20 May 2007

Gerakan 1 Bulan 1 CD Musik Original

Filed under: Hiburan, Personal — hericz @ 10:53 am

Dulu sewaktu SMA, setiap kali ada album musik baru yang membuatku tertarik, aku menabung, menyisihkan uang saku sedikit demi sedikit agar bisa membelinya.

Waktu itu harga 1 buah kaset (musisi dalam negeri) sekitar Rp 7000-7500, cukup untuk makan soto+es teh di kantin sekolah setiap hari, selama 2 minggu.

Saat kuliah, aku punya komputer sendiri, dan sudah mengenal yang namanya MP3. Music sharing antar teman sangat cepat, bahkan di kampus juga muncul server-server mp3 yang memuat berton-ton koleksi musik lengkap dengan fasilitas search engine yang sangat cepat. Kecepatannya berbanding lurus dengan ketersediaan MP3 baru dari sebuah album yang baru saja diluncurkan.

Sejak saat itu aku nggak pernah lagi membeli album musik, seperti halnya jutaan orang lain di Indonesia.

File Sharing: Baik atau buruk?

Karena bertahun-tahun hidup dalam kondisi dimana musik bajakan sangat mudah didapatkan. Aku sudah dalam taraf tidak lagi merasa bersalah saat mengkopi satu album musik ke Harddisk.

Bahkan aku menganggap dengan mengkopi sebuah album musik (terutama musisi baru) ke dalam harddisk-ku, berarti aku sedang membantu publikasi dan sosialisasi dari musisi tersebut. Karena aku sering merasa sekarang penjualan album tidak bisa dijadikan ’sumber pendapatan’ dari sebuah band. Band lebih mudah dapat duit kalau terkenal: bisa manggung ke sana kemari, jadi bintang iklan produk terkenal, serta ring-back tonenya di pakai jutaan orang.

Jadi, kalau aku mengkopi sebuah lagu dari sebuah Band baru ke hardisk, lalu memainkan secara periodik -setaraf cuci otak- di kos-kosan, teman kos dengar jadi seneng, ikut ngopi, di bawa pulang ke rumah di kampung, tetangga2nya juga ikut seneng, dikopi juga, dikasih dengar ke pacarnya, lalu sama pacarnya dibawa ke sekolahan, dan seterusnya… Nantinya kalau Band tersebut manggung di kota kecil tersebut, walaupun penjualan kasetnya seret tapi penjualan tiket akan tinggi dan semua orang ikut nyanyi. Hehe, mulia tho?

Kampanye Stop-Pembajakan yang disuarakan artis dan komunitasnya sepertinya susah sekali terlaksana. Apalagi dengan iklim penegakan hukum di Indonesia yang masih seperti ini.

Sementara itu proses pencetakan kaset dan CD terus berlangsung, tetap membutuhkan tenaga pencetakan, tetap membutuhkan proses recording yang rumit, tetap membutuhkan artis-artis bermental baja. Sedangkan aku tetap enak-enak aja menikmati musik mereka, tanpa membayar, nonton konsernya -satu2nya kesempatan balas budi- pun selalu nggak sempat.

Bahkan aku juga malas pasang ring-back-tone, sok imut banget gitu loh.

Dunia maya yang aneh

Sudah sering terjadi di dunia blogger. Saat ada seorang blogger yang mengetahui salah satu ‘hasil karyanya’ dikopi-paste ke blog lain, dia akan naik darah dan menyebar berita ini ke seluruh komunitasnya. Walaupun berbeda, tapi semua tahu rasanya kalau hasil karya tidak dihargai semestinya?

Setiap bulan selalu muncul album-album baru di Indonesia. Ada yang cocok di kuping dan ada juga yang tidak. Setiap bulan pula aku mendownload lagu-lagu baru (setelah dapat koneksi unlimited) atau kalau sempat mampir ke penjual MP3 bajakan di pinggir jalan untuk beli 2 atau 3 CD MP3 sekaligus.

