20 May 2007

Gerakan 1 Bulan 1 CD Musik Original

Filed under: Hiburan, Personal — hericz @ 10:53 am

Dulu sewaktu SMA, setiap kali ada album musik baru yang membuatku tertarik, aku menabung, menyisihkan uang saku sedikit demi sedikit agar bisa membelinya.

Waktu itu harga 1 buah kaset (musisi dalam negeri) sekitar Rp 7000-7500, cukup untuk makan soto+es teh di kantin sekolah setiap hari, selama 2 minggu.

Saat kuliah, aku punya komputer sendiri, dan sudah mengenal yang namanya MP3. Music sharing antar teman sangat cepat, bahkan di kampus juga muncul server-server mp3 yang memuat berton-ton koleksi musik lengkap dengan fasilitas search engine yang sangat cepat. Kecepatannya berbanding lurus dengan ketersediaan MP3 baru dari sebuah album yang baru saja diluncurkan.

Sejak saat itu aku nggak pernah lagi membeli album musik, seperti halnya jutaan orang lain di Indonesia.

File Sharing: Baik atau buruk?

Karena bertahun-tahun hidup dalam kondisi dimana musik bajakan sangat mudah didapatkan. Aku sudah dalam taraf tidak lagi merasa bersalah saat mengkopi satu album musik ke Harddisk.

Bahkan aku menganggap dengan mengkopi sebuah album musik (terutama musisi baru) ke dalam harddisk-ku, berarti aku sedang membantu publikasi dan sosialisasi dari musisi tersebut. Karena aku sering merasa sekarang penjualan album tidak bisa dijadikan ’sumber pendapatan’ dari sebuah band. Band lebih mudah dapat duit kalau terkenal: bisa manggung ke sana kemari, jadi bintang iklan produk terkenal, serta ring-back tonenya di pakai jutaan orang.

Jadi, kalau aku mengkopi sebuah lagu dari sebuah Band baru ke hardisk, lalu memainkan secara periodik -setaraf cuci otak- di kos-kosan, teman kos dengar jadi seneng, ikut ngopi, di bawa pulang ke rumah di kampung, tetangga2nya juga ikut seneng, dikopi juga, dikasih dengar ke pacarnya, lalu sama pacarnya dibawa ke sekolahan, dan seterusnya… Nantinya kalau Band tersebut manggung di kota kecil tersebut, walaupun penjualan kasetnya seret tapi penjualan tiket akan tinggi dan semua orang ikut nyanyi. Hehe, mulia tho?

Kampanye Stop-Pembajakan yang disuarakan artis dan komunitasnya sepertinya susah sekali terlaksana. Apalagi dengan iklim penegakan hukum di Indonesia yang masih seperti ini.

Sementara itu proses pencetakan kaset dan CD terus berlangsung, tetap membutuhkan tenaga pencetakan, tetap membutuhkan proses recording yang rumit, tetap membutuhkan artis-artis bermental baja. Sedangkan aku tetap enak-enak aja menikmati musik mereka, tanpa membayar, nonton konsernya -satu2nya kesempatan balas budi- pun selalu nggak sempat.

Bahkan aku juga malas pasang ring-back-tone, sok imut banget gitu loh.

Dunia maya yang aneh

Sudah sering terjadi di dunia blogger. Saat ada seorang blogger yang mengetahui salah satu ‘hasil karyanya’ dikopi-paste ke blog lain, dia akan naik darah dan menyebar berita ini ke seluruh komunitasnya. Walaupun berbeda, tapi semua tahu rasanya kalau hasil karya tidak dihargai semestinya?

Setiap bulan selalu muncul album-album baru di Indonesia. Ada yang cocok di kuping dan ada juga yang tidak. Setiap bulan pula aku mendownload lagu-lagu baru (setelah dapat koneksi unlimited) atau kalau sempat mampir ke penjual MP3 bajakan di pinggir jalan untuk beli 2 atau 3 CD MP3 sekaligus.

