24 October 2007

Bayi, ASI, dan Laktasi

Filed under: Keluarga, Tutorial — hericz @ 2:44 am

Awal bulan November 2007 nanti, Ibunya Fatih sudah harus masuk kerja lagi. Karena sudah bertekad untuk memberikan ASI ekslusif selama sedikitnya 6 bulan, maka jauh-jauh hari Ibunya Fatih sudah mempersiapkan dirinya dan tentu Fatih sebagai inti dari semua kegembiraan ini.

Persiapan yang dilakukan adalah:

1. Melakukan laktasi (memeras ASI)

Aku nggak tahu istilah resminya apa, tapi katanya sih kegiatan memeras ASI ini dinamakan laktasi. Aku juga baru tahu ada kegiatan seperti ini baru 1-2 tahun ini, dan sejak tahu ada metode ini jadi bertekad untuk mendukung Istri untuk melakukannya.

Ada beberapa cara untuk melakukan Laktasi:
- Dengan tangan, ini adalah cara paling sederhana yang bisa dilakukan. Ada banyak metode yang bisa dicari di internet.

- Dengan pompa (Breast Pump)
Pompa yang tersedia di pasaran secara umum dibagi menjadi 2: Pompa manual, dan pompa elektrik. Pompa elektrik menggunakan daya listrik untuk menggerakkan pompa hisap mini, sedangkan pompa manual menggunakan tangan untuk melakukannya.

Semua cara diatas sudah dilakukan oleh Mamanya Fatih.
- Dengan tangan: Murah karena tidak perlu beli alat bantu. ASI banyak berceceran kemana-mana, perlu berlatih teknik-teknik memeras yang efektif.

- Dengan pompa manual: Ibu susah berkonsentrasi karena selain harus memperhatikan kekuatan pemompaan, juga harus memperhatikan jangan sampai bocor dan menetes kemana-mana. Pompa manual ini harganya berkisar 80ribu hingga 200 ribu.

Mamanya Fatih punya merk Camera yang dibeli seharga kurang dari 100 ribu. Sedangkan Mamanya Sarah pake merk Avent yang harganya sekitar 200-300ribu. Katanya sih terbaik di kelas manual, hehe.

Pompa Manual, merk Camera
Pompa Manual, merk Avent

- Dengan pompa elektrik: Tinggal mengatur level penyedotan yang nyaman, pompa akan bekerja dengan stabil, berbeda dengan pompa tangan yang kadang kuat kadang lemah tergantung mood dari tangan yang memegang pompa. Hasil terakhir hari ini, dalam 5 menit bisa didapatkan 100ml.

Pompa Elektrik

Sayangnya harga pompa elektrik relatif agak mahal. Pompa yang digunakan sekarang adalah Medela Mini Electric, beli di ITC Kuningan seharga 590ribu. Sekilas memang terasa mahal, tapi coba bandingkan dengan harga Susu Formula yang berkisar 60 ribu - 150ribu/kgnya, dan hanya bisa dipakai untuk beberapa hari saja.

Akan tetapi perbandingan diatas hanya berlaku untuk Mamanya Fatih, mungkin bagi ibu-ibu yang lain memeras dengan tangan akan lebih cepat dan efisien.

2. Menyimpan ASI

Menurut beberapa literatur, ASI yang disimpan di suhu kamar dapat bertahan hingga 24 6-8 jam. Sedangkan ASI dapat bertahan hingga 1-2 bulan jika disimpan dalam keadaan beku. Akan tetapi untuk amannya, sebaiknya ASI beku ini dikonsumsi sebelum 2 minggu, apalagi kalau cuma pakai kulkas 1 pintu yang suhu freezernya cuma -4 hingga 0 C.

Soal wadah, dibutuhkan botol yang mampu memuat sekitar 100-150ml. Botol ukuran ini sebenarnya tersedia di klinik-klinik laktasi seharga sekitar Rp 2000-3000/botol. Tapi karena tidak menyempatkan diri ke klinik laktasi, dan sayang beli botol kosong kok terasa mahal, makanya kami nyari botol yang isinya bisa diminum.

Tengak-tengok di Supermarket, botol yang paling cocok untuk keperluan ini adalah botol UC-1000 (yang dari dulu aku paling anti beli). Sayangnya, UC-1000 menggunakan tutup seng yang dikhawatirkan dapat bereaksi dengan susu atau berkarat saat disimpan di kulkas. Akhirnya dilakukan pencarian tutup botol yang pas untuk botol UC-1000 ini.