Kalau dihitung-hitung, setiap bulannya pengeluaranku untuk beli MP3 bajakan sekitar 30-40 ribu, bahkan lebih. Dari semua lagu yang ada di CD tersebut biasanya hanya 1 atau 2 album saja yang cocok di telinga. Cocok berarti memang musiknya menyenangkan dan kualitas MP3-nya bagus. Selebihnya hanya bertumpuk menjadi sampah digital.

Aku nggak tahu, itu para pembajak MP3 apa nggak pernah belajar teori suara semacam audio waveform, spektrum frekuensi, teori sampling + Nyquist Bandwidth, Signal to Noise Ratio, dan semacamnya supaya bisa bikin bajakan yang bagus apa ya? :D

1 Bulan 1 CD original

Lalu setelah ngobrol-ngobrol dengan Rilly (teman kantorku) dan diskusi dengan istriku, aku memutuskan mulai bulan ini akan membeli sebuah CD audio original buatan musisi dalam negeri setiap bulannya.

Download musik mungkin jalan terus, sebagai uji coba untuk mendengarkannya. Kalau suka aku harus balas jasa, mungkin tidak ke semua musisi hebat yang musiknya bertebaran di internat, tapi paling tidak 1 CD Original setiap 1 bulan.

Naif - Televisi

Album Televisi dari Naif, jadi bulan pertama, karena selama 2 minggu terakhir setiap hari MP3nya aku mainkan sampai sudah hampir apal semua lagunya.

Harganya hanya 30 ribu, setara dengan makan siang 3 kali, jauh lebih murah dibanding harga kaset jaman aku masih SMA.

Ternyata, perasaan saat membuka CD original, menyetel lagunya keras-keras, tidur-tiduran sambil membolak-balik cover-art yang lucu memang menyenangkan. Lumayan, sejenak terlupakan akan deadline yang melaju kencang bagaikan setan

1 May 2007

Nonton Wayang Orang di Jakarta?

Filed under: Hiburan — hericz @ 10:20 pm

Memasuki usia kehamilan 5 bulan, kondisi istriku semakin membaik. Mual-mual bisa dikatakan tidak pernah lagi, gangguan pencernaan maupun kondisi tubuh yang mudah pusing juga sudah hilang. Sekarang kita bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa, nonton misalnya. Tempat tinggalku sekarang berada di pusat kota, bahkan kalau kita nonton ke BlitzMegaplex cukup jalan kaki saja 15menit, atau naik motor 5 menit (tambah nyari parkiran+parkir motor+ngunci helm kira-kira 10 menit).

Istriku sangat menyukai kebudayaan Jawa, baik gamelannya, wayang, maupun kesenian jawa lainnya. Sabtu kemarin, dia dan temennya (Lina) janjian untuk nonton Wayang orang di Gedung Bharata, Jl Pulolio/Jl Gunung Sahari, kawasan Senen, Jakarta Pusat. Sebuah Gedung kesenian Tradisional Jawa yang sampai sekarang masih eksis, bahkan mungkin melebihi yang ada di Yogyakarta.

Sesuai jadwal, lampu ruangan dimatikan tanda pentas dimulai tepat pukul 20.30. Malam itu, pentas yang dilakonkan adalah Palguna-Palgunadi, kisah dimana Palguna alias Arjuna alias Janoko alias Permadi, berkonflik dengan Palgunadi. Palgunadi adalah adik seperguruan Arjuna di padepokan Pendeta Durna.

Tata Panggung

Kemewahan Budaya

Seperti biasanya, gedung pertunjukkan yang mampu memuat sekitar 500 penonton tersebut berisi sekitar 3/4 penuh. Tempat duduk yang empuk dan nyaman, dan pengaturan AC yang tepat (bukan setelan freezer seperti di bioskop 21) , membuat penonton yang kebanyakan berusia 30 tahun keatas bisa merasa nyaman disana. Beberapa anak umur 10-an tahun juga tampak antusias melihat pentas sambil mendengar terjemahan dari ayahnya.

