Nonton Wayang Orang di Jakarta?
Memasuki usia kehamilan 5 bulan, kondisi istriku semakin membaik. Mual-mual bisa dikatakan tidak pernah lagi, gangguan pencernaan maupun kondisi tubuh yang mudah pusing juga sudah hilang. Sekarang kita bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa, nonton misalnya. Tempat tinggalku sekarang berada di pusat kota, bahkan kalau kita nonton ke BlitzMegaplex cukup jalan kaki saja 15menit, atau naik motor 5 menit (tambah nyari parkiran+parkir motor+ngunci helm kira-kira 10 menit).
Istriku sangat menyukai kebudayaan Jawa, baik gamelannya, wayang, maupun kesenian jawa lainnya. Sabtu kemarin, dia dan temennya (Lina) janjian untuk nonton Wayang orang di Gedung Bharata, Jl Pulolio/Jl Gunung Sahari, kawasan Senen, Jakarta Pusat. Sebuah Gedung kesenian Tradisional Jawa yang sampai sekarang masih eksis, bahkan mungkin melebihi yang ada di Yogyakarta.
Sesuai jadwal, lampu ruangan dimatikan tanda pentas dimulai tepat pukul 20.30. Malam itu, pentas yang dilakonkan adalah Palguna-Palgunadi, kisah dimana Palguna alias Arjuna alias Janoko alias Permadi, berkonflik dengan Palgunadi. Palgunadi adalah adik seperguruan Arjuna di padepokan Pendeta Durna.

Kemewahan Budaya
Seperti biasanya, gedung pertunjukkan yang mampu memuat sekitar 500 penonton tersebut berisi sekitar 3/4 penuh. Tempat duduk yang empuk dan nyaman, dan pengaturan AC yang tepat (bukan setelan freezer seperti di bioskop 21) , membuat penonton yang kebanyakan berusia 30 tahun keatas bisa merasa nyaman disana. Beberapa anak umur 10-an tahun juga tampak antusias melihat pentas sambil mendengar terjemahan dari ayahnya.
Beberapa speaker JBL ditata sesuai dengan akustik ruangan sehingga membuat seluruh penonton dapat merasakan hentakan suara kendang, dentuman gong, maupun suara berisik kecrek dengan loud and clear.
Berbeda dengan doktrinasi kapitalis yang kental saat memasuki kawasan Bioskop 21 “Dilarang membawa makanan/minuman dari luar area”, di Bharata penonton bebas keluar masuk membawa makanan dan minuman. Bahkan kita bisa pesan Indomie telor kornet + Teh botol dan diantar ke tempat duduk kita (ada nomernya kok). Uwenak polll!
Wayang orang dimulai dengan tarian-tarian, lalu muncul tokoh-tokohnya bergantian. Tokoh-tokoh wanita selalu b..e..r..b..i..c..a..r..a d..e..n..g..a..n p..e..l..a..n. Tokoh buto selalu pethakilan dan banyak bergerak, sementara itu tokoh bangsawan dan dewa-dewa tampil dengan anggun dan berbicara secukupnya dengan bahasa Jawa kromo inggil yang haluus banget.

Lha bicara secukupnya itu yang membuatku yang kurang mengerti kisah-kisah pewayangan jadi bingung mengikuti alur ceritanya. Sebentar-sebentar harus bertanya pada istriku, “Eh, kalau ini siapa? barusan ngomong apa ya? Oh, jadi itu Palgunadi…”
Walau kadang berharap di bawah panggung muncul subtitle berbahasa Indonesia, tapi pentas ini tetap sangat menarik. Ah, kalau aku nonton tari kecak di Bali juga nggak harus ngerti dialognya. Mungkin karena bawa kamera, aku jadi sibuk membidikkan kamera sepanjang pertunjukkan berlangsung. Lampu panggung yang cukup terang cocok untuk yang ingin mengambil gambar adegan demi adegan.
Gaya Pewayangan plus Gojek Kere
Di era Spiderman, Star Wars, dan Smack Down ini, pentas wayang orang bagi sebagian orang, terutama anak muda merupakan hal yang membosankan. Adegan-adengan memang lambat dan penuh seni, berjalan ada aturannya, berbicara juga ada aturannya, bahkan berkelahi juga ada pakemnya.
