur di lingkungan pemerintahan ini, masyarakat sampai ikut terdoktrinasi.
Tidakkah kalian lihat, bahwa sistem aliran uang di lembaga-lembaga itu mempunyai rantai-DNA yang sama dengan arisan berantai, MLM ngawur, dan skema investasi via ATM, ataupun sistem-sistem piramida pembunuh massal lainnya.
***
Aku tahu, banyak orang yang tidak menganggap dicium sebagai penyerahan harga diri atau sesuatu yang sakral (oh hebatnya doktrinasi film holywood) tapi aku masih bertanya-tanya, wanita-wanita cantik itu dibayar berapa oleh manajemen agar mau dicium Tukul Arwana.
–
gambar ambil dari uptownshelter tanpa ijin
April 14th, 2007 at 6:21 am
sedih juga sih klo aparatur negara udah kayak gitu, seperti yang bro hericz bilang
==
Sistemnya sudah terlalu kuat, karena sudah merasuk ke alam bawah sadar masing-masing member, dan sudah merasuk ke alam bawah kantong anak istri mereka di rumah.
==
sulit rasanya berharap sama yang sudah ada sekarang. harapan kita moga2 generasi setelahnya tidak mengulangi kesalahan seniornya dulu
April 14th, 2007 at 6:34 am
*sedih*
*log out*
April 14th, 2007 at 11:39 am
semoga Alloh membalikkan apa yang terjadi di bumi Indonesia …
asal ada ikhtiar, paling tidak dari diri kita sendiri
April 14th, 2007 at 12:07 pm
hmmm..speechless…:-(
April 14th, 2007 at 5:30 pm
hmmph
tet test http://bimoseptyop.blogspot.com
April 14th, 2007 at 6:14 pm
Indonesia banget GTL [-(
sedih jadinya. juga sedih karena sekarang “cium” da jarang dianggap sakral lagi. orang sekarang gampang banget cium2an …
April 14th, 2007 at 9:44 pm
udah biasa kayanya yang kaya gitu,, mulai dari yang kecil kecil ampe yang gede gede,, mutusnya pasti susah banget!
April 14th, 2007 at 11:35 pm
Bergerak !!!.
Mengandalkan pemerintah,hanya akan meng-ulur ulur mata rantai seperti ini menjadi berkembang biak ,jauh lebih besar.
anyway reformasi,apa kabar ?
April 15th, 2007 at 10:44 am
her…
kalo liat negri orang rasanya ngiriiii…
kapan indonesia bisa kaya kuwait, toh masalah terbesar di indonesia ya itu… pemerintah!
aku ga tau sampe kapan indonesia begitu. yg aku cuma bisa lakukan ya itu, mulai dari sendiri.
April 15th, 2007 at 8:53 pm
nah, jangan-jangan wanita itu aslinya gak dibayar pake duit, tapi tampilnya mereka di tv juga sebagai bentuk ‘bayaran’ karena mereka muncul. selamat datang dalam dunia bisnis! hehehe
April 15th, 2007 at 10:56 pm
Memang sudah begitu, mau apa lagi? Tau gak kenapa negeri kita tetap begini2 aja, karena doktrinasi orang tua ke anak-anaknya begitu kuat. Orang-orang tua yang sukses (dalam arti banyak duit), ingin agar anak-anaknya seperti mereka. Orang2 tua yang kurang sukses ingin anak-anaknya sukses seperti orang-orang sukses mereka tau. Padahal ada yang lupa mereka tanya? Dari mana mereka dapat duit? Alhasil semua cita-cita anak adalah cita-cita orang tuanya.Ya udah, beginilah jadinya Indonesia, wajah aja yang berubah, tapi jiwanya sama aja.
April 16th, 2007 at 9:38 am
Klo cium aja 50 Rb mah kemahalan.. Tapi klo jadi pejabat daerah mo nyosor ke bunga desa 20 Juta mah murah wae toh.. wong bisa dapet lebih dari 10 khan..
April 16th, 2007 at 10:05 pm
lho, Her, pengen dicium Tukul juga?
April 17th, 2007 at 4:10 pm
#dudi: hihi, kalo aku yang cium tetep bayar berarti ya?
#fahmi: emange kowe mbah!
April 18th, 2007 at 12:27 pm
Bubarkan IPDN.
April 18th, 2007 at 1:53 pm
jadi setor duit dulu, kuliah, digebugin senior, gebugin junior, lulus jadi camat, trus usaha balik modal?
pantes ga abis-abis….
btw, bukannya Tukul juga dibayar buat cium wanita-wanita cantik itu?
April 19th, 2007 at 10:15 am
[…] sistemisasi kebobrokan dan pelacuran pendidikan yang sangat “rapi”, lintah pun akan berhenti ketika sudah cukup darah, kalian seperti monyet yang menggenggam makanan di kedua tangan di kedua kaki dengan mulut penuh dan masih minta lagi. […]
April 19th, 2007 at 3:12 pm
sepertinya di sini memang serba ujung-ujungnya duit. parah!
