14 April 2007

Piramida Pelacuran Nasional

Filed under: Ngedumel — hericz @ 1:40 am

Seorang pemuda berusaha ngobrol dengan seorang gadis cantik yang baru dikenalnya di bis kota:

Cowok :”Eh begini, aku boleh cium kamu ndak?”
Cewek :”KURANG AJAR! Gak mau lah, capek deeh”

Cowok :”Kalau aku kasih duit 1 milyar, aku boleh cium kamu?”
Cewek :*melirik sinis* “Yah, kalau kamu punya uangnya, boleh saja”.

Cowok :”hmm.. kalau cuma ada 50 ribu boleh cium?”
Cewek :”KAMU PIKIR AKU PELACUR?”
Cowok: “Lho, kamu tadi sudah jawab boleh cium kalau ada uangnya kan? berarti sekarang tinggal masalah tawar menawar saja tho. 100 ribu boleh?”.

***

Aku tumbuh besar di sebuah desa di Jogja, jauh dari pusat keramaian dan pusat pemerintahan. Karena didominasi kehidupan petani, kehidupan berjalan dengan santai dan damai. Walau begitu, sudah menjadi cita-cita hampir semua anak (dan orang tuanya) untuk menjadi pegawai negeri, polisi, tentara atau apapun yang berseragam dan digaji negara.

Sudah menjadi pengetahuan umum di desaku, bahwa untuk menjadi ‘apapun yang berseragam’ itu, perlu banyak biaya. Untuk jadi polisi perlu 25-40 juta, untuk jadi pegawai kabupaten perlu 10-20 juta, dan seterusnya. Biaya bisa bervariasi tergantung kekuatan ‘orang dalam’ tempat anak-anak petani itu dititipkan. Bagi para petani, ‘uang tiket’ sebesar itu berati sawah beberapa ribu meter yang didapat dari warisan harus dijual.

Pengorbanan menjual sawah dihitung-hitung tidak rugi untuk masa depan sang anak supaya jadi ‘orang’, lagipula sawah sudah tidak memberi keuntungan lagi. Pupuk mahal, tikus merajalela, harga gabah murah. Dan sebagian besar memang mereka tidak menyesal, setelah beberapa tahun anak-anak mereka sudah bisa membeli RX-King, membangun rumah yang cukup bagus, dan tentu saja berseragam. Oh iya, waktu itu belum musim honda Tiger dan Bajaj Pulsar.

Regenerasi Pelacuran Kekuasaan

Anak-anak petani tadi akan duduk satu meja, berdiri satu lapangan, menghormat ke satu pembina upacara, dan mengantri satu loket gaji dengan ribuan orang lainnya di pemerintahan. Loket gaji yang membuat mereka sadar bahwa uang tiket mereka tidak sebanding dengan gaji mereka. Perlahan-lahan -secara massal, dan terstruktur- akan diajarkan bagaimana agar segera balik modal.

Caranya bermacam-macam, meminta uang dari masyarakat, memberi setoran ke atasan agar cepat naik pangkat, dan lain-lain.

Istilah Pelacuran sepertinya terlalu kasar, tapi pada intinya begitu.
- Sudah, nggak usah ikut sidang tilang. Bisa nitip lewat saya, 25 ribu saja.
- Kamu bisa dapat KTP, tapi bayar 250 ribu.
- Ndak usah repot-repot ikut ujian, bayar saja 300 ribu, nanti SIM tinggal foto.
- Kamu bisa naik pangkat tapi harus setor 40 juta.
- Kamu bisa jadi kepala bagian, tapi harus setor 50 juta.
- Pesawat yang patah mau saya cat dulu, kamu butuh berapa agar bilang ke wartawan kalau ini ‘nggak menyalahi aturan’?
- Kamu bisa tetep dapat subsidi 60juta/tahun/praja, tetap bisa jadi staf kabupaten kalau kamu tutup mulut tentang teman2-mu yang mati dipukuli.
- Sebelum bapak kasih laporan tentang hasil investigasi di Kampus saya, ini ada sedikit uang saku buat keluarga di rumah.

Ini tidak bisa dihentikan. Sistemnya sudah terlalu kuat, karena sudah merasuk ke alam bawah sadar masing-masing member, dan sudah merasuk ke alam bawah kantong anak istri mereka di rumah. Saat sudah terbiasa berpenghasilan -misalnya- 10juta/bulan (hasil melacur), susah kalau harus hidup biasa dengan gaji 1.5juta/bulan.

Karena terstruktur, terorganisir, serta rapinya sistem doktrinasi pelacuran ini, sampai-sampai saat ada orang luar yang mau membantu menyelamatkan malah dituduh memojokkan, menyerang, atau memberitakan secara tidak berimbang.

