6 October 2005

MTV WeekEnd: Kenapa Loe Nge-Blog?

Filed under: Hiburan, Personal — hericz @ 12:09 pm

Script AcaraDuh, bingung juga waktu ditanyain gitu. Bukan karena aku gak punya alasan kenapa aku ngeblog, tapi karena semakin lama aku melakukannya, semakin banyak alasan mengapa aku ngeblog. Maaf ya, aku gak biasa banget bilang ‘Loe dan Gue’, maklum dong, orang jogja asli.

Pada awalnya memang aku ngeblog karena sering kali aku termenung sendiri, memikirkan sesuatu hal, tapi susah ngomongin ke orang lain. Kalau cerita ke orang lain pun aku pikir tidak akan efektif kalau kita mengulang-ulang cerita yang sama ke 10 orang yang berbeda. Tak hanya brainstorming, kadang-kadang kita juga punya pengalaman seru yang ingin kita ceritakan ke orang lain. Dengan Blog masalah itu terpecahkan. Tulis sekali, puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang bisa ikut ‘mendengarkan’. Masalah orang yang membaca paham atau tidak, itu urusan belakang. Hehehe…

Lama-kelamaan, makin banyak hal-hal mengasyikkan yang dapat dirasakan dari kegiatan ngeblog ini: dapat teman-teman baru, pengalaman baru, serta berpikir lebih terfokus terhadap sesuatu. Kalau tiba-tiba ada cewek yang nge-Buzz Yahoo Messenger sih, anggap saja itu efek samping :D .

MTV-WeekEnd
Didats dan DanielPertanyan diatas ditanyakan kepadaku siang tadi, saat aku menemani sang Playboy CSS, Didats untuk shooting acara MTV-Weekend di studionya di daerah Pancoran. Yah, lagi-lagi tadi kita bertiga: aku, Didats, dan Goldah. Duh, lagi-lagi aku jadi nyamuk! *injek-injek didats, katanya berlima!*

Dalam acara ini, Didats menjadi Co-VJ beradu panggung dengan VJ-ku Daniel (eh, atau VJ Daniel-ku). Sebenarnya aku yakin acara ini lebih menarik kalau yang memandu acara adalah VJ yang menggunakan studio sebelumnya. Kalo nggak salah itu acaranya Nivea. Hihi, VJ-nya putih dan imut banget. Sebenarnya pengin nyamperin, nanya bagaimana cara mutihin kulit, tapi ah, sudahlah… (maaf kawan-kawan, tidak ada skrinsyut). Tapi VJ Daniel boleh juga kok, paling nggak dia cukup nyambung diajakin ngomong masalah blog.

Didats ditanyain masalah-masalah seputar blog dan perkembangannya. Selain itu juga bagaimana dia berkenalan dengan Goldah, dan proses jadiannya. Lah, jadi infotainment gini?

After the show, bersama produser dan kameramanSedangkan aku dan Goldah ditanyain di luar studio. Hanya sebentar banget, jadi jawabannya hanya sepatah dua patah kata. Salah satunya “Kenapa loe ngeblog?”, jawaban versi panjangnya ada di paragraf awal diatas.

Kalau mau adegan selengkapnya, lihat aja sendiri di acara MTV-Weekend, 16 Oktober 2005, jam 08.00. Tentu saja beberapa kali take yang diulang gara-gara aku ngomong ‘aku’, gak bakalan ditayangin, katanya Nabil Taufik (produsernya) sih harus pake ‘gue’. Jadi kalau penasaran bagaimana bentuk dan rupa didats, “jAnGan aMpE keTinGgalan yAAAh!” (kata didats ini tulisan versi ABG).

Kado tak terduga
Tripod dari didats+goldahSebelum acara shooting, tiba-tiba Didats dan Goldah memberi kado yang tak terduga, sebuah tripod buat kamera. Katanya sih kado Ultah, hehehe. Wah, senangnya, jadi bisa buat foto-foto bareng nih. Padahal kemarin kirain bercanda lho waktu didats nanya lewat YM “her, minta kado apa?”, langsung aja kujawab “tripod!”. Terimakasih ya, didats & goldah.

Hmm.. kalau dipikir-pikir, ini tripod hasil dari ngeblog juga lho.

Jadi, kenapa loe nge-blog?

16 September 2005

Nonton Dewa di Studio ANTV

Filed under: Hiburan, Personal — hericz @ 1:24 pm

Semua kata rindumu semakin membuat ku,
Tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa…

Saat mendengar lirik mendayu lagu ‘Kangen‘ dari grup DEWA diatas secara spontan aku ikut menyanyi. Tapi tangan dan mata tetep fokus ‘ngublek-ublek’ setingan kamera agar bisa menghasilkan gambar yang bagus. Aku berusaha dapat gambar yang bagus soalnya jarang-jarang bisa nonton langsung seperti tadi malam, di Studio Pengadegan anTV, dalam acara Star on Stage bersama DEWA.

