2 September 2007

Kelahiran Kakak

Filed under: Personal — hericz @ 3:03 pm

Inilah kronologis kisah kelahiran anak kami yang pertama, sang kakak yang belum punya nama, hingga posting ini dibuat.

Buat yang malas baca, langsung saja ke bagian kelahiran.

Persiapan

Sabtu, 1 September 2007
Jam 00.00
Istriku merasakan rasa mules di perutnya mulai terasa semakin sering. Kontraksi ini berlangsung hingga 15 menit sekali.

Jam 03 dini hari,
Ira sudah mulai tidak tahan dengan rasa mules di perutnya. Dengan kondisi demikian akhirnya dia mau segera ke Rumah Sakit. Proses ganti baju, dan persiapan diri hampir satu jam lamanya, karena semua dilakukan dengan gerakan lambat dan banyak istirahat.

Jam 04.00
Dengan motor kita berdua meluncur ke TKP. Mengingat kami tinggal di komplek Rusun, penggunaan motor adalah pilihan paling nyaman karena hanya berjalan kaki paling dekat. Mencegat taksi sebenarnya mudah, tapi harus berjalan dulu sekitar 100 meter ke Jl Mas Mansyur.

Menyusuri Jakarta di malam hari menguntungkan kami karena jalanan tidak macet, walaupun demikian kecepatan motor tidak pernah lebih dari 30km/jam. Meskipun nggremet, dalam waktu 15 menit kita sudah sampai di RS Budi Kemuliaan dan segera daftar di UGD.

Tas SIAGA belum dibawa karena dikhawatirkan malah merepotkan selama perjalanan. Hanya sebuah tas kecil yang bisa dibawa dengan lincah yang berisi dompet, ponsel, serta buku catatan kehamilan.

Yang diperlukan disini:
1. Persiapan alat transportasi, motor atau mobil, dan juga rencana cadangan.
2. Buku catatan kehamilan
3. Siapkan uang 60 ribu untuk tiket UGD (jika ternyata belum perlu rawat).

Jam 4.30
Ira sudah selesai diperiksa suster jaga dan dinyatakan sudah bukaan 2. Oleh karena itu disegerakan untuk segera masuk ke kamar rawat. Untuk itu aku harus urus registrasi dahulu, dengan sebelumnya membangunkan petugasnya terlebih dahulu. Pada saat itu diberitahu bahwa dokter yang biasanya -Dr. Dwiarti Soebarkat SpOG- sedang keluar kota,, untuk itu kami diberi alternatif dr. Lili.

Kondisi istri ternyata dalam keadaan lapar, suster menyarankan agar aku nyari makanan di luar. Untunglah ada sebuah kantin soto sudah buka di depan RS, yang juga merelakan seperangkat alat makannya dibawa ke dalam.

Yang diperlukan disini:
1. KTP suami
2. KTP istri.
3. Jaminan penanggung biaya pengobatan. Bisa berupa kartu asuransi, uang muka, atau surat jaminan dari perusahaan jika ada. Sekedar tanda tangan juga boleh, asal penampilan meyakinkan. Aku pakai pilihan terakhir.
4. Uang Rp. 9ribu untuk beli soto

Kamar Rawat

Jam 5.00
Kami sudah dapat kamar, di lantai 6, MahendraData, kamar 607. Ditemani suster jaga, kami naik dan diserah terimakan ke suster yang bertugas disitu.

Istri meneruskan rasa mulesnya disini. Kontraksi-kontraksi mulai terjadi lebih sering hingga 10 menit sekali bahkan 5 menit sekali.

Jam 6.30

Aku mulai bingung karena tas perlengkapan belum dibawa, sedangkan Istri tidak bisa ditinggal begitu saja. Untunglah salah seorang teman kami, Santi, bersedia datang menemani ke RS.

Jam 8.30

Aku pulang untuk mengambil tas SIAGA, kamera, dan juga laptop. Setengah jam kemudian, aku sudah sampai di RS lagi.