Kalau dihitung-hitung, setiap bulannya pengeluaranku untuk beli MP3 bajakan sekitar 30-40 ribu, bahkan lebih. Dari semua lagu yang ada di CD tersebut biasanya hanya 1 atau 2 album saja yang cocok di telinga. Cocok berarti memang musiknya menyenangkan dan kualitas MP3-nya bagus. Selebihnya hanya bertumpuk menjadi sampah digital.

Aku nggak tahu, itu para pembajak MP3 apa nggak pernah belajar teori suara semacam audio waveform, spektrum frekuensi, teori sampling + Nyquist Bandwidth, Signal to Noise Ratio, dan semacamnya supaya bisa bikin bajakan yang bagus apa ya? :D

1 Bulan 1 CD original

Lalu setelah ngobrol-ngobrol dengan Rilly (teman kantorku) dan diskusi dengan istriku, aku memutuskan mulai bulan ini akan membeli sebuah CD audio original buatan musisi dalam negeri setiap bulannya.

Download musik mungkin jalan terus, sebagai uji coba untuk mendengarkannya. Kalau suka aku harus balas jasa, mungkin tidak ke semua musisi hebat yang musiknya bertebaran di internat, tapi paling tidak 1 CD Original setiap 1 bulan.

Naif - Televisi

Album Televisi dari Naif, jadi bulan pertama, karena selama 2 minggu terakhir setiap hari MP3nya aku mainkan sampai sudah hampir apal semua lagunya.

Harganya hanya 30 ribu, setara dengan makan siang 3 kali, jauh lebih murah dibanding harga kaset jaman aku masih SMA.

Ternyata, perasaan saat membuka CD original, menyetel lagunya keras-keras, tidur-tiduran sambil membolak-balik cover-art yang lucu memang menyenangkan. Lumayan, sejenak terlupakan akan deadline yang melaju kencang bagaikan setan

1 May 2007

Nonton Wayang Orang di Jakarta?

Filed under: Hiburan — hericz @ 10:20 pm

Memasuki usia kehamilan 5 bulan, kondisi istriku semakin membaik. Mual-mual bisa dikatakan tidak pernah lagi, gangguan pencernaan maupun kondisi tubuh yang mudah pusing juga sudah hilang. Sekarang kita bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa, nonton misalnya. Tempat tinggalku sekarang berada di pusat kota, bahkan kalau kita nonton ke BlitzMegaplex cukup jalan kaki saja 15menit, atau naik motor 5 menit (tambah nyari parkiran+parkir motor+ngunci helm kira-kira 10 menit).

Istriku sangat menyukai kebudayaan Jawa, baik gamelannya, wayang, maupun kesenian jawa lainnya. Sabtu kemarin, dia dan temennya (Lina) janjian untuk nonton Wayang orang di Gedung Bharata, Jl Pulolio/Jl Gunung Sahari, kawasan Senen, Jakarta Pusat. Sebuah Gedung kesenian Tradisional Jawa yang sampai sekarang masih eksis, bahkan mungkin melebihi yang ada di Yogyakarta.

Sesuai jadwal, lampu ruangan dimatikan tanda pentas dimulai tepat pukul 20.30. Malam itu, pentas yang dilakonkan adalah Palguna-Palgunadi, kisah dimana Palguna alias Arjuna alias Janoko alias Permadi, berkonflik dengan Palgunadi. Palgunadi adalah adik seperguruan Arjuna di padepokan Pendeta Durna.

Tata Panggung

Kemewahan Budaya

Seperti biasanya, gedung pertunjukkan yang mampu memuat sekitar 500 penonton tersebut berisi sekitar 3/4 penuh. Tempat duduk yang empuk dan nyaman, dan pengaturan AC yang tepat (bukan setelan freezer seperti di bioskop 21) , membuat penonton yang kebanyakan berusia 30 tahun keatas bisa merasa nyaman disana. Beberapa anak umur 10-an tahun juga tampak antusias melihat pentas sambil mendengar terjemahan dari ayahnya.

