17 June 2006

Dari Thierry Henry ke Valentino Rossi

Filed under: Personal — hericz @ 1:21 am

“Wajahmu unik sih”, kata seorang temenku kuliah dulu. Dia bilang begitu karena seringkali ada orang yang tiba-tiba menyapa dan bilang kalau dia kenal aku sebelumnya, padahal aku nggak ingat blas.

Ya, aku memang mudah lupa nama dan wajah orang. Jangankan nama orang, kalau belanja di Supermarket saja sering dikejar sama kasirnya karena sudah bayar tapi lupa bawa barang belanjaannya.

Jadi menurut temenku ini, apabila ada orang bertemu denganku maka gambaran wajahku akan tersimpan di otaknya dalam jangka waktu yang lebih lama dibanding wajah orang lain. Kasihan bener orang-orang yang otaknya terracuni ingatan wajahku ini.

Padahal aku merasa nggak unik lho. Sudah lebih dari sekali aku dibanding-bandingkan dengan wajah orang lain, kebanyakan selebriti sih. Beberapa yang aku ingat adalah sebagai berikut:

Thierry Henry
Thierry HenryDulu Ibuku gemar menonton Arsenal, alasannya sederhana: bisa melihat Thierry Henry yang katanya mirip aku. Sampai-sampai beliau mau begadang nonton bola, padahal aslinya nggak suka nonton bola. Apalagi sampai begadang.

Mirip darimana yah? mungkin bentuk wajah yang agak-agak oval, jauh dari ganteng, dan mulut yang melebar kemana-mana itu.

Sekarang kayaknya Ibu sudah sadar kalau anaknya bahkan sama sekali nggak bisa menendang bola. Nonton bola juga cuma ketika ada Piala Dunia dan final-final liga-liga besar saja. Selain itu lebih milih tidur.

Da’an Padhayangan
Beberapa orang menganggap aku mirip Daan Padhayangan. Katanya hidung dan bibirnya sama-sama ‘ndomble’. Ada orang yang dikaruniai kaki yang panjang (Donna Agnessia misalnya), ada yang dikarunia kelebihan lain (Happy Salma misalnya), dan yah, memang bibirku memang agak lebih lebar dari orang kebanyakan. Anggap saja ini kelebihannku.

Mungkin aku cocok kalau jadi penjaga pantai. Specialis CPR.

Eddy Murphy
Eddy MurphyYang ini agak keterlaluan, seorang kakak kelas -yang sekarang malah jadi kakak ipar- sejak pertama bertemu denganku selalu memanggil aku dengan sebutan ‘Eddy Murphy’. Asem tenan.

Setelah dilihat-lihat dan dipatut-patut di cermin, memang sama-sama item dan berbibir tebal sih. Selain bentuk wajah, katanya gerak-gerikku dan cara berjalanku mirip dengan Dr. Doolitle ini.

Tapi kalau aku sendiri merasa lebih mirip Will Smith. Kalau dibanding Bradd Pitt memang agak jauh sih, jujur saja.

Revaldo
Di Samarinda tahun lalu, orang-orang menganggap aku mirip Revaldo. Itu lho, artis yang rambutnya kriwil kriwil, dulu sempat main di AADC serial-TV, dan terakhir beritanya dia ditangkap polisi karena kasus narkoba.

Ya, lagi-lagi rambut yang kriwil dan postur yang tinggi kurus yang membuat kemiripan. Yah, beda-beda dikit lah.

Valentino Rossi
RossiJadi sudah cukup lama tidak dibanding-bandingkan, hingga tadi siang ketika sedang jual diri di sebuah pabrik tekstil di daerah Tangerang. Saat ngobrol sambil agak-agak presentasi bersama manager, engineer, dan teknisi, tiba-tiba ada yang menginterupsi dan berkata serius “Eh, anda siapanya Valentino Rossi?”

Sama sama tinggi, kurus, rambut keriting ikal elegan, dan mengendarai motor. Bedanya Rossi jadi Pembalap, sedangkan aku jadi Pembawalap.

Kesimpulannya memang wajahku ini tidak unik. Tapi dengan dianggap mirip selebritis, mudah-mudahan rejekinya juga mirip.

Yah, beda-beda dikit lah.

12 June 2006

Jogja: Wahana Wisata Bencana

Filed under: Ngedumel, Personal — hericz @ 1:10 am

Beberapa waktu yang lalu, Pemda Sleman membuat iklan besar di koran-koran. Isinya kurang lebih “Ayo pada piknik ke Jogja, mumpung merapi lagi aktif tapi sudah menurun kok. Seru loh!”. Pakde KereKemplu bilang itu ide bagus. Sekarang iklan itu sudah tidak pernah ada lagi.