Setelah mencoba berbagai macam minuman botol plastik, dari air mineral, minuman kesehatan, teh, jus buah, dan lain-lain, akhirnya didapatkan bahwa tutup botol yang compatible dengan botol UC-1000 adalah:Frestea, Zestea, Zporto, dan Fruittea. Sayang sekali, tutup botol Nu Green Tea tidak bisa digunakan, padahal itu merk favorit, hehehe.

Sisa-sisa tumpukan botol

Lha, karena kebutuhan botol sangat banyak, maka jadilah kulkas kecil kami dipenuhi dengan beberapa pak UC-1000 dan setumpuk minuman siap minum kemasan botol. Sekarang sih di kulkas tinggal tersisa 3 botol minuman botol plastik dan setengah pak uc-1000. Setelah dihitung-hitung, biaya per botolnya jadi lebih mahal dibanding beli botol kosong. Hue hue hue

Setelah botol dan tutup dikosongkan isinya (dari semua proses, hanya di bagian ini aku paling berperan), lalu dicuci dan disterilkan air panas, baru diisi ASI peras dan diberi label nomer dan tanggal dengan sticker label.

Kalau sudah pernah menikah dan mengirim undangan sendiri, pasti sudah tidak asing lagi dengan sticker label merk Tom & Jerry.

Gudang ASI

3. Memberikan ASI ke Bayi

Tahap berikutnya adalah memberikan ASI simpanan ke Kakak. Setelah memastikan bahwa yang diambil adalah nomer yang paling kecil, ASI dalam botol yang sudah menjadi es ini perlu dicairkan terlebih dahulu.

Kalau sabar dan menginginkan hasil terbaik, cairkan pada suhu ruangan, jika sudah cair baru dimasukkan ke penghangat susu. Tapi karena terburu-buru, biasanya cuma sebentar botol dikeluarkan dari freezer langsung dimasukkan ke Baby Food Warmer ini. Atur ke suhu sekitar 40-45 derajat C.

Setelah menjadi hangat, ASI sudah siap diberikan.

Pada saat nenen ke ibunya, bayi harus menekan daerah areola, menyedot, sekaligus memijat puting ibunya dengan lidahnya dengan gerakan peristaltik. Sedangkan, dot bayi yang banyak beredar berbentuk puting memanjang, dimana hanya dengan memencet puting tersebut susu dari botol akan mengalir ke mulut bayi.

Menurut berbagai informasi, bayi dibawah 6 bulan yang meminum susu dengan menggunakan dot akan cenderung mengalami gejala ‘bingung puting‘ atau ‘Nipple Confussion‘. Karena terbiasa menggunakan dot, maka saat kembali nenen akan melakukan gerakan yang sama dengan saat ngedot, akibatnya alih-alih ASI bisa keluar, ibunya yang kesakitan.

Untuk itu, aku cari-cari lagi di toko peralatan bayi dot bayi yang meminimalkan hal ini, yang aku dapatkan adalah Dot bayi merk Pigeon, Peristaltic Nipple dengan Leher lebar, harganya sekitar 40 ribu. Kemarin pas jalan-jalan di ITC Kuningan, sempat lihat ada bule memberi minum bayinya dengan dot jenis ini tapi dengan merk Avent.

Foto berikut adalah perbandingan Dot peristaltic dengan dot biasa.

Perbandingan dot biasa dengan dot peristaltik

Pada percobaan pertama memberikan ASI dengan dot jenis ini, ternyata kakak langsung bisa meminumnya dengan gerakan, suara, dan nafas yang mirip dengan saat minum langsung dari sumbernya. Yang terpenting, saat kembali nenen, Fatih kembali melakukannya seperti biasa. Percobaan menggunakan dot ini sudah dilakukan beberapa kali, terutama saat pergi keluar rumah.

4. Mempersiapkan Stok ASI Tersimpan

Sebagai perkiraan, bayi usia dibawah 6 bulan akan memerlukan ASI antara 500ml-1000ml per harinya. Fatih sendiri kurang lebih menghabiskan sekitar 600 ml setiap harinya.

Jika nantinya akan ditinggal ke kantor dari jam 7.30 pagi sampai jam 5 sore, maka diperkirakan akan memerlukan 4-5botol ASI beku setiap harinya (asumsi 1 botol 100-130 ml), dengan catatan di pagi dan malam hari masih harus diberikan ASI fresh dari ibunya.

Nantinya, Ibunya Fatih harus melakukan laktasi di kantornya setiap hari.