Beberapa speaker JBL ditata sesuai dengan akustik ruangan sehingga membuat seluruh penonton dapat merasakan hentakan suara kendang, dentuman gong, maupun suara berisik kecrek dengan loud and clear.

Berbeda dengan doktrinasi kapitalis yang kental saat memasuki kawasan Bioskop 21 “Dilarang membawa makanan/minuman dari luar area”, di Bharata penonton bebas keluar masuk membawa makanan dan minuman. Bahkan kita bisa pesan Indomie telor kornet + Teh botol dan diantar ke tempat duduk kita (ada nomernya kok). Uwenak polll!

Tari-tarian

Wayang orang dimulai dengan tarian-tarian, lalu muncul tokoh-tokohnya bergantian. Tokoh-tokoh wanita selalu b..e..r..b..i..c..a..r..a d..e..n..g..a..n p..e..l..a..n. Tokoh buto selalu pethakilan dan banyak bergerak, sementara itu tokoh bangsawan dan dewa-dewa tampil dengan anggun dan berbicara secukupnya dengan bahasa Jawa kromo inggil yang haluus banget.

Buto Pethakilan

Lha bicara secukupnya itu yang membuatku yang kurang mengerti kisah-kisah pewayangan jadi bingung mengikuti alur ceritanya. Sebentar-sebentar harus bertanya pada istriku, “Eh, kalau ini siapa? barusan ngomong apa ya? Oh, jadi itu Palgunadi…”

Walau kadang berharap di bawah panggung muncul subtitle berbahasa Indonesia, tapi pentas ini tetap sangat menarik. Ah, kalau aku nonton tari kecak di Bali juga nggak harus ngerti dialognya. Mungkin karena bawa kamera, aku jadi sibuk membidikkan kamera sepanjang pertunjukkan berlangsung. Lampu panggung yang cukup terang cocok untuk yang ingin mengambil gambar adegan demi adegan.

Gaya Pewayangan plus Gojek Kere

Di era Spiderman, Star Wars, dan Smack Down ini, pentas wayang orang bagi sebagian orang, terutama anak muda merupakan hal yang membosankan. Adegan-adengan memang lambat dan penuh seni, berjalan ada aturannya, berbicara juga ada aturannya, bahkan berkelahi juga ada pakemnya.

Tapi masalah berkelahi ini, pelakon-pelakon Bharata memang sangat mahir berakrobat salto, jungkir balik, lempar melempar senjata dan adegan menegangkan lainnya di atas panggung. Melihat adegan perang ataupun perkelahian antar jawara-jawara biasanya membuat penonton hanyut dalam ketegangan.

Arjuna Menghajar Buto-Buto

Di saat seperti itulah kemudian muncul adegan Goro-goro, yaitu munculnya tokoh Punokawan (Gareng, Petruk, Semar, dan Bagong) yang membawakan adegan-adegan yang lucunya ndeso, kampungan, tapi sangat mengena. Dan yang paling penting tetap membuat tertawa karena berdialog dengan bahasa Jawa ngoko (biasa) sehingga mudah dicerna.

Materi guyonan minggu kemarin bahkan sangat kuno: Bagong butuh pompa air, lalu Petruk menyanggupi membelikannya. Petruk lalu menyuruh Gareng berpura-pura menjadi Pompa Air dan tentu saja dengan cara berpose, dan tak lupa harus menyemburkan air saat ‘dipompa’. Wis jan, pokoke ndeso tenan. Tapi ya tetap saja aku kok tertawa terpingkal-pingkal yo.

Gareng Nyembur!

Dan tak lupa, adegan goro-goro ini ditutup dengan lemparan-lemparan rokok dari penonton. Rokok yang disertai dengan ucapan salam dan request lagu itulah yang membuat penonton dan pemain menyatu.

