1 October 2007

Lebaran dan 4 Pertanyaan Sepanjang Masa

Filed under: Keluarga, Ragam — hericz @ 5:50 am

Siap atau tidak, sebentar lagi Idul Fitri akan tiba. Saatnya meranyakan hari-hari setelah puasa, lebar poso, Lebaran.

Siap atau tidak, sebentar lagi akan tiba saat dimana jutaan orang pulang ke kampung masing-masing. Mudik.

Mudik ini merupakan saat yang penting dimana kita akan bertemu keluarga, tetangga, temen SD, temen nyolong jambu di rumah Pak Haji, bahkan mungkin juga janjian sama teman sekelas untuk silaturahiim ke rumah Pak Guru.

Seperti halnya anti virus yang mendownload update virus terbaru setiap 3-7 hari sekali, mudik memberi kita kesempatan setahun sekali untuk melakukan update informasi. Pertemuan yang cuma 15 menit, 30 menit atau paling lama 1 minggu ini merupakan momen dimana kita saling meng-update kondisi satu sama lain.

4 Pertanyaan Sepanjang Masa

Walaupun sebenarnya pertanyaan update informasi kebanyakan hanya sekedar basa-basi, dan kalimat pembuka percakapan yang canggung karena jarang ketemu, dan bersifat pertanyaan ‘duniawi’, tapi kebanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat menyayat hati pemilik hak jawab.

Berikut adalah daftar pertanyaan tersebut:

1. Kapan Lulus?

Kata orang, takdir manusia yang sudah ditetapkan dan tetap misterius sampai tiba waktunya ada 3: Rejeki, Jodoh, dan Ajal. Tapi bagi yang pernah merasakan bangku kuliah, ada satu hal tambahan lagi yaitu trilogi Skripsi, Sidang, dan Wisuda.

Sejak tetangga, Pakde, Budhe, Wak Haji tahu bahwa kita sudah kuliah, maka setiap lebaran pertanyaan yang diajukan adalah:
- “Sudah semester berapa sekarang” yang dilanjutkan dengan “Kapan lulus?”,
- “Sudah skripsi belom?”, atau
- “Itu si Wati anaknya Pak Bejo udah jadi apoteker sekarang, kamu kapan wisuda?”.

Padahal bagi seorang mahasiswa ’semester akhir’, ada 4 ‘TA’ yang menjadi siksa dan nikmat dunia: harTA, tahTA, waniTA, dan TA (tugas akhir). Mendapat pertanyaan “Kapan lulus?” akan membuat hati pilu bagai teriris sembilu.

Kita harus cerdas memberikan jawaban untuk pertanyaan ini karena pertanyaan diatas akan terus diulang-ulang sampai kita punya jawaban semacam “InsyaAllah bulan depan saya sidang Pakde”, atau “Tinggal nunggu wisuda saja kok Bulik”. Tapi musti diingat bahwa jawaban “Sekarang sudah semester akhir Paklik” jika digunakan 3 tahun berturut-turut juga bisa menimbulkan kecurigaan.

2. Kerja Dimana?

Statistik di kampus dulu menunjukkan rata-rata seorang sarjana butuh 6 bulan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya. Ada yang belum wisuda sudah dapat kerja, ada pula yang sampai 2 tahun nganggur lontang-lantung nunggu kerjaan posisi wenak, gaji besar, plus asuransi kesehatan, dan tunjangan kehamilan. Ada yang sabar menunggu, ada yang kemudian menjadi entrepreneur, dan ada juga yang akhirnya memutuskan untuk kembali menjadi mahasiswa S2 karena terpaksa (adik-adik yang masih kuliah jangan seperti ini ya, S2 harus dari hati dengan perencanaan yang matang).

Katakanlah tahun ini kita sudah berhasil lulus, semuanya berjalan lancar, dan kita sudah bisa menjawab pertanyaan tahun kemarin (nomer 1). Tapi kemudian pertanyaan berikutnya, question of the year, yang akan berseliweran di hadapan kita, “Wah syukur ya udah lulus. Sekarang kerja dimana?”.

