24 October 2007

Bayi, ASI, dan Laktasi

Filed under: Keluarga, Tutorial — hericz @ 2:44 am

Awal bulan November 2007 nanti, Ibunya Fatih sudah harus masuk kerja lagi. Karena sudah bertekad untuk memberikan ASI ekslusif selama sedikitnya 6 bulan, maka jauh-jauh hari Ibunya Fatih sudah mempersiapkan dirinya dan tentu Fatih sebagai inti dari semua kegembiraan ini.

Persiapan yang dilakukan adalah:

1. Melakukan laktasi (memeras ASI)

Aku nggak tahu istilah resminya apa, tapi katanya sih kegiatan memeras ASI ini dinamakan laktasi. Aku juga baru tahu ada kegiatan seperti ini baru 1-2 tahun ini, dan sejak tahu ada metode ini jadi bertekad untuk mendukung Istri untuk melakukannya.

Ada beberapa cara untuk melakukan Laktasi:
- Dengan tangan, ini adalah cara paling sederhana yang bisa dilakukan. Ada banyak metode yang bisa dicari di internet.

- Dengan pompa (Breast Pump)
Pompa yang tersedia di pasaran secara umum dibagi menjadi 2: Pompa manual, dan pompa elektrik. Pompa elektrik menggunakan daya listrik untuk menggerakkan pompa hisap mini, sedangkan pompa manual menggunakan tangan untuk melakukannya.

Semua cara diatas sudah dilakukan oleh Mamanya Fatih.
- Dengan tangan: Murah karena tidak perlu beli alat bantu. ASI banyak berceceran kemana-mana, perlu berlatih teknik-teknik memeras yang efektif.

- Dengan pompa manual: Ibu susah berkonsentrasi karena selain harus memperhatikan kekuatan pemompaan, juga harus memperhatikan jangan sampai bocor dan menetes kemana-mana. Pompa manual ini harganya berkisar 80ribu hingga 200 ribu.

Mamanya Fatih punya merk Camera yang dibeli seharga kurang dari 100 ribu. Sedangkan Mamanya Sarah pake merk Avent yang harganya sekitar 200-300ribu. Katanya sih terbaik di kelas manual, hehe.

Pompa Manual, merk Camera
Pompa Manual, merk Avent

- Dengan pompa elektrik: Tinggal mengatur level penyedotan yang nyaman, pompa akan bekerja dengan stabil, berbeda dengan pompa tangan yang kadang kuat kadang lemah tergantung mood dari tangan yang memegang pompa. Hasil terakhir hari ini, dalam 5 menit bisa didapatkan 100ml.

Pompa Elektrik

Sayangnya harga pompa elektrik relatif agak mahal. Pompa yang digunakan sekarang adalah Medela Mini Electric, beli di ITC Kuningan seharga 590ribu. Sekilas memang terasa mahal, tapi coba bandingkan dengan harga Susu Formula yang berkisar 60 ribu - 150ribu/kgnya, dan hanya bisa dipakai untuk beberapa hari saja.

Akan tetapi perbandingan diatas hanya berlaku untuk Mamanya Fatih, mungkin bagi ibu-ibu yang lain memeras dengan tangan akan lebih cepat dan efisien.

2. Menyimpan ASI

Menurut beberapa literatur, ASI yang disimpan di suhu kamar dapat bertahan hingga 24 6-8 jam. Sedangkan ASI dapat bertahan hingga 1-2 bulan jika disimpan dalam keadaan beku. Akan tetapi untuk amannya, sebaiknya ASI beku ini dikonsumsi sebelum 2 minggu, apalagi kalau cuma pakai kulkas 1 pintu yang suhu freezernya cuma -4 hingga 0 C.

Soal wadah, dibutuhkan botol yang mampu memuat sekitar 100-150ml. Botol ukuran ini sebenarnya tersedia di klinik-klinik laktasi seharga sekitar Rp 2000-3000/botol. Tapi karena tidak menyempatkan diri ke klinik laktasi, dan sayang beli botol kosong kok terasa mahal, makanya kami nyari botol yang isinya bisa diminum.

Tengak-tengok di Supermarket, botol yang paling cocok untuk keperluan ini adalah botol UC-1000 (yang dari dulu aku paling anti beli). Sayangnya, UC-1000 menggunakan tutup seng yang dikhawatirkan dapat bereaksi dengan susu atau berkarat saat disimpan di kulkas. Akhirnya dilakukan pencarian tutup botol yang pas untuk botol UC-1000 ini.

