8 April 2006

Misuhaksi dan Misuhgrafi

Filed under: Ngedumel — hericz @ 8:55 pm

Misuh-misuh, atau mengumpat, selalu menjadi bagian dari suatu kebudayaan. Walaupun tak pernah diajarkan di sekolah-sekolah, kosakata pisuhan selalu bertahan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Untuk membudayakan dan mempertahankannya tidak sampai diperlukan Himbauan Pemda dengan campur tangan Unesco.

Karena berkaitan dengan budaya, tiap-tiap orang juga mempunyai pisuhan khas yang sesuai dengan kebudayaan yang dianutnya. Di Indonesia, kebanyakan kosakata pisuhan menggunakan nama binatang seperti anjing, monyet, bajing, dan jangkrik. Padahal aku bingung juga apa salahnya binatang-binatang itu sehingga dijadikan pilihan kata untuk misuh-misuh? Kalau orang Jawa Timur sedikit kreatif dengan menciptakan kata Jancuk, yang sampai sekarang aku nggak tau apa artinya.

Misuhaksi
Seringkali frekuensi orang mengucapkan kata pisuhan, kita sebut saja Misuhaksi, dikaitkan dengan tingkat pendidikannya. Semakin sedikit Misuhaksi yang dia lakukan, semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin bagus moralnya, stabil semosinya, semakin baik akhlaknya. Demikian pula sebaliknya, semakin sering melakukan Misuhaksi semakin rendah pendidikannya, semakin buruk moralnya, labil emosinya, semakin hancur akhlaknya.

Golongan yang agak sopan biasanya memodifikasi pisuhan menjadi kata-kata yang terdengar lebih halus. Sehingga memunculkan penggunaan kosakata seperti ‘bajigur’, dan ‘anjrit’ (dengan variasi jumlah huruf i). Mulut kita ini seperti corong teko, teko hanya akan mengeluarkan isi yang ada, begitu kata Aa’ Gym.

Ada guyonan mengenai kota Bandung. Semakin dekat ke pusat kota Bandung, -berdasar data empiris katanya- semakin sering frekuensi kata ‘anjing’ yang diselipkan dalam kalimat sopir-sopir angkot. Maaf tidak bisa menampilkan contoh kalimat, tapi pokoknya mirip penggunaan kata smurf gitu lah. “Smurf, kemana smurf kemarin smurf? gara-gara smurf aku jadi smurf smurf….”

Kata ‘anjing’ ini cukup ekuivalen dengan pengunaan kata ‘fuck’ untuk yang mereka yang berbahasa Inggris, dan -lagi-lagi- ‘Jancuk’. Semakin sering kata-kunci tersebut terdengar, percayalah, anda semakin mendekati pusat kebudayaannya. Pusat kebudayaan bawah tanah, dimana anak-anak terkadang juga suka ikut-ikutan.

Misuhgrafi
Kalau sopir angkot sudah cukup puas dengan melakukan Misuhaksi, hasil Program Wajib Belajar 9 tahun juga tak mau kalah. Timbullah Misuhgrafi, misuh-misuh dengan tulisan dan kata-kata.

MisuhgrafiMisuhgrafi bisa ditemukan dimana saja. Di tembok-tembok, di tiang listrik, stiker mobil. Bahkan seringkali Misuhgrafi, yang bernilai negatif, bisa dipadukan hal-hal positif, misalnya larangan membuang sampah sembarangan, ataupun larangan kencing sembarangan. Seperti terlihat di sebuah papan pengumuman, beberapa jengkal dari kantor om Amal dan Bunda Endhoot yang aku kunjungi Rabu kemarin

Selain agar lebih eye-catching, teknik ini mungkin bertujuan agar hasrat misuh tersalurkan tapi tetap berpahala. Kalau supaya lebih dipatuhi aku kira nggak. Kalau aturan bisa dipatuhi dengan cara ini -memadukan aturan dan pisuhan-, pastilah kata jancuk sudah mendominasi isi pasal-pasal Rancangan Draft Revisi Pra-RUU Tenaga Kerja, bukan di spanduk demonstrannya.

Pelaku-pelaku Misuhaksi -stadium awal- pada umumnya cukup tahu diri dengan tidak melakukan aksi mereka saat didepan anak kecil. Tapi kalau Misuhgrafi?