Jika kita mudik dalam kondisi ‘vacuum of power‘ seperti ini, kita akan merasakan kondisi yang tidak mengenakkan selama di kampung halaman. Misalnya:

- “Eh, Pakdemu kerja di pabrik sepatu bayi lho, kayaknya lagi butuh tester produk kalau kamu lagi berminat? nanti coba kamu mampir ke tempatnya”.
- “Dosen di Unipersitas kota sebelah pernah hutang budi sama bapakmu ini, pasti beliau mau kalau tak titipin kamu agar bisa jadi dosen disana”.

Jika salah jawab, situasi bisa bertambah rumit.

Apabila setelah lulus kita mengambil pilihan untuk kembali menjadi mahasiswa, maka maaf-maaf saja mudik tahun ini harus kembali menjawab fase nomer 1 lagi, dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih komplek.

3. Kapan Kawin?
Setelah setahun berlalu, syukurlah apabila saat mudik kita sudah dapat kerja. Ada yang di sebuah perusahaan yang bonafid, sering pasang iklan di tivi sehingga keluarga dari simbah sampai cucu termuda kenal dengan perusahaan tersebut. Yang lain kerja di sebuah perusahaan multinasional tapi tidak ada yang kenal. Ataupun kerja di sebuah konsultan kecil, dimana tetangga sebelah kantor saja nggak tahu kalau itu kantor. Semua harus kita syukuri.

Dengan kondisi demikian, kita sudah berharap bisa mudik dengan muka terangkat, penuh percaya diri. Karena sebelum mudik sempat sibuk menukarkan uang pecahan 5ribuan ke bank di dekat kantor, kita bisa keliling dari rumah Pakde yang satu ke Pakde yang lain sambil bagi-bagi angpaw ke sepupu dan keponakan. Sampai kita ketemu teman kita sambil gendong bayi bertanya, “Wah sudah sukses ya sekarang, jadi orang di kota. Terus kapan kawin?” *jleb*

Tak lupa saat sungkem di lutut orang tua, diberi wejangan “Jadi orang yang jujur, bekerja yang giat, bersyukur atas rejeki yang kita terima, *dehem* dan jangan lupa cari jodoh ya nak”.

Bahkan bila hari kedua atau ketiga lebaran ’sang calon’ kita sudah berkunjung ke rumah, tetap saja ada pertanyaan “kapan kalian mau diresmikan?”. Emangnya jembatan ya.

Pertanyaan ini bisa berlangsung selama 2 atau 3 lebaran, bahkan lebih. Tergantung nasib, usaha, dan keberanian kita. Dan tentu saja penampilan dan kharisma kita dilihat dari sudut pandang lawan jenis. *uhuk uhuk*

Walaupun pertanyaan ini sudah dipakai untuk iklan rokok, dan juga sudah jadi internal-joke di milis id-gmail, tapi jika kita mudik dan dapat ribuan pertanyaan seperti ini tetep saja nggondok.

4. Mana momongannya?

Alhamdulillah, akhirnya kita pulang mudik dengan membawa istri/suami. Tapi yang namanya anak kan tergolong rejeki yang misterius. Tak jarang ada pasangan pasutri suami istri yang pulang mudik belum membawa momongan, entah memang karena belum dikasih, perencanaan jangka panjang, atau karena belum boleh sama kantor *sigh*.

Pertanyaan “kapan nih punya momongan?” terasa ringan saat diucapkan, tapi akan terasa berat bagi yang menerima pertanyaan tersebut. Apalagi jika harus bertemu 35 orang di hari pertama Idul Fitri dan mendapat 35 pertanyaan yang sama, lalu bertemu 40 orang di hari kedua, lalu 60 orang di reuni SMA bertema halal bihalal.

Kemampuan berlapang dada dan menjawab dengan sabar untuk setiap pertanyaan diatas merupakan bukti otentik akan latihan kesabaran yang sudah kita lakukan sebulan penuh selama bulan puasa.

Apalagi setelah 4 pertanyaan?

Dari dulu, aku selalu berpikir jika mudik dalam kondisi lulus sudah, kerja sudah, kawin sudah, bawa bayi sudah, maka kita akan bisa pulang dengan nyaman.