Bahkan, karena saking kuat pengaruh saling melacur di lingkungan pemerintahan ini, masyarakat sampai ikut terdoktrinasi.

Tidakkah kalian lihat, bahwa sistem aliran uang di lembaga-lembaga itu mempunyai rantai-DNA yang sama dengan arisan berantai, MLM ngawur, dan skema investasi via ATM, ataupun sistem-sistem piramida pembunuh massal lainnya.

***

Aku tahu, banyak orang yang tidak menganggap dicium sebagai penyerahan harga diri atau sesuatu yang sakral (oh hebatnya doktrinasi film holywood) tapi aku masih bertanya-tanya, wanita-wanita cantik itu dibayar berapa oleh manajemen agar mau dicium Tukul Arwana.


gambar ambil dari uptownshelter tanpa ijin

10 April 2007

32 Jam di Banda Aceh

Filed under: Ragam, Personal — hericz @ 12:20 pm

Dari dulu aku sangat ingin bisa pergi ke Banda Aceh, bahkan sebelum bencana tsunami tahun 2004. Minggu kemarin, akhirnya aku mendapat kesempatan dari kantor untuk melakukan perjalanan dinas ke propinsi di Ujung Sumatra tersebut.

Mendarat hari Selasa, aku langsung menuju hotel Medan. Sebuah hotel yang katanya sudah cukup bagus di Banda Aceh, tapi kondisinya menurutku kurang bagus, baik lobinya maupun kondisi kamarnya. Maksudnya, dengan harga yang sama kalau di daerah lain sudah dapat kamar yang lebih baik, paling tidak TV di kamar ada remote control-nya. *doh*

Di Lobi hotel tampak foto berukuran besar dengan pigura berlampu bergambar kondisi hotel sesaat setelah tsunami 2004. Ada kapal besar yang nangkring di depan Hotel, padahal sungai jaraknya cukup jauh dari hotel.

Hotel Medan, Desember 2004
Kapal di Sungai

Kopdar dengan rekan id-gmail

Beruntung juga ikut milis gila id-gmail. Setelah seharian berkeliling di lingkungan PLN Banda Aceh, sore harinya, aku dijemput oleh Abe untuk jalan-jalan. Sekitar jam 7 malam, kalau di Banda Aceh masih agak sore, kami menuju padepokan AirPutih, tempat pendekar Dudi Gurnadi bersemedi dan menyebarkan ilmu kanuragannya untuk Aceh.

Sayang sekali, Alex yang sudah digadang-gadang untuk bisa ketemu dan membawakan titipan masyarakat tidak bisa keluar rumah karena Ibunya sedang sakit. Sudah sembuh belum lex?

Laporan lengkap, dan foto-foto mengenai kegiatan kopdar ini sudah ditulis lengkap oleh Abe.

Kondisi Aceh

Pada saat sampai di Bandara pada hari selasa, aku merasa takjub dengan keramaian di Bandara tersebut. Bandara terasa sesak oleh penumpang dari berbagai jurusan. Setelah aku tanya ke Sopir yang menjemput kami, menurutnya Aceh menjadi ramai begini setelah bencana Tsunami.

Internet-Teknologi
Pendekar Dudi juga mengatakan, bahwa sebelum Tsunami, di Aceh hanya terdapat 3-4 Warnet saja. Tapi sekarang sedikitnya ada 9 warnet yang beroperasi, selain itu aku melihat banyak iklan di media lokal banyaknya ISP-ISP yang melakukan bisnis di sana.

Pada awalnya internet di sana banyak melayani kebutuhan orang-orang luar daerah maupun luar negeri yang berkiprah dalam pembangunan aceh, tapi sekarang semakin banyak masyarakat lokal (kebanyakan dari luar daerah juga) yang disertakan dalam urusan IT untuk NGO-NGO tersebut. Tampaknya hal tersebut membuat masyarakat lokal semakin melek dengan internet.

Properti
Sementara itu harga sewa bangunan baik rumah, ruko, atau kos-kosan sangat tinggi. Bahkan Abe sampai berniat pindah kos karena sewanya yang sangat mahal. Menurutku juga kamar 3×3 di pinggiran kota seharga 6 juta/tahun memang sangat mahal, bahkan untuk di Jakarta, tapi itu harga yang wajar di Aceh.

Kata Abe, dulu pada saat NGO internasional mulai masuk ke Aceh, harga sewa rumah di pinggir jalan bisa mencapai 200-300 juta per tahun. Gila, ini sudah bisa buat beli rumah di Bekasi. Hal ini berbeda sekali dengan kondisi di Jogja, beberapa hari setelah terjadi gempa harga Bambu (yang merupakan kebutuhan terbesar bahan bangunan) hanya naik 500-1000 rupiah per batang. Ini mungkin karena budaya Aceh sekarang dipengaruhi budaya Kerajaan Samudra Pasai yang memang berjiwa pedagang.