Kalau lihat perjuangan seorang ibu untuk bayinya, jadi terasa benar bahwa Ibu memang harus dihormati sedikitnya 3 kali lipat dibanding hormat dan bakti kita kepada ayah.

Fatih umur 7 Minggu


Referensi:
- Serba-serbi menyusui, WRM Publishing.
- Kiat sukses menyusui, Seri AyahBunda

27 June 2006

Kamera Digital Saku: Menggunakan Lampu Flash

Filed under: Tutorial — hericz @ 12:42 am

Flash built-inKameraboy : “Siap, satuu.. duaa.. tiga.. yak sudah”
Sok-model : “Lho, kok nggak kerasa? nggak ada flashnya yah?”
Kameraboy : *nimpuk pake tripod*

Saat nonton Piala Dunia di TV, aku sering bengong melihat betapa banyaknya lampu kilat berkilauan dari bangku penonton. Berkelap-kelip seperti bintang di langit.

Pada umumnya, kilatan lampu-lampu flash itu muncul berbarengan dengan saat pertama kali pemain masuk lapangan atau setelah terjadi gol. Jadi, mereka-mereka yang memotret itu memang berusaha mengabadikan kejadian di lapangan, 100-200 meter dari kursi stadion.

Aku heran, kenapa dari 80ribu penonton itu banyak sekali yang berbuat bodoh.

Kemampuan Lampu Flash

Lampu Flash bermanfaat untuk memberi cahaya pada obyek yang akan dipotret. Kenapa harus menambah cahaya? Karena kamera menganggap sinar di obyek tidak cukup terang.

Lampu flash itu seperti halnya lampu yang lain, memiliki jangkauan yang terbatas. Produsen kamera yang baik dan tidak sombong selalu menyertakan jarak jangkauan dari flash yang tertanam di kamera tersebut. Jangkauan maksimal untuk kamera digital saku pada umumnya hanya berkisar 2 sampai 5 meter saja.

Iya, 2 sampai 5 meter saja, tidak sampai 100 meter.

Lha Flashnya Menyala Sendiri Kok!

Pemakai kamera digital saku pada umumnya pemalas. Sudah biasa kalau buku manual tidak pernah sekalipun dibaca. Sudah biasa pula kalau seseorang menggunakan setting ‘auto’ dan menyerahkan segala jiwa dan raga pada jin kamera yang tersimpan dalam keping silikon.

Pada saat shutter kamera ditekan, kurang lebih inilah yang dilakukan oleh jin kamera:
1. mengukur dan menghitung cahaya masuk yang diterima sensor
2. mengatur bukaan diafragma (apperture). Jika terasa gelap bukaan jendela diperbesar, jika cahaya terang bukaan diperkecil.
3. mengatur shutter speed, mengusahakan jangan sampai gambar goyang. Batas kemampuan tangan manusia hanya 1/60 detik bisa memotret tanpa goyang pada keadaan normal, katanya begitu. Oh, betapa ringkihnya.
4. mengatur setting ISO, mengusahakan agar ISO tetap serendah mungkin agar noise tetap kecil, tapi jika cahaya lemah ya terpaksa ISO diperbesar.
5. Lakukan semua sambil atur fokus lensa, jika cahaya lemah hidupkan AF-Assist
6. jika dihitung-hitung masih tetap kurang, siapkan lampu kilat
7.Setelah memutuskan akan menggunakan lampu kilat, maka semua perhitungan dari nomer 1 diulang lagi. Kali ini dengan mensimulasikan ’seolah-olah’ cahaya masuk bakal sebesar cahaya yang diterima sekarang ditambah cahaya yang ditembakkan lampu flash yang juga disimulasikan akan memantul di jarak 2-5 meter tadi.
8. Siapkan sensor untuk menangkap gambar, BUM!, hitung ‘white balance’, atur kompresi, lalu simpan ke memori.

Kurang lebih begitu. Tepatnya gimana, mana aku tahu. Pokoknya rumit, njlimet, dan butuh waktu. Waktu inilah yang disebut sebagai Shutter Lag.

Atur Sendiri Kameramu

Tapi sebagai pemilik kamera, kita bisa mengatur sendiri kamera kita, yang sekaligus membantu mengurangi shutter lag. Untuk kamera yang ‘agak mahalan dikit’, biasanya disediakan menu ‘A’ (apperture priority), dan ‘S’ (shutter priority). Apperture priority berarti kita tetapkan berapa lebar jendelanya, dan biarkan kamera yang menghitung hal lain. Sedangkan Shutter Priority berarti kita tetapkan berapa lama shutter akan terbuka, dan membiarkan kamera menghitung lainnya.

