Anggun C Sasmi dan Agnes Monica
Ini adalah sebuah bualan tentang marketing. Pura-puranya melakukan analisis pemasaran padahal nggak tahu apa-apa.
Gara-garanya, hari minggu kemarin seharian diajak pak Rudy untuk berbicara soal marketing dengan salah satu rekan bisnis. Perusahaanku dan perusahaan rekan bisnisku itu memiliki cara marketing yang berbeda. Perusahaanku menggunakan metode atas ke bawah, ambil yang besar-besar (profit margin lebar, kesulitan tinggi, resiko besar), baru yang kecil-kecil belakangan. Sedangkan perusahaan rekan bisnisku itu menggunakan cara dari bawah ke atas, ambil yang kecil-kecil (tapi lebih mudah didapat) baru raih yang besar-besar.
Berjam-jam kami muter-muter berdiskusi, adu argumen mana yang lebih bagus dan efektif. Tentu saja tidak ada yang mau mengalah. Pusing aku!
Tiba-tiba aku teringat dengan Anggun C Sasmi dan Agnes Monica, dua wanita cantik yang kini berkibar di dunia hibur menghibur. Mereka kujadikan model untuk menerangkan dan menyatukan pandangan. Walaupun jelas-jelas ngawur dan agak ngibul, tapi diskusi bisnis jadi terarah dan bisa segera selesai.
Hal penting yang perlu diingat dari Anggun dan Agnes, visi mereka berdua kurang lebih sama : Go International!
Anggun C Sasmi
Adalah Anggun C Sasmi, wanita yang dulunya tumbuh besar di Jogja (sama denganku), dan berparas hitam manis (sama juga denganku). Pada usia muda sudah meraih kesuksesan , mendapat berbagai award, serta popularitas di Indonesia.
Setelah yakin dengan kemampuannya, pada usia 19 tahun Anggun meninggalkan Indonesia yang otomatis meninggalkan pula segala kesuksesan, popularitas, perpanjangan kontrak, dan juga teman-temannya, untuk meraih dunia Internasional sebagai target marketnya. Anggun muda pun bergerak ke London, ke Amsterdam, dan akhirnya Paris yang dijadikan rumah barunya. Rumah bagi Anggun yang tidak dikenal siapapun. Anggun kembali menjadi orang asing yang bahkan tidak bisa bahasa Prancis.
Lalu Anggun mulai merintis karirnya disana, dan menghilang dari radio, televisi, dan media Indonesia.
Enam tahun kemudian, Anggun kembali muncul di media lokal. Ikut terbawa berita tentang single-nya yang menduduki top-sepuluh tangga lagu di seluruh dunia. Snow On The Sahara memang lagu yang sangat mengesankan. Tahun-tahun berikutnya, Anggun kembali menerbitkan lagu-lagu bernuansa etnis -aku pikir itu suara Bali- dan lagi-lagi menjadi lagu pilihan untuk para penyanyi kamar mandi.
Hebatnya, semua itu dilakukan Anggun dengan tetap tampil seperti orang Asia : berrambut hitam panjang, dan lagu-lagu dengan unsur etnis khas Asia. Ditambah lagi dengan goyangannya yang mirip tari bali. Bangga deh pokoknya.
Tetapi, pakaiannya memang selalu membuat orang menahan nafas dan menahan pandangan. Seronok, kalau kata orang Asia. Padahal, tanpa pakaian yang mini, tipis, dan kliwir-kliwir itupun Anggun sudah sangat memukau penonton. Senyumnya itu lho, bikin penonton klepek-klepek.
Setelah sukses Go International, Anggun kini sedang promo ke Indonesia. Marketing dari atas ke bawah. Sama denganku.
Agnes Monica
Aku masih ingat ketika jaman-jaman ikut bimbingan belajar untuk ikut UMPTN. Di saat istirahat, aku bersama teman-teman selalu berusaha menyempatkan diri nonton acara “Tralala-Trilili” di RCTI. Acara dimana Agnes Monica kecil menjadi bintang baru. Saat itu semua orang suka Agnes Monica, termasuk aku yang jelas-jelas bukan termasuk cowok philadelphia.