Hukum Syariah
Penerapan Hukum Syariah di NAD juga sepertinya masih setengah-setengah. Bahkan masyarakat sendiri meragukan niat dari pemerintah dalam pelaksanaannya. Dari beberapa orang yang aku tanyai, sebagian mengatakan kalau hukum ini hanya berlaku untuk orang kecil saja, kalau pejabat, orang kaya, ataupun orang aparat masih juga kebal hukum. Wallahu alam, perlu tim investigasi khusus untuk menjawabnya.

Di lain pihak, ada pihak-pihak yang menyalahgunakan hukum syariah ini untuk melakukan pemalakan. Di berbagai media lokal, banyak diberitakan tentang sekelompok polisi syariah dadakan (4-6 orang) yang ‘merazia’ tempat-tempat hiburan dan wisata. Mereka mendatangi pasangan muda-mudi yang sedang duduk berdua, lalu mengancam akan mengarak atau menghukum sesuai syariah, tapi bisa dibebaskan kalau membayar ‘uang denda’ yang berkisar 1 juta, negotiable.

Preman sinting, mana ada orang pacaran bawa duit segitu, ini kan Aceh bukan Texas.

Preman-preman seperti ini seharusnya menjadi prioritas utama untuk segera dibasmi, kepercayaan masyarakat terhadap hukum Syariah harus segera diperbaiki jika benar-benar ingin membentuk Aceh yang lebih baik.

Pulang ke Jakarta

Rabu sore, aku sudah harus kembali ke Jakarta. Sebenarnya kantor memberi jadwal sampai hari kamis atau jum’at, tapi aku minta sampai hari rabu saja mengingat istri sedang dalam kondisi hamil dan sendirian di rumah kontrakan.

Di Bandara, kondisinya sama dengan saat aku datang, terminal penuh sesak dengan penumpang ke berbagai jurusan. Aku sempat kaget mengetahui ada pesawat yang melayani rute Aceh-Ambon.

Dengan perjalanan kemarin, berarti aku sudah menginjak seluruh pulau besar di Indonesia. Walaupun cuma untuk 32 jam saja.

14 March 2007

14 Minggu

Filed under: Personal — hericz @ 10:13 am

Ternyata sudah lama juga aku ndak posting di Blog. Kalau diumpamakan sebuah kios di depan pasar Tanah Abang, mungkin kios Kodok Ngerock ini sudah penuh sarang laba-laba, atau sudah digusur petugas ketertiban. Bahkan, tadi perlu beberapa puluh menit ditambah bantuan google untuk mengingat bagaimana cara masuk ke halaman ‘write post’, sudah pikun ternyata.

Begitu banyak peristiwa yang terlewatkan untuk dituliskan. Aku sudah keliling Indonesia -Kendari, Makassar, Banjarmasin, Sorong, kota-tua Amuntai- dan banyak peristiwa penting lainnya. Dengan ratusan frame foto, semua itu kok tidak bisa membuatku menyempatkan diri merenung sejenak di depan komputer untuk membuat sebuah postingan.

Tapi senin kemarin, aku melakukan perjalanan yang cukup membuatku jadi berniat nulis lagi. Padahal hanya ada beberapa lembar saja hasilnya. Beberapa lembar foto yang membuat semua mual-mual (yang dirasakan istriku), begadang tengah malam, dan beberapa hari tidak bisa masuk kantor, tiba-tiba terasa terbayar lunas.

Di lain pihak, istriku kondisinya agak lemah. Bahkan bu Dokter SoG menyarankan agar dilakukan opname kalau kondisinya terus memburuk karena berat badannya turun hingga 6 kg. Tapi dalam waktu 1 hari setelah lihat video ini, menyaksikan keajaiban tangan dan kaki yang bergerak-gerak di dalam tubuhnya, rupanya kondisi emosi istriku membaik dan langsung naik 1 kg.

Semoga Allah memberi balasan yang setimpal bagi penemu Foto/Video Ultra Sonik ini.

Foto
Kakak

Video (sekitar 650KB ~ 14 detik download@384kbps)

26 December 2006

Waspada Banjir

Filed under: Personal — hericz @ 12:08 pm

Jum’at malam, kira-kira jam 10 malem, aku dan istri baru pulang dari belanja. Hujan deras mengguyur Jakarta dari sore hari membuatku pilih bawa motor untuk ke HyperMart yang cuma 300 meter jauhnya. Aku memarkir dan mengunci motor, sedangkan istriku langsung menuju pintu rumah kontrakan. “Dingin-dingin begini enak banget berduaan dengan istri di rumah, apalagi besok libur,” pikirku sambil masang rantai pengaman di roda belakang yang penuh lumpur. Setelah dirasa cukup aman, aku menuju pintu menenteng helm yang basah kuyup dan mendapati istriku berdiri di depan pintu dengan wajah yang agak-agak histeris.