Contoh Spek FlashJika bingung, salah satu hal mudah yang bisa kita atur tanpa perlu mikir adalah penggunaan flash.

Kalau kira-kira obyeknya di luar jangkauan atau masih cukup terang ya nggak usah pake flash. Selain akan mengurangi beban kerja kamera, juga bisa menghemat batre. Tapi kalau sudah tahu bahwa obyeknya gelap dan jaraknya masih bisa terjangkau, jangan paksa kamera untuk tidak menggunakan flash. Motret aku misalnya *jitakin yang ketawa*.

Pada kamera digital saku, biasanya terdapat beberapa pilihan mode Flash:
1. Auto, percaya deh sama kamera.
2. Flash ON, pokoknya aku mau pakai flash! Ini berguna misalnya untuk memotret orang yang sedang membelakangi cahaya kuat. Dalam kasus ini, kamera akan menganggap cahaya sudah cukup terang, tapi ketika dipotret hasilnya menjadi siluet.
Misalnya foto saat senja, atau foto di dalam ruangan dengan latar belakang halaman yang terang.
3. Flash OFF, misalnya sedang menonton bola di stadion
4. Red Eye Reduction. Mata kita bereaksi cepat dengan cahaya. Saat berada di ruangan gelap, pupil (alias diafragma atau apperture) membesar sehingga banyak cahaya masuk ke retina alias sensor. Ketika tiba-tiba ada cahaya kuat, misalnya lampu flash atau ada yang nyengir di depan kita, maka pupil akan mengecil supaya retina tidak silau.

Proses penutupan pupil ini akan melibatkan aliran darah yang cepat di daerah retina yang akan tampak sebagai ‘red eye’ di hasil foto. Untuk itu dilakukan beberapa kali penyalaan lampu kilat kecil-kecil sebelum saat pengambilan gambar dilakukan. Semoga tidak ada lagi pertanyaan “eh itu tadi flashnya banyak banget, yang beneran yang mana?”.

Walah jadi melebar kemana-mana, padahal cuma mau ngomong kadang memang perlu mematikan flash secara manual karena sekuat apapun flash di kamera digital saku, nggak akan mampu menjangkau setengah lapangan bola.

Selain terlihat bodoh, susah lho nyari colokan charger di tengah stadion.

Tapi ngomong-ngomong soal Piala Dunia, England Prevails!


Topik Terkait :
- Mengenal Sensor Kamera Digital
- Mengenal Lensa Kamera Digital

13 May 2006

Menjadi Merdeka Dengan The Blogflow Quadrant

Filed under: Tutorial — hericz @ 10:30 am

Memang menyenangkan jadi seorang blogger, bisa menuliskan segala macam ide, pemikiran, kekesalan dengan tenang dan bebas. Merdeka rasanya.

Kalau bukan blogger, mana boleh mencampur-baurkan ilmu-ilmu yang populer di dunia seperti aku ini.

Rich Blog, Poor Blog

Ada jutaaan blog di dunia ini, jenisnya pun bermacam-macam. Dari yang sekedar catatan sehari-hari, jurnal pemikiran, tutorial, ajang menghina orang lain, sampai blog pemulung yang isinya kopi paste dari blog tetangga. Eh, tapi jangan samakan dengan blog pemulung kreatif yang terbikin sama Pakde Kemplu.

Salah satu ‘kekayaan’ yang terukur dari sebuah blog adalah banyaknya pengunjung blog tersebut. Parameter ‘kepuasan batin’ dan ‘catatan sejarah’ kan susah ngukurnya. Jumlah cewek yang berhasil dikenal juga bisa dihitung, tapi kan tidak etis kalau dipublish di depan umum.

Lalu dengan berbagai macam blog tersebut, kenapa ada blog yang ramai dikunjungi orang, Rich Blog, dan ada pula blog yang tidak pernah dilihat orang, Poor Blog?.

Blogflow Quadrant

Blogflow QuadrantHmm, perkenalkan diagram Blogflow Quadrant berikut (kedengaran familiar?). Yah, isinya bukan EBSI, tapi IQ, EQ, SQ, dan AQ. Keempat komponen inilah yang akan menyusun aliran kisah sebuah blog. Paling tidak begitu menurut Teorematika Nggladrah.