Beberapa hari yang lalu, di Milis Kampung Gajah Kang Rony mengusulkan :

WISATA GEMPA
Wilayah: sepanjang patahan opak di Yogyakarta dan Klaten. Rasakan sensasi 1 SR hingga 4 SR.
Bonus: Lelehan lahar merapi dan panasnya wedus gembel.
biaya: $10

Fenomena Wisata Bencana

Mari berwisata di daerah bencanaEntah sejak kapan, manusia suka melihat bencana. Aku masih ingat saat ada jembatan roboh di desaku, orang-orang dari berbagai penjuru datang untuk melihat. “Waa.. waa.. kok bisa ambruk ya? yang mati berapa? semennya ngaduknya nggak rata…”

Aku juga masih ingat waktu masih SD beramai-ramai mengunjungi desa yang kena banjir sekedar untuk melihat sendiri dan agar bisa bercerita dengan teman-teman di kelas. Di Jakarta, jalan tol seringkali macet karena ada kecelakaan pada jalur yang berlawanan.

Bencana, dari yang individual (semacam kecelakaan, kesetrum pager, korban kriminal) sampai yang massal semacam bencana alam, selalu menjadi perhatian orang. Fenomena seperti ini bisa memunculkan ide bisnis, seperti yang dilakukan koran-koran ‘lusuh’ macam Poskota dan Lampu Merah.

Paket Wisata Bencana

Berdasarkan fakta ra nggenah diatas, kayaknya bagus juga ide Pemda Sleman. Mumpung Jogja lagi anget-angetnya, peluang besar di depan mata kalau bisa membuat paket-paket wisata bencana sesuai keinginan pasar. Mendatangkan devisa untuk membangun kembali daerah yang terkena bencana.

Dengan terlebih dahulu mematikan hati dan rasa, berikut paket yang bisa aku usulkan:

1. Paket Wisata Adrenalin
Adrenalin berarti kegilaan, kurang gaweyan, latihan keras, dan siap keluar duit banyak. Di seluruh penjuru dunia, anak-anak muda sedang gandrung dengan wisata jenis ini. Biasanya kegiatan pemicu adrenalin ini berkaitan dengan kecepatan, melawan rasa takut, keseimbangan, dan semacamnya.

Hari-hari ini, jogja sangat cocok untuk kegiatan ini.

Paket yang diusulkan :
Panjat tebing di Bukit-bukit batu daerah Parang Endog (sebelah parang tritis), beberapa km dari sesar opak yang rawan goncangan. Lalu malam harinya Camping di Kinah Rejo, menjadi fotografer lava pijar, dan tidur bersanding jip 4 Wheel Drive untuk balapan dengan wedus gembel yang bisa muncul sewaktu-waktu.

2. Paket Wisata Politik
Walaupun jika dihitung satuan uangnya tidak seberapa, tapi karena dihitung paket besar (Rombongan-rombongan) paket partai politik ini paling banyak uangnya.

Yang harus dilakukan dinas pariwisata adalah pembagian wilayah kerja untuk masing-masing partai politik sehingga kegiatan wisata mereka tidak saling mengganggu. Selain itu, perlu ada tarif yang berbeda berdasarkan tingkat keparahan korban.

Bonus untuk paket ini adalah foto bersama korban bencana dengan latar belakang rumah yang roboh dan spanduk partai sebagai latar depan.

3. Paket Wisata Proyek
Ini paket yang diperkirakan bakal paling laris 2-3 bulan mendatang. Paket yang disediakan adalah kunjungan ke sekolah-sekolah, jembatan-jembatan, dan infrastruktur pemerintahan yang rusak, menginap di hotel Ambarukmo. Bonusnya : golf di Merapi Golf Course untuk menikmati hujan abu sambil negosiasi harga.

Yah, aku yakin ini bakal jadi paket yang paling laris. Apalagi jika janji “30 Juta simalakama” itu beneran turun duitnya.

Ya, disebut simalakama karena kalau tidak ada dana bantuan pembangunan kembali desa akan sangat lambat. Sedangkan jika beneran turun, dimungkinkan akan banyak terjadi konflik. Lha wong yang 300 ribu saja rela mati kok.

4. Paket Wisata Bola
Sangat menyenangkan bisa menonton bola beramai-ramai, jauh lebih seru dibanding nonton sendiri. Saat ini puluhan ribu orang di Jogja dan Jateng tidak punya rumah, sebagian yang beruntung listriknya sudah menyala dan bisa menonton bola di tivi yang selamat dari musibah. Beramai-ramai tentu saja.

