Kelahiran Kakak
Inilah kronologis kisah kelahiran anak kami yang pertama, sang kakak yang belum punya nama, hingga posting ini dibuat.
Buat yang malas baca, langsung saja ke bagian kelahiran.
Persiapan
Sabtu, 1 September 2007
Jam 00.00
Istriku merasakan rasa mules di perutnya mulai terasa semakin sering. Kontraksi ini berlangsung hingga 15 menit sekali.
Jam 03 dini hari,
Ira sudah mulai tidak tahan dengan rasa mules di perutnya. Dengan kondisi demikian akhirnya dia mau segera ke Rumah Sakit. Proses ganti baju, dan persiapan diri hampir satu jam lamanya, karena semua dilakukan dengan gerakan lambat dan banyak istirahat.
Jam 04.00
Dengan motor kita berdua meluncur ke TKP. Mengingat kami tinggal di komplek Rusun, penggunaan motor adalah pilihan paling nyaman karena hanya berjalan kaki paling dekat. Mencegat taksi sebenarnya mudah, tapi harus berjalan dulu sekitar 100 meter ke Jl Mas Mansyur.
Menyusuri Jakarta di malam hari menguntungkan kami karena jalanan tidak macet, walaupun demikian kecepatan motor tidak pernah lebih dari 30km/jam. Meskipun nggremet, dalam waktu 15 menit kita sudah sampai di RS Budi Kemuliaan dan segera daftar di UGD.
Tas SIAGA belum dibawa karena dikhawatirkan malah merepotkan selama perjalanan. Hanya sebuah tas kecil yang bisa dibawa dengan lincah yang berisi dompet, ponsel, serta buku catatan kehamilan.
Yang diperlukan disini:
1. Persiapan alat transportasi, motor atau mobil, dan juga rencana cadangan.
2. Buku catatan kehamilan
3. Siapkan uang 60 ribu untuk tiket UGD (jika ternyata belum perlu rawat).
Jam 4.30
Ira sudah selesai diperiksa suster jaga dan dinyatakan sudah bukaan 2. Oleh karena itu disegerakan untuk segera masuk ke kamar rawat. Untuk itu aku harus urus registrasi dahulu, dengan sebelumnya membangunkan petugasnya terlebih dahulu. Pada saat itu diberitahu bahwa dokter yang biasanya -Dr. Dwiarti Soebarkat SpOG- sedang keluar kota,, untuk itu kami diberi alternatif dr. Lili.
Kondisi istri ternyata dalam keadaan lapar, suster menyarankan agar aku nyari makanan di luar. Untunglah ada sebuah kantin soto sudah buka di depan RS, yang juga merelakan seperangkat alat makannya dibawa ke dalam.
Yang diperlukan disini:
1. KTP suami
2. KTP istri.
3. Jaminan penanggung biaya pengobatan. Bisa berupa kartu asuransi, uang muka, atau surat jaminan dari perusahaan jika ada. Sekedar tanda tangan juga boleh, asal penampilan meyakinkan. Aku pakai pilihan terakhir.
4. Uang Rp. 9ribu untuk beli soto
Kamar Rawat
Jam 5.00
Kami sudah dapat kamar, di lantai 6, MahendraData, kamar 607. Ditemani suster jaga, kami naik dan diserah terimakan ke suster yang bertugas disitu.
Istri meneruskan rasa mulesnya disini. Kontraksi-kontraksi mulai terjadi lebih sering hingga 10 menit sekali bahkan 5 menit sekali.
Jam 6.30
Aku mulai bingung karena tas perlengkapan belum dibawa, sedangkan Istri tidak bisa ditinggal begitu saja. Untunglah salah seorang teman kami, Santi, bersedia datang menemani ke RS.
Jam 8.30
Aku pulang untuk mengambil tas SIAGA, kamera, dan juga laptop. Setengah jam kemudian, aku sudah sampai di RS lagi.
Ke Kamar Bersalin
Jam 10.00
Dinyatakan sudah bukaan 6, Istri dipindahkan ke lantai 4 (tempat bersalin). Istri sudah mulai tidak dapat menahan rasa sakit di bagian bawah perutnya. Kontraksi berlangsung hingga 2-3menit sekali dengan lama kontraksi mencapai 2 menit.
Saat ini, pemeriksaan bukaan rahim sangat susah karena saat kontraksi Istri kesulitan menahan rasa sakit sehingga kakinya kaku-kaku.
Jam 11.00
Suster/bidan bilang sudah bukaan 9, diprediksi bukaan penuh jam 12.30-13.00. Kontraksi sudah berlangsung lebih lama lagi, hingga 5 menit, dan cuma relaksasi selama 1-2 menit saja. Herannya, 1-2 menit tersebut bisa digunakan istriku untuk tidur.
Disini, tanganku yang mulai kaku juga diremet-remet oleh tangan istri.
Jam 12.00
Dr. Lili memeriksa dan bilang bahwa baru bukaan 8, dan Istri langsung ngedrop. “Lho, kok mundur dok? kan tadi udah bukaan 9?”, kata susternya “tangan orang kan beda-beda Pak, kalau yang periksa dokter cowok mungkin baru dianggap bukaan 6 tuh”.