Jadwal Pentas

Nah, kalau misalnya Sabtu malam ini semua bioskop penuh karena semua anak SMA sampai pegawai kantoran junior memborong habis tiket Spiderman 3, Wayang Orang Bharata ini bisa menjadi Alternatif. Tontonan budaya ini juga cocok kalau misalnya orang tua kita dari Jawa pas berkunjung ‘nengok cucu’ dan kita perlu mengentertain mereka, hehehe. Cocok juga bagi mereka yang merindukan suasana kesenian jawa yang sederhana tapi penuh makna.

Dengan harga tiket yang cuma 20ribu, ini akan jadi pengalaman yang tak terlupakan untuk seluruh keluarga *halah emangnya Dufan*

5 Mei 2007 : Srikandi Jadi Ratu
12 Mei 2007 : Petruk Kelangan Pethel
19 Mei 2007 : Kumbokarno Gugur (Ramayana)
26 Mei 2007 : Gatotkaca Sungging
9 Juni 2007 : Setyaki Kromo
16 Juni 2007 : Gareng Kembar
23 Juni 2007 : Indrajit Gugur (Ramayana)
30 Juni 2007 : Srikandi Kembar Tiga

Karena biasanya tempat duduk bagian depan akan cepat habis, lebih baik hubungi dulu Bharata di 021-70642535 untuk memesan tiket jauh-jauh hari sebelumnya. Weh, malah ngiklan.

Tapi ternyata bisa kan, nonton wayang Orang di Jakarta.

10 August 2006

Nidji: Hapus Aku

Filed under: Hiburan, Personal — hericz @ 11:30 pm

Semua orang berkarya dengan terinspirasi karya sebelumnya. Jika ingin karya yang benar-benar original, cari saja manusia yang tinggal di hutan, di gua, atau di dasar laut seumur hidupnya untuk membuat lagu, membuat lukisan, atau membikin theme wordpress.

Breakthru

Sudah beberapa waktu belakangan, sepertinya nggak ada album musik yang cukup bagus dirilis di Indonesia. Album hebat terakhir yang aku dengarkan adalah Letto dengan TRUTH, CRY AND LIE. Luar biasa album Letto ini, sayang sepertinya tim promosinya kurang bergerak, atau kurang dana?

Kemudian muncul Nidji, yang juga tidak aku pedulikan sama sekali. Aku sudah lama melihat Nidji muncul di beberapa acara TV Swasta. Vokalis kriwil mirip Ronal Surapradja (dan tentu saja mirip aku pas rambutku masih seperti-sedia-kala) membawakan lagu ‘Sudah’ yang menurutku kedengaran ‘redundan’. Coba lihat:

Bila kita harus berpisah sudah
Biarkan ini semua berakhir sudah

Sebagai seorang programmer professional (walau berkelakuan amatir), pengulangan tidak perlu seperti itu merupakan bug dan perlu dihindari. Terus terang, gara-gara itu aku jadi males mendengarkan Nidji. *cuek*

NidjiKemarin iseng-iseng aku mendengarkan lagu ‘Hapus aku’ dari Nidji, yang katanya lagi ngetren. Kebetulan MP3 yang kudapatkan berkualitas bagus, jadi telingaku nggak keberatan mendengarkan musik lembut dari Nidji ini. Maklum pakai speaker Altec Lansing AVS300, walaupun powernya kecil, tapi suaranya cukup jernih. Cukup jernih sampai bisa membuat beberapa CD MP3 langsung dibuang kalau suaranya distorsi.

Oalah, membajak kok minta bagus.

Ternyata ini album yang memang luar biasa. Jika dulu lagu-lagu Dewa sering disebut “Queen sekali”, maka sekarang kita bisa dengarkan Nidji yang “Coldplay banget”. Nidji cuma terinspirasi kok katanya. Selain Coldplay, kadang kadang terdengar juga suara Keane dan suara-suara band Inggris ikut main di album ini. Kalau aku boleh dibilang ini suatu terobosan, breakthru.