Kalau jaman orde baru ada namanya “Safari Tarawih Ramadhan”, kayaknya seru juga kalau sekarang dibikin “Safari Piala Dunia bersama Bencana Jogja”. Tiap malem muter dari satu desa ke desa lain. Sponsor rokok sangat diperlukan disini.

5. Paket Wisata Pendidikan dan Penelitian
UGM juga sungguh peka, terbukti dengan diadakan kegiatan yang namanya KKN program khusus Gempa. Jadi, program Kuliah Kerja Nyata di pindahkan ke kawasan korban gempa agar selain dapat membantu masyarakat, juga memberikan kredit nilai bagi mahasiswanya.

Tidak hanya untuk peneliti masalah geologi dan kegunung apian saja, peneliti tentang masalah sosial, arsitek, kehidupan sex di pengungsian, masalah ekonomi, hingga peneliti korupsi juga akan mendapat laboratorium maha besar di sini.

Tidak ada bonus untuk paket wisata ini, apalagi untuk yang mengusulkan “Cash For Work” untuk daerah Jogja. Kaliyan ilmuan gila yah? mau menghancurkan gotong royong?

6. Paket Wisata Sosial
Paket ini cukup sederhana: Berkunjung dari satu desa ke desa lain, sambil membagikan bantuan dan berdialog dengan korban gempa maupun pengungsi Merapi. Yang harus dilakukan Pemda hanyalah membuat data lengkap mengenai desa-desa yang terkena musibah, dan menjaga keamanan dari penjarahan.

Diperkirakan jumlah wisatawan sosial ini jumlahnya akan sangat tinggi di awal-awal bencana saja, selanjutnya akan menurun drastis sebelum korban bisa mandiri.

Oleh karena itu, sebaiknya wisata sosial ini -terutama yang gemar membagi nasi bungkus- diarahkan ke daerah-daerah yang memang membutuhkan bantuan walaupun tidak ada musibah sekalipun. Ini perlu diatur karena mereka tidak tahu kalau petani itu sawahnya tidak ikut ambruk, dan dapur masih bisa berfungsi walaupun rumah mereka ambruk. Maksudku, sumbangan bahan mentah lebih membantu sekaligus mempercepat mengembalikan fungsi keluarga dan masyarakat sebagaimana mestinya.

Duh, susah juga ya nyari orang yang mau ikhlas menolong orang lain. Atau memang begini jaman dimana segala sesuatu dinilai dengan uang?

—–
Oh iya, salut untuk rekan-rekan id-gmail dan lesehan.or.id, yang telah mengumpulkan selembar-dua lembar untuk membantu beberapa desa di daerah Klaten. Ternyata kalian tidak hanya bisa ngejunk dan buang-buang bandwidth saja.

27 May 2006

Senyum Cerah setelah Musibah Jogja

Filed under: Ragam, Personal — hericz @ 11:24 pm

Alhamdulillah kabeh apik-apik wae. Mung genteng podo melorot karo tembok kamarku ambrol. Saiki kamarku dadi padang lho, hehe“.

Alhamdulllah semua baik-baik saja. Hanya genteng melorot dan tembok kamarku ambrol. Sekarang kamarku jadi terang lho, hehe”

Begitu SMS yang kuterima dari Mas Rizal, kakak kandungku yang berada di Jogja, pagi tadi. Setelah cukup lama aku berusaha menelepon (dan selalu gagal, network busy), akhirnya hanya SMS yang bisa diandalkan. Rumahku yang berada di daerah Moyudan, Sleman hanya mengalami kerusakan ringan yang ternyata ‘membawa berkah’ kamar jadi tambah terang benderang.

Seharian ini beberapa SMS berhasil kukirimkan ke Yogya dan sebagian besar mendapat balasan yang cukup melegakan. Kakak-ku yang lain, yang berada di Bantul memberi jawaban yang hampir sama.

Rumahku ambruk her, sekarang lagi tidur di tenda darurat. Alhamdulillah keluarga baik-baik semua,” begitu balasan dari Dedi, temen SMA yang hanya berhasil mengirimkan SMS balasan sekali. Selanjutnya sudah tidak bisa dihubungi lagi, mungkin HPnya sudah low-bat.

Baru agak malam tadi aku berhasil melakuan panggilan ke nomer Kakak Iparku. Dikabarkan semua keluarga di daerah Kuncen dalam kondisi yang baik, dan malam itu sedang bersiap-siap tidur di halaman untuk mengantisipasi gempa susulan. Diceritakan kalau gempa susulan masih terjadi tiap setengah jam, walau kecil-kecil tapi menimbulkan ketakutan bagi warga.

Semua itu diceritakan dengan tertawa dan kedengarannya seru. Terdengar betapa keluargaku cukup bersyukur masih bisa selamat dari terpaan musibah ini.

