Waspada Banjir
Jum’at malam, kira-kira jam 10 malem, aku dan istri baru pulang dari belanja. Hujan deras mengguyur Jakarta dari sore hari membuatku pilih bawa motor untuk ke HyperMart yang cuma 300 meter jauhnya. Aku memarkir dan mengunci motor, sedangkan istriku langsung menuju pintu rumah kontrakan. “Dingin-dingin begini enak banget berduaan dengan istri di rumah, apalagi besok libur,” pikirku sambil masang rantai pengaman di roda belakang yang penuh lumpur. Setelah dirasa cukup aman, aku menuju pintu menenteng helm yang basah kuyup dan mendapati istriku berdiri di depan pintu dengan wajah yang agak-agak histeris.
“Hoaa.. banjir!!, teles kabeh (basah semuaa),” teriaknya singkat dan jelas. Segera aku menyusul ke pintu dan melihat ruang depan sudah penuh air, karpet 3×2.5 meter warna coklat muda sudah digenangi air sekitar 2cm, air menyusup ke bawah rak buku, dan rak TV.
Dapur penuh dengan air yang lebih tinggi lagi, air juga sudah masuk ke kamar tidur. Untung komputer, dan perlengkapannya sudah dipasang di meja. Joystick USB Dual-X-Shock, yang biasa dipake buat balapan MotoGP dan NeedForSpeed dengan istri, tampak terendam air, dan merupakan benda pertama yang aku selamatkan malam itu.
Untunglah, buku-buku yang masih ada dalam kardus di kamar sebelah masih dalam keadaan kering. Demikian juga baju-baju yang baru diangkat dari jemuran siang harinya. Tampaknya air yang mengalir masuk ke kamar itu diserap langung oleh kasur busa yang tergeletak nganggur.
Jadilah malam itu malam yang panjang. Segala daya dan upaya dikerahkan untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Tercatat sedikitnya 8 ember-penuh air dibuang ke kamar mandi, 3 handuk-keset digunakan untuk mengeringkan lantai dan karpet. Sementara itu setumpuk koran bekas, 2 kipas angin dan sebuah hair-dryer digunakan untuk mengeringkan spring bed di kamar tidur.
Bekerja tanpa henti sambil ketawa-ketiwi, jam 2.30 pagi, spring bed sudah dinyatakan kering. Tidur.
Musim Hujan, Musim Banjir
Paginya, sambil mengeringkan karpet yang masih basah, menyelamatkan buku-buku, dan menyingkirkan koran-koran basah, aku lihat Televisi menayangkan bencana banjir di beberapa daerah. Halaman dengan rumput yang masih basah membuatku berpikir ulang untuk menjemur di luar.
Membayangkan sawah-sawah terendam air di mata petani, seperti membayangkan laptopku terbakar, atau program yang sudah mulai didebug sejak 2 bulan yang lalu tiba-tiba kena bad-sector sementara klien sudah telpon rindu siang dan malam. Selain itu, kegagalan panen dalam jumlah besar juga pertanda harga beras bakal naik terus 2-3 bulan mendatang.
Kecerobohan dan Kelalaian
Banyak kejadian banjir tak lepas dari kelalaian manusia sendiri dalam menangani alamnya. Hutan kawasan serapan air di daerah Puncak menjadi vila kawasan serapan duit, akibatnya jelas duit Jakarta mengalir ke puncak dan air dari puncak mengalir ke Jakarta. (Sejujurnya, aku khawatir nantinya nasib kawasan Puncak akan mirip dengan nasib kawasan Radiator Springs di Film The Cars semenjak dibangunnya Tol Cipularang.)
Selain itu, memang sudah dasarnya Jakarta itu daerah yang rendah dengan aliran sungai berbentuk meander yang banyak. Sejak jaman belanda konsep penanganan banjir sudah dirintis, desain banjir kanal Van Breen pada tahun 1918 yaitu Banjir Kanal Barat cukup mengagumkan untuk masa itu. Sedangkan desain Banjir Kanal Timur hingga kini belum selesai pengerjaannya.
Dulu sepertinya sempat ada konsep pembuatan sumur serapan air di tiap-tiap halaman rumah, tapi sepertinya sekarang sudah nggak ngetrend lagi. Yang ada malah swadaya masyarakat untuk melakukan betonisasi selokan-selokan yang jelas malah mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan.
Sewaktu masih tinggal di Pondok Gede, dimana belakang rumah adalah sungai kecil yang cukup jernih, aku ingat sekali kata-kata mpok yang bantu bersih-bersih disitu. “Mas heri, nanti kalau hujan gede tolong itu kursi yang sudah rusak dibuang ke sungai”, Glek.. Tampaknya, ungkapan “Buang sampah sembarangan menyebabkan banjir” sudah terbalik menjadi “Banjir membuat orang buang sampah sembarangan”. Ini bukan kelalaian, tapi sudah kebudayaan.
Dan istriku sayang, iya memang kita tinggal di lantai 3. Tapi kita harus tetap waspada dengan bencana banjir, apalagi kalau sebelum jalan-jalan kita lupa nggak mematikan kran mesin cuci lagi.
*tepok jidat*


Kemarin iseng-iseng aku mendengarkan lagu ‘Hapus aku’ dari Nidji, yang katanya lagi ngetren. Kebetulan MP3 yang kudapatkan berkualitas bagus, jadi telingaku nggak keberatan mendengarkan musik lembut dari Nidji ini. Maklum pakai speaker Altec Lansing AVS300, walaupun powernya kecil, tapi suaranya cukup jernih. Cukup jernih sampai bisa membuat beberapa CD MP3 langsung dibuang kalau suaranya distorsi.