April 24th, 2007 at 10:21 am
udah jadi “budaya” sih
waktu dulu … ada isu … “bikin SIM ngga bisa ‘nembak’ lagi” … yang complain justru mereka mereka yang mau bikin SIM, karena ngga sekarang bikin SIM ngga ’semudah’ dulu lagi.
Ujung2nya … ya balik lagi deh ke budaya ‘tembak-menembak’ (nyogok).
April 27th, 2007 at 11:23 pm
wah bener banget nih.. kalo masih oknum-oknum dalam negri masih melakukan hal yang seperti ini bagaimana negara kita mau maju dan lebih bener lagi yaa.. Kepada oknum” tertentu, sudah lah jangan melakukan hal yang seperti ini supaya negara kita bisa lebih maju lagi, dan tidak menjadi negara yang terus menerus menanggung bencana.. akibat perbuatan dan tangan sendiri.. Aku yakin bisa kok.. Key… Wasalam
April 29th, 2007 at 7:37 am
duh
moga2 cepet berubah ya…
doa…doa..dan doa…
ipdnq sayang ipdnq malang
May 18th, 2007 at 7:19 pm
wah,,wah,,wah
kaya gt c..umum,tanpa ditutupi semua tau tp koq negara diem aja gt?!
dicium?!mau donK!!he,,,
tp g mo’ akh serem dicium cz udah banyak gayannya sekarang yg ada ntar bibirku doer lg ky tukul,he,,,(sory ya tukul?!)
so’jgn mudah deCh dicium ato mencium seblm ada tali pernikahan!!!
June 5th, 2007 at 5:57 pm
Yaah, inilah gambaran dunia nyata yang sering kali kita lihat dan dialami banyak orang di negeri yang kita dudukin sekarang ini. Kakek,nenek pada tau.. para orangtua kita juga tau bahkan kita-kita ini jelas juga sama taunya, yang lebih mengejutkan sekarang ini anak-anak kita pun udah pada tau BAHWA itu semua contoh yang ndak baek,dan jelas menyedihkan,…lantas mau apa ?
tau gak nanti pun bayi2 yang pada baru lahirpun akan pada tau dan mengerti, ternyata dia hidup di negeri seperti apa.
mari kita semua siapapun kita kelak jangan kotori bayi2 suci yang baru lahir, dengan memberi contoh perilaku yang ndak baek, contoh2 perilaku yang ndak benar sebagai kita orang tuanya.
dan buat Pemerintah fokus benahin dunia pendidikan mulai berangkat dari bayi tadi, dengan tidak perlu meng-agung2 kan pendidikan dari dunia barat sana. Ok
June 7th, 2007 at 1:34 am
ya ,mau bagaimana lagi memang kita hidupdi zaman yang menghendaki demikian jadisesuatuyang sebenarnya nggak lumrah jutru menjadi sesuatu yang lumrah karena semua setuju dengan hal itu.
July 7th, 2007 at 9:25 pm
knapa ya mes tukul bisa ngetop kyak sekarang ???? tapi se’ inget saya mas pertama kelihatan di tV jadi latar’na jhosua kan???????? kapan2 ajak saya kelihatan di Tv ya? mungkin cari artis figuran??????
July 13th, 2007 at 12:44 pm
Menyedihkan memang nasib negeri ini. Pelacuran dimana2, termasuk dalam birokrasi.Saya yakin, masih ada orang-orang jujur di negeri ini. Masih ada orang yang takut pada Penciptanya daripada takut pada manusia. Mari, perbaiki negeri kita, mulai dari diri kita. Mudah2 suatu saat nanti negeri ini akan jadi lebih baik, mesikun saat itu kita sudah tiada lagi..amin…
July 30th, 2007 at 4:03 pm
Menyadihkan emang. Tapi penyelesaiaannya apa, dunk!
August 1st, 2007 at 3:29 pm
belum tahu juga sistem yang salah atau orang yang salah. bung herics sptnya tau betul hal2 macam itu. semoga kita tidak terjebak disitu. Betul bung Herics…?
August 8th, 2007 at 2:47 pm
betul kang
akupun pernah merasakan hal yang sama
untuk ndaftar jadi polisi or yang berseragam ijo-ijo paling ndak harus punya “modal”
kalopun ada yang tanpa memakai itu smua hanyalah 1000/1,istilahe “bejo”
Sebagai informasi sekarang tarif jadi polisi sampai 100 juta,tapi ada uang segitupun belum tentu keterima tergantung ama yang “mbawa”
istilahe sekarang itu semua calon polisi itu “pake”jalur itu jadi kalo ga ada”bejo” dan Kuatnya yang”mbawa” tadi ya mercuma alias nyetor uang beberapa juta tapi percuma.
untuk jadi seragam ijo-ijo pun ga jauh beda,sampe-sampe temenku ndaftarnya dari luar pulau jawa,padahal dia itu aseli njowo tapi ya itu tadi karena diluar jawa yang daftar dikit..
ini hanya pengalamanku aj yang pada akhirnya aku yang dengan uang juga ga bisa keterima,tapi mungkin 4JJ I masih berbaik hati padaku yang ga mengijinkan aku menggunakan dengan cara seperti itu.