Itulah saat yang kutunggu-tunggu, hari yang indah, hari yang tepat bagiku untuk keliling kampung dengan bangga, sambil mencari mangsa sepupu, tetangga, atau famili jauh yang masih kuliah untuk sekedar bertanya “Kapan lulus?“.

Ternyata, ketika sudah punya momongan seperti inipun, aku masih dapat pertanyaan lagi yang tak ada habisnya. Padahal tahun ini memutuskan untuk tidak mudik.

Q: “Eh, si kecil Fatih udah bisa apa sekarang?”
A: *jawaban standar* “Oh, sekarang Fatih sudah bisa aljabar linear orde 2, tapi baru persamaan-persamaan yang sederhana”.

Selamat berpuasa dengan segala feature-nya, untuk persiapan menjawab pertanyaan setelah 4 diatas tidak ada artinya lagi.

10 April 2007

32 Jam di Banda Aceh

Filed under: Ragam, Personal — hericz @ 12:20 pm

Dari dulu aku sangat ingin bisa pergi ke Banda Aceh, bahkan sebelum bencana tsunami tahun 2004. Minggu kemarin, akhirnya aku mendapat kesempatan dari kantor untuk melakukan perjalanan dinas ke propinsi di Ujung Sumatra tersebut.

Mendarat hari Selasa, aku langsung menuju hotel Medan. Sebuah hotel yang katanya sudah cukup bagus di Banda Aceh, tapi kondisinya menurutku kurang bagus, baik lobinya maupun kondisi kamarnya. Maksudnya, dengan harga yang sama kalau di daerah lain sudah dapat kamar yang lebih baik, paling tidak TV di kamar ada remote control-nya. *doh*

Di Lobi hotel tampak foto berukuran besar dengan pigura berlampu bergambar kondisi hotel sesaat setelah tsunami 2004. Ada kapal besar yang nangkring di depan Hotel, padahal sungai jaraknya cukup jauh dari hotel.

Hotel Medan, Desember 2004
Kapal di Sungai

Kopdar dengan rekan id-gmail

Beruntung juga ikut milis gila id-gmail. Setelah seharian berkeliling di lingkungan PLN Banda Aceh, sore harinya, aku dijemput oleh Abe untuk jalan-jalan. Sekitar jam 7 malam, kalau di Banda Aceh masih agak sore, kami menuju padepokan AirPutih, tempat pendekar Dudi Gurnadi bersemedi dan menyebarkan ilmu kanuragannya untuk Aceh.

Sayang sekali, Alex yang sudah digadang-gadang untuk bisa ketemu dan membawakan titipan masyarakat tidak bisa keluar rumah karena Ibunya sedang sakit. Sudah sembuh belum lex?

Laporan lengkap, dan foto-foto mengenai kegiatan kopdar ini sudah ditulis lengkap oleh Abe.

Kondisi Aceh

Pada saat sampai di Bandara pada hari selasa, aku merasa takjub dengan keramaian di Bandara tersebut. Bandara terasa sesak oleh penumpang dari berbagai jurusan. Setelah aku tanya ke Sopir yang menjemput kami, menurutnya Aceh menjadi ramai begini setelah bencana Tsunami.

Internet-Teknologi
Pendekar Dudi juga mengatakan, bahwa sebelum Tsunami, di Aceh hanya terdapat 3-4 Warnet saja. Tapi sekarang sedikitnya ada 9 warnet yang beroperasi, selain itu aku melihat banyak iklan di media lokal banyaknya ISP-ISP yang melakukan bisnis di sana.

Pada awalnya internet di sana banyak melayani kebutuhan orang-orang luar daerah maupun luar negeri yang berkiprah dalam pembangunan aceh, tapi sekarang semakin banyak masyarakat lokal (kebanyakan dari luar daerah juga) yang disertakan dalam urusan IT untuk NGO-NGO tersebut. Tampaknya hal tersebut membuat masyarakat lokal semakin melek dengan internet.

Properti
Sementara itu harga sewa bangunan baik rumah, ruko, atau kos-kosan sangat tinggi. Bahkan Abe sampai berniat pindah kos karena sewanya yang sangat mahal. Menurutku juga kamar 3×3 di pinggiran kota seharga 6 juta/tahun memang sangat mahal, bahkan untuk di Jakarta, tapi itu harga yang wajar di Aceh.

