Durian, Duren, Si Raja Buah
Walaupun berada di daerah tropis, Indonesia sering kuanggap sebagai negara 4 musim: musim kemarau, musim hujan, musim kawin, dan musim duren.
Bulan ini, setiap minggu ada saja teman yang menikah. Entah teman SMA, teman kuliah, temannya temenku, anaknya adiknya nenek, dan seterusnya. Siang tadi saja aku baru saja kondangan ke resepsi pernikahan teman kuliah. Minggu depan ada 2 undangan, minggu depannya ada lagi. Jelas, ini lagi musim kawin.
Duren sang Buah Emosional
Berbeda dengan semangka, ketimun, ataupun pisang yang dimakan karena kandungan gizi atau rasanya yang segar, duren dimakan karena rasa, aroma, dan emosinya. Duren adalah buah yang emosional, baunya membuat orang yang suka semakin mendekat, dan orang yang anti semakin menjauh. Orang-orang dewasa bisa berebut kalau makan buah ini.
Beberapa hari terakhir, buah duren sedang populer. Di beberapa ruas jalan tiba-tiba muncul penjual duren. Supermarket memajang duren di barisan depan dan memberi diskon duren besar-besaran.
Aku pun tak mau melewatkan kesempatan ini. Pergi ke luar kota, pulang mampir beli duren. Pergi ke supermarket, beli duren. Rame-rame lembur di kantor, beli duren. Dan sore tadi, kang Deni Tukang Kridit mengundang teman-teman id-gmail untuk merasakan duren asli Dumai.
Bayangkan saja, 20 buah (dua puluh) gelinding duren dipilih dengan seksama, dikupas dengan telaten, diambil isi buahnya, dibungkus ke dalam 12 kantong plastik kedap udara, dimasukkan ke dalam 3 buah kaleng roti Khong Guan, dimasukkan ke dalam sebuah kardus besar yang diselotip serapat mungkin, dibungkus koran, diterbangkan dari dumai ke Jakarta, lalu dibawa ke Atrium Senen lantai 4, hingga akhirnya menjadi bahan rebutan junker-junker ig-gmail.
Mewakili Lea ,Adis ,Indra ,Jefri eh, maksudnya Fajran *siul-siul*,Andri dan istrinya, aku cuma bisa bilang haturnuhun Om Deni si Tukang Kiridit.
Tips memilih Duren
Menurut Kang Deni, ada beberapa resep memilih duren:
1. Pilih yang bulat. Buah yang cekung menunjukkan kalau bagian tersebut tidak ada buahnya.
2. Pukul-pukul ujung bawah duren dengan pisau. Duren yang manis akan memberikan bunyi ‘beg-beg-beg’.
3. Cium ujung bawah duren, jika wangi tandanya duren layak dibeli.
4. Jangan pilih buah yang ujungnya sudah retak atau terbelah. Biasanya rasanya ‘anyep’ atau dingin.
5. Warna duren tidak berpengaruh pada rasa duren.
Haha, ternyata teorinya sederhana saja. Jika aku mendengar tips ini dari kemarin mungkin tidak perlu ada duren-agak-mentah-separuh-dibuka di dapur. Begitulah kalau mentang-mentang lagi diskon terus beli duren tanpa ilmu, di Supermarket. *tusuk-tusuk diri sendiri pake sedotan*
Sedangkan dari perburuan duren bersama rekan kerja beberapa hari kemarin, tips yang aku dapatkan adalah:
- Tawar habis dulu durennya, lalu beri kata-kata ajaib: “Aku icipi dulu, kalau tidak manis gak jadi ya bang!”, lalu biarkan penjual yang memilih.
- Icipi dengan obyektif, kalau tidak manis bilang saja tidak manis. Jangan sungkan-sungkan.
- Kalau semua duren sudah diicipi dan ternyata tidak ada yang manis, jangan sungkan-sungkan pindah ke pedagang lain. Siap-siap saja baju besi tahan bacok.
Musim Duren vs Musim Kawin
Musim duren kali ini kebetulan berbarengan dengan musim pernikahan. Berbahagialah mereka yang menikah di musim ini, dan berbahagialah mereka penikmat-penikmat duren.
Untuk yang menikah maupun yang suka makan duren, aku ucapkan: Selamat Belah Duren!.
—
- harap markum kalau ada salah ketik, soalnya sebagian diketik dengan tangan kiri. Tangan kanan blepotan duren.
- Gambar diambil dari wikipedia
Adalah Anggun C Sasmi, wanita yang dulunya tumbuh besar di Jogja (sama denganku), dan berparas hitam manis (sama juga denganku). Pada usia muda sudah meraih kesuksesan , mendapat berbagai award, serta popularitas di Indonesia.
Aku masih ingat ketika jaman-jaman ikut bimbingan belajar untuk ikut UMPTN. Di saat istirahat, aku bersama teman-teman selalu berusaha menyempatkan diri nonton acara “Tralala-Trilili” di RCTI. Acara dimana Agnes Monica kecil menjadi bintang baru. Saat itu semua orang suka Agnes Monica, termasuk aku yang jelas-jelas bukan termasuk cowok
Jaman dahulu kala, 