Ke Kamar Bersalin

Jam 10.00
Dinyatakan sudah bukaan 6, Istri dipindahkan ke lantai 4 (tempat bersalin). Istri sudah mulai tidak dapat menahan rasa sakit di bagian bawah perutnya. Kontraksi berlangsung hingga 2-3menit sekali dengan lama kontraksi mencapai 2 menit.

Saat ini, pemeriksaan bukaan rahim sangat susah karena saat kontraksi Istri kesulitan menahan rasa sakit sehingga kakinya kaku-kaku.


Jam 11.00

Suster/bidan bilang sudah bukaan 9, diprediksi bukaan penuh jam 12.30-13.00. Kontraksi sudah berlangsung lebih lama lagi, hingga 5 menit, dan cuma relaksasi selama 1-2 menit saja. Herannya, 1-2 menit tersebut bisa digunakan istriku untuk tidur.

Disini, tanganku yang mulai kaku juga diremet-remet oleh tangan istri.

Jam 12.00
Dr. Lili memeriksa dan bilang bahwa baru bukaan 8, dan Istri langsung ngedrop. “Lho, kok mundur dok? kan tadi udah bukaan 9?”, kata susternya “tangan orang kan beda-beda Pak, kalau yang periksa dokter cowok mungkin baru dianggap bukaan 6 tuh”.

Sejak itu, kontraksi mulai berlangsung terus-terusan hingga 20 menit. Ilmu tarik nafas panjang dan segala macam jenis doa yang teringat dibaca disitu.

Induksi

Jam 13.30
Dokter memberikan perintah berupa kata-kata asing ke suster, diikuti langkah sigap para suster mamasang infus. Istri yang sudah khatam setumpuk buku tentang kelahiran langsung berteriak histeris, “Ayaah, kok diinduksi”. Aku baru sadar apa yang terjadi dan hanya bersiap2, karena istri sering kali memberitahukan bahwa kontraksi induksi ini sangat menyakitkan, berlipat-lipat dibanding kontraksi alami.

Benar saja, 5 menit setelah infus dipasang, Istri mulai mengalami kontraksi yang jauh lebih menyakitkan -terlihat dari caranya menahan sakit yang jauh lebih kuat-. Cengkraman tangan, jambakan, pitingan yang dia lakukan untuk menahan sakit jauh lebih keras dari sebelumnya. Akan tetapi kontraksi jadi lebih teratur: kontraksi 10-15menit, relaksasi 3-5 menit. Walaupun kontraksi lebih menyakitkan, tapi relaksasinya jauh lebih efektif dibanding sebelumnya. Bahkan 3-5 menit tersebut bisa digunakan untuk tidur.

Proses ini berlangsung terus menerus.Beberapa kali aku meneteskan air mata di fase ini, dan kadang berhayal andai cerita-cerita tentang dukun pemindah rasa sakit ke Suami itu memang ada.

Jam 15.00

Kantong ketuban dilubangi oleh suster agar membantu kepala bayi mencari jalan keluar.

Proses Kelahiran dan Inisiasi

Jam 15.40

Suster: “Sekarang sudah boleh mengejan sekuatnya, bukaan sudah penuh”.
Istri : *bingung* “Terus sekarang ngapain nih?”
Suster: “Ya bayinya dikeluarkan”
Istri : “Eh, caranya gimana ya?”
Suami : *spikles*
Suster: “Ya mengejan sekuat mungkin”

Mulailai proses yang paling kita nantikan. Dengan dibantu dokter dan beberapa orang suster dan bidan, istri mulai mencari-cari pose terbaik.

Ketika kepala kakak mulai terlihat, aku disuruh naik ke tempat tidur, menjadi bantalan kepalanya sekaligus membantu memegang kaki dan tangannya.

Yang diperlukan di sini:
1. Keberanian istri
2. Istri yang kuat
3. Istri yang mau makan banyak
4. Tangan ayah (optional)


Jam. 16.15

Kepala kakak sudah keluar, diikuti badan serta tali pusar dan teman-teman. Dan terdengarlah tangisan bayi yang sangat keras.