Tapi masalah berkelahi ini, pelakon-pelakon Bharata memang sangat mahir berakrobat salto, jungkir balik, lempar melempar senjata dan adegan menegangkan lainnya di atas panggung. Melihat adegan perang ataupun perkelahian antar jawara-jawara biasanya membuat penonton hanyut dalam ketegangan.
Di saat seperti itulah kemudian muncul adegan Goro-goro, yaitu munculnya tokoh Punokawan (Gareng, Petruk, Semar, dan Bagong) yang membawakan adegan-adegan yang lucunya ndeso, kampungan, tapi sangat mengena. Dan yang paling penting tetap membuat tertawa karena berdialog dengan bahasa Jawa ngoko (biasa) sehingga mudah dicerna.
Materi guyonan minggu kemarin bahkan sangat kuno: Bagong butuh pompa air, lalu Petruk menyanggupi membelikannya. Petruk lalu menyuruh Gareng berpura-pura menjadi Pompa Air dan tentu saja dengan cara berpose, dan tak lupa harus menyemburkan air saat ‘dipompa’. Wis jan, pokoke ndeso tenan. Tapi ya tetap saja aku kok tertawa terpingkal-pingkal yo.
Dan tak lupa, adegan goro-goro ini ditutup dengan lemparan-lemparan rokok dari penonton. Rokok yang disertai dengan ucapan salam dan request lagu itulah yang membuat penonton dan pemain menyatu.
Jadwal Pentas
Nah, kalau misalnya Sabtu malam ini semua bioskop penuh karena semua anak SMA sampai pegawai kantoran junior memborong habis tiket Spiderman 3, Wayang Orang Bharata ini bisa menjadi Alternatif. Tontonan budaya ini juga cocok kalau misalnya orang tua kita dari Jawa pas berkunjung ‘nengok cucu’ dan kita perlu mengentertain mereka, hehehe. Cocok juga bagi mereka yang merindukan suasana kesenian jawa yang sederhana tapi penuh makna.
Dengan harga tiket yang cuma 20ribu, ini akan jadi pengalaman yang tak terlupakan untuk seluruh keluarga *halah emangnya Dufan*
5 Mei 2007 : Srikandi Jadi Ratu
12 Mei 2007 : Petruk Kelangan Pethel
19 Mei 2007 : Kumbokarno Gugur (Ramayana)
26 Mei 2007 : Gatotkaca Sungging
9 Juni 2007 : Setyaki Kromo
16 Juni 2007 : Gareng Kembar
23 Juni 2007 : Indrajit Gugur (Ramayana)
30 Juni 2007 : Srikandi Kembar Tiga
Karena biasanya tempat duduk bagian depan akan cepat habis, lebih baik hubungi dulu Bharata di 021-70642535 untuk memesan tiket jauh-jauh hari sebelumnya. Weh, malah ngiklan.
Tapi ternyata bisa kan, nonton wayang Orang di Jakarta.
May 1st, 2007 at 11:24 pm
Wah, Kalau Di Malang sih gag usah bayar alias Gratis.
May 2nd, 2007 at 5:43 am
jan canggih tenan pengelola gedung bharata, manfaatin reviewme buat direview disini. eh bener begitukan?
btw, gedung bharata itu yg depan menara era bukan ya?
May 2nd, 2007 at 8:23 am
heheh aku sih bukan produk budaya dan ‘alam’ Jawa, krn walaupun keturunan Jawa, tapi besar di tempat lain.
biar gimana, walaupun juga suka budaya impor, aku tetep suka banget sama budaya Jawa, dan budaya tradisional pada umumnya deh. nonton wayang, suka. pake kebaya, suka banget!!!!
May 2nd, 2007 at 8:33 am
Kenapa gag nongton di tipi er i aja?
murah meriah, gak perlu pergi2 dr rmh
May 2nd, 2007 at 8:39 am
wah, dadi pengin nonton her. tp lokasinya itu lho, syereeem…
May 2nd, 2007 at 9:04 am
#4 : nyang di tepe-er-i dulu emang ada tiap hari minggu jam setengah sebelas malem tapi sekarang gak ada lagi kayaknya. Lagian si ganteng yang jadi arjuno di atas gak maen klo di tipi..