Kata Abe, dulu pada saat NGO internasional mulai masuk ke Aceh, harga sewa rumah di pinggir jalan bisa mencapai 200-300 juta per tahun. Gila, ini sudah bisa buat beli rumah di Bekasi. Hal ini berbeda sekali dengan kondisi di Jogja, beberapa hari setelah terjadi gempa harga Bambu (yang merupakan kebutuhan terbesar bahan bangunan) hanya naik 500-1000 rupiah per batang. Ini mungkin karena budaya Aceh sekarang dipengaruhi budaya Kerajaan Samudra Pasai yang memang berjiwa pedagang.

Hukum Syariah
Penerapan Hukum Syariah di NAD juga sepertinya masih setengah-setengah. Bahkan masyarakat sendiri meragukan niat dari pemerintah dalam pelaksanaannya. Dari beberapa orang yang aku tanyai, sebagian mengatakan kalau hukum ini hanya berlaku untuk orang kecil saja, kalau pejabat, orang kaya, ataupun orang aparat masih juga kebal hukum. Wallahu alam, perlu tim investigasi khusus untuk menjawabnya.

Di lain pihak, ada pihak-pihak yang menyalahgunakan hukum syariah ini untuk melakukan pemalakan. Di berbagai media lokal, banyak diberitakan tentang sekelompok polisi syariah dadakan (4-6 orang) yang ‘merazia’ tempat-tempat hiburan dan wisata. Mereka mendatangi pasangan muda-mudi yang sedang duduk berdua, lalu mengancam akan mengarak atau menghukum sesuai syariah, tapi bisa dibebaskan kalau membayar ‘uang denda’ yang berkisar 1 juta, negotiable.

Preman sinting, mana ada orang pacaran bawa duit segitu, ini kan Aceh bukan Texas.

Preman-preman seperti ini seharusnya menjadi prioritas utama untuk segera dibasmi, kepercayaan masyarakat terhadap hukum Syariah harus segera diperbaiki jika benar-benar ingin membentuk Aceh yang lebih baik.

Pulang ke Jakarta

Rabu sore, aku sudah harus kembali ke Jakarta. Sebenarnya kantor memberi jadwal sampai hari kamis atau jum’at, tapi aku minta sampai hari rabu saja mengingat istri sedang dalam kondisi hamil dan sendirian di rumah kontrakan.

Di Bandara, kondisinya sama dengan saat aku datang, terminal penuh sesak dengan penumpang ke berbagai jurusan. Aku sempat kaget mengetahui ada pesawat yang melayani rute Aceh-Ambon.

Dengan perjalanan kemarin, berarti aku sudah menginjak seluruh pulau besar di Indonesia. Walaupun cuma untuk 32 jam saja.

24 September 2006

Kancil, Cinderella Syndrome, dan Puasa

Filed under: Ragam, Personal — hericz @ 10:40 am

Mbak Lita sudah bilang selamat tinggal pada cerita si Kancil. Cerita yang sejak pertama kali kita bisa mendengar sudah diceritakan berulang-ulang. Dengan berbagai versi dan expansion set berupa macan, buaya, dan tak lupa benda-benda pusaka nabi sulaiman. Hebatnya, semua itu dimulai dengan intro sederhana “Si Kancil mencuri ketimun”.

Seperti kisah film-film Box-Office semacam Entrapment, Gone in 60 seconds, dan Ocean eleven, si Kancil menyuguhkan tokoh pencuri yang banyak akal. Maling itu jagoan, keren, cerdas, tahu teknologi tinggi, yang cowok ganteng, yang cewek cantik dan seksi. Sesuatu figur yang tidak pernah tampak di acara “sergap” di televisi.

Mbak Lita sudah bilang selamat tinggal pada cerita si Kancil. Semoga diikuti ibu-ibu muda yang lainnya.