Beberapa speaker JBL ditata sesuai dengan akustik ruangan sehingga membuat seluruh penonton dapat merasakan hentakan suara kendang, dentuman gong, maupun suara berisik kecrek dengan loud and clear.

Berbeda dengan doktrinasi kapitalis yang kental saat memasuki kawasan Bioskop 21 “Dilarang membawa makanan/minuman dari luar area”, di Bharata penonton bebas keluar masuk membawa makanan dan minuman. Bahkan kita bisa pesan Indomie telor kornet + Teh botol dan diantar ke tempat duduk kita (ada nomernya kok). Uwenak polll!

Tari-tarian

Wayang orang dimulai dengan tarian-tarian, lalu muncul tokoh-tokohnya bergantian. Tokoh-tokoh wanita selalu b..e..r..b..i..c..a..r..a d..e..n..g..a..n p..e..l..a..n. Tokoh buto selalu pethakilan dan banyak bergerak, sementara itu tokoh bangsawan dan dewa-dewa tampil dengan anggun dan berbicara secukupnya dengan bahasa Jawa kromo inggil yang haluus banget.

Buto Pethakilan

Lha bicara secukupnya itu yang membuatku yang kurang mengerti kisah-kisah pewayangan jadi bingung mengikuti alur ceritanya. Sebentar-sebentar harus bertanya pada istriku, “Eh, kalau ini siapa? barusan ngomong apa ya? Oh, jadi itu Palgunadi…”

Walau kadang berharap di bawah panggung muncul subtitle berbahasa Indonesia, tapi pentas ini tetap sangat menarik. Ah, kalau aku nonton tari kecak di Bali juga nggak harus ngerti dialognya. Mungkin karena bawa kamera, aku jadi sibuk membidikkan kamera sepanjang pertunjukkan berlangsung. Lampu panggung yang cukup terang cocok untuk yang ingin mengambil gambar adegan demi adegan.

Gaya Pewayangan plus Gojek Kere

Di era Spiderman, Star Wars, dan Smack Down ini, pentas wayang orang bagi sebagian orang, terutama anak muda merupakan hal yang membosankan. Adegan-adengan memang lambat dan penuh seni, berjalan ada aturannya, berbicara juga ada aturannya, bahkan berkelahi juga ada pakemnya.

Tapi masalah berkelahi ini, pelakon-pelakon Bharata memang sangat mahir berakrobat salto, jungkir balik, lempar melempar senjata dan adegan menegangkan lainnya di atas panggung. Melihat adegan perang ataupun perkelahian antar jawara-jawara biasanya membuat penonton hanyut dalam ketegangan.

Arjuna Menghajar Buto-Buto

Di saat seperti itulah kemudian muncul adegan Goro-goro, yaitu munculnya tokoh Punokawan (Gareng, Petruk, Semar, dan Bagong) yang membawakan adegan-adegan yang lucunya ndeso, kampungan, tapi sangat mengena. Dan yang paling penting tetap membuat tertawa karena berdialog dengan bahasa Jawa ngoko (biasa) sehingga mudah dicerna.

Materi guyonan minggu kemarin bahkan sangat kuno: Bagong butuh pompa air, lalu Petruk menyanggupi membelikannya. Petruk lalu menyuruh Gareng berpura-pura menjadi Pompa Air dan tentu saja dengan cara berpose, dan tak lupa harus menyemburkan air saat ‘dipompa’. Wis jan, pokoke ndeso tenan. Tapi ya tetap saja aku kok tertawa terpingkal-pingkal yo.

Gareng Nyembur!

Dan tak lupa, adegan goro-goro ini ditutup dengan lemparan-lemparan rokok dari penonton. Rokok yang disertai dengan ucapan salam dan request lagu itulah yang membuat penonton dan pemain menyatu.