#5 : ayo mas adi nonton bareng, ntar bareng ma vita + julian klo ke jakarta
May 2nd, 2007 at 9:25 am
#dhika: err.. iya di seberang menara Era.
#kang Adi: syerem gimana tho kang?kayaknya biasa aja. Jauuuh kok dari terminalnya
aman dan damai.
May 2nd, 2007 at 7:18 pm
Acung jempol untuk pekerja2 seni di gedung bharata.. !!
(Mas, tolong dong kasi comment di blog saya, biar semangat, saya kan new blogger. Minta ijin nyomot alamat blog mas hericz juga ke daftar blogger saya yak, boleh gak?)
May 3rd, 2007 at 3:33 pm
Nonton Wayang Barata = nonton yang ndapuk Arjuno…Jaannn tambah ganteng saja, sampe ira tidak bisa komentar kalo aku sudah mulai muji-muji
May 3rd, 2007 at 7:03 pm
pertamax
May 3rd, 2007 at 8:38 pm
Wah, rupanya WO Bharata sudah hebat sekarang. Syukur, apalagi kalau yang nonton bisa ratusan orang. Salut dan hormat utk para pekerja seni di WO Bharata. Yg punya blog, trims info jadwal main dan lakonnya. Sudah lama saya tidak nonton ke situ. Ayo sodara-sodari mari nonton wayang orang rame2…
May 4th, 2007 at 7:51 pm
keep on try
selamat kan warisan indonesia
May 6th, 2007 at 10:15 am
Hmm, bokap gw pasti suka banget baca blog ini…
May 7th, 2007 at 5:44 pm
doktrinasi kapitalis yang lo bilang itu rasanya lebih parah di Blitz Megaplex deh. idih. bener2 gak bisa beli makanan/minuman laen. di 21 (Plaza Semanggi, misalnya) kan masih bisa beli dari tempat lain. selundupin aja ke bioskop. huxhuxxhu
May 8th, 2007 at 7:36 am
wawawawaw…
pengen nonton juga nih jadinya her….
May 8th, 2007 at 7:59 am
Muanteb..kueren. Salut atas kinerja para lakon dan niyaga beserta menejemen. Semoga Pakdhe ga bosen nontonnya … kapan aku diajak nonton Pakdhe ?
May 8th, 2007 at 6:00 pm
Vitta ikutan ya nanti! Jangan ditinggal lho…hehe… Tapi ga tau kapan ke jakarta..hik..hik….
Btw pemeran butone karo aku syerem sapa?
May 10th, 2007 at 12:57 pm
Petruk kok ga mancung yo ri?
May 11th, 2007 at 4:36 pm
hayuuuuu nonton wayang orang,,,, yg dateng juga lucu2 kok,,bukan cm yg main
May 11th, 2007 at 4:37 pm
termasuk saya juga paling lucu loohhhh
May 11th, 2007 at 4:59 pm
tadi nya gak ngerti,,,
tadi nya gak suka,,
tadi nya bnr2 bikin ngantuk,,,
tadi nya bete,,
tapi krn ajakan nyokap gw yg super duper jawaisme itu….
akhirnya gw suka,,
akhirnya keren juga bisa beranteem sama raksasa,,,( look so real mannn,,,)
akhir nya setelah gw liat2 gak norak juga,,,
akhir nya gw rasa ternyata nonton wayang itu gak kalah gaul jga kok sama nonton 21 ato just have fun di kebayoran ato cm nongkrong di menteng,,,
nonton wayang orang itu byk pelajaran yg bermanfaat bgt,,,,!!
selain harjuna juga lucu hihihiiii
May 12th, 2007 at 6:17 pm
aaaa.. sayang jakarta jaoh..
tapi di bandung ada loedroek mo maen gede..
nonton aaahhh…
May 18th, 2007 at 4:42 pm
Woalah Mas…. ternyata bener lho, bisa nonton wayang orang di Jakarta. bahkan bisa ketemu sama ketua groupnya segala.
