Dari Thierry Henry ke Valentino Rossi
“Wajahmu unik sih”, kata seorang temenku kuliah dulu. Dia bilang begitu karena seringkali ada orang yang tiba-tiba menyapa dan bilang kalau dia kenal aku sebelumnya, padahal aku nggak ingat blas.
Ya, aku memang mudah lupa nama dan wajah orang. Jangankan nama orang, kalau belanja di Supermarket saja sering dikejar sama kasirnya karena sudah bayar tapi lupa bawa barang belanjaannya.
Jadi menurut temenku ini, apabila ada orang bertemu denganku maka gambaran wajahku akan tersimpan di otaknya dalam jangka waktu yang lebih lama dibanding wajah orang lain. Kasihan bener orang-orang yang otaknya terracuni ingatan wajahku ini.
Padahal aku merasa nggak unik lho. Sudah lebih dari sekali aku dibanding-bandingkan dengan wajah orang lain, kebanyakan selebriti sih. Beberapa yang aku ingat adalah sebagai berikut:
Thierry Henry
Dulu Ibuku gemar menonton Arsenal, alasannya sederhana: bisa melihat Thierry Henry yang katanya mirip aku. Sampai-sampai beliau mau begadang nonton bola, padahal aslinya nggak suka nonton bola. Apalagi sampai begadang.
Mirip darimana yah? mungkin bentuk wajah yang agak-agak oval, jauh dari ganteng, dan mulut yang melebar kemana-mana itu.
Sekarang kayaknya Ibu sudah sadar kalau anaknya bahkan sama sekali nggak bisa menendang bola. Nonton bola juga cuma ketika ada Piala Dunia dan final-final liga-liga besar saja. Selain itu lebih milih tidur.
Da’an Padhayangan
Beberapa orang menganggap aku mirip Daan Padhayangan. Katanya hidung dan bibirnya sama-sama ‘ndomble’. Ada orang yang dikaruniai kaki yang panjang (Donna Agnessia misalnya), ada yang dikarunia kelebihan lain (Happy Salma misalnya), dan yah, memang bibirku memang agak lebih lebar dari orang kebanyakan. Anggap saja ini kelebihannku.
Mungkin aku cocok kalau jadi penjaga pantai. Specialis CPR.
Eddy Murphy
Yang ini agak keterlaluan, seorang kakak kelas -yang sekarang malah jadi kakak ipar- sejak pertama bertemu denganku selalu memanggil aku dengan sebutan ‘Eddy Murphy’. Asem tenan.
Setelah dilihat-lihat dan dipatut-patut di cermin, memang sama-sama item dan berbibir tebal sih. Selain bentuk wajah, katanya gerak-gerikku dan cara berjalanku mirip dengan Dr. Doolitle ini.
Tapi kalau aku sendiri merasa lebih mirip Will Smith. Kalau dibanding Bradd Pitt memang agak jauh sih, jujur saja.
Revaldo
Di Samarinda tahun lalu, orang-orang menganggap aku mirip Revaldo. Itu lho, artis yang rambutnya kriwil kriwil, dulu sempat main di AADC serial-TV, dan terakhir beritanya dia ditangkap polisi karena kasus narkoba.
Ya, lagi-lagi rambut yang kriwil dan postur yang tinggi kurus yang membuat kemiripan. Yah, beda-beda dikit lah.
Valentino Rossi
Jadi sudah cukup lama tidak dibanding-bandingkan, hingga tadi siang ketika sedang jual diri di sebuah pabrik tekstil di daerah Tangerang. Saat ngobrol sambil agak-agak presentasi bersama manager, engineer, dan teknisi, tiba-tiba ada yang menginterupsi dan berkata serius “Eh, anda siapanya Valentino Rossi?”
Sama sama tinggi, kurus, rambut keriting ikal elegan, dan mengendarai motor. Bedanya Rossi jadi Pembalap, sedangkan aku jadi Pembawalap.
Kesimpulannya memang wajahku ini tidak unik. Tapi dengan dianggap mirip selebritis, mudah-mudahan rejekinya juga mirip.
Yah, beda-beda dikit lah.
Entah sejak kapan, manusia suka melihat bencana. Aku masih ingat saat ada jembatan roboh di desaku, orang-orang dari berbagai penjuru datang untuk melihat. “Waa.. waa.. kok bisa ambruk ya? yang mati berapa? semennya ngaduknya nggak rata…” 