Setelah mencoba berbagai macam minuman botol plastik, dari air mineral, minuman kesehatan, teh, jus buah, dan lain-lain, akhirnya didapatkan bahwa tutup botol yang compatible dengan botol UC-1000 adalah:Frestea, Zestea, Zporto, dan Fruittea. Sayang sekali, tutup botol Nu Green Tea tidak bisa digunakan, padahal itu merk favorit, hehehe.

Sisa-sisa tumpukan botol

Lha, karena kebutuhan botol sangat banyak, maka jadilah kulkas kecil kami dipenuhi dengan beberapa pak UC-1000 dan setumpuk minuman siap minum kemasan botol. Sekarang sih di kulkas tinggal tersisa 3 botol minuman botol plastik dan setengah pak uc-1000. Setelah dihitung-hitung, biaya per botolnya jadi lebih mahal dibanding beli botol kosong. Hue hue hue

Setelah botol dan tutup dikosongkan isinya (dari semua proses, hanya di bagian ini aku paling berperan), lalu dicuci dan disterilkan air panas, baru diisi ASI peras dan diberi label nomer dan tanggal dengan sticker label.

Kalau sudah pernah menikah dan mengirim undangan sendiri, pasti sudah tidak asing lagi dengan sticker label merk Tom & Jerry.

Gudang ASI

3. Memberikan ASI ke Bayi

Tahap berikutnya adalah memberikan ASI simpanan ke Kakak. Setelah memastikan bahwa yang diambil adalah nomer yang paling kecil, ASI dalam botol yang sudah menjadi es ini perlu dicairkan terlebih dahulu.

Kalau sabar dan menginginkan hasil terbaik, cairkan pada suhu ruangan, jika sudah cair baru dimasukkan ke penghangat susu. Tapi karena terburu-buru, biasanya cuma sebentar botol dikeluarkan dari freezer langsung dimasukkan ke Baby Food Warmer ini. Atur ke suhu sekitar 40-45 derajat C.

Setelah menjadi hangat, ASI sudah siap diberikan.

Pada saat nenen ke ibunya, bayi harus menekan daerah areola, menyedot, sekaligus memijat puting ibunya dengan lidahnya dengan gerakan peristaltik. Sedangkan, dot bayi yang banyak beredar berbentuk puting memanjang, dimana hanya dengan memencet puting tersebut susu dari botol akan mengalir ke mulut bayi.

Menurut berbagai informasi, bayi dibawah 6 bulan yang meminum susu dengan menggunakan dot akan cenderung mengalami gejala ‘bingung puting‘ atau ‘Nipple Confussion‘. Karena terbiasa menggunakan dot, maka saat kembali nenen akan melakukan gerakan yang sama dengan saat ngedot, akibatnya alih-alih ASI bisa keluar, ibunya yang kesakitan.

Untuk itu, aku cari-cari lagi di toko peralatan bayi dot bayi yang meminimalkan hal ini, yang aku dapatkan adalah Dot bayi merk Pigeon, Peristaltic Nipple dengan Leher lebar, harganya sekitar 40 ribu. Kemarin pas jalan-jalan di ITC Kuningan, sempat lihat ada bule memberi minum bayinya dengan dot jenis ini tapi dengan merk Avent.

Foto berikut adalah perbandingan Dot peristaltic dengan dot biasa.

Perbandingan dot biasa dengan dot peristaltik

Pada percobaan pertama memberikan ASI dengan dot jenis ini, ternyata kakak langsung bisa meminumnya dengan gerakan, suara, dan nafas yang mirip dengan saat minum langsung dari sumbernya. Yang terpenting, saat kembali nenen, Fatih kembali melakukannya seperti biasa. Percobaan menggunakan dot ini sudah dilakukan beberapa kali, terutama saat pergi keluar rumah.

4. Mempersiapkan Stok ASI Tersimpan

Sebagai perkiraan, bayi usia dibawah 6 bulan akan memerlukan ASI antara 500ml-1000ml per harinya. Fatih sendiri kurang lebih menghabiskan sekitar 600 ml setiap harinya.

Jika nantinya akan ditinggal ke kantor dari jam 7.30 pagi sampai jam 5 sore, maka diperkirakan akan memerlukan 4-5botol ASI beku setiap harinya (asumsi 1 botol 100-130 ml), dengan catatan di pagi dan malam hari masih harus diberikan ASI fresh dari ibunya.

Nantinya, Ibunya Fatih harus melakukan laktasi di kantornya setiap hari.

Kalau lihat perjuangan seorang ibu untuk bayinya, jadi terasa benar bahwa Ibu memang harus dihormati sedikitnya 3 kali lipat dibanding hormat dan bakti kita kepada ayah.