Alhamdulillah, Subhanallah, AllahuAkbar! kuciumi istriku yang masih berada dipangkuanku berkali-kali sampai klomoh. “Hebat kowe, jagoan tenan!”

Kemudian, proses inisiasi dilakukan, kakak yang hanya dibungkus handuk diletakkan di dada Ibunya dan dibiarkan mencari-cari puting susunya.

Di saat yang sama, dokter dan suster sedang berupaya mengeluarkan sisa-sisa isi rahim Istriku. Tiba-tiba dr. Lili menjulurkan gunting padaku, “Pak, silahkan Bapak yang memutuskan hubungan Ibu dan anak”.

Seperempat jam berikutnya, kami berdua tak habis-habisnya mengucap syukur sambil memandangi setiap detail kulitnya yang ungu, mengagumi matanya yang langsung membuka dan bereaksi pada gerakan tangan, mengamati perubahan warna kulitnya yang berangsur-angsur memerah. Sementara itu dokter membereskan acara jahit-menjahit lubang lahir yang sempat dilebarkan untuk mempermudah proses kelahiran.

Yang diperlukan disini:
1. Air mata


Jam 16.39

Kakak ditimbang, diukur panjangnya dan mulai difoto-foto Bapaknya.

Berat: 2500 gram
Panjang: 46 cm

Kakak umur 25 menit

Pada saat ini ingin rasanya berbagi berita ke orang-orang terdekat, tapi apa daya jaringan Indosat - yang gedung pusatnya hanya sepelemparan batu dari RS- mengalami gangguan.

Yang diperlukan disini:
1. Gurita untuk ibu
2. Baju ganti ibu
3. Kamera digital


Jam 18.00

Istriku dan kakak kembali ke kamar rawat.

Jam. 19.00

Kakak mendapatkan ASI pertamanya.

Jam. 24.00

Kakak melakukan ngompol pertamanya.

Minggu, 2 September 2007
Jam 07.00
Kakak mendapat cahaya matahari pertamanya

Kakak umur 1 hari

Kakak berjemur

Setelah melihat sendiri proses kelahiran seorang bayi dari rahim ibu, akhirnya benar-benar kupahami bagaimana setiap Agama mengajarkan untuk menjunjung tinggi dan menghormati seorang Ibu jauh melebihi seorang Ayah.

Allahu Akbar!

20 May 2007

Gerakan 1 Bulan 1 CD Musik Original

Filed under: Hiburan, Personal — hericz @ 10:53 am

Dulu sewaktu SMA, setiap kali ada album musik baru yang membuatku tertarik, aku menabung, menyisihkan uang saku sedikit demi sedikit agar bisa membelinya.

Waktu itu harga 1 buah kaset (musisi dalam negeri) sekitar Rp 7000-7500, cukup untuk makan soto+es teh di kantin sekolah setiap hari, selama 2 minggu.

Saat kuliah, aku punya komputer sendiri, dan sudah mengenal yang namanya MP3. Music sharing antar teman sangat cepat, bahkan di kampus juga muncul server-server mp3 yang memuat berton-ton koleksi musik lengkap dengan fasilitas search engine yang sangat cepat. Kecepatannya berbanding lurus dengan ketersediaan MP3 baru dari sebuah album yang baru saja diluncurkan.

Sejak saat itu aku nggak pernah lagi membeli album musik, seperti halnya jutaan orang lain di Indonesia.

File Sharing: Baik atau buruk?

Karena bertahun-tahun hidup dalam kondisi dimana musik bajakan sangat mudah didapatkan. Aku sudah dalam taraf tidak lagi merasa bersalah saat mengkopi satu album musik ke Harddisk.

Bahkan aku menganggap dengan mengkopi sebuah album musik (terutama musisi baru) ke dalam harddisk-ku, berarti aku sedang membantu publikasi dan sosialisasi dari musisi tersebut. Karena aku sering merasa sekarang penjualan album tidak bisa dijadikan ’sumber pendapatan’ dari sebuah band. Band lebih mudah dapat duit kalau terkenal: bisa manggung ke sana kemari, jadi bintang iklan produk terkenal, serta ring-back tonenya di pakai jutaan orang.