Lalu aku sadar bahwa selama ini aku menghindari mendengarkan album bagus hanya gara-gara kata sudah yang muncul 2 kali. Padahal dengan ribuan kata bang pada lagu ‘SMS siapa ini Bang” aku bisa mendengarkannya berhari-hari tanpa bosan.

Kekuatan Musik dan Lirik

Aku percaya bahwa musik bagus itu akan selalu bagus, walau diganti liriknya, didengarkan tahun ini, 10 tahun lagi, atau bahkan 100 tahun lagi.

Lagu-lagu Nidji menurutku cukup bagus. Mungkin beberapa diantaranya akan menjadi lagu yang dikenang bertahun-tahun, dinyanyikan ulang oleh penyanyi-penyanyi baru, dan dimainkan oleh band-band SMA saat acara bazaar di sekolah.

Dilihat dari musiknya memang cukup kuat. Selain itu liriknya itu kadang-kadang agak nylekit dan cukup bikin merinding juga. Aku sangat terkesan pada dua kalimat ini :

Bila aku jatuh cinta
Aku melihat sang bulan
Kan datang padaku dan menemani aku
[Nidji-Bila Aku Jatuh Cinta]

Yakinkan aku Tuhan, Dia bukan milikku
Sadarkan aku Tuhan, Dia bukan milikku
Biarkan waktu, Hapus aku…
[Nidji-Hapus Aku]

Duh, aku juga benci kalimat bersayap, apalagi postingan bersayap.

3 July 2006

Ketika SMS Diresmikan Menjadi Media Perjudian

Filed under: Hiburan, Ngedumel — hericz @ 1:52 am

Dear Mbak Tessa Kaunang, Mbak Peggy Melati Sukma, Mas Ari (yg dulu VJ MTV), dan artis-artis tidak terkenal lainnya yang menjaga acara kuis SMS di Televisi,

Karena kalian artis, kalimat pertama surat ini haruslah berisi puji-pujian. Maka dari itu akan aku katakan betapa cantik dan gantengnya kalian. Bakat kalian di dunia entertainment sudah tidak diragukan lagi, dan tentu saja kesuksesan yang kalian dapatkan sekarang didapat melalui perjalanan yang panjang. Perjuangan hidup kalian patut dijadikan suri tauladan bagi jutaan pengangguran di Indonesia.

Aku bukan fans berat kalian, ya cuma sering lihat aja di TV. Tapi kayaknya banyak kok yang jadi fans kalian. Jadi tenang saja deh.

Dear Mbak Tessa Kaunang, Mbak Peggy Melati Sukma, Mas Ari (yg dulu VJ MTV), dan artis-artis tidak terkenal lainnya yang menjaga acara kuis SMS di Televisi,

Kirim SMS yaah.. yuk ya..yuuukSudah beberapa minggu ini, kalau lihat tivi di dini hari, sekitar jam 12 malam sampai jam 3 pagi, aku selalu mendapati acara ‘kuis sms’ yang kalian pandu. Pada awalnya aku kagum pada acara tersebut karena aku kira “Wah, hebat betul ini televisi. Tengah malam begini bikin acara yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Yuuuk“.

Sekilas aku lihat pemenang berhak mendapat hadiah 5 juta rupiah.Eh, tunggu 5 menit, sudah jadi 10 juta. Dan sudah menjadi 18 juta sesaat sebelum ‘pengundian’.

Tapi setelah aku perhatikan, aku melihat betapa waktu diulur-ulur cukup lama sambil meminta penonton untuk mengirim jawaban kuis yang hanya orang buta-aksara saja yang tidak bisa menjawab. Aku jadi kecewa lho Mbak dan Mas. Itu kan jelas-jelas perjudian tho?