Mungkin mereka lupa kalau siang nanti anak mereka yang baru belajar membaca akan lewat depan tulisan ini. Lalu dengan senang hati mengeja huruf demi huruf agar bisa menjawab pertanyaan PR Bu Guru tadi pagi, “Bagaimana cara melarang orang buang sampah sembarangan anak-anak?”

22 March 2006

Nampak Sama Nyata Beda

Filed under: Ngedumel, Personal — hericz @ 1:42 am

Sewaktu masih kecil, aku selalu menunggu kedatangan koran Minggu Pagi yang langganan sepaket dengan Kedaulatan Rakyat. Saat Minggu Pagi datang, rubrik yang pertama aku cari adalah “Nampak Sama Nyata Beda” atau disingkat NSNB.

NSNB ini adalah sebuah kuis kecil-kecilan, intinya pembaca harus mencari 10 titik perbedaan pada dua buah gambar kartun hitam putih yang ada disitu. Rasanya puas sekali kalau bisa menemukan ke-10 perbedaan yang tersembunyi tersebut: kumis yang beda panjangnya, jumlah ruji pada sepeda, ibu-ibu dengan konde dan tidak. Sederhana tapi menyenangkan, namanya juga anak-anak.

Sepertinya bukan hanya aku yang suka rubrik tersebut. Buktinya kalau aku terlambat mengambil Minggu Pagi, dijamin tidak bisa membulet-buletin perbedaan yang ada. Harus menunggu edisi minggu berikutnya lagi. Nggondok pol.

Kamuflase

Nampak sama nyata bedaAku jarang naik taksi, kadang-kadang saja kalau habis belanja bareng Ira, hujan deras, terburu-buru, atau pulang kemaleman. Yang aku tahu, cuma ada tiga jenis taksi di jakarta, Taksi “Tarif Lama”, taksi Biasa, dan BlueBird. Taksi Tarif Lama itu kalau nggak salah artinya: baru duduk sebentar, Tarifnya kayak sudah Lama keliling kota. *halah*

Memang sih, banyak juga ‘taksi biasa’ yang bagus pelayanannya selain Bluebird, tapi karena jarang-jarang naik taksi dan nggak tahu mana taksi yang bagus dan tidak, aku pake rumus sederhana: naik BlueBird. *tanpa bermaksud SPAM lho*.

Lha masalahnya itu sekarang banyak taksi yang warnanya mirip BlueBird. Beberapa kali aku hampir salah nyegat taksi yang ‘Tarif Lama’ dengan warna biru muda. Bener-bener mirip, sampai logo dan font untuk nomer taksi saja sama. Karena itulah, aku sekarang jadi terbiasa menunggu taksi sudah cukup dekat baru mengayunkan tangan mencegatnya.

Awal tahun lalu, baru ada satu dua operator taksi yang mengkamuflasekan diri menjadi mirip BlueBird, tapi kok semakin lama semakin banyak. Sepertinya, tinggal menunggu waktu saja sampai semua taksi di Jakarta berwarna biru. Dan di Bandung tentu saja.

Sebenarnya bukan hanya taksi. Kalau jalan-jalan di Jogja, coba cari bakpia maka semua produk akan dibungkus karton kuning dengan merk berupa angka tersablon di atasnya. Semua bakpia menyaru Bakpia ‘75′ yang konon pertama hadir dalam kemasan tersebut.

Coba juga cari Dodol Garut di Bandung, semuanya akan mirip kemasan Dodol “Picnic”. Padahal kemasan picnic sendiri awalnya meniru kemasan Coklat cemilan meneer-meneer Belanda.

Jangan pula lupakan kemasan agar-agar mentah, Satelit Sriti, Satelit Globe, Dua Sriti, Satelit palapa. Semua berwarna kuning, dengan gambar agar-agar warna-warni di depannya. Sampai bingung, mana merk yang asli?

Generik
Saat sudah banyak yang meniru, tiba-tiba semuanya menjadi generik. Merk yang tanpa ‘Brand’. Bahkan kemasan seperti itu menjadi syarat untuk produk yang bersangkutan. Bakpia harus kardus kuning, Dodol Garut harus karton merah muda, Agar-agar harus plastik kuning, dan Taksi harus biru muda. Jangan-jangan kenangan selama 12 tahun harus berseragam sekolah benar-benar sudah mendarah daging dalam diri manusia.