IQ, Intelligent Quotient.
Semakin besar kadar IQ dari suatu blog, makin banyak informasi-informasi bermutu, berita-berita terkini, analisa tajam yang akan mencerdaskan pembaca. Priyadi.net jelas suri tauladan yang tepat.

Blog jenis ini juga akan menulis sesuai ilmu penulisan yang benar: EYD, Subyek Predikat Obyek, kaidah Diterangkan Menerangkan, dan sejenisnya.

Sebaliknya, semakin rendah kadar IQnya, blog semakin tidak ada isinya dan semakin kacau balau penulisannya. Walau begitu, bukan berarti blog ini -IQ rendah- selalu tidak berguna untuk dibaca. Perhatikan pula komponen kuadran yang lain.

EQ : Emotional Quotient.
Kemampuan menyampaikan perasaan emosional juga sangat penting. EQ membuat orang makin suka membaca dan menelan habis kata demi kata yang terulis. Untuk dapat mengkomunikasikan ide ke pembaca, perlu ramuan ini. Bisa saja pembaca bisa terhanyut padahal hanya diceritakan tentang sepatu atau sengketa orangtua-anak masalah nasi.

SQ : Spiritual Quotient.
Menyampaikan pesan moral spiritual juga menjadi salah satu komponen yang berharga. Pembaca jadi semakin santun dan alim kalau membaca dan mengamalkan.

AQ : Artistic Quotient,
Sebenarnya nggak ada sih. Tapi karena butuh 4 buat ngisi kuadran, ya terpaksa dicari-cariin. Lagipula ‘Artistic Quotient’ kedengaran keren kok. Blog AQ adalah blog pesolek yang selalu cantik dan menyenangkan untuk dilihat. Tolong jangan disamakan dengan ‘aq’ seperti pada kalimat ‘aq cayang kamyu dech’.

Untuk menjadi Rich-Blog, sedikitnya diperlukan sattu komponen yang kuat dari empat pilihan diatas. Tapi blogger juga harus berkaca, tahu kemampuan diri itu penting. Kemampuan SEO juga perlu, walaupun kadang hanya akan menghasilkan ‘traffic semu’.

Blogger Multi Kuadran dengan Balance Slider

Praktikan Lugu: “Aku nggak pinter analisa nih kakak, bagaimana ya?”
Asisten Narsis: “Kerjakan laporan praktikum dengan rapi, dan serahkan ke asisten dengan tersenyum!”

Jika kemampuan pas-pasan, nasehat Asisten sangat berguna dan bisa dilakukan untuk menghindari hal-hal seperti contoh berikut:

“System DKZXEM terbaru dari VXZCtOx merupakan implementasi SuperRTQASD yang memungkinkan developer mampu IDERfjlErf dengan metode PUIMXOIWE!”.

Kalimat diatas adalah cuplikan dari tipikal blog IQ: Informasi lengkap, terkini, dan berguna bagi kaumnya tapi tidak terlalu menyenangkan untuk dibaca, dan tidak ada pesan moral yang disampaikan. Ah, mungkin saja variabel-variabel aneh itu sebenarnya mempunyai makna spiritual. Siapa tahu.

Balance Slider

Aku coba gabungkan contoh kombinasi dua kuadran.
IQ+EQ : Cerdas dan Komunikatif seperti Farhan, Andry
IQ+SQ : Cerdas dan Alim seperti Ustadz Jefri, Imponk
IQ+AQ : Cerdas dan Cantik seperti Dian sastro, mBak Lita

EQ+SQ : Komunikatif dan Alim, Aa’ Gym.
AQ+EQ: Menarik dan Komunikatif, Chantal Della Choncetta, dental dan didats.
… dan seterusnya

Supaya menjadi merdeka, gabungan dua kuadran sudah lebih dari cukup. Kalau perlu mulai belajar dari sekarang. Tak terasa nanti tiba-tiba blog URL kita sudah tertempel di blogroll blogger-blogger muda yang baru belajar nulis. Kalau ini jelas harta terukur. Apalagi kalau iseng-iseng ikut BlogAward, lumayan kan kalau bisa masuk nominasi.

Tapi tetap saja, seperti kata om Andry, coba pertahankan ciri khas. Biasanya serius tiba-tiba mbanyol akan mencurigakan. Biasanya goblogbiasa saja tiba-tiba menjadi cerdas juga akan membuat orang bertanya-tanya, terutama karena kata wangsit sedang populer lagi. Lagipula, mengapa harus mengorbankan kesenangan ngeblog dengan bebas jika hanya sekedar ingin merdeka?

