19 April 2007

Dukungan Untuk Praja IPDN

Filed under: Ngedumel — hericz @ 2:58 am

Sudah jam 2 malam, aku sudah ngantuk banget, tapi aku ndak bisa tidur. Televisi yang biasanya membantuku terlelap malam ini malah membuatku semakin terjaga dan merasa sangat tersiksa. Setiap kali kupejamkan mata, terbayang wajah-wajah gelisah kalian sahabat-sahabatku Praja IPDN. Mahasiswa dan Mahasiswi dari sebuah kampus yang menjadi berita utama 2 minggu terakhir.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Terbayang di mataku betapa kalian berangkat ke Sumedang dengan semangat tinggi. Berapi-api keinginan kalian untuk membahagiakan orangtua, membanggakan nama keluarga, menyekolahkan adikmu yang pinter dan lucu ke sekolah terbaik. Lalu kalian sadar, bahwa ternyata perjalanan mulia kalian berujung pada sebuah neraka sistemik berkedok pendidikan negara.

Setiap kali aku menyentuh perutku, terasa sakitnya perutku dihantam oleh kakak kelas yang sepupunya keponakan mantunya pejabat. Dan sakitnya tidak seberapa dibanding remuknya hati kalian dianggap sebagai kaum hina, ‘bukan siapa-siapa’. Fakta bahwa kalian bukan anak komandan koramil, dan bukan keluarga staf di gubernuran, membuat nyawa kalian tidak lebih berharga dibanding bebek di kawasan berburu.

Saat mendengar suara musik di MTV, aku terbayang betapa kalian mati-matian -dalam arti harfiah- berusaha masuk klub drum band kampus. Hanya agar dianggap sedikit lebih berderajat dan pantas bersanding dengan mereka yang berkuasa di kampus karena keturunan. Mungkin mereka lupa, sekarang sudah tidak jaman kerajaan lagi. *sigh*

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Melihat para remaja cantik di TV membuatku membayangkan kalian, sahabat-sahabatku mahasiswi IPDN yang dihina, dilecehkan, diambil kehormatannya tanpa bisa sedikitpun mampu melawan sistem yang sedemikian kuatnya. Jangankan melawan, membuka mulutpun kalian sudah tidak punya sisa kekuatan lagi. Aku sungguh tidak bisa membayangkan betapa menderitanya kalian, trauma yang PASTI tidak akan terhapus seumur hidup kalian.

Aku bayangkan pula bagaimana kalian harus berbohong pada Ayah dan Ibu yang sangat kalian cintai dan hormati, “Ah ibu.. adek kan baik-baik saja nih, lihat! Ototku aja semakin besar kan? Di sana tuh aku hidup enak kok”, sambil menyembunyikan memar-memar di dada kalian atau nyeri di rahim setelah aborsi. Pasti sakiiit sekali.

Aku tidak tahu, doktrin dan ancaman apa yang dimuntahkan para senior, sehingga kalian bisa menganggap diri sendiri sudah tidak punya hak hidup lagi. Menjalani hari demi hari dengan doa “Ya Allah, kuatkanlah hambamu yang lemah ini..”, hanya agar kalian masih bisa memanjatkan doa yang sama di malam hari berikutnya.

Sekolah gratis yang ternyata membuat kalian harus membayar uang seragam, membeli diktat kuliah (yang tidak pernah sempat kalian baca), ataupun membayar ’setoran’ ke senior. Bahkan uang saku yang dikirimkan oleh Pemerintah Daerah kalian pun -yang biasanya kalian kirim kembali sebagian ke rumah untuk beli beras- tidak bisa kalian terima dengan utuh. Angka 60 juta pertahun memang angka yang menggiurkan banyak orang.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
mungkin aku hanya semalam ini tidak bisa tertidur pulas dengan raut muka penuh ketakutan. Besok pagi, atau paling lama minggu depan aku mungkin sudah lupa.

Tapi kalian harus mengalaminya setiap malam, selama 1,2,3 tahun selama di kampus? Oh, sepertinya tidak. Kalian pasti harus menahan ketakutan seumur hidup kalian, membayangkan teman sebarak, teman main, teman makan siang, teman berlari-lari saat mau ujian masuk IPDN, teman yang mengompres luka memar di jidatmu hasil penggulingan, yang MATI, MATI, MATI tanpa kau sempat memberikan bantuan saat dia dihajar bos-bos besar, senior, anak para ningrat di kantor kabupaten.