Cinderella Syndrome

Ada lagi kisah yang populer luar biasa, yaitu kisah si gadis muda Cinderella. Yang sepanjang hidupnya selalu menderita karena mendapat perlakuan yang tidak adil dari ibu tirinya. Begitu menderitanya kisah Cinderella ini, sampai-sampai ada ilmuwan yang menyebut anak dengan gejala traumatis seperti ini dengan nama Cinderella syndrome.

Tapi aku punya definisi sendiri tentang Cinderella syndrome, definisi ngawur tentu saja.

Alkisah, hidup Cinderella yang menderita tiba-tiba berubah. Dengan bantuan Peri Biru, Cinderella diberi satu set Gaun buatan Versace, sepatu kaca, tiara berlian, dan voucher make-up artist. Tak lupa diberi pinjaman Kereta Limousine model terbaru lengkap dengan chauffeur (baca: Sopir). Oh tentu dia dipilih karena kebaikan hatinya.

Demikianlah, Sang Pangeran tampan jatuh cinta dan mereka hidup bahagia selamanya. Dan Cinderalla diselamatkan dengan cara diberi akses ke peralatan kecantikan.

Inilah Cinderella syndrome, ketika para gadis muda berlomba-lomba bersolek, mempercantik diri, memakai gaun terindah, dan sepatu terunik agar seorang pangeran tampan, berkedudukan tinggi, dan kaya -Mensekneg misalnya- hadir untuk menyelamatkan hidupnya. Oh iya, orang cantik kan hidupnya lebih mudah.

Enak lho, hidup bisa berubah menjadi jauh lebih baik hanya dalam waktu 1 malam.

Ramadhan

Perubahan instan memang sangat menyenangkan, terutama perubahan ke arah lebih baik. Dari kulit berwarna gelap menjadi kulit kuning bangsat langsat, dan dari rambut kribo menjadi rambut mudah diatur kadang-kadang aku harapkan juga. *menerawang ke dinding*.

Tapi ada hal yang lebih penting dari pada itu, masalah hati, jiwa, tingkah laku. Kalau dalam bahasa agama disebut Akhlak. Akhlak yang dibungkus Iman dan Taqwa kepada Allah SWT.

Untuk itu ada Bulan Ramadhan, yang menurut petunjuk pemakaiannya sih untuk melakukan perubahan hati dan jiwa bertahap dari ulat menjadi kupu-kupu. Tidak 30 menit seperti janji Mak Erot, tidak 1 malam -sebelum jam 12- seperti Cinderella, tapi 30 hari. Sebulan penuh.

Tanpa pengawas yang terlihat sedang memonitor pelaksanaan puasa kita, tapi maaf, kita tidak bisa berulah seperti kancil yang mengakali peraturan. Ada Sang Maha Melihat, Sang Maha Mengetahui yang tidak bisa ditipu dengan trik Pusakane Nabi Sulaiman.

Tanpa peri biru yang mengayunkan tongkat kecilnya, tapi dengan fasilitas dan akses ke perpustakaan jiwa yang lebih besar, disertai bonus-bonus untuk setiap level yang dilewati.

Jadi, kita tinggal memilih. Mau jadi si Kancil, Cinderella, atau Kupu-kupu.

Selamat menikmati ibadah puasa dan rangkaian feature-nya.

2 September 2006

Setengah-Setengah

Filed under: Ragam — hericz @ 1:00 am

Di suatu kelas, saat mencocokkan hasil Quiz mingguan.

Dosen (agak berteriak): “Jawaban untuk nomer 7 adalah 45.2MHz”
Mahasiswa 1 (teriak) : “Kalau nggak ada satuannya Pak? cuma 45.2″
Dosen(bijaksana): “Nilainya setengah! ”
Mahasiswa 2(lugu): “Kalau satuan saja, dapat nilai setengah nggak?”
Dosen(jengkel) : *nimpuk kapur*

Beberapa orang bilang, bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang setengah-setengah. Modern belum, tapi tradisi sudah mulai hilang. Belum bisa makan keju, tapi cari ketela goreng sudah susah. Koar-koar berantas korupsi, tapi lebih suka ‘nembak’ kalau kena tilang di jalan.