Jadwal Pentas

Nah, kalau misalnya Sabtu malam ini semua bioskop penuh karena semua anak SMA sampai pegawai kantoran junior memborong habis tiket Spiderman 3, Wayang Orang Bharata ini bisa menjadi Alternatif. Tontonan budaya ini juga cocok kalau misalnya orang tua kita dari Jawa pas berkunjung ‘nengok cucu’ dan kita perlu mengentertain mereka, hehehe. Cocok juga bagi mereka yang merindukan suasana kesenian jawa yang sederhana tapi penuh makna.

Dengan harga tiket yang cuma 20ribu, ini akan jadi pengalaman yang tak terlupakan untuk seluruh keluarga *halah emangnya Dufan*

5 Mei 2007 : Srikandi Jadi Ratu
12 Mei 2007 : Petruk Kelangan Pethel
19 Mei 2007 : Kumbokarno Gugur (Ramayana)
26 Mei 2007 : Gatotkaca Sungging
9 Juni 2007 : Setyaki Kromo
16 Juni 2007 : Gareng Kembar
23 Juni 2007 : Indrajit Gugur (Ramayana)
30 Juni 2007 : Srikandi Kembar Tiga

Karena biasanya tempat duduk bagian depan akan cepat habis, lebih baik hubungi dulu Bharata di 021-70642535 untuk memesan tiket jauh-jauh hari sebelumnya. Weh, malah ngiklan.

Tapi ternyata bisa kan, nonton wayang Orang di Jakarta.

19 April 2007

Dukungan Untuk Praja IPDN

Filed under: Ngedumel — hericz @ 2:58 am

Sudah jam 2 malam, aku sudah ngantuk banget, tapi aku ndak bisa tidur. Televisi yang biasanya membantuku terlelap malam ini malah membuatku semakin terjaga dan merasa sangat tersiksa. Setiap kali kupejamkan mata, terbayang wajah-wajah gelisah kalian sahabat-sahabatku Praja IPDN. Mahasiswa dan Mahasiswi dari sebuah kampus yang menjadi berita utama 2 minggu terakhir.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Terbayang di mataku betapa kalian berangkat ke Sumedang dengan semangat tinggi. Berapi-api keinginan kalian untuk membahagiakan orangtua, membanggakan nama keluarga, menyekolahkan adikmu yang pinter dan lucu ke sekolah terbaik. Lalu kalian sadar, bahwa ternyata perjalanan mulia kalian berujung pada sebuah neraka sistemik berkedok pendidikan negara.

Setiap kali aku menyentuh perutku, terasa sakitnya perutku dihantam oleh kakak kelas yang sepupunya keponakan mantunya pejabat. Dan sakitnya tidak seberapa dibanding remuknya hati kalian dianggap sebagai kaum hina, ‘bukan siapa-siapa’. Fakta bahwa kalian bukan anak komandan koramil, dan bukan keluarga staf di gubernuran, membuat nyawa kalian tidak lebih berharga dibanding bebek di kawasan berburu.

Saat mendengar suara musik di MTV, aku terbayang betapa kalian mati-matian -dalam arti harfiah- berusaha masuk klub drum band kampus. Hanya agar dianggap sedikit lebih berderajat dan pantas bersanding dengan mereka yang berkuasa di kampus karena keturunan. Mungkin mereka lupa, sekarang sudah tidak jaman kerajaan lagi. *sigh*

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Melihat para remaja cantik di TV membuatku membayangkan kalian, sahabat-sahabatku mahasiswi IPDN yang dihina, dilecehkan, diambil kehormatannya tanpa bisa sedikitpun mampu melawan sistem yang sedemikian kuatnya. Jangankan melawan, membuka mulutpun kalian sudah tidak punya sisa kekuatan lagi. Aku sungguh tidak bisa membayangkan betapa menderitanya kalian, trauma yang PASTI tidak akan terhapus seumur hidup kalian.