Dan kalian semakin pedih lagi saat melihat makam sahabatmu -yang dilaporkan hilang pada orang tuanya- itu dijadikan monumen agar adik-adik kelas kalian -si anak petani, anak tukang becak, anak buruh bangunan- yang didatangkan dari berbagai daerah menyadari bahwa mereka baru saja masuk ke sebuah neraka untuk orang miskin, surga untuk orang berkuasa, dan sumber kekayaan bagi dosen dan staf peminum darah. Neraka dimana jagoan beladiri pun tidak akan sanggup melawan.

Sedangkan kisah-kisah praja putri yang MATI dalam keadaan hamil, babak belur, terbuang di daerah terpencil menjadi sebuah dongeng turun temurun yang mengerikan. Mengingat kalian bisa menjadi tokoh pengganti dalam dongeng tersebut saat kalian membuka satu kalimat saja.

Lalu wajah-wajah ‘pembunuh’ yang masuk TV tanpa merasa malu, tanpa sedikitpun raut muka penyesalan, membuat kalian semakin tenggelam dalam ketakutan yang luar biasa.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Aku membayangkan betapa tanggung jawab kalian begitu besar. Menjaga nama baik Daerah, menjaga nama baik kontingen kalian harus kuat menjaga semua kepedihan itu sendiri. Betapa susahnya birokrasi jika ingin komplain.

Aku tahu, kalau seorang anak pejabat terlibat kasus pembunuhan, maka kasusnya tidak akan pernah sampai di pengadilan. Maka aku juga tahu betapa takutnya kalian, kalau pelaku pembunuhan bukan hanya satu, atau 10, tapi 100 atau 1000 anak pejabat. Karena kalian juga tahu, senior-senior miskin itu sepertinya hanya ikut-ikutan saja.

Aku sudah mulai sadar bahwa ternyata tendangan kungfu di dada hanyalah seujung kuku dibanding siksa batin dan jiwa yang kalian alami selama berada di sana.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Tidakkah kalian lihat betapa luasnya dunia ini. Tukang jamu menggendong dagangannya keliling kampung, berangkat dengan wajah penuh harapan, pulang dengan hati gembira. Setiap 100 meter di pinggir jalan ada penjual voucher HP, es cendol, Mie Ayam, pisang kremes yang terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Mereka berangkat dengan penuh harapan, dan pulang dengan bangga membawa rejeki halal sekedarnya untuk diberikan ke anak istrinya. Mereka bahagia, dan mereka bukan PNS.

Dunia tidak hanya menjadi pegawai negeri sipil. Sistem informasi belum secanggih dalam film-film Bioskop TransTV tadi malam. Kalian masih bisa keluar, menyelamatkan diri dari neraka sistemik itu dan menghilang tanpa diketahui siapapun.

Aku yakin, ayah ibu kalian lebih suka melihat kalian jadi nelayan yang HIDUP jujur di sebuah pulau terpencil daripada melihat makam PNS muda yang dimakamkan dengan penuh pengormatan dari rekan-rekan kuliahnya yang tidak bisa diajak ngobrol.

Tolong dipikirkan lagi, bedanya matinya seorang pejuang kemerdekaan, matinya seorang yang berjihad, dan mati konyol karena dihajar idiot berkuasa. Idiot yang hanya bisa masuk kampus megah itu karena pakde dan buliknya, bukan karena otaknya.

Itupun jika kalian tidak ingin mimpi buruk ini berlangsung seumur hidup kalian. Karena sekarang definisi PENGECUT, PEMBERANI, BERMARTABAT, DISIPLIN, KOMITMEN dan PENGKHIANAT sudah mempunyai arti yang berbeda di kampus jahannam itu. Ayo, jadilah PRAJA yang BERANI dan BERMARTABAT -dalam arti sebenarnya-. Kalo kata MTV, speak your mind, anggap saja ini sebuah acara Fear Factor berhadiah ketenangan jiwa.

Maaf, aku mulai ngantuk membayangkan bahwa semua ini ujung-ujungnya ternyata lagi-lagi masalah uang dan kekuasaan. Lagipula sudah hampir jam 3, biasanya jam segini kalian sudah selesai dihajar dan bersiap-siap tidur, mengumpulkan tenaga agar tetap hidup saat dihajar besok malam.