Sejak itu, kontraksi mulai berlangsung terus-terusan hingga 20 menit. Ilmu tarik nafas panjang dan segala macam jenis doa yang teringat dibaca disitu.
Induksi
Jam 13.30
Dokter memberikan perintah berupa kata-kata asing ke suster, diikuti langkah sigap para suster mamasang infus. Istri yang sudah khatam setumpuk buku tentang kelahiran langsung berteriak histeris, “Ayaah, kok diinduksi”. Aku baru sadar apa yang terjadi dan hanya bersiap2, karena istri sering kali memberitahukan bahwa kontraksi induksi ini sangat menyakitkan, berlipat-lipat dibanding kontraksi alami.
Benar saja, 5 menit setelah infus dipasang, Istri mulai mengalami kontraksi yang jauh lebih menyakitkan -terlihat dari caranya menahan sakit yang jauh lebih kuat-. Cengkraman tangan, jambakan, pitingan yang dia lakukan untuk menahan sakit jauh lebih keras dari sebelumnya. Akan tetapi kontraksi jadi lebih teratur: kontraksi 10-15menit, relaksasi 3-5 menit. Walaupun kontraksi lebih menyakitkan, tapi relaksasinya jauh lebih efektif dibanding sebelumnya. Bahkan 3-5 menit tersebut bisa digunakan untuk tidur.
Proses ini berlangsung terus menerus.Beberapa kali aku meneteskan air mata di fase ini, dan kadang berhayal andai cerita-cerita tentang dukun pemindah rasa sakit ke Suami itu memang ada.
Jam 15.00
Kantong ketuban dilubangi oleh suster agar membantu kepala bayi mencari jalan keluar.
Proses Kelahiran dan Inisiasi
Jam 15.40
Suster: “Sekarang sudah boleh mengejan sekuatnya, bukaan sudah penuh”.
Istri : *bingung* “Terus sekarang ngapain nih?”
Suster: “Ya bayinya dikeluarkan”
Istri : “Eh, caranya gimana ya?”
Suami : *spikles*
Suster: “Ya mengejan sekuat mungkin”
Mulailai proses yang paling kita nantikan. Dengan dibantu dokter dan beberapa orang suster dan bidan, istri mulai mencari-cari pose terbaik.
Ketika kepala kakak mulai terlihat, aku disuruh naik ke tempat tidur, menjadi bantalan kepalanya sekaligus membantu memegang kaki dan tangannya.
Yang diperlukan di sini:
1. Keberanian istri
2. Istri yang kuat
3. Istri yang mau makan banyak
4. Tangan ayah (optional)
Jam. 16.15
Kepala kakak sudah keluar, diikuti badan serta tali pusar dan teman-teman. Dan terdengarlah tangisan bayi yang sangat keras.
Alhamdulillah, Subhanallah, AllahuAkbar! kuciumi istriku yang masih berada dipangkuanku berkali-kali sampai klomoh. “Hebat kowe, jagoan tenan!”
Kemudian, proses inisiasi dilakukan, kakak yang hanya dibungkus handuk diletakkan di dada Ibunya dan dibiarkan mencari-cari puting susunya.
Di saat yang sama, dokter dan suster sedang berupaya mengeluarkan sisa-sisa isi rahim Istriku. Tiba-tiba dr. Lili menjulurkan gunting padaku, “Pak, silahkan Bapak yang memutuskan hubungan Ibu dan anak”.
Seperempat jam berikutnya, kami berdua tak habis-habisnya mengucap syukur sambil memandangi setiap detail kulitnya yang ungu, mengagumi matanya yang langsung membuka dan bereaksi pada gerakan tangan, mengamati perubahan warna kulitnya yang berangsur-angsur memerah. Sementara itu dokter membereskan acara jahit-menjahit lubang lahir yang sempat dilebarkan untuk mempermudah proses kelahiran.
Yang diperlukan disini:
1. Air mata
Jam 16.39
Kakak ditimbang, diukur panjangnya dan mulai difoto-foto Bapaknya.
Berat: 2500 gram
Panjang: 46 cm
Pada saat ini ingin rasanya berbagi berita ke orang-orang terdekat, tapi apa daya jaringan Indosat - yang gedung pusatnya hanya sepelemparan batu dari RS- mengalami gangguan.
Yang diperlukan disini:
1. Gurita untuk ibu
2. Baju ganti ibu
3. Kamera digital
Jam 18.00
Istriku dan kakak kembali ke kamar rawat.
Jam. 19.00
Kakak mendapatkan ASI pertamanya.
Jam. 24.00
Kakak melakukan ngompol pertamanya.
Minggu, 2 September 2007
Jam 07.00
Kakak mendapat cahaya matahari pertamanya
—
Setelah melihat sendiri proses kelahiran seorang bayi dari rahim ibu, akhirnya benar-benar kupahami bagaimana setiap Agama mengajarkan untuk menjunjung tinggi dan menghormati seorang Ibu jauh melebihi seorang Ayah.
Allahu Akbar!