Aku bayangkan pula bagaimana kalian harus berbohong pada Ayah dan Ibu yang sangat kalian cintai dan hormati, “Ah ibu.. adek kan baik-baik saja nih, lihat! Ototku aja semakin besar kan? Di sana tuh aku hidup enak kok”, sambil menyembunyikan memar-memar di dada kalian atau nyeri di rahim setelah aborsi. Pasti sakiiit sekali.

Aku tidak tahu, doktrin dan ancaman apa yang dimuntahkan para senior, sehingga kalian bisa menganggap diri sendiri sudah tidak punya hak hidup lagi. Menjalani hari demi hari dengan doa “Ya Allah, kuatkanlah hambamu yang lemah ini..”, hanya agar kalian masih bisa memanjatkan doa yang sama di malam hari berikutnya.

Sekolah gratis yang ternyata membuat kalian harus membayar uang seragam, membeli diktat kuliah (yang tidak pernah sempat kalian baca), ataupun membayar ’setoran’ ke senior. Bahkan uang saku yang dikirimkan oleh Pemerintah Daerah kalian pun -yang biasanya kalian kirim kembali sebagian ke rumah untuk beli beras- tidak bisa kalian terima dengan utuh. Angka 60 juta pertahun memang angka yang menggiurkan banyak orang.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
mungkin aku hanya semalam ini tidak bisa tertidur pulas dengan raut muka penuh ketakutan. Besok pagi, atau paling lama minggu depan aku mungkin sudah lupa.

Tapi kalian harus mengalaminya setiap malam, selama 1,2,3 tahun selama di kampus? Oh, sepertinya tidak. Kalian pasti harus menahan ketakutan seumur hidup kalian, membayangkan teman sebarak, teman main, teman makan siang, teman berlari-lari saat mau ujian masuk IPDN, teman yang mengompres luka memar di jidatmu hasil penggulingan, yang MATI, MATI, MATI tanpa kau sempat memberikan bantuan saat dia dihajar bos-bos besar, senior, anak para ningrat di kantor kabupaten.

Dan kalian semakin pedih lagi saat melihat makam sahabatmu -yang dilaporkan hilang pada orang tuanya- itu dijadikan monumen agar adik-adik kelas kalian -si anak petani, anak tukang becak, anak buruh bangunan- yang didatangkan dari berbagai daerah menyadari bahwa mereka baru saja masuk ke sebuah neraka untuk orang miskin, surga untuk orang berkuasa, dan sumber kekayaan bagi dosen dan staf peminum darah. Neraka dimana jagoan beladiri pun tidak akan sanggup melawan.

Sedangkan kisah-kisah praja putri yang MATI dalam keadaan hamil, babak belur, terbuang di daerah terpencil menjadi sebuah dongeng turun temurun yang mengerikan. Mengingat kalian bisa menjadi tokoh pengganti dalam dongeng tersebut saat kalian membuka satu kalimat saja.

Lalu wajah-wajah ‘pembunuh’ yang masuk TV tanpa merasa malu, tanpa sedikitpun raut muka penyesalan, membuat kalian semakin tenggelam dalam ketakutan yang luar biasa.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Aku membayangkan betapa tanggung jawab kalian begitu besar. Menjaga nama baik Daerah, menjaga nama baik kontingen kalian harus kuat menjaga semua kepedihan itu sendiri. Betapa susahnya birokrasi jika ingin komplain.

Aku tahu, kalau seorang anak pejabat terlibat kasus pembunuhan, maka kasusnya tidak akan pernah sampai di pengadilan. Maka aku juga tahu betapa takutnya kalian, kalau pelaku pembunuhan bukan hanya satu, atau 10, tapi 100 atau 1000 anak pejabat. Karena kalian juga tahu, senior-senior miskin itu sepertinya hanya ikut-ikutan saja.

Aku sudah mulai sadar bahwa ternyata tendangan kungfu di dada hanyalah seujung kuku dibanding siksa batin dan jiwa yang kalian alami selama berada di sana.