Jadi, kalau aku mengkopi sebuah lagu dari sebuah Band baru ke hardisk, lalu memainkan secara periodik -setaraf cuci otak- di kos-kosan, teman kos dengar jadi seneng, ikut ngopi, di bawa pulang ke rumah di kampung, tetangga2nya juga ikut seneng, dikopi juga, dikasih dengar ke pacarnya, lalu sama pacarnya dibawa ke sekolahan, dan seterusnya… Nantinya kalau Band tersebut manggung di kota kecil tersebut, walaupun penjualan kasetnya seret tapi penjualan tiket akan tinggi dan semua orang ikut nyanyi. Hehe, mulia tho?

Kampanye Stop-Pembajakan yang disuarakan artis dan komunitasnya sepertinya susah sekali terlaksana. Apalagi dengan iklim penegakan hukum di Indonesia yang masih seperti ini.

Sementara itu proses pencetakan kaset dan CD terus berlangsung, tetap membutuhkan tenaga pencetakan, tetap membutuhkan proses recording yang rumit, tetap membutuhkan artis-artis bermental baja. Sedangkan aku tetap enak-enak aja menikmati musik mereka, tanpa membayar, nonton konsernya -satu2nya kesempatan balas budi- pun selalu nggak sempat.

Bahkan aku juga malas pasang ring-back-tone, sok imut banget gitu loh.

Dunia maya yang aneh

Sudah sering terjadi di dunia blogger. Saat ada seorang blogger yang mengetahui salah satu ‘hasil karyanya’ dikopi-paste ke blog lain, dia akan naik darah dan menyebar berita ini ke seluruh komunitasnya. Walaupun berbeda, tapi semua tahu rasanya kalau hasil karya tidak dihargai semestinya?

Setiap bulan selalu muncul album-album baru di Indonesia. Ada yang cocok di kuping dan ada juga yang tidak. Setiap bulan pula aku mendownload lagu-lagu baru (setelah dapat koneksi unlimited) atau kalau sempat mampir ke penjual MP3 bajakan di pinggir jalan untuk beli 2 atau 3 CD MP3 sekaligus.

Kalau dihitung-hitung, setiap bulannya pengeluaranku untuk beli MP3 bajakan sekitar 30-40 ribu, bahkan lebih. Dari semua lagu yang ada di CD tersebut biasanya hanya 1 atau 2 album saja yang cocok di telinga. Cocok berarti memang musiknya menyenangkan dan kualitas MP3-nya bagus. Selebihnya hanya bertumpuk menjadi sampah digital.

Aku nggak tahu, itu para pembajak MP3 apa nggak pernah belajar teori suara semacam audio waveform, spektrum frekuensi, teori sampling + Nyquist Bandwidth, Signal to Noise Ratio, dan semacamnya supaya bisa bikin bajakan yang bagus apa ya? :D

1 Bulan 1 CD original

Lalu setelah ngobrol-ngobrol dengan Rilly (teman kantorku) dan diskusi dengan istriku, aku memutuskan mulai bulan ini akan membeli sebuah CD audio original buatan musisi dalam negeri setiap bulannya.

Download musik mungkin jalan terus, sebagai uji coba untuk mendengarkannya. Kalau suka aku harus balas jasa, mungkin tidak ke semua musisi hebat yang musiknya bertebaran di internat, tapi paling tidak 1 CD Original setiap 1 bulan.

Naif - Televisi

Album Televisi dari Naif, jadi bulan pertama, karena selama 2 minggu terakhir setiap hari MP3nya aku mainkan sampai sudah hampir apal semua lagunya.

Harganya hanya 30 ribu, setara dengan makan siang 3 kali, jauh lebih murah dibanding harga kaset jaman aku masih SMA.