—-
Terimakasih buat seorang ibu yang sore tadi sudah menceritakan semua dengan berlinang air-mata.

14 April 2007

Piramida Pelacuran Nasional

Filed under: Ngedumel — hericz @ 1:40 am

Seorang pemuda berusaha ngobrol dengan seorang gadis cantik yang baru dikenalnya di bis kota:

Cowok :”Eh begini, aku boleh cium kamu ndak?”
Cewek :”KURANG AJAR! Gak mau lah, capek deeh”

Cowok :”Kalau aku kasih duit 1 milyar, aku boleh cium kamu?”
Cewek :*melirik sinis* “Yah, kalau kamu punya uangnya, boleh saja”.

Cowok :”hmm.. kalau cuma ada 50 ribu boleh cium?”
Cewek :”KAMU PIKIR AKU PELACUR?”
Cowok: “Lho, kamu tadi sudah jawab boleh cium kalau ada uangnya kan? berarti sekarang tinggal masalah tawar menawar saja tho. 100 ribu boleh?”.

***

Aku tumbuh besar di sebuah desa di Jogja, jauh dari pusat keramaian dan pusat pemerintahan. Karena didominasi kehidupan petani, kehidupan berjalan dengan santai dan damai. Walau begitu, sudah menjadi cita-cita hampir semua anak (dan orang tuanya) untuk menjadi pegawai negeri, polisi, tentara atau apapun yang berseragam dan digaji negara.

Sudah menjadi pengetahuan umum di desaku, bahwa untuk menjadi ‘apapun yang berseragam’ itu, perlu banyak biaya. Untuk jadi polisi perlu 25-40 juta, untuk jadi pegawai kabupaten perlu 10-20 juta, dan seterusnya. Biaya bisa bervariasi tergantung kekuatan ‘orang dalam’ tempat anak-anak petani itu dititipkan. Bagi para petani, ‘uang tiket’ sebesar itu berati sawah beberapa ribu meter yang didapat dari warisan harus dijual.

Pengorbanan menjual sawah dihitung-hitung tidak rugi untuk masa depan sang anak supaya jadi ‘orang’, lagipula sawah sudah tidak memberi keuntungan lagi. Pupuk mahal, tikus merajalela, harga gabah murah. Dan sebagian besar memang mereka tidak menyesal, setelah beberapa tahun anak-anak mereka sudah bisa membeli RX-King, membangun rumah yang cukup bagus, dan tentu saja berseragam. Oh iya, waktu itu belum musim honda Tiger dan Bajaj Pulsar.

Regenerasi Pelacuran Kekuasaan

Anak-anak petani tadi akan duduk satu meja, berdiri satu lapangan, menghormat ke satu pembina upacara, dan mengantri satu loket gaji dengan ribuan orang lainnya di pemerintahan. Loket gaji yang membuat mereka sadar bahwa uang tiket mereka tidak sebanding dengan gaji mereka. Perlahan-lahan -secara massal, dan terstruktur- akan diajarkan bagaimana agar segera balik modal.

Caranya bermacam-macam, meminta uang dari masyarakat, memberi setoran ke atasan agar cepat naik pangkat, dan lain-lain.

Istilah Pelacuran sepertinya terlalu kasar, tapi pada intinya begitu.
- Sudah, nggak usah ikut sidang tilang. Bisa nitip lewat saya, 25 ribu saja.
- Kamu bisa dapat KTP, tapi bayar 250 ribu.
- Ndak usah repot-repot ikut ujian, bayar saja 300 ribu, nanti SIM tinggal foto.
- Kamu bisa naik pangkat tapi harus setor 40 juta.
- Kamu bisa jadi kepala bagian, tapi harus setor 50 juta.
- Pesawat yang patah mau saya cat dulu, kamu butuh berapa agar bilang ke wartawan kalau ini ‘nggak menyalahi aturan’?
- Kamu bisa tetep dapat subsidi 60juta/tahun/praja, tetap bisa jadi staf kabupaten kalau kamu tutup mulut tentang teman2-mu yang mati dipukuli.
- Sebelum bapak kasih laporan tentang hasil investigasi di Kampus saya, ini ada sedikit uang saku buat keluarga di rumah.