Kalau aku sendiri menurutku sepertinya tidak terlalu cerdas, tapi kata ibuku sih ganteng. Serius!

16 February 2006

Membuat Website Pribadi Untuk Orang Biasa

Filed under: Tutorial, Teknologi — hericz @ 2:40 am

Sungguh luar biasa, pak SBY sudah membuat website pribadi dalam kapasitasnya sebagai seorang presiden. Pak SBY benar-benar presiden yang gaul, kelihatan kalau Doktornya tidak berlabel Honoris Causa.

Website SBY dipersiapkan untuk menerima traffic yang besar, selain karena pengunjung yang pastinya akan melimpah juga karena banyak file-file streaming yang pastinya akan memakan bandwidth besar. Untuk itu, tanpa perhitungan teknis yang mendetail (karena aku memang nggak tahu), aku yakin biaya 84 juta bukanlah biaya yang besar.

Orang Biasa Juga Bisa

Kalau presiden bisa, orang biasa juga bisa membuat website pribadi. Tapi aku sadar, duit 84 juta masih terlalu banyak untuk orang biasa. Uang sebanyak itu kan lebih baik digunakan untuk beli Harley Davidson yang murahan, lumayan biar bisa kayak Lorenzo Lamas.

Untuk membuat website pribadi dengan domain sendiri, sebagai contoh adalah blog, biaya yang diperlukan adalah untuk hal-hal berikut:

1. Domain
Domain, gampangnya adalah alamat website yang diinginkan, misal heriganteng.com atau akucintaheri.net.

Domain dengan akhiran .net, .org, dan .com dibayar tiap tahun. Biayanya kurang lebih 80 ribu-100 ribu per tahun. Domain .info, biasanya digratiskan oleh penyedia layanan hosting saat masa promosi. Sedangkan domain or.id, dan web.id hanya perlu membayar biaya registrasi sekali dan dapat digunakan seumur hidup.

2. Hosting
Hosting adalah tempat kita meletakkan file-file yang akan ditampilkan di website. Disini kita seperti menyewa hard-disk yang bisa online. Biayanya tergantung seberapa besar tempat yang kita sewa. Untuk referensi, hericz.net menyewa 25MB dan sampai sekarang baru terpakai sekitar 6MB. Engine wordpress, theme dan databasenya sendiri sudah memerlukan tempat sekitar 3MB.

Untuk hosting ini, pilih layanan yang mendukung server-side scripting seperti PHP atau ASP, dan database seperti MySQL. Feature-feature ini sangat penting jika ingin membuat website yang berbasiskan CMS seperti halnya blog.

Untuk hosting dengan space sebesar 25MB, biaya yang diperlukan sekitar 10-15 ribu per bulan.

Sebagai referensi, tabel perbandingan harga domain dan hosting bisa dilihat di sini.

catatan : Biaya camilan, kopi, parkir motor di warnet, dan ganti rugi sandal ilang sengaja tidak dimasukkan dalam rincian biaya di dalam klausul tutorial ini.

Langkah-langkah membuat website pribadi untuk orang biasa

  • Pilih nama domain.
  • Pikirkan baik-baik, jangan sampai menyesal di kemudian hari. Lalu coba periksa apakah domain idaman sudah dipakai orang lain. Cara gampangnya, coba saja ketikkan alamat yang diinginkan di browser.

  • Daftarkan ke penyedia layanan hosting+domain
  • Pilih sesuai anggaran dan kebutuhan. Kalau cuma perlu buat ngeblog, ya tidak perlu hosting 1GB, kecuali mau sekalian digunakan untuk share file-file berukuran besar.

  • Bayar
  • Aktifkan
  • Install engine blog atau CMS
  • Banyak pilihan : Wordpress untuk orang normal, Movable Type untuk yang sudah kawin, dan TextPattern untuk yang narsis. Selain itu juga ada b2evolution, Nucleus, pMachine, atau bahkan drupal yang cocok untuk rame-rame.

  • Otak-atik tampilannya
  • Bisa dengan cara pasang theme lain yang banyak tersedia di internet, edit theme yang ada, atau membuat theme baru.

  • Selesai
  • Website pribadi siap digunakan.

hericz.net cuma habis 200 ribu, dan sudah online 1 hari setelah pembayaran.

Ingat kata om roy, gratisan itu norak. Tapi 84 juta?


update :
link terkait :
- Kompas : Situs Presiden Senilai Rp 44,638 Juta per Bulan
- Priyadi.net: 84 juta rupiah untuk situs kepresidenan itu relatif murah

Next Page »