Ternyata, perasaan saat membuka CD original, menyetel lagunya keras-keras, tidur-tiduran sambil membolak-balik cover-art yang lucu memang menyenangkan. Lumayan, sejenak terlupakan akan deadline yang melaju kencang bagaikan setan

10 April 2007

32 Jam di Banda Aceh

Filed under: Ragam, Personal — hericz @ 12:20 pm

Dari dulu aku sangat ingin bisa pergi ke Banda Aceh, bahkan sebelum bencana tsunami tahun 2004. Minggu kemarin, akhirnya aku mendapat kesempatan dari kantor untuk melakukan perjalanan dinas ke propinsi di Ujung Sumatra tersebut.

Mendarat hari Selasa, aku langsung menuju hotel Medan. Sebuah hotel yang katanya sudah cukup bagus di Banda Aceh, tapi kondisinya menurutku kurang bagus, baik lobinya maupun kondisi kamarnya. Maksudnya, dengan harga yang sama kalau di daerah lain sudah dapat kamar yang lebih baik, paling tidak TV di kamar ada remote control-nya. *doh*

Di Lobi hotel tampak foto berukuran besar dengan pigura berlampu bergambar kondisi hotel sesaat setelah tsunami 2004. Ada kapal besar yang nangkring di depan Hotel, padahal sungai jaraknya cukup jauh dari hotel.

Hotel Medan, Desember 2004
Kapal di Sungai

Kopdar dengan rekan id-gmail

Beruntung juga ikut milis gila id-gmail. Setelah seharian berkeliling di lingkungan PLN Banda Aceh, sore harinya, aku dijemput oleh Abe untuk jalan-jalan. Sekitar jam 7 malam, kalau di Banda Aceh masih agak sore, kami menuju padepokan AirPutih, tempat pendekar Dudi Gurnadi bersemedi dan menyebarkan ilmu kanuragannya untuk Aceh.

Sayang sekali, Alex yang sudah digadang-gadang untuk bisa ketemu dan membawakan titipan masyarakat tidak bisa keluar rumah karena Ibunya sedang sakit. Sudah sembuh belum lex?

Laporan lengkap, dan foto-foto mengenai kegiatan kopdar ini sudah ditulis lengkap oleh Abe.

Kondisi Aceh

Pada saat sampai di Bandara pada hari selasa, aku merasa takjub dengan keramaian di Bandara tersebut. Bandara terasa sesak oleh penumpang dari berbagai jurusan. Setelah aku tanya ke Sopir yang menjemput kami, menurutnya Aceh menjadi ramai begini setelah bencana Tsunami.

Internet-Teknologi
Pendekar Dudi juga mengatakan, bahwa sebelum Tsunami, di Aceh hanya terdapat 3-4 Warnet saja. Tapi sekarang sedikitnya ada 9 warnet yang beroperasi, selain itu aku melihat banyak iklan di media lokal banyaknya ISP-ISP yang melakukan bisnis di sana.

Pada awalnya internet di sana banyak melayani kebutuhan orang-orang luar daerah maupun luar negeri yang berkiprah dalam pembangunan aceh, tapi sekarang semakin banyak masyarakat lokal (kebanyakan dari luar daerah juga) yang disertakan dalam urusan IT untuk NGO-NGO tersebut. Tampaknya hal tersebut membuat masyarakat lokal semakin melek dengan internet.

Properti
Sementara itu harga sewa bangunan baik rumah, ruko, atau kos-kosan sangat tinggi. Bahkan Abe sampai berniat pindah kos karena sewanya yang sangat mahal. Menurutku juga kamar 3×3 di pinggiran kota seharga 6 juta/tahun memang sangat mahal, bahkan untuk di Jakarta, tapi itu harga yang wajar di Aceh.

Kata Abe, dulu pada saat NGO internasional mulai masuk ke Aceh, harga sewa rumah di pinggir jalan bisa mencapai 200-300 juta per tahun. Gila, ini sudah bisa buat beli rumah di Bekasi. Hal ini berbeda sekali dengan kondisi di Jogja, beberapa hari setelah terjadi gempa harga Bambu (yang merupakan kebutuhan terbesar bahan bangunan) hanya naik 500-1000 rupiah per batang. Ini mungkin karena budaya Aceh sekarang dipengaruhi budaya Kerajaan Samudra Pasai yang memang berjiwa pedagang.

