Berpacaran dengan protokol miskol
Menjadi mahasiswa, bagi anak orang kebanyakan (baca: orang kebanyakan anak) seperti aku , tak lepas dari masalah keuangan. Padahal saat masih mahasiswa dulu, aku sudah punya cintah, yang mau tidak mau harus sering berkomunikasi satu sama lain. Kata ‘berkomunikasi’ sengaja dipakai untuk menghindari penggunaan kata ‘berhubungan’.
Aturan 3 detik
Kebetulan saat itu kartu IM3 memberi kemudahan dengan feature-nya yang unik, yaitu gratis untuk 3 detik pertama panggilan (3 seconds rule). Waktu 3 detik tersebut tak hanya cukup jika untuk menanyakan, “Lagi nangendi?” (lagi dimana?), “Wis maem durung?”( Sudah makan belum?),atau pertanyaan singkat lainnya. Tapi 3 detik tersebut juga bisa digunakan untuk mengatakan kata-kata gombal, janjian ketemu, bahkan curhat. Feature ini sangat berguna ketika misalnya janjian di Pasar Simpang Dago, dimana aku pasti tidak sabar menunggu kedatangannya dan selalu ingin tahu dimana posisinya. Tolong jangan membayangkan situasi romantis, bayangkan orang marah-marah.
Suatu saat, kira-kira pada akhir 2003, IM3 memutuskan untuk menghentikan feature 3 detikan tersebut tanpa pemberitahuan kepada pelanggan. Terpaksa kami harus berkomunikasi melalui telpon atau SMS. Lambat laun mulai terasa pembengkakan anggaran pada pos pulsa. Kami pun mulai memikirkan solusinya.
Setelah berbagai macam ide dilontarkan, akhirnya untuk dapat menghemat pengeluaran pulsa, kamipun sepakat membuat sandi miskol, atau lebih enak disebut Protokol Miskolâ„¢.
Missed Call
Missed call, atau ‘panggilan yang terlewatkan’ sebenarnya adalah feature handphone yang bisa terjadi karena adanya feature Caller ID pada sistem komunikasi seluler, dimana pihak yang ditelpon dapat mengetahui dari siapa panggilan tersebut. Feature ini digunakan untuk memberitahukan pelanggan bahwa ada orang yang berusaha menghubunginya, tapi terlewatkan (missed) karena suatu hal. Tapi di Indonesia, miskol juga berkembang menjadi istilah untuk panggilan yang sengaja ditutup sebelum yang dituju mengangkat. Untuk kategori ini, jika tanpa persetujuan awal akan cenderung menyebalkan dan lebih cocok disebut ‘fakir miskol’.
Ide penggunaan miskol sebagai protokol ini didasarkan pada kenyataan bahwa miskol telah menjadi suatu alat komunikasi yang cukup efektif dan hemat biaya. Contoh :
- Mahasiswa: “Tolong kamu ke kelas dulu, nanti kalau ada dosennya, miskol aku yah, aku belum selesai menyalin PR-mu”
- Petak umpet beregu :”Kamu cari kekanan, aku cari ke kiri, nanti yang menemukan duluan miskol, terus ketemu lagi disini”
- Anak TK : “Bu gulu, udah waktunya makan siang”, “Lho, adik kok tahu? sudah lapar yah?”, “Nggak bu gulu, ini mama sudah miskol”.
- Pialang : “Aku akan mengawasi saham blue chip ini, kamu siap-siap!. Nanti kalau aku miskol, langsung Jual!”
- Bisnisman: “Bapak direktur, ini ada miskol dari direktur PT Happy”, “OK, terimakasih salma, kalau begitu segera siapkan ruangan meeting, mereka sudah ada di gedung parkir”.
Spesifikasi Protokol Miskol
Protokol Miskol yang kami buat ini sangat sederhana. Alat yang digunakan adalah alat komunikasi yang miskol-kompatible, yaitu handphone. Tentu saja lengkap dengan pulsa minimum untuk dapat melakukan panggilan.
Pada protokol miskol, suatu panggilan disebut ‘miskol valid’ jika ditutup saat nada panggil kurang dari 5 detik. Jika lebih dari itu, maka harus diangkat.
Protokol hanya terdiri dari 3 bagian : Initiate (memulai), Response (menjawab), dan Error Control (pengendalian kesalahan) serta terdiri dari berbagai prosedur yang dibuat tergantung kebutuhan. Beberapa contoh prosedur yang sering digunakan adalah :
Prosedur 1. Location positioning, untuk menentukan lokasi pasangan.
Initiate :
1 x Miskol (satu kali miskol), artinya: Dimana kamu?
Response :
1 x : Di kos/di rumah
2 x : Di kampus, di jurusan, atau sedang kuliah
3 x : Di unit kegiatan/ di Lab
4 x : Di tempat lain
Prosedur 2. Welfare monitoring, kondisi kesejahteraan
Initiate :
2 x Miskol : Sudah makan belum?
Response :
1 x : Belum
2 x : Sudah
Masih ada prosedur lain, tetapi terlalu vulgar untuk ditulis disini, mengingat tidak ada batasan umur di internet *halah*.
Sedangkan Error Control dilakukan saat salah menjawab, atau salah pertanyaan. Prosedur ini biasa disebut dengan nama: kirim SMS.
Contoh penggunaan : aku lagi di kampus, terus ingin tahu lokasinya. Yang harus aku lakukan adalah melakukan panggilan ke nomernya, tunggu nada dering sampai kurang-lebih 4 detik, lalu tutup. Tunggu balasan miskol dari cintah. Jika dia membalas dengan 1 kali miskol, berarti dia sedang berada di kosnya.
Perkembangan terkini
Seiring dengan kemajuan jaman, protokol ini sekarang sudah dimodifikasi, dengan hasil yang lebih baik dan tetap hemat biaya. Aku initiate dengan nge-BUZZ di YahooMessenger, dan cintah merespon dengan telpon kantor.
Agustus 2005
Ditulis untuk cintahku yang selalu ada di saat susah maupun senang.
Demikian joke pembuka yang dilontarkan Menristek Kusmayanto Kadiman pada seminar kemarin. Seminar yang ‘terpaksa’ aku ikuti tersebut adalah seminar “Pemanfaatan bahan bakar dan Arah Teknologi Pembangkit masa depan di Indonesia”, hasil kerjasama BPPT dan PLN, yang dilaksanakan di gedung BPPT Thamrin. Seminar ini membahas berbagai solusi yang ditawarkan kalangan ABG untuk mengatasi krisis energi di Indonesia, terutama untuk pembangkitan listrik. Ya, krisis energi yang membuat pemerintah mati-matian melakukan kampanye hemat energi, yang mengakibatkan lampu-lampu jalan dimatikan, kantor-kantor menjadi gelap, AC ‘dihangatkan’, kampanye hemat 17-22, dan -yang paling parah- kita tidak bisa nonton TV di malam hari.
Hari-hari belakangan ini, yahoo mail mengeluarkan aksinya dengan meng-upgrade kapasitas email gratisannya dari 250MB menjadi 1Giga. Upgrade kapasitas ini tidak dilakukan secara serentak, tetapi bertahap dari sekelompok user ke user yg lain.