Eh ngomong-ngomong mereka ini sekarang lagi kesusahan lagi lho. Dapet Subsidi dari Pemda tapi nggak nyampe ke para senimannya. Lumayan kan 5 juta buat tiap kali mentas dibagi sekitar 90 orang, dipotong sewa kostum sama transport antar jemput. hehehehehe
May 20th, 2007 at 9:18 am
selamat ya kang… eh, ngomong2 jadwal tayangnya Spiderman VS Gatot Koco kapan ????
May 20th, 2007 at 11:37 am
#pak Haris, aku malah nggak pernah ngobrol sama orang-orang hebat di bharata. Isin mas
Yah, semoga kalau banyak yang nonton, Bharata bisa hidup abadi. Mulai kampanye saja dari lingkungan terkecil.
May 22nd, 2007 at 3:35 pm
jadi pengen. seumur-umur blom perna nonton wayang orang…tengkiu jadwalnya yaa
btw, di situ dilarang ngerokok dalam ruangan kan?
*masih suka eneg kalo cium bau rokok*
May 30th, 2007 at 9:16 am
#buat nYam: oh tenang saja, di sono bebas asap rokok. Yang ngerokok paling cuma yang nggamel aja hehehe
June 5th, 2007 at 12:30 pm
wayangnya mana dalangnya
June 5th, 2007 at 8:15 pm
salam,
bagaimana kalau saya mau lihat vcd/dvd-nya?????
saya tinggal di belanda.
terimakasih,
bambang
June 6th, 2007 at 12:40 pm
mas Bambang, kalau WO Bharata belum pernah mengeluarkan VCD tapi kalau WO Sekar Budaya Nusantara ada VCD nya. . WO Sekar Budaya Nusantara ini juga terdiri dari orang-orang WO Bharata
mas Hericz…kapan sowan lagi ke WO Bharata? terima kasih liputannya. .bagus sekali. . nanti aku berikan kepada teman2 di Bharata
salam,
mita
June 6th, 2007 at 10:00 pm
matur nuwun mas,
saya mohon alamat(e-mail)nya.
salam,
bambang.
June 11th, 2007 at 2:19 pm
Mas Dimana saya bisa dapatkan VCD Wayang Orang Sekar Budaya Nusantara
Panjenengan Punya Ndak?
Matur nuwon nggeh
June 12th, 2007 at 4:43 pm
aq suka banget yang namanya budaya apapun..apalagi budaya jawa yang syarat akan adat istiadat banyak cerita yang bisa diambil hikmah na…aq ngerasa terbawa banget saat nonton wayang orang di bharata…rasanya pengen bgt ikutan juga untuk berperan didalam na….
sukses untuk kebudayaan indonesia especially java culture…
June 26th, 2007 at 8:24 pm
bole ngopy foto2nya gak? buat pamer ke temen2 bule dsini, kikikik..
July 6th, 2007 at 3:30 pm
Ya mereka perlu diacungi jempol 4 krn mereka konsisten mempertahankan seni budaya yg sdh hampir punah, pdhl merekalah para pekerja seni yg dgn tanpa pamrih setiap saat hrs pentas dgn honor yg sangat minim
July 9th, 2007 at 12:40 pm
sekilas info–
Paguyuban Sekar Budaya Nusantara masih tetap konsisten dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya nusantara.
Dan sekarang Paguyuban punya situs baru, coba cek ke
www.sekarbudayanusantara.com
July 9th, 2007 at 11:30 pm
bos aku mau minta foto2 yang laennya bs ga di share?butuh foto2 tokoh pewayangan ni.aku jg dah email kok ke hericz@yahoo.com dan hericz@gmail.com,
thx banyak ya…
July 12th, 2007 at 5:46 pm
Pakdhe … klo mau mementaskan wayang orang di Sangubanyuseputaran Sleman-Jogja-Bantul, kontak saya njih, nanti saya bantu. Beres wis.. lg butuh t4 manggung ni
July 30th, 2007 at 2:41 pm
wOw,, kuL.. kuL..
faLL in tResNo wiTh dJawa,, T.T
huEEEbbbaaaTTT!!!
August 3rd, 2007 at 1:18 am
Mas-2 Bagus,
Lakonnya di bulan nopember itu apa??