Wahai sahabat-sahabatku Praja IPDN,
Tidakkah kalian lihat betapa luasnya dunia ini. Tukang jamu menggendong dagangannya keliling kampung, berangkat dengan wajah penuh harapan, pulang dengan hati gembira. Setiap 100 meter di pinggir jalan ada penjual voucher HP, es cendol, Mie Ayam, pisang kremes yang terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Mereka berangkat dengan penuh harapan, dan pulang dengan bangga membawa rejeki halal sekedarnya untuk diberikan ke anak istrinya. Mereka bahagia, dan mereka bukan PNS.

Dunia tidak hanya menjadi pegawai negeri sipil. Sistem informasi belum secanggih dalam film-film Bioskop TransTV tadi malam. Kalian masih bisa keluar, menyelamatkan diri dari neraka sistemik itu dan menghilang tanpa diketahui siapapun.

Aku yakin, ayah ibu kalian lebih suka melihat kalian jadi nelayan yang HIDUP jujur di sebuah pulau terpencil daripada melihat makam PNS muda yang dimakamkan dengan penuh pengormatan dari rekan-rekan kuliahnya yang tidak bisa diajak ngobrol.

Tolong dipikirkan lagi, bedanya matinya seorang pejuang kemerdekaan, matinya seorang yang berjihad, dan mati konyol karena dihajar idiot berkuasa. Idiot yang hanya bisa masuk kampus megah itu karena pakde dan buliknya, bukan karena otaknya.

Itupun jika kalian tidak ingin mimpi buruk ini berlangsung seumur hidup kalian. Karena sekarang definisi PENGECUT, PEMBERANI, BERMARTABAT, DISIPLIN, KOMITMEN dan PENGKHIANAT sudah mempunyai arti yang berbeda di kampus jahannam itu. Ayo, jadilah PRAJA yang BERANI dan BERMARTABAT -dalam arti sebenarnya-. Kalo kata MTV, speak your mind, anggap saja ini sebuah acara Fear Factor berhadiah ketenangan jiwa.

Maaf, aku mulai ngantuk membayangkan bahwa semua ini ujung-ujungnya ternyata lagi-lagi masalah uang dan kekuasaan. Lagipula sudah hampir jam 3, biasanya jam segini kalian sudah selesai dihajar dan bersiap-siap tidur, mengumpulkan tenaga agar tetap hidup saat dihajar besok malam.

—-
Terimakasih buat seorang ibu yang sore tadi sudah menceritakan semua dengan berlinang air-mata.

14 April 2007

Piramida Pelacuran Nasional

Filed under: Ngedumel — hericz @ 1:40 am

Seorang pemuda berusaha ngobrol dengan seorang gadis cantik yang baru dikenalnya di bis kota:

Cowok :”Eh begini, aku boleh cium kamu ndak?”
Cewek :”KURANG AJAR! Gak mau lah, capek deeh”

Cowok :”Kalau aku kasih duit 1 milyar, aku boleh cium kamu?”
Cewek :*melirik sinis* “Yah, kalau kamu punya uangnya, boleh saja”.

Cowok :”hmm.. kalau cuma ada 50 ribu boleh cium?”
Cewek :”KAMU PIKIR AKU PELACUR?”
Cowok: “Lho, kamu tadi sudah jawab boleh cium kalau ada uangnya kan? berarti sekarang tinggal masalah tawar menawar saja tho. 100 ribu boleh?”.

***

Aku tumbuh besar di sebuah desa di Jogja, jauh dari pusat keramaian dan pusat pemerintahan. Karena didominasi kehidupan petani, kehidupan berjalan dengan santai dan damai. Walau begitu, sudah menjadi cita-cita hampir semua anak (dan orang tuanya) untuk menjadi pegawai negeri, polisi, tentara atau apapun yang berseragam dan digaji negara.

Sudah menjadi pengetahuan umum di desaku, bahwa untuk menjadi ‘apapun yang berseragam’ itu, perlu banyak biaya. Untuk jadi polisi perlu 25-40 juta, untuk jadi pegawai kabupaten perlu 10-20 juta, dan seterusnya. Biaya bisa bervariasi tergantung kekuatan ‘orang dalam’ tempat anak-anak petani itu dititipkan. Bagi para petani, ‘uang tiket’ sebesar itu berati sawah beberapa ribu meter yang didapat dari warisan harus dijual.