Saat semuanya sudah menjadi generik dan nampak sama, sepertinya aku harus berterima kasih pada Minggu Pagi dan NSNB-nya, ternyata berguna juga ilmunya.

Eh, ada yang punya skrinsyutnya?

8 February 2006

Menjaga Penampilan Saat Dilanda Pilek

Filed under: Ngedumel — hericz @ 9:23 am

*Jika mau baca, bacalah setelah makan*

Sudah hampir 1 minggu ini aku terkena pilek. Penyakit yang tidak masuk dalam kategori penyakit berbahaya untuk kita yang tinggal di daerah tropis sehingga tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak masuk kantor, apalagi sampai harus opname di rumah sakit. Manusia modern lebih suka menyebutnya dengan influenza, flu, atau selesma, tapi tetep penyakitnya sama saja. Mungkin beda sih, nanti coba tanya ke mbak Lita.

Bersin-bersin
Ini adalah gejala awal ketika mulai dilanda pilek. Ada 3 hal utama yang menyebabkan manusia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri, yaitu tidur, jatuh cinta, dan bersin.

Ketika bersin, tubuh bergerak sendiri menyemburkan cairan dan gas bermuatan negatif keluar dari tubuh melalui mulut dan hidung. Mungkin beberapa kali kita beruntung mendapat peringatan dini sekian milidetik (berupa hidung gatal-gatal mendadak) agar segera menutupkan tisu ke mulut dan hidung.

Tapi disaat yang lain, kita pun mengeluarkan tisu atau sapu tangan untuk mengelap monitor atau meja. Tampaknya tisu meja adalaha satu-satunya sahabat yang tersisa.

Saat seperti ini, bagaimana coba bisa menjaga penampilan?

Ingusan, Hidung merah dan kering
Ingus dalam berbagai kebudayaan tetap dianggap sesuatu yang menjijikkan. Tidak ada yang menganggapnya suci dan tidak ada yang menganggapnya barang seni sehingga bisa dikoleksi (untuk melukis misalnya). Oleh karena itu, aku cenderung berupaya membersihkannya saat ingus mulai mengisi lubang hidung.

Segala cara digunakan: tisu, sapu tangan, inhaler, mondar-mandir ke toilet (dan wastafel saat tidak ada orang). Melelahkan. Akibatnya, hidung menjadi tersiksa. Dipencet-pencet, digosok-gosok dengan tisu, dibasahi air, hidung menjadi kering dan merah.

Saat seperti ini, bagaimana coba bisa menjaga penampilan?

Males mandi
Biasanya pilek disertai badan yang dingin, agak demam, terutama saat bangun tidur di pagi hari. Ini adalah saatnya mandi, karena sudah dituliskan diatas, pilek tidak bisa dijadikan alasan tidak masuk kantor atau kuliah.

Mandipun dilakukan dengan mengambil paket paling sederhana. Yang penting muka sudah -agak- segar, badan sudah kena air dan sabun. Tetap saja, mandi model seperti ini hanya akan membuat badan segar 3-4 jam saja.

Bahkan, beberapa orang memilih tidak mandi saat pilek.

Saat seperti ini, bagaimana coba bisa menjaga penampilan?

Ngupil
Saat terkena pilek, kehadiran upil kuanggap sebagai suatu kabar gembira. Upil menandakan aliran ingus sudah melambat dan aku akan segera sembuh.

Tapi seperti halnya ingus, upil juga menjijikkan dan bukan barang koleksi seni. Upil harus disingkirkan dengan segala daya dan upaya.

Kegiatan menyingkirkan upil inilah yang akan menimbulkan pemandangan yang tidak menyenangkan bagi orang lain. Padahal ini kegiatan yang sangat menyenangkan dan memiliki sensasi yang tidak bisa dilukiskan.

Saat seperti ini, bagaimana coba bisa menjaga penampilan?

Seperti halnya menghilangkan perbudakan dan makanan bebas timbel dari tanah Sunda, menjaga penampilan saat dilanda pilek hanya akan menjadi sebuah retorika saja.