Ini tidak bisa dihentikan. Sistemnya sudah terlalu kuat, karena sudah merasuk ke alam bawah sadar masing-masing member, dan sudah merasuk ke alam bawah kantong anak istri mereka di rumah. Saat sudah terbiasa berpenghasilan -misalnya- 10juta/bulan (hasil melacur), susah kalau harus hidup biasa dengan gaji 1.5juta/bulan.

Karena terstruktur, terorganisir, serta rapinya sistem doktrinasi pelacuran ini, sampai-sampai saat ada orang luar yang mau membantu menyelamatkan malah dituduh memojokkan, menyerang, atau memberitakan secara tidak berimbang.

Bahkan, karena saking kuat pengaruh saling melacur di lingkungan pemerintahan ini, masyarakat sampai ikut terdoktrinasi.

Tidakkah kalian lihat, bahwa sistem aliran uang di lembaga-lembaga itu mempunyai rantai-DNA yang sama dengan arisan berantai, MLM ngawur, dan skema investasi via ATM, ataupun sistem-sistem piramida pembunuh massal lainnya.

***

Aku tahu, banyak orang yang tidak menganggap dicium sebagai penyerahan harga diri atau sesuatu yang sakral (oh hebatnya doktrinasi film holywood) tapi aku masih bertanya-tanya, wanita-wanita cantik itu dibayar berapa oleh manajemen agar mau dicium Tukul Arwana.


gambar ambil dari uptownshelter tanpa ijin

6 December 2006

Gusti Allah Tidak Sedang Bermain Dadu

Filed under: Ngedumel — hericz @ 5:28 pm

Sebulan lebih aku nggak nulis, sudah begitu banyak hal yang terjadi di dunia ini. Kantorku sudah pindah, aku juga pindah rumah (tapi tetep ngontrak), aku sudah beli sepeda motor, Bush datang ke Bogor, dan sebuah pelajaran bahwa hujan durian di negeri tetangga yang tak seindah hujan air di negeri sendiri.

Tapi aku lagi tertarik sama kisah yang sinetron banget di negara alfabet.

Negara Alfabet

Kalau ini adalah negara Alfabet, maka mari kita sebut tokoh bernama A. Yang serba baik, pinter, alim, mampu menciptakan keluarga yang sakinah dengan 7 orang anak, menginspirasi semua orang untuk menjadi lebih baik, pengusaha sukses pula. Pokoknya nilainya serba A. Makanya dia disebut AA.

Di ujung negara yang lain, tentu saja namanya Z, ada orang yang juga pinter, baik hati, aktif di kegiatan kemahasiswaan hingga jadi ketua Umum organisasi mahasiswa islam. Sampai akhirnya beliau bisa memanjat pohon beringin yang mendudukkannya di kursi Senayan, naik motor 20 menit dari kontrakanku. Jadi posisiku dan dia bedanya nggak jauh-jauh amat sih. Pak Z ini sangat Yahud, maka diberi julukan YZ. *halah maksa*

AA ke YZ

Dunia tiba-tiba gempar. Mas AA menikah lagi, secara resmi di depan saksi. Istrinya yang baik, ramah, subur (lha anaknya 7 je), merelakan suaminya menikah lagi dengan seorang mantan model, cantik tinggi semampai.

Kemudian, Ibu-ibu demo, menteri ikut bikin pres rilis, pejabat lain mengajukan amandemen pengubahan undang-undang, presiden angkat bicara, infotainment dapat topik bahasan, tabloid-tabloid dapet berita.

Mas AA kembali menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Di ujung dunia lain, video klip amatir mas YZ beredar cepat dari HP ke HP, lewat mahasiswa, karyawan kantor, tukang ojek, anak SMA, lewat milis-milis, sampai akhirnya masuk ke media massa.

Penasaran juga, memang sutradaranya siapa sih kok peredaran filmnya ngalahin gegap gempitanya Jiffest? Owalah, ternyata adegan mas YZ sedang ‘ihik-ihik’ dengan mbak ME, seorang penyanyi dangdut yang memang sudah malang melintang di pentas panggung politik -dalam arti harfiah-. (Eh, tapi walau sudah nikah,nonton begituan tetep dosa ya?)

