Gerakan 1 Bulan 1 CD Musik Original
Dulu sewaktu SMA, setiap kali ada album musik baru yang membuatku tertarik, aku menabung, menyisihkan uang saku sedikit demi sedikit agar bisa membelinya.
Waktu itu harga 1 buah kaset (musisi dalam negeri) sekitar Rp 7000-7500, cukup untuk makan soto+es teh di kantin sekolah setiap hari, selama 2 minggu.
Saat kuliah, aku punya komputer sendiri, dan sudah mengenal yang namanya MP3. Music sharing antar teman sangat cepat, bahkan di kampus juga muncul server-server mp3 yang memuat berton-ton koleksi musik lengkap dengan fasilitas search engine yang sangat cepat. Kecepatannya berbanding lurus dengan ketersediaan MP3 baru dari sebuah album yang baru saja diluncurkan.
Sejak saat itu aku nggak pernah lagi membeli album musik, seperti halnya jutaan orang lain di Indonesia.
File Sharing: Baik atau buruk?
Karena bertahun-tahun hidup dalam kondisi dimana musik bajakan sangat mudah didapatkan. Aku sudah dalam taraf tidak lagi merasa bersalah saat mengkopi satu album musik ke Harddisk.
Bahkan aku menganggap dengan mengkopi sebuah album musik (terutama musisi baru) ke dalam harddisk-ku, berarti aku sedang membantu publikasi dan sosialisasi dari musisi tersebut. Karena aku sering merasa sekarang penjualan album tidak bisa dijadikan ’sumber pendapatan’ dari sebuah band. Band lebih mudah dapat duit kalau terkenal: bisa manggung ke sana kemari, jadi bintang iklan produk terkenal, serta ring-back tonenya di pakai jutaan orang.
Jadi, kalau aku mengkopi sebuah lagu dari sebuah Band baru ke hardisk, lalu memainkan secara periodik -setaraf cuci otak- di kos-kosan, teman kos dengar jadi seneng, ikut ngopi, di bawa pulang ke rumah di kampung, tetangga2nya juga ikut seneng, dikopi juga, dikasih dengar ke pacarnya, lalu sama pacarnya dibawa ke sekolahan, dan seterusnya… Nantinya kalau Band tersebut manggung di kota kecil tersebut, walaupun penjualan kasetnya seret tapi penjualan tiket akan tinggi dan semua orang ikut nyanyi. Hehe, mulia tho?
Kampanye Stop-Pembajakan yang disuarakan artis dan komunitasnya sepertinya susah sekali terlaksana. Apalagi dengan iklim penegakan hukum di Indonesia yang masih seperti ini.
Sementara itu proses pencetakan kaset dan CD terus berlangsung, tetap membutuhkan tenaga pencetakan, tetap membutuhkan proses recording yang rumit, tetap membutuhkan artis-artis bermental baja. Sedangkan aku tetap enak-enak aja menikmati musik mereka, tanpa membayar, nonton konsernya -satu2nya kesempatan balas budi- pun selalu nggak sempat.
Bahkan aku juga malas pasang ring-back-tone, sok imut banget gitu loh.
Dunia maya yang aneh
Sudah sering terjadi di dunia blogger. Saat ada seorang blogger yang mengetahui salah satu ‘hasil karyanya’ dikopi-paste ke blog lain, dia akan naik darah dan menyebar berita ini ke seluruh komunitasnya. Walaupun berbeda, tapi semua tahu rasanya kalau hasil karya tidak dihargai semestinya?
Setiap bulan selalu muncul album-album baru di Indonesia. Ada yang cocok di kuping dan ada juga yang tidak. Setiap bulan pula aku mendownload lagu-lagu baru (setelah dapat koneksi unlimited) atau kalau sempat mampir ke penjual MP3 bajakan di pinggir jalan untuk beli 2 atau 3 CD MP3 sekaligus.
Kalau dihitung-hitung, setiap bulannya pengeluaranku untuk beli MP3 bajakan sekitar 30-40 ribu, bahkan lebih. Dari semua lagu yang ada di CD tersebut biasanya hanya 1 atau 2 album saja yang cocok di telinga. Cocok berarti memang musiknya menyenangkan dan kualitas MP3-nya bagus. Selebihnya hanya bertumpuk menjadi sampah digital.
Aku nggak tahu, itu para pembajak MP3 apa nggak pernah belajar teori suara semacam audio waveform, spektrum frekuensi, teori sampling + Nyquist Bandwidth, Signal to Noise Ratio, dan semacamnya supaya bisa bikin bajakan yang bagus apa ya?
1 Bulan 1 CD original
Lalu setelah ngobrol-ngobrol dengan Rilly (teman kantorku) dan diskusi dengan istriku, aku memutuskan mulai bulan ini akan membeli sebuah CD audio original buatan musisi dalam negeri setiap bulannya.
Download musik mungkin jalan terus, sebagai uji coba untuk mendengarkannya. Kalau suka aku harus balas jasa, mungkin tidak ke semua musisi hebat yang musiknya bertebaran di internat, tapi paling tidak 1 CD Original setiap 1 bulan.

Album Televisi dari Naif, jadi bulan pertama, karena selama 2 minggu terakhir setiap hari MP3nya aku mainkan sampai sudah hampir apal semua lagunya.
Harganya hanya 30 ribu, setara dengan makan siang 3 kali, jauh lebih murah dibanding harga kaset jaman aku masih SMA.
Ternyata, perasaan saat membuka CD original, menyetel lagunya keras-keras, tidur-tiduran sambil membolak-balik cover-art yang lucu memang menyenangkan. Lumayan, sejenak terlupakan akan deadline yang melaju kencang bagaikan setan…


Kemarin iseng-iseng aku mendengarkan lagu ‘Hapus aku’ dari Nidji, yang katanya lagi ngetren. Kebetulan MP3 yang kudapatkan berkualitas bagus, jadi telingaku nggak keberatan mendengarkan musik lembut dari Nidji ini. Maklum pakai speaker Altec Lansing AVS300, walaupun powernya kecil, tapi suaranya cukup jernih. Cukup jernih sampai bisa membuat beberapa CD MP3 langsung dibuang kalau suaranya distorsi.
Sudah beberapa minggu ini, kalau lihat tivi di dini hari, sekitar jam 12 malam sampai jam 3 pagi, aku selalu mendapati acara ‘kuis sms’ yang kalian pandu. Pada awalnya aku kagum pada acara tersebut karena aku kira “Wah, hebat betul ini televisi. Tengah malam begini bikin acara yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Yuuuk“.