Bahasa Menunjukkan Kasta

Ternyata kegiatan mengambil setengah-setengah ini juga merembet ke bidang lain. Bahasa misalnya. Ternyata ada beberapa kata-kata yang diambil dari bahasa asing, tetapi hanya diambil setengah saja. Lebih parah lagi, ternyata yang diambil hanya ’satuan’-nya saja.

Berbeda dengan Bahasa Indonesia, dalam tata bahasa inggris kata pemberi keterangan diletakkan di depan kata utama. “Blue Sky” jelas berbeda dengan “Sky Blue”.

Tapi kadang-kadang orang Indonesia itu setengah-setengah. Dengan tujuan menyingkat kata, artinya malah jadi berantakan. Berikut beberapa contoh yang sering bikin pusing saat mendengarkan maupun menjelaskan.

Corned beef
Kalau dalam bahasa Indonesia “Corned Beef” kurang lebih berarti “daging sapi yang diberi jagung”, walaupun sebenarnya kata ‘corned’ sendiri merujuk pada butir-butir garam yang secara fisik seperti jagung tumbuk yang dicampurkan.

Jadi seharusnya sudah jelas kalau kata utamanya adalah ‘Beef‘ dan kata bantunya adalah ‘Corned‘. Lah, kenapa disini malah terkenal dengan nama Kornet?

Remote Control
Nama bendanya adalah “Remote Controller” atau sering disebut juga “Remote Control“, artinya kurang lebih “Pengendali jarak jauh”. Kata utamanya adalah ‘Pengendali’, bukan “jarak jauh”.

Terus, kenapa orang teriak-teriak “Adiik, remotenya tadi ditaruh dimanaa?”.

Fitness Center
Dalam bahasa Indonesia berarti Pusat Kebugaran.
Tapi kenapa kalau ada cewek berkata “Aku mau ke fitnes dulu yah” yang artinya kurang lebih “Aku mau ke kebugaran dulu ya”, orang sudah maklum.

Sedangkan kalau aku bilang “Aku harus menjaga fitness nih”, harus ditanya dengan kalimat “emang sekarang kamu kerja di sana?”.

Adobe Photoshop
Editor gambar yang satu ini -hingga saat ini- memang tidak ada saingan yang sekelas. Hampir semua orang yang kenal komputer lebih dari 6 bulan mengenalnya.

Adobe adalah nama sebuah produsen software, sedangkan Photoshop adalah nama produknya. Saat merk sudah dikenal lebih baik sebut merknya saja, jangan nama produsennya. Seperti halnya Honda Jazz dan Toyota Kijang misalnya.

“Eh, babe gue beli Jazz baru nih” lebih menjelaskan daripada “Eh, tolong jemput aku pake honda yah”. Honda tidak hanya membuat Jazz, tapi juga Civic, Accord, Supra-X, Tiger, dan sang legenda Si Pitung (C70/C-Pitungpulung). Pakde Andry juga sudah bersabda duluan.

Jadi, kalau tanya “Her, kamu punya installer Photoshop nggak?” akan lebih menjelaskan daripada “Her, installer Adobe-ku kok error yah”.

USB Flash Disk
Flash memory adalah memory yang bisa menyimpan data dan menahannya saat tidak ada listrik lagi. Sejak dulu memori ini sudah digunakan untuk menyimpan BIOS di motherboard komputer. Karena harganya semakin murah, para insinyur membuatnya menjadi sistem penyimpan data portabel, mirip disket, maka sering disebut ‘Flash Disk’.

Kebetulan, karena protokol yang paling laris dan cocok untuk kecepatan tinggi adalah protokol USB, para insinyur menyambungkan Flash Disk ini dengan port USB. Maka disebutlah benda ini dengan nama “USB Flash Disk”. Pada sistem lain, Flash Disk ini juga dihubungkan secara langsung ke bus komputer. Ada juga yang dikemas dalam ukuran kecil menjadi CompactFlash, SD-Card, MMC, dan teman-temannya.

Jadi, benda kecil yang sering jadi liontin kalung ini adalah sebuah Flash Memory, bisa disebut Flash Disk atau Flash Drive. Tapi mohon, jangan lagi-lagi bilang “Eh, USB-ku tadi mana yah?”.

*nimpuk kapur*

Next Page »