“Hoaa.. banjir!!, teles kabeh (basah semuaa),” teriaknya singkat dan jelas. Segera aku menyusul ke pintu dan melihat ruang depan sudah penuh air, karpet 3×2.5 meter warna coklat muda sudah digenangi air sekitar 2cm, air menyusup ke bawah rak buku, dan rak TV.

Dapur penuh dengan air yang lebih tinggi lagi, air juga sudah masuk ke kamar tidur. Untung komputer, dan perlengkapannya sudah dipasang di meja. Joystick USB Dual-X-Shock, yang biasa dipake buat balapan MotoGP dan NeedForSpeed dengan istri, tampak terendam air, dan merupakan benda pertama yang aku selamatkan malam itu.

Untunglah, buku-buku yang masih ada dalam kardus di kamar sebelah masih dalam keadaan kering. Demikian juga baju-baju yang baru diangkat dari jemuran siang harinya. Tampaknya air yang mengalir masuk ke kamar itu diserap langung oleh kasur busa yang tergeletak nganggur.

Jadilah malam itu malam yang panjang. Segala daya dan upaya dikerahkan untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Tercatat sedikitnya 8 ember-penuh air dibuang ke kamar mandi, 3 handuk-keset digunakan untuk mengeringkan lantai dan karpet. Sementara itu setumpuk koran bekas, 2 kipas angin dan sebuah hair-dryer digunakan untuk mengeringkan spring bed di kamar tidur.

Bekerja tanpa henti sambil ketawa-ketiwi, jam 2.30 pagi, spring bed sudah dinyatakan kering. Tidur.

Musim Hujan, Musim Banjir

Paginya, sambil mengeringkan karpet yang masih basah, menyelamatkan buku-buku, dan menyingkirkan koran-koran basah, aku lihat Televisi menayangkan bencana banjir di beberapa daerah. Halaman dengan rumput yang masih basah membuatku berpikir ulang untuk menjemur di luar.

Membayangkan sawah-sawah terendam air di mata petani, seperti membayangkan laptopku terbakar, atau program yang sudah mulai didebug sejak 2 bulan yang lalu tiba-tiba kena bad-sector sementara klien sudah telpon rindu siang dan malam. Selain itu, kegagalan panen dalam jumlah besar juga pertanda harga beras bakal naik terus 2-3 bulan mendatang.

Kecerobohan dan Kelalaian

Banyak kejadian banjir tak lepas dari kelalaian manusia sendiri dalam menangani alamnya. Hutan kawasan serapan air di daerah Puncak menjadi vila kawasan serapan duit, akibatnya jelas duit Jakarta mengalir ke puncak dan air dari puncak mengalir ke Jakarta. (Sejujurnya, aku khawatir nantinya nasib kawasan Puncak akan mirip dengan nasib kawasan Radiator Springs di Film The Cars semenjak dibangunnya Tol Cipularang.)

Selain itu, memang sudah dasarnya Jakarta itu daerah yang rendah dengan aliran sungai berbentuk meander yang banyak. Sejak jaman belanda konsep penanganan banjir sudah dirintis, desain banjir kanal Van Breen pada tahun 1918 yaitu Banjir Kanal Barat cukup mengagumkan untuk masa itu. Sedangkan desain Banjir Kanal Timur hingga kini belum selesai pengerjaannya.

Dulu sepertinya sempat ada konsep pembuatan sumur serapan air di tiap-tiap halaman rumah, tapi sepertinya sekarang sudah nggak ngetrend lagi. Yang ada malah swadaya masyarakat untuk melakukan betonisasi selokan-selokan yang jelas malah mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan.

Sewaktu masih tinggal di Pondok Gede, dimana belakang rumah adalah sungai kecil yang cukup jernih, aku ingat sekali kata-kata mpok yang bantu bersih-bersih disitu. “Mas heri, nanti kalau hujan gede tolong itu kursi yang sudah rusak dibuang ke sungai”, Glek.. Tampaknya, ungkapan “Buang sampah sembarangan menyebabkan banjir” sudah terbalik menjadi “Banjir membuat orang buang sampah sembarangan”. Ini bukan kelalaian, tapi sudah kebudayaan.

Dan istriku sayang, iya memang kita tinggal di lantai 3. Tapi kita harus tetap waspada dengan bencana banjir, apalagi kalau sebelum jalan-jalan kita lupa nggak mematikan kran mesin cuci lagi.

*tepok jidat*

« Previous PageNext Page »