Tiket dari Bhagonk
Sore hari kemarin, bhagonk a.k.a Bagus membuat pengumuman lewat YM, kurang lebih : “yang mau ikut nonton Dewa hubungi aku”. Spontan aku kontak bhagonk, dan rembug punya rembug aku dapat jatah tiket. Ternyata Didats dan Golda ikut juga “wah, bakal rame nih,” kata Didats via YM.

Berlima Satu TujuanSesuai perjanjian, kita ketemuan di Carrefour Cawang jam 8 malam. Bhagonk, Alex, Didats, dan Golda datang beberapa saat setelah aku memesan ayam goreng di food court. Setelah terburu-buru menghabiskan teh hangat, aku keluar dan mendapati mereka berempat dengan 2 motor, langsung foto-foto.

Dengan metode CengLu, kami berlima meluncur ke studio yang berjarak sekitar 500 meter di belakang Menara Saidah, Jl. MT Haryono. Sampai di studio, bhagonk dan alex baru bilang kalau mereka gak bisa ikut nonton karena ada acara yang lebih penting, yah, tinggal kita bertiga (lagi) seperti waktu lalu.

Setelah Bhagonk dan Alex pergi, kami bertiga langsung antri ke pintu masuk, sambil membagi 2 tiket yang tidak terpakai ke orang yang membutuhkan. Uuh, ternyata aku gak bakat jadi calo. *jitak goldah yang maksa-maksa*.

Dalam Studio
Posisi kiri depan sangat menguntungkan untuk motret-motret, personel DEWA lebih sering berada di daerah itu. Golda memilih masuk lubang di depan panggung, “Biar masuk tipi” katanya. Sementara aku dan didats tetap berada di sisi panggung.

Ketika DEWA mulai naik pentas, aku baru sadar kalau di belakangku penuh ABG-ABG yang berteriak-teriak histeris “wah ganteng-ganteng yah..”,teriakan selengkapnya ada di sini. Aku tidak terlalu memperhatikan, soalnya mulai sibuk milih-milih setingan kamera.

Dewa On Stage
Once upon a time in anTV: Duel Andra dan Yuke Seperti biasa, DEWA tampil mengagumkan di atas panggung, dan NO-LIPSYNC. Tata panggung yang melingkar membuat Once sering berkeliling di antara penonton yang meng-elu-elukan dirinya. Ada 12 lagu yang dibawakan Dewa pada acara ini, antara lain Pangeran Cinta, Arjuna mencari Cinta, Satu, dan tentu saja Kangen.

Dhani on StageDhani dan Once bergantian menyanyi dan memegang keyboard set di kiri panggung. Andra (hail master andra), berada 3 meter di depanku, meraung-raungkan gitarnya. Tio dengan drumnya berada jauh di belakang, dan tidak sekalipun maju ke depan panggung. Yuke dengan bass berada di sisi kanan, agak jauh dari tempatku. Di ujung paling kanan ada additional player memegang gitar, aku lupa siapa namanya. Tak lupa, 2 backing vokal cewek di belakang Dhani, jauh juga di belakang.

Bintang Tamu
Mulan SeksiSecara mengejutkan, di panggung muncul 2 cewek dengan pakaian ‘aneh’: rok mini, dan stocking bolong-bolong. Sempat aku bertanya “siapa tuh?”. Penonton di depanku bilang, “Ratu!, itu Mulan personel baru” ooh, ratu. Gila, roknya mini bener, kaos singlet merah mini dipakai di luar, dan kacamata gede tahun 70-an. Kalau tidak melihat Dhani dan Andra di panggung yang sama, aku pasti langsung berpikir ini pentas dangdut.

Aah, dasar ndeso!gak tau mode kamu her, liat aja Didats yang orang jakarte dan tahu mode tiba-tiba agresif dalam mengambil gambar, terutama saat Mulan berada di depannya, atau lebih tepatnya: di atasnya.

Andra terpana melihat kecepatan gerak bintang tamu yang luar biasa iniBintang tamu yang kedua aku tidak kenal, tapi membuatku terpana dengan permainan bass-nya. Konon, kalau aku tidak salah dengar, adalah bassist grup Casiopea, Dhani sendiri bilang kalau dulu Dewa sangat mengidolakan grup ini. Malam itu beliau fusion dengan Dewa, membawakan lagu milik Casiopea yang aku gak tahu judulnya. Tapi, suer deh, keren yang tiada taranya. (update: namanya Tetsuo Sakurai, info dari mbah.dukun[at] gmail [dot]com).