Hukum Syariah
Penerapan Hukum Syariah di NAD juga sepertinya masih setengah-setengah. Bahkan masyarakat sendiri meragukan niat dari pemerintah dalam pelaksanaannya. Dari beberapa orang yang aku tanyai, sebagian mengatakan kalau hukum ini hanya berlaku untuk orang kecil saja, kalau pejabat, orang kaya, ataupun orang aparat masih juga kebal hukum. Wallahu alam, perlu tim investigasi khusus untuk menjawabnya.

Di lain pihak, ada pihak-pihak yang menyalahgunakan hukum syariah ini untuk melakukan pemalakan. Di berbagai media lokal, banyak diberitakan tentang sekelompok polisi syariah dadakan (4-6 orang) yang ‘merazia’ tempat-tempat hiburan dan wisata. Mereka mendatangi pasangan muda-mudi yang sedang duduk berdua, lalu mengancam akan mengarak atau menghukum sesuai syariah, tapi bisa dibebaskan kalau membayar ‘uang denda’ yang berkisar 1 juta, negotiable.

Preman sinting, mana ada orang pacaran bawa duit segitu, ini kan Aceh bukan Texas.

Preman-preman seperti ini seharusnya menjadi prioritas utama untuk segera dibasmi, kepercayaan masyarakat terhadap hukum Syariah harus segera diperbaiki jika benar-benar ingin membentuk Aceh yang lebih baik.

Pulang ke Jakarta

Rabu sore, aku sudah harus kembali ke Jakarta. Sebenarnya kantor memberi jadwal sampai hari kamis atau jum’at, tapi aku minta sampai hari rabu saja mengingat istri sedang dalam kondisi hamil dan sendirian di rumah kontrakan.

Di Bandara, kondisinya sama dengan saat aku datang, terminal penuh sesak dengan penumpang ke berbagai jurusan. Aku sempat kaget mengetahui ada pesawat yang melayani rute Aceh-Ambon.

Dengan perjalanan kemarin, berarti aku sudah menginjak seluruh pulau besar di Indonesia. Walaupun cuma untuk 32 jam saja.

14 March 2007

14 Minggu

Filed under: Personal — hericz @ 10:13 am

Ternyata sudah lama juga aku ndak posting di Blog. Kalau diumpamakan sebuah kios di depan pasar Tanah Abang, mungkin kios Kodok Ngerock ini sudah penuh sarang laba-laba, atau sudah digusur petugas ketertiban. Bahkan, tadi perlu beberapa puluh menit ditambah bantuan google untuk mengingat bagaimana cara masuk ke halaman ‘write post’, sudah pikun ternyata.

Begitu banyak peristiwa yang terlewatkan untuk dituliskan. Aku sudah keliling Indonesia -Kendari, Makassar, Banjarmasin, Sorong, kota-tua Amuntai- dan banyak peristiwa penting lainnya. Dengan ratusan frame foto, semua itu kok tidak bisa membuatku menyempatkan diri merenung sejenak di depan komputer untuk membuat sebuah postingan.

Tapi senin kemarin, aku melakukan perjalanan yang cukup membuatku jadi berniat nulis lagi. Padahal hanya ada beberapa lembar saja hasilnya. Beberapa lembar foto yang membuat semua mual-mual (yang dirasakan istriku), begadang tengah malam, dan beberapa hari tidak bisa masuk kantor, tiba-tiba terasa terbayar lunas.

Di lain pihak, istriku kondisinya agak lemah. Bahkan bu Dokter SoG menyarankan agar dilakukan opname kalau kondisinya terus memburuk karena berat badannya turun hingga 6 kg. Tapi dalam waktu 1 hari setelah lihat video ini, menyaksikan keajaiban tangan dan kaki yang bergerak-gerak di dalam tubuhnya, rupanya kondisi emosi istriku membaik dan langsung naik 1 kg.

Semoga Allah memberi balasan yang setimpal bagi penemu Foto/Video Ultra Sonik ini.

Foto
Kakak

Video (sekitar 650KB ~ 14 detik download@384kbps)

Next Page »