Dear Mbak Tessa Kaunang, Mbak Peggy Melati Sukma, Mas Ari (yg dulu VJ MTV), dan artis-artis tidak terkenal lainnya yang menjaga acara kuis SMS di Televisi,

Media dengan mudah menyiarkan gosip hamilnya Cut Keke yang belum jelas, bahkan mengulang-ulang dari satu paket Infotainment ke Paket Infotainment yang lain. Seolah-olah kalau dia benar-benar hamil, akan terjadi perubahan besar di Indonesia: harga sembako turun, pipa bocor jadi rapet mendadak, atau bahkan mengurangi kemacetan di Jakarta. Tapi lak ya ndak tho.

Sementara itu, saat MUI membuat keputusan, sebut saja ‘Fatwa’, mengenai haramnya kuis SMS, media diam-diam saja. Beberapa koran besar memuatnya di halaman dalam di sebuah kolom yang kecil, di TV malah nggak kelihatan. Eh, atau aku saja yang ndak pernah nonton TV.

Aku pribadi masih memaklumi kalau pengiriman SMS sebagai media Voting pemilihan artis berbakat. Ini adalah bentuk baru komunikasi Media dan Pemirsa. Apalagi kalau menggunakan tarif SMS yang sekedar cukup untuk pengiriman SMS dari penonton dan SMS konfirmasi dari panitia. Lebih bagus lagi kalau setiap nomer HP hanya berhak mengirim satu vote saja. Tentu saja hal ini hanya terjadi di dunia yang sempurna.

Dan Indonesia masih jauh dari sempurna, itu jelas.

Sebenarnya ya memang bukan hanya kalian yang bikin-bikin acara perjudian terbuka seperti ini. Masih ada kuis bola, kuis tebak pemenang, dan kuis aneh-aneh lainnya. Cuma sayang aku nggak kenal siapa hostnya, soalnya nggak seterkenal kalian sih.

Aku nggak akan membahas masalah surga dan neraka akibat perjudian, lha wong aku sholat Shubuh saja masih sering kesiangan. Tapi yang namanya judi yang tidak bermutu kan membuat orang berpikiran instan, beda jauh dengan kalian yang berpikiran tangguh sehingga bisa menembus industri hiburan seperti sekarang.


Dear Mbak Tessa Kaunang, Mbak Peggy Melati Sukma, Mas Ari (yg dulu VJ MTV), dan artis-artis tidak terkenal lainnya yang menjaga acara kuis SMS di Televisi,

Kayaknya lebih baik kalau kalian ajarkan perjuangan kalian saja daripada membuat orang-orang desa, para buruh-buruh rendahan, dan masyarakat ekonomi lemah yang lugu dan polos itu berpikir bisa mendapat uang 20 juta hanya dengan menjawab pertanyaan aneh dari kalian.

Kalau mau yang agak bermutu, ya bikin yang agak sulit dong kuisnya. Paling tidak setara dengan standar Ujian Akhir Nasional tingkat SMA. Setengah jam ngumpulin SMS, setengah jam pembahasan soal. Ah, tapi harus nunggu tahun depan pas mendekati UAN lagi nding. Tapi ya mungkin nggak laku lha wong sekarang anak-anak SMA lebih sibuk nyiapin gaun buat Prom Night daripada mengasah Pensil 2B buat ujian.

Oh iya, karena banyak kritikan, sebagai pelengkap aku minta maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung. Ah, tapi mosok gitu saja sudah tersinggung sih. Kritikan kayak begini yo ndak ada artinya dibanding kritikan yang sudah diterima sejak kalian masuk dunia hiburan.

Satu lagi, mas Ari masih VJ MTV nggak ya? Maaf, aku jarang nonton MTV soalnya, lha ini kerjaan pegawai kecil seperti saya ini seperti nggak ada habisnya je.

Terimakasih.

Next Page »