Selesai
Akhirnya acara selesai, golda berhasil mendapat souvenir berupa stik drum Tyo. Aku dapat 189 foto, meski hanya 80 diantaranya yang layak simpan. Tapi gak rugi deh ikut nonton. Tak lupa ucapan terimakasih goes to:
- Bhagonk & Alex atas tiket gratisannya
- Didats & Goldah sudah rame-rame nonton, sori aku jadi nyamuk lagi.
- Temennya didats yang mboncengin aku sampai jalan raya.
- Komunitas kampung gajah yang membuatku bisa kenal teman-teman yang luar biasa ini.

9 September 2005

Jalan-jalan ke Planetarium TIM

Filed under: Hiburan, Personal — hericz @ 6:20 am

Tiket planetarium TIMBarusan lihat-lihat foto hasil jepretan pas jalan-jalan minggu lalu dan jadi ingat kalau Sabtu kemarin aku pergi ke planetarium di Taman Ismail Marzuki. Iya iya, belum jadi ke pantai.

Singkat cerita kami pergi ber-empat: aku, cintah, adikku yang kebetulan lagi di Jakarta, dan teman kuliah/kos waktu di bandung, Bastian. Naik angkutan ke TIM cukup mudah, dari Kebon Sirih (ujung Jalan Sabang) naik 502, langsung turun di depan TIM.

Begitu masuk TIM, karena baru pertama kali, langsung mengikuti keramaian, ke bagian belakang dulu. Ternyata di belakang sedang ada lomba, aku tidak memperhatikan itu lomba apa. Terlanjur di belakang, kami terus lihat-lihat Galeri Deklamasi, isinya buku-buku lama, tapi bukunya bagus-bagus lho. Tapi mengingat di rumah masih bertumpuk buku yang belum terbaca, ya harus menahan diri.

Setelah bosan lihat-lihat buku, dan adikku juga mulai komplain”ngapain sih di sini?gak jelas”, hehe, aku memang ndak ngasih tahu dari awal kalau mau masuk planetarium. Ya sudah, langsung tak ajak masuk ke planetarium. Kebetulan jadwal pertunjukan tinggal beberapa menit lagi, aku langsung antri tiket, adikku tidur di kursi tunggu.

Hanya menungu beberapa saat setelah dapat tiket, pintu sudah dibuka, dan kami segera masuk ke ruang pertunjukan.

Kubah putih
Kubah planetariumWow, sebuah ruangan berbentuk kubah besar, diameter kira-kira 30 meter, mungkin lebih. Atap ruangan tampak putih bersih, dengan garis-garis bujur dan lintang yang tampaknya cukup presisi. Di tengah ruangan teronggok sebuah proyektor berbentuk bola berwarna biru, berdiameter sekitar 1 meter, ada tulisan “Carl Zeiss” di bagian bawah, dengan banyak lensa-lensa di kulitnya. Kursi-kursi penonton, yang tampaknya didesain untuk posisi tidur, berjajar di seluruh ruangan. Dan yang cukup terasa adalah rasa dingin yang menusuk tulang (dalam arti yang sebenarnya), pertanda Air Conditioner diset tanpa mengindahkan aturan hemat energi.

Kursi-kursi segera penuh penonton tua dan muda, beberapa orang tampak foto-foto, beberapa yang lain mengacung-acungkan handycam, tapi tak lama. Lampu dimatikan, pertunjukan dimulai. Atap kubah menghilang, berubah menjadi langit malam yang penuh dengan bintang-bintang. Bulan purnama tampak baru terbit di sebelah kiri. Pembawa acara memberi narasi mengenai apa yang ada di ‘langit’ tersebut.

Ditunjukkan satu-persatu posisi rasi bintang, lengkap dengan simbol-simbolnya. Bahkan posisi bintang pun ikut bergerak perlahan seiring perjalanan waktu. Jadi ditunjukkan posisi bintang dari setelah matahari terbenam, sampai matahari terbit lagi. Tentu saja waktunya dipercepat karena waktu pertunjukan hanya 1 jam. Posisi matahari untuk berbagai posisi lintang, gerak semu harian bintang, dan gejala-gejala astronomi lainnya juga dijelaskan dengan animasi.

Sampai lampu dinyalakan lagi, aku benar-benar terhanyut, seperti halnya anak-anak kecil yang duduk mengelompok di bagian lain ruangan. Yah, bagaimanapun sebenarnya aku sudah tahu -hampir- semuanya, dari SMP dan SMA juga sudah diajarkan.

Kenangan Bersama Cintah
Satu hal yang paling mengesankan adalah pada saat bintang-bintang diproyeksikan ke langit-langit kubah. Mereka sungguh tampak begitu nyata, begitu cantik berkilauan di langit. Aku jadi teringat dulu waktu masih di Bandung, sekali-dua kali bersama cintah pergi ke suatu tempat di Dago untuk memandang langit malam. Berdua menikmati bulan purnama, bintang-bintang, night-landscape kota Bandung, dan angin malam yang dingin, ditemani roti bakar yang dibeli di Pasar Simpang.