Pernikahan Dini dan diikuti sederet sinetron lainnya membawa Agnes menjadi pemain sinetron. Mulai dari yang akting yang bagus hingga akting yang hanya perlu membelalakkan mata dan berteriak untuk menggambarkan orang marah dilakoninya. Yah, memang gambaran marah tradisional seperti ini yang mudah dipahami pemirsa. Intinya, Agnes berhasil membuktikan diri mampu menjadi aktris.
Beberapa album Agnes juga mampu diterima masyarakat. Laris manis. Suaranya semakin mantap, dance-nya semakin canggih dan inovatif, dan wajahnya semakin cantik dan dewasa. Dan yang paling menjadi sorotan, gaya berpakaiannya yang ke-britney-britney-an. Seksi sih, tapi mmm, kelihatan agak-agak Penuaan Dini kayaknya.
Lalu tiba-tiba Agnes berteriak lantang “Aku mau Go International!”. Wow, ternyata ini gadis yang berwawasan luas! Seseorang dengan visi, bukan hanya sekedar mengikuti aliran nasib, seperti pada percakapan berikut :
WartawanGosip: “Bagaimana anda bisa main sinetron ini?”
Artis (bukan Agnes): “eh, kalau saya kebetulan pas jadi model tiba-tiba dijawil sutradara dan diajakin untuk main sinetron ini”
WartawanGosip: “Bagaimana rencana anda berikutnya?”
Artis (bukan Agnes): “besok-besok lihat saja mudah-mudahan saya masih diterima oleh pemirsa”.
Jadilah Agnes muda yang berpikiran dewasa. Berusaha keras menggapai mimpinya, berlatih dengan keras siang dan malam sampai pelatihnya kewalahan, hingga sekarang aksi panggungnya sangat sempurna. Sudah sangat mirip Britney Spears dan dance team-nya. Agnes lalu main sinetron di Taiwan.
Setelah sukses menaklukan Indonesia, Agnes Monica melebarkan sayap ke Asia, lalu sebentar lagi ke dunia. Dari Bawah ke Atas.
Anggun dan Agnes, Semuanya Sukses
Akhirnya diskusi siang itu diakhiri dengan kata-kata klise: “Tidak ada teori marketing yang sempurna. Semua produk mempunyai cara marketing sendiri-sendiri, dan cara yang sukses untuk produk ini tidak selalu sukses saat diterapkan di produk lain.”
Berkat Analogi Nggedabyahâ„¢ dan Teorematika Nggladrahâ„¢ diatas, akhirnya aku bisa keluar dari ruangan untuk makan siang. Terima kasih Anggun dan Agnes, kalian menyelamatkan hariku.
—
Anggun picture from Anggun Officiel Site, without permission.
Foto Agnes dari fans Agnes, tanpa ijin.


Adalah Agus, seorang mahasiswa Universitas Negeri Bandung yang terjebak dalam lingkaran kenikmatan selingkuh. Sudah memiliki pacar yang sesuai kriterianya, keibuan dan baik, tetapi malah memilih selingkuh dengan seorang mahasiswi Teknik Lingkungan, lebih cantik tentu saja. Kalau nggak, ngapain selingkuh.
Tampak jelas, film ini mengambil setting di kampus ITB dan Unpad. ITB menjadi UNB (Universitas Negeri Bandung), sarang cowok jomblo. Sedangkan Unpad menjadi Unjat (Universitas Negeri Jatinangor), sarang cewek cantik.
Singkat cerita, kami berlima sudah berada di depan studio. Hampir saja gak jadi nonton karena TERNYATA gak ada yang punya tiket. Acara sudah dimulai sekitar 10 menit dan kita berlima masih berputar-putar di luar studio. Tapi syukurlah staff ANTV berbaik hati -mungkin iba- melihat kami berputar-putar gak jelas, dan mempersilahkan kami masuk, tanpa tiket.
Dibanding Dewa dalam Star on Stage bersama kemarin, Sheila on 7 kali ini tampak lebih mempersiapkan diri dalam segi skenario panggung. Di sela-sela lagu, satu demi satu mereka bercerita tentang kisah-kisah lucu, mengharukan, maupun menyedihkan yang -katanya- mereka alami sendiri. Duta yang menceritakan kepecundangannya saat masih kecil, adam yang bercerita tentang betapa dia mudah menangis kalau mendapat cerita sedih, dan seterusnya.