Kemudian, gedung Senayan geger lagi. Om Permadi malah bilang “ah, lagi sial aja itu si YZ, sudah biasa di sini”. Hwarakadah, ini lagi ngomongin dewan yang terhormat lho, bukan ngomongin komplek prostitusi. Waktu bergerak cepat, lalu mbak ME masuk TV, infotainment dapat topik bahasan, tabloid-tabloid dapat berita.

Tapi untuk kasus ini, mas YZ tidak menginspirasi banyak orang. Lagipula, waktu itu beliau sedang ke luar negeri.

Poligami dan Selingkuh

Jadi begitulah, di satu sisi dunia ada manusia yang menyalurkan sifat manusianya dengan cara yang berbeda. Satu dengan jalan yang memang diajarkan dalam agama -yang entah kondisinya sesuai atau tidak di jaman sekarang-. Satunya lagi dengan jalan yang selalu hina di jaman dan kebudayaan manapun.

Anak SD: “Kenapa acara Smack Down nggak ada lagi di TV ?”
Bapak : “Karena anak-anak suka meniru gerakannya, jadi berbahaya”
Anak SD: “Lho, kalau James Bond yang suka berzina itu kenapa tetap diputer di TV dan Bioskop? Bukannya Bapak-bapak juga suka meniru? Wakil rakyat saja sampai ikut meniru”
Bapak : “Oh kalau itu tidak bisa dihapus, karena nanti ramai orang demo lagi di bunderan HI, kan mengganggu anak-anak yang mau sekolah”

***

Sementara itu, di sebuah blok di Rumah Susun Tanah Abang, sepasang suami istri yang baru sebulan menikah ngobrol santai sambil nonton TV.

Istri Menyun: “Wah, AA Gym kawin kok negara sampai mau mengubah undang-undang sih? Reaktif, kaya infotainment saja”
Suami Geblek: “Ya begitulah. Eh, kalo aku kawin lagi gimana ya?”
Istri Menyun: “Emang mau punya istri berapa?”
Suami Geblek: “Delapan belas?”
Istri Menyun: “Lah, istri satu saja njemput di kantor terlambat terus kok. Kalau istrimu 18 nanti apa nggak susah antar jemputnya?”

Lalu aku bersyukur punya istri yang bisa mengingatkan keterbatasan kemampuanku.

Main dadu aja yuks

Dan karena Einstein saja bilang kalau “God doesn’t play dice”, “Gusti Allah mboten dolanan dadu”, aku yakin dua kejadian yang terjadi bersamaan ini tidak terjadi tanpa hikmah buat umat manusia. Paling tidak untuk manusia yang masih sempat lihat infotainment dan baca tabloid gosip.


Ket: Penggunaan Mas AA adalah redundan.

12 July 2006

Manusia Cantik Hidupnya Lebih Mudah Ya?

Filed under: Ngedumel — hericz @ 11:42 pm

Beberapa tahun yang lalu aku membaca sebuah tulisan di Internet yang berjudul “Beutiful people earn more“. Setelah itu aku jadi memperhatikan hubungan antara kecantikan/kegantengan dan kehidupan sosial orang-orang di sekitarku. Aku ingin melihat apakah benar kalau orang cantik, ganteng, menarik, attractive itu hidupnya lebih mudah?

Ternyata sedikit banyak hal itu benar.

Berkah Sejak Lahir

Sejak bayi, anak yang ‘lucu’, ‘menggemaskan’, ‘imut’ lebih disukai oleh orang-orang. Hal ini mengakibatkan si anak menjadi lebih sering diperhatikan dan diajak berkomunikasi oleh orang dewasa. Dengan kondisi seperti ini, kemampuan sosial si bayi seharusnya akan lebih berkembang.

Ketika memasuki usia sekolah, si anak ‘imut’ akan lebih menarik perhatian teman-teman dan gurunya. Guru lebih mudah mengingat namanya, dan si anak akan sering mendapat pertanyaan, lebih banyak berinteraksi dengan guru. Seharusnya, dengan usaha yang sama dengan teman2 yang lain, si anak cantik akan mempunyai lebih banyak teman dan lebih menguasai pelajaran.

Usia remaja, adalah masa keemasan bagi manusia cantik atau ganteng. Gadis-gadis akan menerima puluhan surat cinta, antrian cowok-cowok yang siap mengantar kemana dia pergi, kakak kelas yang siap membantu bikin PR, bahkan tawaran main sinetron.