Fatih umur 7 Minggu


Referensi:
- Serba-serbi menyusui, WRM Publishing.
- Kiat sukses menyusui, Seri AyahBunda

1 October 2007

Lebaran dan 4 Pertanyaan Sepanjang Masa

Filed under: Keluarga, Ragam — hericz @ 5:50 am

Siap atau tidak, sebentar lagi Idul Fitri akan tiba. Saatnya meranyakan hari-hari setelah puasa, lebar poso, Lebaran.

Siap atau tidak, sebentar lagi akan tiba saat dimana jutaan orang pulang ke kampung masing-masing. Mudik.

Mudik ini merupakan saat yang penting dimana kita akan bertemu keluarga, tetangga, temen SD, temen nyolong jambu di rumah Pak Haji, bahkan mungkin juga janjian sama teman sekelas untuk silaturahiim ke rumah Pak Guru.

Seperti halnya anti virus yang mendownload update virus terbaru setiap 3-7 hari sekali, mudik memberi kita kesempatan setahun sekali untuk melakukan update informasi. Pertemuan yang cuma 15 menit, 30 menit atau paling lama 1 minggu ini merupakan momen dimana kita saling meng-update kondisi satu sama lain.

4 Pertanyaan Sepanjang Masa

Walaupun sebenarnya pertanyaan update informasi kebanyakan hanya sekedar basa-basi, dan kalimat pembuka percakapan yang canggung karena jarang ketemu, dan bersifat pertanyaan ‘duniawi’, tapi kebanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat menyayat hati pemilik hak jawab.

Berikut adalah daftar pertanyaan tersebut:

1. Kapan Lulus?

Kata orang, takdir manusia yang sudah ditetapkan dan tetap misterius sampai tiba waktunya ada 3: Rejeki, Jodoh, dan Ajal. Tapi bagi yang pernah merasakan bangku kuliah, ada satu hal tambahan lagi yaitu trilogi Skripsi, Sidang, dan Wisuda.

Sejak tetangga, Pakde, Budhe, Wak Haji tahu bahwa kita sudah kuliah, maka setiap lebaran pertanyaan yang diajukan adalah:
- “Sudah semester berapa sekarang” yang dilanjutkan dengan “Kapan lulus?”,
- “Sudah skripsi belom?”, atau
- “Itu si Wati anaknya Pak Bejo udah jadi apoteker sekarang, kamu kapan wisuda?”.

Padahal bagi seorang mahasiswa ’semester akhir’, ada 4 ‘TA’ yang menjadi siksa dan nikmat dunia: harTA, tahTA, waniTA, dan TA (tugas akhir). Mendapat pertanyaan “Kapan lulus?” akan membuat hati pilu bagai teriris sembilu.

Kita harus cerdas memberikan jawaban untuk pertanyaan ini karena pertanyaan diatas akan terus diulang-ulang sampai kita punya jawaban semacam “InsyaAllah bulan depan saya sidang Pakde”, atau “Tinggal nunggu wisuda saja kok Bulik”. Tapi musti diingat bahwa jawaban “Sekarang sudah semester akhir Paklik” jika digunakan 3 tahun berturut-turut juga bisa menimbulkan kecurigaan.

2. Kerja Dimana?

Statistik di kampus dulu menunjukkan rata-rata seorang sarjana butuh 6 bulan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya. Ada yang belum wisuda sudah dapat kerja, ada pula yang sampai 2 tahun nganggur lontang-lantung nunggu kerjaan posisi wenak, gaji besar, plus asuransi kesehatan, dan tunjangan kehamilan. Ada yang sabar menunggu, ada yang kemudian menjadi entrepreneur, dan ada juga yang akhirnya memutuskan untuk kembali menjadi mahasiswa S2 karena terpaksa (adik-adik yang masih kuliah jangan seperti ini ya, S2 harus dari hati dengan perencanaan yang matang).

Katakanlah tahun ini kita sudah berhasil lulus, semuanya berjalan lancar, dan kita sudah bisa menjawab pertanyaan tahun kemarin (nomer 1). Tapi kemudian pertanyaan berikutnya, question of the year, yang akan berseliweran di hadapan kita, “Wah syukur ya udah lulus. Sekarang kerja dimana?”.

Jika kita mudik dalam kondisi ‘vacuum of power‘ seperti ini, kita akan merasakan kondisi yang tidak mengenakkan selama di kampung halaman. Misalnya:

- “Eh, Pakdemu kerja di pabrik sepatu bayi lho, kayaknya lagi butuh tester produk kalau kamu lagi berminat? nanti coba kamu mampir ke tempatnya”.
- “Dosen di Unipersitas kota sebelah pernah hutang budi sama bapakmu ini, pasti beliau mau kalau tak titipin kamu agar bisa jadi dosen disana”.