August 9th, 2007 at 7:21 pm
hmmmm
August 13th, 2007 at 10:46 am
Nggak semua yang lo denger itu benar
hai orang-orang yang nggak pernah kenal ama ipdn jangan terlalumembesar-besarkan sesuatu yang tidak perlu coz nggak semua praja yangbertingkah aneh seperti itu masih banyak praja yang berbudi pekerti luhur jadi jangan jadi sok pahlawan ingin ngebubarin kampus kami tapi keluarkan orang yng membuat kampus kamiseperti in baik itupraja bahkan PEJABAT-PEJABT yang ada di balik semua ini…
selam manglayang masih berdiri kokoh maka selama itu pula almamater saya akan tetap exist berdiri kokoh menghasilkan calon pemimoin yang negarawan, demokratis, dan profesional….
BHINNEKA NARA EKA BHAKTI…!!!!
August 15th, 2007 at 11:09 am
Kapan kiamat ya??
males liat sistem yang selalu membudayakan uang.
kalo dirunut dari belakang, ini adalah buah dari sistem ekonomi kapitalis. satu bagian dari negativity budaya barat yang diadopsi secara serampangan oleh negara kita.
sama seperti ciuman yang sekarang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita. dulu orang pacaran dirumah, sembunyi2. sekarang malah terang2an kissing di bawah jembatan layang.
“pelacuran” ini tidak hanya menjadi kebiasaan. tapi sudah menjadi sebuah budaya yang sulit kita hindari. bahkan kadang kita ikut terseret kedalam arus tersebut.
mau mengubah sistem? hapus dulu sistem yang berjalan sekarang beserta seluruh aparat dan atributnya. kemudian kita bentuk sistem baru sesuai dengan idealisme kita.
artinya, revolusi. radikal? memang. tapi jika hanya mengandalkan evolusi pemikiran, prosesnya akan sangat lama. kemudian kemungkinan untuk kembali ke titik nol sangat besar (reversible). y karena sifat itu tadi, biasa dengan gaji 10jt, tidak akan bertahan dengan gaji 1,5 jt.
salam.
ER
September 17th, 2007 at 10:17 am
kayaknyah sih papa aku memilih gajian sing 1,5 juta aja daripada sing 10 juta. mangkanya aku ndak jadi dapat haphaw baru :’(
nasippp… ;))
September 21st, 2007 at 11:21 am
gmn ya…?kok kelakuan seperti tu diperiarak.munkin yg ngelakuin hal itu,saat mata kuliah agama n ppkn ga ikut kali….(dimasa kuliahny).
satu hal yg dbtuhkan oleh mereka.dan 1 hal mat penting n mendasar skali yaitu KEJUJURAN.insya allah jika kejujuran dijunjung tinggi,INDNESIA bisa maju sejak dulu.GAK seperti ni….msh berkutat dngn kemiskinan,kekerasan,kebodohan dll
September 21st, 2007 at 3:06 pm
Fakta yang sangat menyedihkan dan memalukan bagi bangsa ini. Sayang sekali, kebanyakan orang tidak mau peduli dengan hal tersebut dan tidak mau mengubahnya.
Solusi yang terbaik mungkin perubahan dari diri sendiri terlebih dahulu. Setelah diri sendiri, mengajak melakukan perubahan kepada keluarga, teman dekat. Sedikit demi sedikit, secara perlahan-lahan. Cara ini mungkin cara yang terbaik tetapi membutuhkan waktu yang sangat lama (puluhan tahun?ratusan tahun?).
Solusi lain adalah penggunaan darah baru di pemerintah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Zaim Uchrowi. (http://myks.wordpress.com/2007/09/10/darah-baru/)
November 9th, 2007 at 10:10 pm
====PARAH====
*****THE END****
November 21st, 2007 at 3:55 pm
nb. buat wanita-wanita cantik daripada di cium sama tukul arwana, mendingan di cium ama gw..
March 4th, 2008 at 12:33 pm
Yang harus kita sadari adalah kita manusia beradab. Untuk jaman sekarang sudah banyak yang pintar dan membuat definisi sendiri sehingga dapat mengamankan dirinya dari tingkah laku yang memang salah.
Saya cuman bisa mengingatkan kita semua eling (ingat !!!): Tuhan, mati, dosa, ingat adik/anak.
Oke ya ! !
jangan ikut gaya tukul kalau nonton boleh saja. Itulah gunanya sekolah agar dapat memilah-milah mana yang baik dan yang buruk.