Kemudahan yang dialami orang cantik juga berpengaruh pada lingkungannya. Dulu saat praktikum, kalau dalam kelompok ada praktikan yang cantik kita bisa lebih tenang karena Asisten tiba-tiba menjadi manusia yang baik hati, penyabar, dan pendidik yang sempurna. Tugas-tugas pun jadi ringan. Padahal kalau satu kelompok laki-laki semua, asisten seperti makhluk jahat yang ingin membantai praktikan dengan memberi tugas-tugas yang aneh-aneh.

Saat mencari kerja, mereka secara default akan lolos lebih mudah. Kalaupun tidak bisa bekerja di tempat kerja ‘formal’, banyak lowongan pekerjaan yang sangat mendambakan kehadiran makhluk-makhluk cantik dan ganteng.

Setelah bekerja, para manusia cantik dan tampan ini juga mendapat kemudahan lagi. Hari pertama kerja langsung dikenal oleh seluruh kantor. Dengan usaha dan tingkah laku yang sama, orang akan lebih suka bekerja sama dengan mereka. Karir akan lebih cepat menanjak, pendapatan akan lebih besar.

Sama-sama hebatnya di lapangan bola, David beckham jauh lebih kaya dibanding Zainuddin Zidan.

Alam Bawah Sadar

Kemudahan yang diberikan masyarakat kepada golongan orang cantik dan ganteng ini kadang-kadang tidak disengaja, sepertinya memang sudah tertanam di alam bawah sadar. Seperti yang pernah digambarkan di Reality Show “Tolooong”, dimana orang akan dengan mudah menolong si gadis cantik, dibanding menolong ibu-ibu.

Pria yang gagah, ganteng, berpakaian rapi, dan perlente juga secara bawah sadar dianggap lebih ‘cerdas’ dan lebih dipercaya dibanding cowok lusuh, berbadan ceking, berambut kribo, berkulit item, yang kaosan dan sandalan kemana-mana.

Kecantikan Berbanding Terbalik dengan IQ?

Beauty and the BrainSeorang teman di internet berteori “Kecantikan berbanding terbalik dengan IQ”. “Bweh, teori apa lagi ini?” begitu pikirku pertama kali mendengar kalimatnya.

Dulu di kampusku, ada beberapa mahasiswi cantik, yang ternyata selalu jadi master ujian, master PR, maupun master praktikum. ‘Master’ maksudnya tempat mahasiswa lain bertanya, berdiskusi, atau bahkan menyontek.

Eh, tapi setelah aku coba mengingat-ingat, ternyata kejadian-kejadian seperti itu sangat jarang terjadi. Di kampusku dulu, jumlah wanita cantik relatif lebih sedikit -secara signifikan- dibanding kampus-kampus yang lain, *diedit karena bisa menyinggung perasaan orang lain*.

Bukannya sombong kalau aku menganggap mahasiswa di kampusku IQnya lebih tinggi dibanding di kampus swasta itu. Ah, kalaupun tidak, Mahasiswi di kampusku bisa lolos UMPTN sedang mereka tidak, berarti UQ-nya (UMPTN-Quotient) lebih tinggi.

Tapi aku masih belum percaya dengan teori temanku tersebut.

Sampai suatu hari aku melihat iklan di TV tentang produk minuman bervitamin C 1000 mg. Endorsernya adalah Natalie Glebova, miss Universe 2005. Dan aku tersadar, untuk mengiklankan produk bodoh perlu orang paling cantik sedunia.

Lalu, kemarin aku dapat lagi ada bukti baru yang cukup menyedihkan. Ketika aku melihat dan mendengar perwakilan Miss Universe 2006 dari Indonesia - Nadine Chandrawinata - berkata “Indonesia is a beautiful City…“. *aku bersyukur menemukan link ini sebelum posting karena tidak perlu lagi mengulang transkripsinya*

Mungkin orang yang cantik dan ganteng sudah tidak perlu belajar banyak agar bisa sukses. Ah, kalau begitu aku harus banyak belajar dan berjuang nih. Semangaaat!


- Video Wawancara bisa dilihat di Situs Miss Universe 2006
- Terimakasih pula untuk henny rolan yang sudah membuatkan transkrip
- MP3 dapat didownload di sini, terimakasih untuk om Husni

Next Page »