Jika salah jawab, situasi bisa bertambah rumit.

Apabila setelah lulus kita mengambil pilihan untuk kembali menjadi mahasiswa, maka maaf-maaf saja mudik tahun ini harus kembali menjawab fase nomer 1 lagi, dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih komplek.

3. Kapan Kawin?
Setelah setahun berlalu, syukurlah apabila saat mudik kita sudah dapat kerja. Ada yang di sebuah perusahaan yang bonafid, sering pasang iklan di tivi sehingga keluarga dari simbah sampai cucu termuda kenal dengan perusahaan tersebut. Yang lain kerja di sebuah perusahaan multinasional tapi tidak ada yang kenal. Ataupun kerja di sebuah konsultan kecil, dimana tetangga sebelah kantor saja nggak tahu kalau itu kantor. Semua harus kita syukuri.

Dengan kondisi demikian, kita sudah berharap bisa mudik dengan muka terangkat, penuh percaya diri. Karena sebelum mudik sempat sibuk menukarkan uang pecahan 5ribuan ke bank di dekat kantor, kita bisa keliling dari rumah Pakde yang satu ke Pakde yang lain sambil bagi-bagi angpaw ke sepupu dan keponakan. Sampai kita ketemu teman kita sambil gendong bayi bertanya, “Wah sudah sukses ya sekarang, jadi orang di kota. Terus kapan kawin?” *jleb*

Tak lupa saat sungkem di lutut orang tua, diberi wejangan “Jadi orang yang jujur, bekerja yang giat, bersyukur atas rejeki yang kita terima, *dehem* dan jangan lupa cari jodoh ya nak”.

Bahkan bila hari kedua atau ketiga lebaran ’sang calon’ kita sudah berkunjung ke rumah, tetap saja ada pertanyaan “kapan kalian mau diresmikan?”. Emangnya jembatan ya.

Pertanyaan ini bisa berlangsung selama 2 atau 3 lebaran, bahkan lebih. Tergantung nasib, usaha, dan keberanian kita. Dan tentu saja penampilan dan kharisma kita dilihat dari sudut pandang lawan jenis. *uhuk uhuk*

Walaupun pertanyaan ini sudah dipakai untuk iklan rokok, dan juga sudah jadi internal-joke di milis id-gmail, tapi jika kita mudik dan dapat ribuan pertanyaan seperti ini tetep saja nggondok.

4. Mana momongannya?

Alhamdulillah, akhirnya kita pulang mudik dengan membawa istri/suami. Tapi yang namanya anak kan tergolong rejeki yang misterius. Tak jarang ada pasangan pasutri suami istri yang pulang mudik belum membawa momongan, entah memang karena belum dikasih, perencanaan jangka panjang, atau karena belum boleh sama kantor *sigh*.

Pertanyaan “kapan nih punya momongan?” terasa ringan saat diucapkan, tapi akan terasa berat bagi yang menerima pertanyaan tersebut. Apalagi jika harus bertemu 35 orang di hari pertama Idul Fitri dan mendapat 35 pertanyaan yang sama, lalu bertemu 40 orang di hari kedua, lalu 60 orang di reuni SMA bertema halal bihalal.

Kemampuan berlapang dada dan menjawab dengan sabar untuk setiap pertanyaan diatas merupakan bukti otentik akan latihan kesabaran yang sudah kita lakukan sebulan penuh selama bulan puasa.

Apalagi setelah 4 pertanyaan?

Dari dulu, aku selalu berpikir jika mudik dalam kondisi lulus sudah, kerja sudah, kawin sudah, bawa bayi sudah, maka kita akan bisa pulang dengan nyaman.

Itulah saat yang kutunggu-tunggu, hari yang indah, hari yang tepat bagiku untuk keliling kampung dengan bangga, sambil mencari mangsa sepupu, tetangga, atau famili jauh yang masih kuliah untuk sekedar bertanya “Kapan lulus?“.

Ternyata, ketika sudah punya momongan seperti inipun, aku masih dapat pertanyaan lagi yang tak ada habisnya. Padahal tahun ini memutuskan untuk tidak mudik.

Q: “Eh, si kecil Fatih udah bisa apa sekarang?”
A: *jawaban standar* “Oh, sekarang Fatih sudah bisa aljabar linear orde 2, tapi baru persamaan-persamaan yang sederhana”.

Selamat berpuasa dengan segala feature-nya, untuk persiapan menjawab pertanyaan setelah 4 diatas tidak ada artinya lagi.