18 January 2006

Playboy Indonesia : Seni Berbisnis Barang Seni

Filed under: Ngedumel — hericz @ 5:32 am

Kelinci UculKatanya, tiap jenis bisnis itu ada seninya sendiri-sendiri. Bisnis komputer ada seninya sendiri, jual rumah ada seninya, apalagi jual barang seni. Beberapa orang mempermudah kata ’seni berbisnis’ ini dengan kata marketing.

Bisnis barang seni, kenapa tidak?
Jaman sekarang nilai pemahaman seni konsumen bergerak naik. Jual motor motor aja pake “Striping yang sporty!”, padahal nggak bikin tambah irit bensin.

Aku yakin semua laki-laki -termasuk aku- suka melihat wanita cantik, apalagi dengan pose yang ‘nyeni’. Hanya kepatuhan (dan pemahaman) pada nilai-nilai moral dan agama saja yang membuat reaksi masing-masing berbeda. Ada yang menikmati dan ada yang menjauhi. Ingat, menjauhi bukan berarti tidak suka. Laki-laki sepertinya ditakdirkan iri melihat tubuh wanita, kalau istilah psikolog ancur : Susu Envyâ„¢. (lihat juga penis envy).

Karena wanita memang makhluk yang indah dan nyeni, wanita dan ‘pose nyeni’-nya bisa ditempelkan pada produk-produk yang mau dijual. Apapun itu: mobil, kipas angin, kacang atom, motor, minuman vitamin C, oli, bahkan pompa air. Musik jaman sekarang pun, video klipnya nggak afdol kalo nggak pasang pose wanita ‘nyeni’. Apalagi video klip Hip Hop borjuis yang sering diputer di MTV.

Daripada Jual Roti Kacang, Mending Jual Kacang
Mungkin karena banyak produk-produk yang ditempeli ‘pose nyeni’ jadi tambah laris, banyak pengusaha yang berpikir “Ini jual roti ditambah kacang sedikit aja laris, gimana kalau aku jual kacang sekalian”.

Sejak SMA, aku memperhatikan banyak sekali majalah-majalah ‘Seni Kemolekan Tubuh Wanita” yang beredar di lapak-lapak koran dekat sekolahan. Ada banyak majalah, dari yang murahan sampai yang mahal, dari yang kertasnya burem sampai yang kertas glossy kinclong-kinclong. Jadi, pas lihat-lihat majalah komputer, kadang-kadang lirik-lirik sambil berbisik ke teman di sebelah “eh, itu memang bisa kayak gitu yah?” *sambil ngelap iler*.

Itu jaman ketika aku masih malu-malu kalau melihat cewek yang tali bra-nya kelihatan keluar dari krah kaosnya. Kalau lihat cewek pakai tanktop mungkin langsung pingsan dan mimisan.

Seni Berpolitik dan Menghadapi Massa
Coba kita lihat, berapa banyak persen pameran lukisan yang dikerumuni penonton (yang ada anjasmara dihitung juga boleh). Berapa majalah seni yang mati dua tahun terakhir ini, tapi lihat juga berapa banyak majalah ‘nyeni’ yang tumbuh subur. Ya ya ya, sex dan erotisme adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.

Bulan Maret ini, direncanakan Playboy Indonesia akan terbit. Suka atau tidak, DPR tidak punya kewenangan untuk melarang penerbitannya, bahkan Dewan Pers aja gak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan penerbit sudah memiliki ijin penerbitan. “Masalah dosa kan urusan personal ama Tuhan”. Yoih, yang penting penjualan lancar. Jual beli VCD bokep di Glodok aja gak ada yang nangkep kok, lagipula ini kan “Majalah Gaya Hidup Lelaki Modern”.

Sementara itu, biarkan satu pihak mendebat pihak lain tentang batasan Pornografi dan pornoaksi, sambil kita tunggu mereka juga memberi batasan tentang batasan ‘nyeni’ dan ‘nggilani’. Tapi ingat saudara-saudara. Bagaimanapun, betapapun, indahnya kata-kata yang akan dilontarkan oleh pendukung penerbitan kontroversial ini, adalah kata-kata yang bertumpu pada bisnis. Kalau basa enggresnya “Nothing personal, just business”. Milyaran rupiah berputar disini.

Mendengar kata-kata indahnya aku sadar, tampaknya mereka para penerbit sudah jago betul seninya berjualan barang ‘nyeni’.

« Previous PageNext Page »