7 September 2005

Musik: Manusia, Frekuensi Natural, dan Nostalgia

Filed under: Hiburan, Ragam — hericz @ 2:21 am

Artikel asal-asalan tentang bagaimana menjawab kalau orang tua bilang “… dulu waktu Bapak masih muda, yang namanya musik itu enak, penuh makna, menentramkan, gak gedombrengan kayak lagumu, apa itu grupnya, Hari Hijau?”.

Frekuensi Natural
Musik dan frekuensi natural gelasSetiap benda di dunia ini mempunyai frekuensi natural sendiri. Frekuensi natural adalah frekuensi, atau satu set frekuensi, dimana benda tersebut bergetar atau ikut ber-resonansi saat ada benda lain yang bergetar pada frekuensi tersebut. Jika kita belajar mekanika, maka kita mungkin masih ingat bagaimana menghitung frekuensi natural pegas atau ayunan.

Karena manusia juga merupakan ‘benda’, maka manusia juga mempunyai frekuensi natural, aku yakin itu. Frekuensi natural dalam hal ini adalah seperangkat frekuensi, yang disebut musik. Musik dimana manusia merasa nyaman saat mendengarnya.

Sebagian orang Indonesia akan merasa nyaman saat diperdengarkan lagu-lagu dangdut, bahkan tanpa disengaja tubuh ikut bergoyang (berresonansi) seirama irama musik. Sebagian lagi merasa nyaman dengan lagu keroncong, sebagian yang lain tentram dengan musik gamelan, saking tentramnya sampai tertidur. Sementara itu, orang eropa demen dengerin musik opera yang kalau aku dengar sih, seperti lolongan anjing.

Kapankah pembentukan Frekuensi Natural Manusia?
Jika pada benda mati frekuensi natural terbentuk sejak benda itu ada. Maka pada manusia frekuensi natural terbentuk seiring pertumbuhannya. Tentu saja dengan dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan. Jika orang tua suka musik jazz, anaknya juga akan suka, paling tidak gak alergi dengan musik ini, apalagi tiap hari diperdengarkan musik jenis ini.

Pada usia pertumbuhan, anak-anak masih labil, masih mudah berubah bentuk. Pada masa inilah terjadi pembentukan frekuensi natural dari manusia. Masa SMP dan SMA adalah puncaknya. Kita akan mendengarkan lagu-lagu yang lagi ngetrend, ngetop, yang sering diputar di media. Jika kepribadian kita cukup kuat, kita akan memilih aliran musik sesuai keinginan kita, dan jika tidak kita pilih sesuai keinginan kelompok kita. GAUL GITU LHO !

Efek Nostalgia
Karena waktu itu jenis musik yang mirip-mirip tersebut setiap hari kita dengarkan ke otak yang masih labil, lama-lama musik jenis itulah yang menjadi frekuensi natural kita. Membuat kita bergoyang setiap kali lagu itu diperdengarkan, dan bertahun-tahun kemudian jantung berdebar-debar teringat kenangan masa itu, pikiran melayang, jiwa terbang *haiyah*.

Jangan heran kalau saat musik-musik baru bermunculan, kita ikut mendengarkan dan beli kasetnya, ikut manggut-manggut dibuatnya dan bilang ‘wow, lagunya keren nih’, tetapi tetap tak bisa mengalahkan aura Always-nya Bon Jovi, Kangen-nya Dewa, lagu-lagu sendunya Kla-Project, OASIS, dan lagu-lagu lain yang lagi ngetop saat aku masih SMP-SMA. Aku yakin, auranya masih akan tetap terasa berpuluh tahun lagi.

Jangan heran pula, kalau ada angkatan yang sangat hapal lagu-lagunya Scorpion, Power Metal, atau Vina Panduwinata. Sekali lagi, tergantung alirannya. Ada lagi yang bergoyang dengan musik Panbers, d’Lloyd, KoesPlus. Generasi ini, biasanya sekarang masih mendengarkan lagu-lagu ini sambil aktif berdiskusi mengenai pengobatan alternatif.

Eh, tapi ada pula lho, yang merasa baru menemukan Frekuensi Naturalnya pada usia senja, lihat saja acara Goin’ Country, sering senyum-senyum sendiri kalo lihat acara itu.

Tapi harus diperhatikan pula, kalau suatu saat kita sudah bertengkar dengan ABG dan bilang “..musikmu kok tidak karuan gini sih? pas jamanku dulu musik itu bla bla bla..”, mungkin itu pertanda periode pembentukan natural frekuensi kita sudah berhenti. Saatnya memperbanyak ibadah.


gambar asli diambil tanpa permisi dari sini.

« Previous PageNext Page »