Matur nuwun,
Bambang
August 9th, 2007 at 11:31 am
klo bulan mei s/d nevember ditempatku hampir setiap hari selalu ada pagelaran wayang kulit, musiknya rame dan yang paling enak gratis lo!!! malah biasanya dapat senek dari yang punya hajat,
September 13th, 2007 at 1:34 pm
Syukur kalo di Jakarta masih ada wayang orang. Saya juga pemain wayang orang di Blitar (jatim), semoga saja budaya khususnya budaya jawa tidak lekang di terjang jaman.
Sansaya suwe tansah ngrembaka ing sakindhenging buwana.
Nuwun.
September 17th, 2007 at 10:19 am
Wah Saya baru tahu, kalau di jakarta ada gedung yang secara rutin menampilkan wayang…..jadi ingin kesana untuk ngunduh kawruh, tanggal 13 sept ‘07 kemarin saya berusaha menampilkan wayang orang di UI, diluar dugaan ternyata banyak yang antusias, walaupun pementasannya sangat sederhana
September 26th, 2007 at 10:23 pm
Wah apik tenan.. mas
sampeyan patut dilestarikan. Eh maap maksude budayanya dan unggah-ungguh harus dilestarikan. Wong jowo wis ilang unggah-ungguhe. Salah sijine lewat materi seni.
October 5th, 2007 at 1:39 pm
lha…aku yang 19 tahun hidup di purwokerto aja belum pernah nonton wayang orang. lom pernah denger digelar di sini. jadi ngiri nih…
October 15th, 2007 at 11:27 am
Bagaimana ya? Aku ini pindah ke USA, di Houston Texas sejak 1975. Bisa nggak beli dvd nya? Apa mereka bikin DVD wayang orang? Adiku pulang ke Indonesia bulan yl, dia beli buku komik buatku. Kalau ada info alamat/website utk beli DVD. Trim’s ya.
November 2nd, 2007 at 12:25 am
aku ingin nonton!!!
bambang
November 8th, 2007 at 9:17 pm
wayang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
ingatkah/taukah kita siapa pertama kali yang menciptakan wayang?
wayang pertama kali diciptakan oleh kanjeng sunan kalijaga
November 8th, 2007 at 9:22 pm
hidup wayang,lama gue g” nonton wayang
November 18th, 2007 at 7:15 pm
wah wayang
mas boleh refer fotonya ya, buat promosi budaya indonesia 
December 21st, 2007 at 9:39 am
sbenarnya para pekerja seni di bharata harus diperhatikan
walau bharata masih eksis
sbenarnya mereka masih susah bernafas
karena kurang perhatian dari pemerintah dan masyarakat serta pihak swasta
bayangkan dengan 2,5 juta
harus bisa ngbayarin 100 personilnya
March 15th, 2008 at 12:35 pm
bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap… dogg derodoggg dogg
sansaya dalu araras… abyur kang lintang gumerlap… dogg derodogg dogg
Kocap kacarita, sewaktu kecil pernah diajak bokap (yang asli Yogya) nonton wayang kulit or wayang orang pas liburan sekolah or malem mingguan di kampung yang lagi hajatan atau di alun-alun kalo pas 17-an…
atau cuma paling ndengerin di Radio (semalem suntuk) bareng bapak sambil cerita kalo ndak tahu ceritanya…
Kalo pas mudik ke Bantul, Yogya sering juga diajakin kakek nonton wayang dikampung-nya yang seringkali ada…
Skarang dah ndak pernah lagi. Pengin skali-kali kalo ntar anak2 gue dah bisa jalan & boleh melek malem ama bunda-nya, ngajakin nonton wayang (nerusin apa yang pernah diajarkan ama kakek2nya)… Atau Les/Kursus nari Bambangan Cakil (kakaknya Cowok jadi Cakil adiknya yang cewek kadi Janaka)… Tapi masih ada nggak ya 5-10 Th kedepan… Kok gue jadi terharu ama nangis sich… (inget Almarhum Kakek yang seneng ama tokoh Semar ama Anoman)
Sukses selalu saja Bharata, moga kalo ke Jakarta ama keluarga mo nonton kesana….