Itulah orang Jogja. Semua tetap merasa beruntung, semua merasa bersyukur apapun yang telah terjadi.

Low Resources
Kakakku juga bercerita, bensin susah ditemukan. SPBU kehabisan bensin, dan kalaupun masih tersedia, pembeli harus melalui antrian panjang. Selain itu, listrik juga masih mati di sebagian besar daerah. Rony juga barusan berhasil mengirim sms singkat.

“Keluargaku selamat. batre low.listrik mati. sinyal low, pnjm hp.”

Toko-toko masih banyak yang tidak buka, pasar-pasar tidak berfungsi, dan semua sibuk mencari keluarganya.

Untuk itu, aku pikir sebaiknya warga luar kota tidak berbondong-bondong ke Yogya jika sudah bisa mendapat kabar keluarganya. Penambahan penduduk akan memboroskan resources yang ada, kecuali jika bisa pulang sambil membawa satu truk bahan makanan, air minum, tenda, selimut, kebutuhan pribadi, serta diiringi kemampuan dalam menjadi sukarelawan bagi warga korban bencana.

Hari ini sungguh hari penuh duka bagi Jogja. Yuk, berlomba-lomba mengembalikan senyum cerah mereka.

link terkait:
- helpjogja.net
- IndonesiaHelp

25 May 2006

Catatan Seorang Harian Almamater

Filed under: Ngedumel, Personal — hericz @ 12:14 am

1998

Teman sekolah: “Kamu mau kuliah di mana her?”
Aku : “ITB”
Teman sekolah: “Eh, anu apa nggak sebaiknya kamu ngambil tempat lain yang lebih ‘mudah’? Kamu kan rangking 25 di kelas”
Aku : “Aku bisa kok!” *semangat membara*

1999

Adik kelas: “Mas her, diterima di mana?”
Aku : “ITB”
Adik kelas: “Wah, hebaat”
Aku : *du du du, syalalala*

2000

Pakde Jo tetangga di desa: “Sekarang kuliah dimana her?”
Aku : “ITB”
Pakde Jo tetangga di desa: “Oh, sekolahnya pak Habibie yah? Calon presiden dong!”
Aku : “Uhuk uhuk” *bangga setengah mati*

2001

Tetangganya teman SMA: “Sekarang kuliah dimana?”
Temenku menjawabkan: “ITB”
Tetangganya temen SMA: “Owalah gak bisa masuk UGM ya? sing sabar le, ITB juga bagus kok”
Aku : *menelan ludah*

2001

Pakde saudara jauh: “Sekarang kuliah di mana nak?”
Aku : “ITB”
Pakde saudara jauh: “Wah, calon sarjana pertanian yah?”
Aku : “eh.. itu IPB Pakde.”
*ah bapak ini kurang gaul*

2002

Seseorang di KA Jogja-Bandung: “Sekarang sekolah dimana dik?”
Aku: “ITB”
Seseorang di KA Jogja-Bandung: “Oh, yang di depannya banyak kotoran kuda itu yah?”
Aku: “euh.. anu..”

2003

Mahasiswi UGM ketemu di KA: “Eh.. kalau kamu kuliah dimana”?
Aku : ” ITB”
Mahasiswi UGM ketemu di KA: “Oh, di Bogor yah?”
Aku : “Eh, itu IPB”
*gila, mahasiswa aja gak tau?*

2004

Senior di kampus yang sudah lulus duluan: “Eh her, kamu sudah lulus kan?”
Aku : “belum”
Senior di kampus yang sudah lulus duluan: “Wah, sekarang susah reputasi alumni ITB sudah kotor. Sudah di-blacklist dari beberapa perusahaan. Karena kalau diterima paling cuma jadi bajing loncat, 6 bulan pindah”.
Aku : “Oh, begitu ya..”

April - 2006

Orang : “Dulu kuliah di ITB kan?”
Aku : “iya”
Orang : “Tuh, alumni-alumnimu didakwa korupsi! pada dimasukin penjara! pinter-pinter kok pada korupsi, jadi sampah masyarakat (.. berlanjut sampai kira-kira 400 kata)
Aku : ..??

Mei - 2006

Orang : “Eh, kamu dulu ITB kan?”
Aku : “iya”
Orang : “Kok sekarang di Bandung penuh sampah dimana-mana sih? Emang ITB gak bisa ngurusin?”
Aku : …

Please recycle, we have the technology don't we?
Orang iseng : “Eh, kamu dulu ITB kan?”
Aku : “iya”
Orang iseng : “Kok nulis judul saja salah?”
Aku : “Masak sih?”

Ah, menulis kisah nyata itu memang pedih.

« Previous PageNext Page »