Pengorbanan menjual sawah dihitung-hitung tidak rugi untuk masa depan sang anak supaya jadi ‘orang’, lagipula sawah sudah tidak memberi keuntungan lagi. Pupuk mahal, tikus merajalela, harga gabah murah. Dan sebagian besar memang mereka tidak menyesal, setelah beberapa tahun anak-anak mereka sudah bisa membeli RX-King, membangun rumah yang cukup bagus, dan tentu saja berseragam. Oh iya, waktu itu belum musim honda Tiger dan Bajaj Pulsar.

Regenerasi Pelacuran Kekuasaan

Anak-anak petani tadi akan duduk satu meja, berdiri satu lapangan, menghormat ke satu pembina upacara, dan mengantri satu loket gaji dengan ribuan orang lainnya di pemerintahan. Loket gaji yang membuat mereka sadar bahwa uang tiket mereka tidak sebanding dengan gaji mereka. Perlahan-lahan -secara massal, dan terstruktur- akan diajarkan bagaimana agar segera balik modal.

Caranya bermacam-macam, meminta uang dari masyarakat, memberi setoran ke atasan agar cepat naik pangkat, dan lain-lain.

Istilah Pelacuran sepertinya terlalu kasar, tapi pada intinya begitu.
- Sudah, nggak usah ikut sidang tilang. Bisa nitip lewat saya, 25 ribu saja.
- Kamu bisa dapat KTP, tapi bayar 250 ribu.
- Ndak usah repot-repot ikut ujian, bayar saja 300 ribu, nanti SIM tinggal foto.
- Kamu bisa naik pangkat tapi harus setor 40 juta.
- Kamu bisa jadi kepala bagian, tapi harus setor 50 juta.
- Pesawat yang patah mau saya cat dulu, kamu butuh berapa agar bilang ke wartawan kalau ini ‘nggak menyalahi aturan’?
- Kamu bisa tetep dapat subsidi 60juta/tahun/praja, tetap bisa jadi staf kabupaten kalau kamu tutup mulut tentang teman2-mu yang mati dipukuli.
- Sebelum bapak kasih laporan tentang hasil investigasi di Kampus saya, ini ada sedikit uang saku buat keluarga di rumah.

Ini tidak bisa dihentikan. Sistemnya sudah terlalu kuat, karena sudah merasuk ke alam bawah sadar masing-masing member, dan sudah merasuk ke alam bawah kantong anak istri mereka di rumah. Saat sudah terbiasa berpenghasilan -misalnya- 10juta/bulan (hasil melacur), susah kalau harus hidup biasa dengan gaji 1.5juta/bulan.

Karena terstruktur, terorganisir, serta rapinya sistem doktrinasi pelacuran ini, sampai-sampai saat ada orang luar yang mau membantu menyelamatkan malah dituduh memojokkan, menyerang, atau memberitakan secara tidak berimbang.

Bahkan, karena saking kuat pengaruh saling melacur di lingkungan pemerintahan ini, masyarakat sampai ikut terdoktrinasi.

Tidakkah kalian lihat, bahwa sistem aliran uang di lembaga-lembaga itu mempunyai rantai-DNA yang sama dengan arisan berantai, MLM ngawur, dan skema investasi via ATM, ataupun sistem-sistem piramida pembunuh massal lainnya.

***

Aku tahu, banyak orang yang tidak menganggap dicium sebagai penyerahan harga diri atau sesuatu yang sakral (oh hebatnya doktrinasi film holywood) tapi aku masih bertanya-tanya, wanita-wanita cantik itu dibayar berapa oleh manajemen agar mau dicium Tukul Arwana.


gambar ambil dari uptownshelter tanpa ijin

« Previous PageNext Page »